
...MY FAVORITE WIFE...
.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara pernikahan pun selesai dan siang pun berganti menjadi malam, kini Moza dan juga Elliot berpamitan kepada Wijaya untuk pemindahan barang barang Moza karena Moza akan ikut tinggal bersama Elliot.
"Jaga dirimu baik baik nak, jangan lupa makan dan jangan terlalu fokus pada karier mu. Sekarang kau punya suami yang harus kau urusi." ucap Wijaya.
Moza menganggukan kepalanya. Ia mengeluarkan cairan bening dari pelupuk matanya.
"Ayah juga jaga kesehatan disini, terima kasih sudah menyayangiku dengan sangat baik. Moza sayang padamu." ucap Moza.
Wijaya menghamburkan pelukan nya pada putrinya yang sudah bukan gadis lagi.
"Ayah juga sangat menyayangimu, jangan berbuat ulah saat disana ya nak." ucap Wijaya mengelus rambut Moza.
"Tolong jaga kak Moza disana, dia satu satunya kakakku dan dia kebanggan kami." ucap Kevin pada Elliot.
"Jangan khawatir itu sudah menjadi tugas seorang suami. Oh ya, jangan lupa belajar ya." ucap Elliot menyeringai bibirnya.
Kevin mengepalkan tangan nya seolah kata kata itu meledek dirinya.
Moza dan Elliot pun berpamitan untuk pergi. Glenn pun sudah bersiap dari tadi untuk mengantar majikan nya.
Firdania dan Albert mereka pulang terlebih dahulu, karena Firdania mengalami kambuh pada penyakitnya.
Dengan tidak sengaja mereka berdua pun izin untuk pulang karena keadaan Firdania yang tidak memungkinkan.
Di dalam mobil Moza terus menangis tiada hentinya membuat Elliot begitu jengkel melihatnya.
"Berhentilah menangis, kau hanya akan pindah ke mansionku, bukan pindah ke medan perang." ketus Elliot dengan tatapan yang tajam.
"Diamlah! Kau tidak tau perasaanku saat meninggalkan keluargaku." pekik Moza dengan wajah yang di banjiri oleh air mata.
"Bukankah kau sering meninggalkan keluargamu ke luar negeri demi kariermu?." ucap Elliot.
Moza berhenti sejenak. "Tapi ini rasanya berbeda!, hiks..."
"Berhentilah merengek seperti bocah, aku ingin ketenangan." ucap Elliot geram.
Ia begitu sangat lelah hari ini karena selain bangun lebih awal, Elliot juga menyambut dan berbincang dengan keluarganya hingga lutut nya benar benar remuk.
"Kau pikir aku tidak lelah hah!?." pekik Moza.
"Jangan berteriak atau aku akan menyumpal mulutmu dengan kaos kaki yang sudah basah ini?." ketus Elliot.
Glenn yang sejak tadi fokus menyetir namun ia menyimak pembicaraan sepasang pengantin baru itu menahan tawa nya.
"Whatt!!?. apa kau gila akan melakukan hal konyol itu padaku?." pekik Moza dengan suara yang melengking.
"Apapun bisa ku lakukan, mau ku coba?." tanya Elliot.
"Berhenti melakukan hal bodoh tuan Elliot!."
"Sekali lagi jika kau berbicara keras begitu, aku tidak akan pernah sungkan sungkan menyumpal mulutmu." ancam Elliot.
Moza pun hanya berdesis dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Ia lebih memalingkan wajahnya ke arah jendela di sampingnya.
"Rupanya kucing liar itu bisa nurut juga walaupun aku harus mengancam nya." ucap Elliot di dalam hati.
Elliot pun menyunggingkan bibirnya.
Dan suasana di mobil itu menghening.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apartemen Moonlight.
Setelah menempuh jarak 45 menit.
Glenn memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen milik Elliot.
Moza mengerutkan keningnya, kenapa bisa harus berhenti dulu di apartemen ini? Apa Elliot akan ada pertemuan bisnis dengan kolega nya? Mana mungkin di acara seperti ini.
Moza terus saja berpikir dan bertanya pada dirinya sendiri
"Turun, apa kau akan tetap diam di mobil ini?." ucap Elliot dengan nada sinis.
Dengan raut kesal Moza pun membukakan pintu mobilnya untuk keluar.
Mereka bertiga berjalan menelusuri lobby apartemen. Moza hanya terpaksa mengikuti kemana mereka berdua pergi dengan wajah sedikit kebingungan.
"Kenapa kita ke apartmen?." tanya Moza.
"Nanti saja bicaranya, sekarang kau ikuti saja aku." ujar Elliot dengan terus berjalan dengan gaya memasang wajah tanpa ekspresi.
Para pelayan apartmen itu menyambut hangat kedatangan nya dengan membungkukan badan serta mengucapkan selamat malam.
Namun Elliot hanya menganggukan kepalanya saja tanpa menjawab sapaan nya sepatah katapun.
"Sungguh pria yang sangat sombong!." gerutu Moza memicingkan matanya di dalam hati.
Selang beberapa menit mereka pun tiba di salah satu kamar tepatnya di lantai 19.
Glenn membuka kartu kunci apartmen itu.
"Silahkan tuan El dan nona." ucap Glenn mempersilahkan masuk terlebih dahulu.
Moza memasuki ruangan apartmen itu, ia menatap seluruh inti setiap interior dengan bangunan unik dan elit serta barang barang antik yang tersusun rapi disana.
Juju saja Moza baru pertama kali menemukan Apartmen sekelas ini. Bahkan apartmen ini jauh berbeda di bandingan dengan apartmen yang sering ia datangi di berbagai negara.
Moza benar benar terkesima penuh kekaguman dengan apartmen ini.
"Malam ini kita akan tidur di apartmen ini." ucap Elliot.
Moza seketika menoleh dengan wajah yang antusias.
"Benarkah? Kita akan tinggal disini?." pekik Moza dengan mata yang berbinar.
"Hanya malam ini saja, besok kita lanjutkan perjalanan nya ke mansion. Tubuhku sudah sangat lelah jika menempuh perjalanan 1 jam lagi." ucap Elliot.
Moza pun menganggukan kepalanya sambil terus berjalan menelusuri apartemen itu.
"Tidak apa apa jika aku harus tinggal disini." ujar Moza dengan mata masih menatap setiap interior.
Elliot memiringkan senyuman nya.
"Kau tidak perlu tinggal di apartmen ini, kau harus tetap tinggal di mansion." ujar Elliot sembari membuka jas hitam nya.
"Aku tidak mau. Bukankah di mansion itu ada istri pertamamu?, dan juga ibumu yang tidak menyukaiku? Bahkan saat kita menikah pun ibumu tidak hadir." ucap Moza.
"Maka dari itu kau harus tinggal di mansion agar lebih akrab dengan mereka." ucap Elliot melenggang pergi menuju kamarnya yang di atas tangga.
"What?! akrab dengan istri pertama mu gitu? seperti lelucon!." gumam Moza menutup matanya.
"Bersihkan lah dirimu." ucap Elliot dengan langkah sambil menaiki anak tangga.
"Dimana kamarku?." tanya Moza dengan suara sedikit berteriak.
"Di lantai dua sebelah kanan." sahut Elliot kini ia sudah tak terlihat lagi.
Moza pun langsung segera menuju kamar nya lalu bergegas membersihkan diri.
Saat Moza baru saja tiba di kamar lantai dua ia langsung membelakan matanya.
Moza langsung melompat ke kasur berukuran king size itu yang begitu sangat empuk dan nyaman.
"Kenapa aku jadi udik begini ya? Hahaha padahal aku sering menginap di apartmen, tapi kamar ini sungguh rasa nya sangat berbeda." gumam nya dengan berbicara sendiri sambil melentangkan tubuhnya di kasur itu.
beberapa saat ia mencoba merebahahkan tubuhnya untuk meluruskan pinggang nya yang menurutnya sangat pegal, ia terus saja menggeliat di atas kasur sembari menguap.
Jika saja ia tidak ingat mandi mungkin ia akan ketiduran. Kemudian tak lama Moza pun pergi ke kamar mandi yang ada di kamar itu untuk membersihkan seluruh keringat yang menempel di tubuh nya.
.
.
...****************...
Saat 15 menit kemudian...
Moza pun baru saja menyelesaikan ritual mandi nya yang terlihat begitu menyegarkan dengan menggunakan sabun bunga rose.
Saat Moza hendak membuka klop pintu kamar mandi ia terkejut bukan kepalang.
"Aaaaagghhh!!." teriak Moza.
Bagaimana bisa Elliot ada di kamarnya lebih tepatnya berada di depan pintu kamar mandi, apalagi dirinya hanya melilitkan handuknya saja hingga paha.
Moza kembali lagi masuk kedalam kamar mandi dengan terburu buru, namun akibat ceroboh Moza pun terpeleset akibat genangan air yang menetes di rambutnya.
Tetapi saat Moza ingin terjatuh seketika Elliot langsung menyergapnya dan menangkap pinggang ramping itu.
Hepp!!
Mereka berdua saling berpandangan dengan jarak sangat intim.
Dag!
Dig!
Dug!
Detak jantung Moza kembali berdegup kencang saat Elliot ada di dekatnya seperti ini.
"Aaaaaaaghh!! Lepaskan akuu!!." teriak Moza dengan kencang.
Membuat telinga Elliot berdenging melengking.
"Berisik apa kau ingin aku menyumpalmu?!." pekik Elliot.
"Lepaskan aku bodoh!." pekik Moza sambil memberontak agar Elliot melepaskan pinggangnya.
Dengan terpaksa Elliot pun langsung melepaskan pinggang Moza, membuat Moza jatuh ke bawah lantai.
Bugh!
"Aww!." pekik Moza mengelus bokongnya yang sakit.
"Apa kau gila ha? Main lepas seenaknya saja! badanku jadi sakit semua gara gara kamu!." Ketus Moza dengan wajah kesal.
"Dari pada kau terus berceloteh mending benarkah handukmu yang sudah merosot." ujar Elliot dengan datar.
Moza langsung membelalakan matanya dan segera menutup dadanya dengan kedua tangannya.
Wajahnya memerah akibat menahan rasa malu yang mendalam.
"Pergi kau dari sini!." pekik Moza dengan wajah memalingkan ke arah lain karena malu.
Elliot pun pergi keluar kamarnya dengan berseringai kecil.
"****!!." pekik Moza mengumpat dirinya karena kesekian kalinya ia di permalukan oleh Elliot lagi.
.
.
.
Bersambung....
Salam hangat dari author untuk kalian para readers yang terhormat. Maaf bila ada salah kata author masih belajar nih hehe🤗
Minta dukungannya yah gaes🙏