My Favorite Wife

My Favorite Wife
Episode 13. Kisah Anna



...MY FAVORITE WIFE...


.


.


.


...*🖤Happy Reading🖤*...


...****************...


Apartemen Moonlight.


Malam itu Moza sedang menonton tv yang ada di ruang tengah sambil memakan cemilan yang di berikan oleh Anna.


Ia menatap jam dinding yang menunjukan arah 21.35. Ia berpikir kenapa Elliot belum juga pulang kesini, apa mungkin dia memang suka pulang larut malam?.


Kemudian tak lama Anna menghampiri Moza. "Permisi nyonya, tuan Glenn memberitahuku bahwa tuan El tidak akan pulang ke apartemen malam ini, karena beliau akan pergi ke kota S." ujar Anna dengan ramah.


"Ohh ya sudahlah, lagi pula aku tidak peduli dia pulang atau tidak, tapi baguslah dia tidak pulang kesini." jawab Moza.


Anna pun mengukir senyuman nya. "Lebih baik anda segera istirahat nona."


"Iya Ann, jika kamu ingin beristirahat, istirahatlah." ucap Moza.


"Tidak nyonya, sebelum nyonya belum tidur saya tidak akan tidur." sahut nya.


"Hmm ya sudahlah, kalau begitu temani aku nonton tv disini." ucap Moza sambil menepuk sofa yang berada di sampingnya.


Membuat Anna sedikit terhenyak, karena mana mungkin ia duduk disana bersama majikan nya.


"Tidak nona, lebih baik saya disini saja." tolak Anna menundukan wajahnya.


"Kemarilah, aku ingin bertanya banyak padamu tentang Elliot." ucap Moza.


"Tentang tuan?." tanya Anna memastikan ucapan Moza.


Moza menganggukan kepalanya. "Heem, jadi kemarilah duduk disini denganku."


"T-tapi nyonya rasanya saya sangat tidak sopan jika duduk disana bersama anda."


"Tidak apa apa, aku yang memintanya. Cepat kemarilah." ucap Moza.


Dengan terpaksa Anna pun menuruti kemauan majikan nya itu untuk duduk di sebelah Moza dengan perasaan yang begitu canggung.


Anna menundukan wajahnya seolah ia merasa tidak pantas duduk bersanding dengan majikan nya itu, apalagi ia mengetahui profesi Moza yang bergelar Miss Supermodel World.


"Hmm berapa usiamu?." tanya Moza.


"20 tahun nyonya." sahut Anna masih menundukan wajahnya.


"Pantas saja wajahmu juga terlihat masih muda, tapi maaf kenapa kamu memilih bekerja sebagai ART dari pada mencari pekerjaan di luar?, semisalnya di kantor, restoran, perbankan. Atau bahkan kenapa ga kuliah saja?." tanya Moza dengan panjang lebar.


"Sebenarnya saya disini untuk menggantikan ibuku yang sedang sakit nyonya, ibuku adalah salah satu maid keluarga Alberntino dari saya berusia 5 tahun. Sebenarnya saya ingin kuliah, tetapi saya memilih untuk mencari uang demi pengobatan ibu saya, karena hanya ibu yang kupunya satu satunya." Jelas Anna panjang lebar.


"Maaf memangnya kemana ayahmu? apakah kamu tidak punya saudara kandung?." tanya Moza.


"Saya tidak mengetahui jati diri ayahku nyonya, bahkan selalu selalu bertanya pada ibu tentang ayah, namun ibu selalu saja marah ketika saya menanyakan hal itu. Saya juga tidak mempunyai saudara kandung." jelas Anna dengan wajah yang di tekuk.


"Maaf bila pertanyaanku membuatmu sedih Anna, jika boleh aku tau ibumu sakit apa?." tanya Moza.


"Ibuku sakit paru paru dan punya magh kronis nyonya, beliau sudah tidak sanggup untuk bekerja, maka aku sanggup untuk menggantikan ibuku bekerja disini demi pengobatan nya."


Moza membisu ia meratapi kisah pilu Anna yang menurutnya sangat menyedihkan. Anna seorang gadis berusia 20 tahun mampu menjalani kehidupan yang begitu pahit, tetapi ia sangat semangat dan selalu mengukir senyuman manis nya hingga Moza tidak tahu bahwa Anna menyimpan kesedihannya di lubuk hati.


Moza meneteskan air matanya.


"Nyonya kenapa menangis? apakah ada kata kata saya yang menyinggung perasaan nyonya? jika ada tolong maafkan saya nyonya." ucap Anna dengan mata yang gelisah serta mengantupkan kedua tangan nya.


Moza pun tersenyum. "Tidak, aku hanya terharu mendengar ceritamu. Kau adalah perempuan yang hebat Anna, kau bisa menjalani beban hidup ini sendirian, kau bahkan pandai menyembunyikan kesedihan di wajahmu, aku sangat salut padamu."


Anna menganggukan kepalanya seraya tersenyum. "Beginilah nyonya, saya tidak ingin orang lain mengetahui masalah saya, cukup saya saja." jawab Anna.


Moza pun tersenyum dengan mata yang berkaca kaca. "Bolehkan aku memelukmu?." pinta Moza.


Anna mengangkat wajahnya dengan sedikit terkejut. "J-jangan nyonya, tubuhku tidak wangi. Saya takut anda tidak menyukai aroma nya." tolak Anna dengan alasan itu.


"Kemarilah, aku tidak peduli." ucap Moza melentangkan tangan nya.


Namun Anna hanya terdiam tanpa bergeming. Moza pun mendekatinya dan kemudian memeluk Anna.


Anna begitu sangat senang mendapatkan pelukan itu, pelukan yang menurutnya sangatlah hangat dan nyaman. Apalagi tubuh majikan nya itu sangat harum yang membuat Anna betah menghirup aroma nya.


"Sabar ya, kau harus kuat menjalani kehidupan ini. Aku yakin ibumu pasti akan sembuh." ucap Moza mengelus punggung Anna yang kurus.


Anna ingin sekali membalas pelukan Moza, namun ia sangat sungkan melakukan nya.



Anna pun membalas pelukan Moza dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia meneteskan air matanya seolah Moza memberikan kenyamanan yang membuat Anna air mata nya jatuh ke pundaknya.


Beberapa saat mereka berdua berpelukan.


Moza pun melepaskan pelukan nya. Namun saat Moza hendak melepaskan pelukan nya Anna segera menghapus air matanya, agar dirinya tidak terlihat menangis.


"Oh ya bukannya nyonya ingin bertanya soal tuan Elliot?." tanya Anna.


"Hmm, sepertinya tidak jadi." Moza tertawa kecil.


"Tidak apa apa nyonya, saya akan menjawabnya jika saya mengetahui." sahut Anna tersenyum.


"Hmm aku hanya ingin bertanya soal Elliot dan istri pertamanya." ucap Moza.


"Memangnya kenapa nyonya?." tanya Anna.


"Apa kau mengetahuinya hubungan Elliot dengan istri pertamanya? Eumm maksudku, apa Elliot dengan istri pertamanya sangat romantis?." tanya nya dengan hati hati.


"Hmm soal itu.."


"Beritahu saja aku, tidak apa apa. Kita sekarang teman kan?." tanya Moza dengan berseringai.


Anna pun tersenyum mendengar majikannya yang sangat humble, baru kali ini dia sangat dekat dengan seorang majikan. Ia kira Moza sangat angkuh dan sombong, namun nyatanya Moza sangatlah baik dan ramah.


"Yang saya tau, tuan El dan nyonya Cleo mereka dijodohkan. Dan menurut para maid di mansion utama, tuan Elliot tidak menerima perjodohan itu tetapi dia dinikahkan secara paksa oleh tuan Albert."


Moza memasang wajah yang begitu serius mendengarkan Anna.


"Lalu?." tanya Moza.


"Dan menurut para maid di mansion utama, tuan El sangat cuek terhadap nyonya Cleo, bahkan mereka berdua jarang berinteraksi." jelas Anna.


Moza pun terdiam seolah mencerna kata kata dari Anna.


"Ohh rupanya kalian selalu menggosipkan keluarga Alberntino ya hahaha.."


"Ehh tidak nyonya, maaf jangan bilang pada tuan El bahwa kami selalu membicarakan nya, tetapi kami selalu menutup mulut pada orang lain, kami tidak pernah membocorkan aibnya." ucap Anna dengan memohon mengantupkan kedua tangan nya.


Moza pun terkekeh menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa apa, aku tidak akan pernah bilang pada siapapun, lagi pula wajar bila perempuan suka menggosip."


"Maafkan kami nyonya." Anna menundukan wajahnya.


"Tidak apa apa, Oh ya tapi kamu tau ga masalah tentang Cleo yang tidak bisa hamil?." tanya Moza.


Anna terdiam sejenak. "Maaf nona untuk itu saya tidak tahu, karena saya sudah jarang ke mansion utama dan berinteraksi dengan para maid disana." ujar nya.


"Lalu akhir akhir ini kau dimana?." tanya Moza mengerutkan alisnya.


"Saya ditugaskan tuan El untuk mengurus Vila Rose Gold di daerah sini, dan beliau pun meminta saya untuk datang ke apartemen untuk melayani dan menemani nyonya disini."


"Rupanya dia perhatian juga padaku." gumam Moza di dalam hatinya.


"Nyonya saya sangat senang setelah mengetahui istri tuan El adalah nyonya, saya sangat mengidolakan nyonya."


"Oh ya?, lalu kenapa tadi kau tidak mau memelukku?."


"Saya sadar diri nyonya, karena saya disini sebagai pelayan anda." sahut Anna.


"Tapi mulai sekarang kau adalah temanku." ucap Moza tersenyum manis.


Anna pun tersenyum menundukan wajahnya.


"Maukan jadi temanku?." tanya Moza.


Anna pun menganggukan kepalanya seraya tersenyum dengan rasa malu malu.


"Sebenarnya aku ingin bertanya, kenapa nyonya mau menikah dengan tuan El dan dijadikan istri kedua, namun sepertinya aku akan begitu lancang menanyakan hal itu." ucap Anna di dalam hatinya.


Moza pun kembali menghadap tv untuk melanjutkan tontonan nya.


"Ya Tuhan, secantik inikah nyonya Moza?, bahkan polos seperti ini pun ia sangat cantik, nyonya benar benar memiliki cantik yang sangat alami di wajahnya. Aku begitu sangat insecure melihatnya, tuan El memang beruntung, bahkan nyonya Moza lebih pantas dengan tuan El yang sama sama punya fisik sempurna." ucapnya di dalam hati seraya terus memandangi wajah elok yang berada di hadapan nya itu.


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa klik like, komen dan tekan favorite ya 🤗