My Favorite Wife

My Favorite Wife
Episode 22. Air Terjun



...FAVORITE MY WIFE...


.


.


.


...*đź–¤Happy Readingđź–¤*...


......................


Moza membuka matanya, ia menatap Elliot yang sudah tidak ada di sampingnya lagi. Entah ia pergi kemana selalu saja begitu.


Moza menggeliat ternyata dirinya masih keadaan polos tanpa sehelai pun.


Ia mengingat kejadian malam itu, bisa bisanya ia menyerahkan mahkotanya dengan begitu saja.


Ia sedikit merasa sesal telah tergoda pada malam itu, namun mungkin itu tidak akan membuat nya dosa karena Elliot adalah suaminya.


Hari ini dia sudah benar benar menjadi seorang istri.


Ia menatap jam weker nya yang menunjukan 07.00. Moza menghela nafasnya, bagaimana bisa dia bangun kesiangan hingga ia tidak melakukan kewajiban nya.


Moza pun beranjak dari kasurnya, namun setelah ia berdiri seluruh badan nya benar benar sangat sakit hingga ia merintih kesakitan untuk berjalan.


"Kau mau kemana?." tanya Elliot setelah membuka pintu kamar mandi dengan rambut yang basah.


Ternyata Elliot sudah mandi mendahuluinya.


"Kapan kau sudah bangun?."


"Sejak tadi aku sudah bangun, dan langsung mandi." ujarnya dengan wajah yang begitu segar.


Elliot segera menghampiri Moza dan langsung menggendong Moza untuk ke kamar mandi.


"El apa apaan ini, lepaskan aku." pekik Moza.


Namun Elliot tidak menghiraukan nya, ia terus berjalan membopong Moza kedalam bathup.


"Mandilah yang bersih, setelah itu sarapan. Aku akan turun kebawah untuk bermain golf dengan anak anak ." ujar Elliot.


Kemudian ia pun pergi meninggalkan Moza disana.


Moza pun tidak peduli dan langsung membersihkan dirinya dengan luluran yang menggunakan sabun bunga teratai.


.


.


.


...****************...


Waktu terus berlalu...


Sore itu Elliot dan para anak anaknya akan pergi untuk berkuda, yang tidak jauh berada di sekitar villa. Mereka selalu melakukan balap kuda jika Elliot berada di villa ini.


Moza hanya melihat mereka yang sudah siap dengan kuda masing masing.


"Nyonya mohon maaf apa mau jadi wasit untuk kami?." tanya Hansel.


Moza pun mengangguk tersenyum dan langsung menghampiri mereka yang sudah siap berbaris.


"Bersiap siap, 1...2...3. Go!!."


Mereka semua mengendalikan kuda itu dengan sangat handal bak pangeran yang ada di kerajaan.


Entah Moza sangat terheran kenapa mereka sangat pandai melakukan banyak hal. Dengan seragam pelindung dan juga topinya Elliot benar benar terlihat sangat gagah bak pangeran yang sesungguhnya.


Kuda kuda itu terus berlari mengelilingi lapangan itu, dengan debu tanah yang pekat karena kuda itu benar benar sangat kencang.


Hingga Moza menatap itu sungguh bergedik, ia takut salah satu mereka ada yang terjatuh, tetapi semoga mereka aman dan selamat.


Beberapa saat Elliot pun yang berhasil memenangkan lomba lari kuda itu.


"Wahh tuan memang sudah sangat handal hingga kami tidak bisa mengalahkan nya." ucap Toni.


"Kudanya yang handal, si hitam jagoan ini." ucap Elliot dengan mengelus kuda itu.


"Aku benar benar takut terjatuh, kakiku bergetar." ungkap Tino.


"Jika kau berkuda pasti selalu begitu dan tidak berubah, dasar cupu." ledek Glenn.


"Hei aku memang tidak suka naik kuda bodoh!. lagi pula ini bukan jaman majapahit!." pekik Tino.


"Sudahlah kalian terus saja debat yang tidak penting." pekik Hansel yang selalu menjadi penengah antara Glenn dan Tino.


"Nyonya, apa kau mau menaiki kuda?." tanya Toni menghampiri Moza.


"Tidak Tino, aku takut menaikinya."


"Aku Toni nyonya, baiklah jika nyonya takut lebih baik jangan."


"Naiklah bersamaku." ujar Elliot secara tiba tiba menghampiri Moza.


"Tidak, aku tidak suka naik kuda." ujar Moza.


"Kau harus mencobanya, kita akan mengelilingi keindahan alam yang ada disini."


"Tapi.."


"Aku ada di belakangmu." ucap Elliot.


Akhirnya Moza di bantu Elliot untuk menaiki kuda nya.


Dengan rasa yang begitu takut Moza berpergangan erat dengan Elliot karena kuda itu mulai berjalan.


Elliot tertawa melihat wajah Moza yang penuh ketakutan.


"Nikmati saja alam nya, lihat di sana akan ada air terjun." ucap Elliot.


Mereka berdua berkuda dengan langit senja yang menghiasinya.


Moza benar benar menikmati alam itu yang indah dengan hembusan angin yang menyejukan hatinya.


Ia melihat air terjun di depan yang benar benar indah.


"Ternyata benar ada air terjun El." pekik Moza dengan mata yang antusias.


"Kau menyukainya?."


"Aku menyukainya, boleh kita berhenti disana dulu?."


"Baiklah." Elliot pun segera berhenti, dan membantu Moza untuk turun dari kudanya.


Moza segera berlari menuju air terjun itu dengan melentangkan tangan nya.


Ia memejamkan matanya seolah menikmati keindahan serta hembusan angin.


Elliot yang menatap Moza itu hanya menyunggingkan senyuman nya.


Ia menatap istrinya memandangi air terjun itu dengan berdiri, rambutnya yang tergerai bebas tampak melambai indah tertiup hembusan angin yang cukup kencang.


Dan gaun nya yang pas di badan terlihat berkibar seksi hingga menampakan lekuk tubuhnya yang indah dan menggiurkan.


Darah Elliot mendidih seketika saat melihat pemandangan itu.



"Aku akui bahwa dia sangat cantik." gumam nya. "Dan tenyata dia adalah wanita yang baik." lanjutnya.


Ia mengetahui sejak tadi malam bahwa Moza memang masih murni, hingga ia dengan berusaha keras ingin menyatukan miliknya.


Elliot berjalan melangkahkan kakinya menghampiri Moza yang masih betah disana tanpa bergeming.


"Kita besok pulang ke mansion utama." ujar Elliot membuat Moza seketika menolehnya.


"Kenapa besok?." tanya Moza.


"Aku tidak bisa meninggalkan perusahaan, Jonathan sangat kewalahan untuk mengurusnya sendiri. Dan jarak dari sini ke kantorku sangatlah jauh." ujar Elliot dengan menatap air terjun itu.


"Jika kau ingin pulang ke mansion silahkan saja, aku masih ingin tinggal disini." ujar Moza.


"Bukankah kemarin kau bilang tidak betah tinggal disini?."


"Aku betah, ternyata alam nya membuatku nyaman dan tenang. Biarkan aku disini saja dengan Hansel dan si twins yang menjagaku, lagi pula disini ada mbok Ningsih dan juga pak Jalal kan?."


"Tidak, kau tetap harus ikut denganku." ucap Elliot dengan wajah datar.


Mereka berdua saling bertatapan dengan suasana suara burung yang berkicau mengelilingi mereka berdua.


"Kita harus kembali ke villa, ini sudah terlalu sore." ucap Elliot segera memalingkan wajahnya kemudian ia melenggang pergi begitu saja.


"Bagaimana jika ibumu menolak kehadiranku di mansion mu?." tanya Moza membuat Elliot segera menghentikan langkahnya.


"Kau selalu saja berpikir negatif tentang ibuku." ujarnya tanpa menoleh, ia segera melanjutkan langkahnya kembali.


"Bukan begitu..."


Moza menghela nafasnya menatap kepergian Elliot kemudian ia kembali menatap air terjun yang begitu deras memiliki aroma yang memikat.


.


.


...****************...


Glenn dan Hansel mereka sedang berbincang di taman paviliun yang ada di belakang villa sambil menghisap rokoknya.


Malam itu cuaca nya begitu sangat dingin, dengan bulan sabit yang menyinari mereka.


"Aku melihat tuan Elliot berbeda memperlakukan Moza." ucap Hansel.


"Benar, aku bahkan seperti bukan mengenali dirinya jika dia sedang bersama Moza." sahut Glenn.


"Padahal tuan orangnya sangat anti berdekatan dengan wanita, aku tau dia orangnya bagaimana." lanjut Glenn.


"Mungkin karena Moza sangat cantik dan memiliki daya tarik yang luar biasa, pantas saja tuan El terpikat." ucap Hansel.


"Tidak mungkin, banyak wanita cantik yang mendekati tuan El tetapi dia tidak merespon nya."


"Aku yakin dengan seiring waktu mereka pasti saling jatuh cinta."


"Akupun berpikiran seperti itu, semoga saja agar tuan El dapat kebahagiaan bersama wanita yang di cintainya. Aku sangat perihatin dengan tuan El yang menikah dengan Cleo secara keterpaksaan dan tanpa cinta itu pasti tidak enak."


.


.


.


Bersambung...