My Favorite Wife

My Favorite Wife
Episode 23. Terkurung



...MY FAVORITE WIFE...


.


.


.


...*🖤Happy Reading🖤*...


...****************...


Moza merapihkan barang dan pakaian nya untuk di masukan kedalam koper.


Hari ini dia akan tinggal di mansion utama. Jujur saja sebenarnya dia tidak ingin tinggal satu atap dengan mertuanya apalagi dengan istri pertama Elliot.


Namun bagaimana pun ia harus menuruti kemauan suaminya itu. Sebenarnya Moza sangat bingung dengan pemikiran Elliot kenapa ia harus tinggal disana.


"Semoga saja aku betah disana." lirih Moza, kemudian ia kembali merapihkan barang barangnya agar tidak ada yang ketinggalan di villa ini.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk." sahur Moza dengan masih sibuk dengan pekerjaannya.


Mbok Ningsih memasuki kamar dengan wajah yang santun. "Permisi nyonya, tuan El menyuruh saya untuk membantu nyonya berkemas." ucap mbok Ningsih.


"Ahh tidak usah mbok, lagi pula bentar lagi beres." ujar Moza.


"Barang apa yang nyonya belum dimasukan? Biar saya bantu nyonya, karena tuan El menyuruh nyonya untuk segera turun."


"Ohh Elliot sudah siap?." tanya Moza.


"Sudah nyonya sejak tadi." sahut mbok Ningsih.


"Ya sudah mbok, tolong rapihkan baju ini aja masukan ke tas itu. Aku akan ganti baju dulu."


"Baik nyonya."


.


.


"Apa yang kau lakukan? Berkemas dengan barang segitupun lama sekali!." pekik Elliot setelah Moza baru saja menghampirinya.


"Kenapa terburu buru?, ini masih pagi El."


"Jam 10 aku akan mengadakan pertemuan dengan klien!. Kau pikir jarak dari sini ke kantorku dekat?." Bentak Elliot dengan wajah penuh amarah.


Elliot langsung melenggang pergi menuju halaman villa lalu masuk kedalam mobil yang sudah siap terparkir disana.


"Maaf nyonya, semoga anda mengerti keadaan tuan." ucap Glenn.


Moza hanya terdiam bagaikan mentalnya terciut dengan kata kata Elliot yang membentaknya.


"Nyonya, hati hati di jalan. Jangan lupa untuk mampir ke vila ini lagi." ucap mbok Ningsih.


"Terima kasih mbok, insya allah saya akan main kesini lagi."


"Hati hati nyonya.." ucap pak Jalal.


Moza pun tersenyum menganggukan kepalanya.


"Nyonya lebih baik anda segera masuk ke mobil, tuan El pasti akan lebih marah jika harus menunggunya." ucap mbok Ningsih dengan wajah khawatir.


"Aku tidak takut mbok, kalau begitu saya pamit pulang. Assalamualaikum..."


"Ahh iya nyonya, waalaikumsalam.." ujar mbok Ningsih dan pak Jalal.


Moza langsung berjalan menyusul Elliot yang sudah masuk kedalam mobil.


mbok Ningsih dan pak Jalal melambaikan tangannya setelah mobil sport itu sudah berjalan meninggalkan villa.


.


.


......................


Di perjalanan kini mereka sudah berada di pusat kota setelah menempuh perjalanan 3 jam.


Elliot terus menatap arloji di pergelengan tangan kirinya.


Jam tangan itu menunjukan pukul 10.05 pagi.


Suara nada dering ponselnya membuat ia segera merogoh kedalam saku jas nya.


"Hallo."


"Halo taun presdir, kau sudah dimana?." tanya Jonathan di dalam telepon.


"Bentar lagi sampai." singkatnya.


"Baiklah, aku dan tuan Harris sudah menunggu di restoran ruang VVIP."


"Okay." Elliot segera menutup ponselnya.


Selama diperjalanan Moza terdiam membisu begitu juga Elliot, yang sejak tadi memasang wajah kesal tidak redam.


Beberapa menit kemudian mobil sport itu melaju dengan cepat membuat Moza membelalakan matanya.


Elliot terus mengutak ngatikan ponselnya dengan wajah yang serius.


Akhirnya mobil hitam itu terparkir di restoran elite yang berada di pusat kota.


"Apa Elliot akan mengadakan pertemuan dengan klien nya disini?." pikir Moza di dalam hati.


Elliot segera membuka pintu nya untuk keluar begitu juga Glenn.


Mereka berjalan dengan terburu buru bagaikan tidak menyadari dengan kehadiran Moza di dalam mobil.


Ia menatap di balik jendela mobil. Kemudian Moza mencoba membuka mobil itu ternyata di kunci oleh Glenn.


"What! Apa apaan mereka ini meninggalkanku dengan mobil yang terkunci!." gumam nya dengan kesal.


.


.


Elliot dan Glenn berjalan setengah berlari. Ia terus menatap jam arojinya yang sudah menunjukan pukul 10.33.


Sungguh ia sangat tidak enak pertemuan pertama dengan Mr Hariss pemilik perusahaan terbesar dinegara Eropa.


"Ruangan VVIP nya disebelah sini tuan." ujar seorang manager restoran menunjukan sebuah lift.


"Terima kasih." ujar Glenn dengan langsung memasuki lift bersama Elliot dan menutupnya segera.


.


.


.


Jonathan mengetuk ngetukan jari telunjuknya di meja dengan perasaan gelisah.


"Maaf Mr Harris, presdir sudah ada di lobby, mohon ditunggu.." ujar Jonathan dengan ramah.


"Baiklah." ujar Hariss tersenyum.


Namun sekretarisnya memasang wajah yang kesal.


"Aduh si El kenapa bisa mempermalukanku disini. Bahkan aku dan Mr Hariss sudah menunggu selama setengah jam lebih." lirih Jonathan dengan wajah penuh kecemasan plus wajah kesal, nafaspun sepertinya ia sangat berat.


"Selamat siang semuanya maaf sudah menunggu.." ucap Elliot dan Glenn yang baru saja datang.


"Selamat siang juga tuan Elliot, tidak apa apa." ujar tuan Hariss berdiri dari duduknya lalu bersalaman.


"Perkenalkan dia sekretarisku, Jennifer." ucap Hariss.


Elliot bersalaman dan mengangguk.


"Oh my god! Pria ini tampan sekali!." jerit Jennifer di dalam hatinya.


"Silahkan duduk tuan.."


"Maafkan saya Mr, dijalan sangat macet. Saya sangat tidak enak pertemuan pertama kita tidak berkesan gara gara saya."


"Tidak apa apa tuan El, saya memahaminya santai saja."


"Anda jauh jauh datang ke negara saya untuk bertemu, tetapi saya mengecewakan anda maaf sekali Mr.Harris."


"Jangan begitu, saya benar benar tidak apa apa." sahut Harris


Mereka pun kembali melanjutkan pembicaraan nya.


.


.


Ia mencoba menghubungi Elliot, tetapi hasilnya nihil. Elliot tidak mengangkatnya karena ia sengaja ponsenya di nada heningkan setelah bertemu dengan Mr Harris.


"Dia pasti sangat sibuk, duh bagaimana ini aku tidak punya nomor Glenn!.." gumam nya.


Ia tengah berpikir bagaimana bisa ia akan bertahan dengan mobil yang sempeuk apalagi cuaca nya sangat membentrangi mobil ini sehingga Moza penuh keringat dan kepanasan.


"Bisa bisanya mereka melakukan hal bodoh!." gerutu Moza mengelap keringat di keningnya.


"Lihat saja aku akan memberi pelajaran pada mereka yang sudah mengurungku disini!."


.


.


.


Glenn yang sedang memesan minuman di kursi lain sembari menunggu rapat Elliot dengan menyalakan rokok nya.


Ia menikmati secangkir minuman dingin bersama rokok nya dengan sangat santai seolah tidak terjadi apa apa.


Ia memainkan ponsel nya untuk melihat seputar update artis artis cantik, namun saat ia menscroll ponselnya ia melihat video Moza yang penuh dengan like komentar.


"Wahh nyonya Moza memang mempesona." ujarnya.


Degg!!


"Wait! Nyonya Mozaa!!! Oh iya nyonya Moza kemana ya?." pekik Glenn segera mencari keberadaan Moza mengelilingi restoran tersebut.


"Astaga bisa bisanya nyonya Moza tidak mengikuti kami." gumam Glenn terus melirik kesana kesini untuk menemukan Moza.


Ia terus berjalan kesana kesini namun ia tidak mendapatkan sosok Moza.


"Tidak ada, apa nyonya Moza kabur karena tuan El memarahinya?." pikir Glenn.


Suara ponsel pun berdering menandakan adanya telepon masuk .


"Hallo tuan, apa sudah selesai rapatnya?."


"Sudah, kau dimana?, aku dan Jonathan akan ke parkiran." ucap Elliot di telepon.


"Baik tuan, saya akan menuju parkiran sekarang." ujar Glenn.


.


.


.


...----------------...


"Jadi hari ini kau akan tinggal di mansion utama dan mengajak Moza?." tanya Jonathan.


Elliot menganggukan kepalanya sembari berjalan dengan cool menuju parkiran mobilnya.


"Tapi, apa kau sudah meminta izin pada orang tuamu?." tanya Jonathan.


"Untuk apa meminta izin?, mansion itu milikku. Entah kenapa mereka jadi betah di mansionku semenjak kakek meninggal."


"Biarkan saja, mungkin mereka ingin dekat denganmu."


"Hmm aku tidak mempermasalahkan itu." jawab Elliot.


Mereka berdua sudah berada di depan mobil sport hitam.


"Selamat siang tuan.." ucap Glenn yang baru saja sampai.


"Kita pergi langsung ke mansion." ujar Elliot.


"Baik tuan, ohh ya nyonya Moza dimana tuan?." tanya Glenn.


"Kenapa kau bertanya padaku? Bukannya dari tadi bersamamu." ujar Elliot.


"Ha? Tidak tuan dari tadi aku sendirian." ucap Glenn.


Elliot mengerutkan alisnya.


"Apa mungkin nyonya Moza pergi karena anda telah memarahinya tadi pagi."


"What?." tanya Jonathan.


Dug!


Dug!


Dug!


"Apa mereka tidak mendengar teriakanku? Bagaimana bisa! apa aku harus memecahkan kaca mobil ini!. Aku sangat pengap sekali." pekik Moza di dalam mobil.


"Presdir kenapa mobil anda bergerak gerak! Apa ada yang mesum di dalam sana?." tanya Jonathan.


Mereka bertiga memperhatikan mobil sport hitam itu yang terus saja bergoyang dengan mata yang terkesima.


"Kenapa bisa begitu mobilnya?." ucap Glenn dengan wajah melongo.


"Untuk apa melengo! buka pintu mobilnya bodoh!." pekik Elliot.


Glenn segera membuka pintu mobil nya.


Uhuk! Uhuk! Uhuk!.


Moza keluar di dalam mobil itu dengan keringat dan baju yang sudah membasahinya.


Mereka bertiga semua nampak terkejut bak melihat hantu di depan nya.


"Kau..." lirih Elliot.


"Nyonya.."


Moza menghirup nafasnya dengan dalam dalam.


"Glenn!! Kau mengurungku di sini selama 1 jam! Untung aku tidak mati kepanasan!." teriak Moza terbata bata.


"Apa? Maafkan saya nyonya saya kira nyonya mengikuti saya dan tuan ke restoran."


"Glenn! Tega sekali kau mengurung wanita cantik di dalam mobil hingga kepanasan!." pekik Jonathan.


"Aku tidak tau, maafkan aku nyonya! tunggu saya akan memesan minuman segar untuk anda." Glenn segera berlari menuju restoran untuk memesan minuman tersebut.


Elliot dan Jonathan menatapnya.


Apalagi mata Jonathan terlihat sekali jelalatan pada Moza.


"Dan kau kenapa tidak mengangkat telepon dariku!?." tanya Moza.


"Aku tidak membawa ponsel, ponselku ada di mobil." ujarnya dengan datar.


"Pantesan, untuk aku masih bisa hidup sampai detik ini!." gerutunya dengan wajah kesal.


"Perkenalkan nona namaku Jonathan, panggil saja Jo." ucapnya sambil mengulurkan tangan nya.


"Jonathan? Sepertinya aku pernah mendengar nya. Oh iyaa Elliot pernah menceritakan tentangnya, hm lumayan tampan juga." ucap Moza di dalam hati.


"Kau pasti tau namaku bukan?." ucap Moza tanpa menerima tangan Jonathan.


Jonathan menarik tangannya lagi dengan tersenyum.


"Tentu saja, siapa yang tidak tahu wanita secantik anda nona Moza." ucap Jonathan dengan genit.


Moza mengerutkan alisnya.


"Jaga batasanmu." ujar Elliot.


"Tenang saja tuan presdir, saya hanya memuji nya." ucap Jonathan.


Tiba tiba Glenn membawakan segelas juice dingin untuk Moza.


"Silahkan diminum nyonya." ucapnya sambil menyodorkan minuman itu.


Moza menerima minuman itu dan langsung meminum nya tanpa jeda hingga gelas itu habis.


"Aku tidak mau berbicara lagi denganmu Glenn!." pekik Moza sambil memberikan gelas yang kosong.


.


.


.


Wkwkwk ada ada saja kelakuan Glenn yang selalu pelupa sampe tidak menyadari kehadian Moza disana saking terburu burunya🙈😅


Bersambung....🖤🖤


Terima kasih sudah membaca para readers🖤🤗


Salam hangat dari author🤗