My Favorite Wife

My Favorite Wife
Episode 5. Luxury Palace



...MY FAVORITE WIFE...


.


.


.


...****************...


Mansion Luxury Palace



Malam itu seluruh keluarga Alberntino sedang berkumpul di ruang tengah.


"Minggu depan kita berdua akan menikah, ku harap ayah dan ibu memberikan restu untuk kita." ucap Elliot di depan keluarganya.


Deg!


"Menikah?." pekik Winda membelalakan matanya.


Tak hanya Winda yang kaget, mereka semua yang berkumpul ikut terhenyak setelah mendengar tutur kata dari Elliot.


Apalagi Moza ia benar benar seperti tersengat petir.


"Apa apaan pria ini, kenapa harus di bicarakan sekarang, dan kenapa tidak berkompromi dulu sebelumnya." Batin nya.


"Apa kau tidak terlalu cepat untuk mengambil keputusan El?." tanya Albert.


"Tidak ayah, ini sudah menjadi keputusanku." Jawab Elliot.


Cleo meneteskan air matanya, begitu sangat perih hatinya setelah mendengar keputusan dari suami yang ia cintai ternyata akan menikah lagi.


"Lalu bagaimana dengan Cleo? Apa kau sudah meminta izin padanya?." tanya Albert


"Cleo sudah menyetujuinya." jawab Elliot menatap Cleo yang menundukan wajahnya.


"Ibu tidak setuju!." pekik Winda.


Pekikan winda membuat semua tertuju padanya.


"Aku tidak ingin kau menikah dengan model ini!, kau tau bukan profesi model itu seperti apa? Dia selalu mengekspos tubuhnya pada semua orang, lebih tepatnya seperti wanita murahan!." ucap Winda dengan nada sedikit tinggi.


Degg!!


Hati Moza terhenyak seseorang menghina profesinya. Terlihat sekali dari wajahnya yang tengah memerah untuk memendam rasa sakit hatinya.


"Apa apaan wanita rentan itu menghinaku?." batin Moza bergejolak.


Hingga ia sekuat tenaga mengepalkan tangannya untuk bersabar, dan mengatur ritme nafasnya.


"Jangan berbicara sembarangan Winda, lebih baik kau diam jika tidak tau tentangnya." ucap Firdania.


"Oh, jadi ibu yang menjodohkan Elliot dengan wanita ini?, sungguh putraku yang malang jika harus menikahinya." cibir Winda dengan raut tak suka menatap Moza.


"Apa maksudmu berkata seperti itu Winda? Elliot bahkan tidak merasa terpaksa, bahkan Elliot yang mengatur pernikahan nya sendiri." pekik Firdania.


"Itu sudah pasti, karena putraku sudah di hasuti oleh kata kata mu." ucap Winda menatap tajam ke arah Firdania.


"Winda!." Bentak Firdania.


"Aku sudah lama memendam amarah dan kekesalan ku pada ibu, ibu selau mencampuri hidup putraku! Dari kecil Elliot selalu menuruti kata kata ibu dari pada aku ibu kandungnya sendiri! Itu membuatku muak, apalagi Elliot adalah putraku satu satunya, dia sama sekali tidak dekat denganku. Itu semua gara gara ibu yang terus menghasutinya, merawatnya, memberikan kasih sayangnya lebih dariku."


"Itu semua karena aku menyayangi cucuku! dan demi kebaikan nya. Seharusnya kau sadar peranmu sebagai ibu untuk Elliot seperti apa, apakah kau sudah baik menjadi ibu untuknya?." pekik Firdania.


"Jangan pernah mengajarkan ku ibu!." ucap Winda.


"Cukup! hentikan!." Bentak Albert.


Mereka semua tersentak mendengar suara Albert yang membuat mansion menggelegar.


"Apa kalian tidak malu bercecok di depan kami semua?, dan kau Winda, kau sudah keterlaluan melawan ibukku dengan kata kata mu yang tidak bermoral!." Bentak Albert.


"Tidak bermoral? Kata kataku yang mana tidak bermoral? Apa aku salah mengeluarkan unek unekku pada ibu yang sudah puluhan tahun aku pendam." tanya Winda mengerutkan keningnya.


"Tidak seharusnya kau meninggikan nadamu saat berbicara dengan ibukku!." ucap Albert menatap tajam.


"Jadi kau membela ibumu begitu?, kau sama sekali tidak memikirkan perasaanku Albert!." pekik Winda.


Moza memejamkan matanya, kepala nya begitu sangat pusing mendengar percekcokan dari keluarga Alberntino.


"Huftt kenapa mereka jadi berantem begini? Duh rasanya kepalaku pening sekali mendengar suara dari wanita itu begitu sangat nyaring di telingaku."


Gerutu Moza di dalam hatinya.


Jujur saja ia baru pertama kali melihat orang yang sedang berdebat dengan suara sedikit keras membuat kepalanya terasa pening.


Elliot dari tadi hanya menyimak saja dengan memasang aura dingin dari wajahnya sambil memendam kekesalan nya.


"Keputusanku tetep mutlak, minggu depan aku akan menikah, dan aku tidak peduli jika ayah dan ibu tidak merestuinya." putus Elliot dengan nada yang berat.


Elliot menggenggam tangan Moza dan beranjak dari duduknya untuk meninggalkan mansion.


Moza membelalakan matanya sungguh tak percaya bahwa tangannya kini di genggam oleh Elliot di depan istri dan keluarganya.


"Permisi saya izin pulang semuanya.." ucap Moza membungkukan badannya dan tersenyum.


Namun Elliot langsung menyeretnya untuk keluar.


Cleo yang menatap nanar kepergian mereka berdua begitu mengiriskan hatinya apalagi Elliot yang menggenggam tangan Moza, bahkan ia sendiri tidak pernah di genggam seperti itu oleh Elliot.


Hingga Cleo mengepalkan tangannya dengan tatapan benci.


Saat di halaman mansion Moza terus memberontak agar Elliot melepaskan genggaman nya.


"Lepaskan tanganku!." pekik Moza berulang kali dengan sekuat tenaga.


Pada akhirnya Elliot pun melepaskan nya.


"Tidak seharusnya kau menggenggam tanganku di depan istri dan keluargamu tuan Elliot!." pekik Moza dengan wajah yang kesal.


"Aku tidak peduli, kau juga akan menjadi istriku." sahutnya dengan tenang.


"Cihh.." Moza hanya mendengus kesal.


Beberapa saat Glenn pun datang menghampiri mereka berdua dengan membawa mobil sportnya.


"Selamat malam tuan, dan nona Moza." sapa Glenn yang baru saja keluar dari mobil.


"Glenn berikan saja kuncinya, aku akan menyetir sendiri." ucap Elliot.


Glenn pun memberikan kunci mobilnya pada Elliot.


"Oh ya, aku akan pulang ke apartmen kau tunggu aku disana." ucap Elliot.


"Baik tuan." sahur Glenn menundukan wajahnya.


Tanpa basa basi Moza pun langsung memasuki dirinya k dalam mobil itu dengan langkah seperti anak kecil yang sedang kesal.


Elliot pun menyunggingkan bibirnya melihat kelakuan Moza yang begitu menggemaskan.


"Ternyata wanita cantik juga bisa marah." ucap Glenn.


"Apa yang kau katakan?." tanya Elliot.


"Ahh t-tidak ada tuan." sahut Glenn dengan terbata bata.


Elliot pun segera masuk kedalam mobil sport nya, dan menancapkan gas untuk meninggalkan mansion.


"Berani sekali tuan El membawa nona Moza ke mansion ini, sungguh gerecep. Jadi penasaran apa yang terjadi?." pikir Glenn dengan raut wajah sangat kepo.


Ia pun berniat menemui bi Sumi untuk menanyakan hal itu.


.


.


......................


Di perjalanan menuju pulang mobil sport itu berjalan dengan kecepatan normal di selimuti oleh keheningan.


Kedua insan itu memilih untuk tidak mengeluarkan sepatah katapun dan fokus pada masing masing.


Elliot yang fokus menyetir dan Moza yang menatap jendela di sampingnya.


"Ibumu tidak menyukaiku, apa kau akan tetap melangsungkan pernikahan tanpa restu dari keluargamu?." tanya Moza memecahkan keheningan.


"Hidupku aku yang jalani, ibuku bukan tidak menyukaimu tetapi dia belum bisa menerimamu. Kau harus dekati ibuku, ibuku orang baik percayalah." ucap Elliot dengan wajah lurus menatap jalanan.


"What! Aku harus dekati ibumu yang sudah membuat telingaku berdenging sakit gini akibat celotehan nya? Jangan pernah bermimpi aku akan jadi menantu yang baik."


Desis Moza di dalam hatinya.


.


.


.


Bersambung....


Minta komenan nya dong hehe❤️❤️