My Favorite Wife

My Favorite Wife
Episode 27. Gadis kecil itu...



...MY FAVORITE WIFE...


.


.


.


...*🖤Happy Reading🖤*...


...****************...


Hari demi hari berlalu, Moza yang tidak punya jadwal pemotretan ataupun agenda pekerjaan nya merasa sangat bosan dirinya seharian berada di mansion.


Tidak ada yang ia lakukan selain makan, tidur, nonton drakor, membaca novel dan sebagainya.


"Huftt!! Jenuh sekali, sudah 4 hari ini Elliot tidak pernah mengabariku, apakah sesibuk itu dia disana?." gumam Moza sembari menutup buku novelnya yang sejak tadi ia baca untuk meneyimuti rasa jenuh nya.


"Ehh lagi pula untuk apa aku memikirkan dia? Toh dia juga sepertinya tidak memikirkanku disana, cihh dasar!." gerutu Moza dengan kembali meneruskan membaca buku novelnya.


Namun tiba tiba sebuah nada telepon membuyarkan kehusyukan membacanya.


Moza segera menoleh ke arah ponselnya yang berdering, kemudian ia berjalan dengan malas mencoba mengambil benda pipih itu yang berada jauh di dekatnya menuju meja laci.


"Siapa sih malam malam begini." pikir Moza penasaran memicingkan matanya.


Dengan terkejut Moza langsung membulatkan kedua matanya dengan mulut yang menganga.


"Whatt!!!." Pekik nya dengan ekspresi penuh keterkejutan.


Bagaimana bisa Brian Issander menelponnya setelah beberapa bulan ia menghilang karena sibuk di Canada.


Moza pun menarik nafasnya mengatur ritme jantung nya agar tidak terdengar canggung saat mengangkat telepon nya.


"Hallo.." ujar Moza dengan nada dibuat terdengar tenang dan lembut seolah tidak terjadi apa apa.


"Selamat malam Miss Moza.." ujar Brian di seberang sana dengan suara khas nya membuat Moza merasa lemas karena mendengar suara yang benar benar sudah lama tak ia dengar.


"Se-selamat malam juga tuan Brian.." ujar Moza kembali mencoba tenang.


"Apa kabarmu?, Kau baik baik saja kan?.". Tanya Brian.


"Akuu sangat baik tuan, lalu bagaimana dengan anda?."


"Syukurlah, aku juga sangat baik. Oh ya aku menelpon malam malam begini apa tidak menganggumu?."


"Ahh sama sekali tidak, karena aku belum tidur."


"Aku hanya ingin mengucapkan sesuatu."


"Kenapa tuan?." tanya Moza penasaran.


"Aku memberitahumu bahwa aku sudah pulang ke Indonesia." ujar Brian dengan terdengar sedikit terkekeh di ujung telepon nya.


Degg!!!


Moza terdiam mematung dengan ekspresi yang tak terbaca.


Kenapa ia begitu merasa sangat senang Brian pulang ke Indonesia, kenapa juga hatinya merasa berdegup sangat kencang seperti tak biasanya.


Moza sangat tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan saat ini.


"Ohh baguslah kalau gitu." jawab Moza dengan singkat.


"Oh ya, besok kita bertemu sekalian membahas tentang membuat iklan untukmu."


"Bertemu?." pikir Moza


"Apa kau besok sibuk?." tanya Brian.


"Ahh tidak, justru akhir akhir ini aku tidak memiliki jadwal apapun." ucap Moza.


"Hmm baiklah, kalau begitu besok kau datang saja ke kantorku pukul 11.00." ucap Brian.


"Baiklah besok aku akan kesana bersama managerku."


"Okay, kalau begitu aku juga ingin mengucapkan sesuatu lagi untukmu."


"Apa itu?." tanya Moza.


"Have a nice dream.."


Degg!!!


Moza tak bergeming entah harus apa yang ia katakan untuk hal seperti ini.


"Tidak di jawabkah?." tanya Brian dengan nada sedikit kecewa.


"Hah kenapa tuan?." Moza pura pura tidak mendengar.


"Lupakan saja, ya sudah aku tutup telepon nya ya."


"Baiklah tuan." ujar Moza.


Tut!


Tut!


Tut!


Telepon pun terputus.


Moza langsung melompatkan dirinya ke sebuah kasur king size dengan menyusupkan wajahnya ke bantal seolah ia salting.


"Apa apaan dia? Mengucapkan have a nice dream yang benar saja!." gerutunya kesal.


Namun di dalam lubuk hatinya sebenarnya Moza sangat senang namun ia tidak terlalu mempedulikan perasaan nya.


Moza terus mencoba mengatur nafasnya yang terus saja merasa sesak saat telponan dengan Brian.


Bahkan ia tidak mengerti kenapa jantungnya masih saja berdegup kencang walaupun ia sudah tak bertelponan lagi dengan Brian.


"Baiklah lebih baik aku tidur saja dari pada memikirkan yang tidak jelas." gumam Moza.


.


.


...****************...


Mansion Pribadi Brian Issander.



Ia menatap sebuah foto dimana itu adalah foto seorang anak kecil yang sangat cantik dan lucu.


"Moza, apa kau sama sekali tidak mengenalku?." gumam nya seraya menatap foto itu.


Flashback On!!!


20 tahun yang lalu...


Brian baru saja tinggal di Indonesia beberapa hari karena ia menjenguk sang nenek dari ibu sakit di rawat karena sebuah penyakit.


Awalnya ia tinggal di Canada, karena sang ayah sebenarnya adalah asli orang Canada sedangkan ibunya orang Indonesia.


Ayah Brian mempunyai perusahaan di Canada yang sangat besar, sebenarnya perusahaan di Indonesia itu hanyalah cabang, namun perusahaan cabang milik ayahnya itu berkembang pesat di Indonesia karena sebuah produknya yang sudah sangat trend hingga manca negara.


Pada saat itu Brian sedang berjalan mengelilingi sebuah taman di sore hari dengan membawa sebuah kamera yang menggantung di lehernya.


Brian saat itu berusia 8 tahun, ia melakukan pemotretan pemandangan di sore hari itu karena menurutnya cuaca dan langitnya sedang bagus.


Saat ia hendak mencoba memotret kesana kemari, tidak sengaja lensa camera Brian tertuju pada sosok gadis kecil berusia 4 tahun, walaupun ia masih kecil namun garis wajahnya terlihat sangat cantik jelita membuat Brian terus menatapnya tanpa berkedip.


"Baru kali ini aku melihat gadis cantik alami sepertinya, bahkan di Canada pun ku cari sepertinya tidak akan ada secantik dia." gumam Brian di dalam hatinya.


Gadis kecil itu sedang berlari kecil untuk menangkap kupu kupu yang terbang di atasnya.


Dengan kesempatan itu Brian mencoba mengambil beberapa jepretan untuk memfotonya.


Namun tiba tiba gadis kecil itu terjatuh karena terkilir saat hendak menangkap kupu kupu nya.


Dengan sigap Brian langsung menghampirinya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


"Are you okay?." tanya Brian berlutut di hadapan nya.


gadis kecil itu mengangkat wajahnya dan menatap Brian, tak lama ia menganggukan kepalanya.


"you are hurt, wait i have a handkerchief to clean the wound and the dirt."


(kamu terluka, tunggu aku punya saputangan untuk membersihkan luka dan kotoran nya.)


Brian segera mengeluarkan saputangan nya lalu ia membersihkan luka dan kotoran di tangan dan kaki gadis imut itu dengan sangat telaten.


"Aku tidak apa apa." ujar gadis kecil itu.


Namun brian tidak menggubris ia fokus untuk membersihkan nya.


"finished, you better not run it will only make you hurt again like this."


(selesai, lebih baik kau jangan berlarian itu hanya akan membuatmu terluka seperti ini lagi.)


Gadis kecil itu tidak menjawab ia hanya terdiam karena tidak mengerti dengan apa yang Brian katakan padanya.


Brian pun mengulurkan tangan nya sembari tersenyum manis.


"Hi, my name is Brian. What your name?."


Gadis kecil itu masih mengerutkan alisnya, ia begitu sangat polos karena tidak tau apa yang harus ia lakukan.


Brian menggarukan kepalanya, ia tidak bisa berbicara bahasa Indonesia karena ia baru beberapa hari disini, tetapi ia sangat ingin berkenalan dengan gadis ini.


"Hmm, Brian!. I'm Brian, and you?." Ia mencoba berbicara sembari melakukan gerakan tubuh agar Moza mengerti apa yang ia maksud.


Brian ingin sekali tau nama gadis kecil ini.


Gadis kecil itu masih tetap mengerutkan keningnya seolah mencerna dan memahami gerakan Brian.


"Aku tidak mengerti apa maksud kamu." ucapnya.


"What?." pikir Brian mengerutkan alisnya.


Namun saat ia tengah berpikir, ia melihat sebuah kalung yang tergantung di leher gadis kecil itu.


"M..o..z..a." Brian membacanya dengan terdengar mengeja.


Gadis kecil itu mengangkat wajahnya.


"Kenapa kamu tahu nama aku?." tanya nya dengan wajah polos.


"Mouza? Your name is Mouza?." ucap Brian dengan nada cadel kebule bulean.


"Mozaa..." gadis kecil itu menganggukan kepalanya sembari melihat kalung yang menggantung dengan inisal nama.


"Nama aku Mozaa.." ucap nya dengan berseringai manis.


"Mouza?." Brian mencoba memanggil


"Yaa?." tanya Moza


Brian begitu antusias setelah mengetahui nama gadis kecil ini.


"Yeayy!!!." Brian melompat lompat kegirangan.


Dan saat kejadian itupun Brian ingin belajar bahasa Indonesia.


Walaupun saat hari itu mereka berdua tidak pernah bertemu lagi, tetapi Brian terus mencari keberadaan Moza hingga sekarang.


Flashback Off!!!


Brian menyimpan foto gadis kecil itu kedalam sebuah kotak yang sudah ia siapkan dari dulu.


"Aku sudah menemukanmu Moza, ku harap kau tidak pernah pergi lagi dariku." ucap Brian tersenyum.


"Tak ku sangka ternyata gadis kecil itu kini tumbuh sebagai wanita yang sangat cantik dan berbakat Moza."


Kemudian ia memasukan kotak itu kedalam laci kamarnya.


.


.


.


Bersambung....


Hai hai haii...


Maafin author ya baru update lagi nih, jangan pernah bosen ataupun ngeluh untuk membacanya ya, karena author pasti bakal namatin ceritanya kok asalkan author minta dukungan nya ya biar makin semangat nulisnya buat kalian semuaa yang menunggu alur cerita My Favorite Wife.


Terima kasih sudah membaca dan menunggu🫶🏻🫶🏻.


🥰🥰🥰