
...MY FAVORITE WIFE...
.
.
.
Malam itu Moza terus saja membulak balikan badan nya di atas kasur dengan perasaan yang gelisah.
Perutnya terus saja berbunyi menandakan bahwa ia harus segera mengisi nya.
Moza memegang perut yang rata itu dengan tubuh yang terlentang.
"Aku tidak bisa menahan nya." gumam nya dengan raut wajah sedih.
Perlahan Moza turun dari kasur itu untuk menuju ke sebuah dapur yang berada di lantai bawah.
Ia melangkah mengendap ngendap seperti maling yang tidak ingin kelihatan oleh Elliot. Karena sejak kejadian tadi dirinya begitu sangat malu hingga tidak ingin menampakan wajahnya lagi di hadapan nya.
Mata moza melirik kesana kesini ternyata di apartemen itu sangat sepi dan dirinya tidak mendapatkan sosok Elliot ataupun Glenn disana.
"Pada kemana mereka, apakah mereka sudah pada tidur? Mana mungkin sih ini masih jam 20:30 kan." ujar Moza sambil melirik arah jarum jam dinding.
Dengan tidak peduli Moza pun berlari ke dapur untuk mencari sepotong roti ataupun stok makanan yang bisa ia makan di dalam kulkas itu.
Namun saat Moza membuka pintu kulkas itu, di membukakan mulutnya dengan wajah tak percaya. Bagaimana bisa kulkas yang berukuran dua pintu itu tidak ada apa apa di dalam isinya, sungguh membuat Moza sangat kecewa.
"Apartemen sekelas ini tidak ada makanan? apa yakin.." gerutu Moza.
Namun saat ia hendak untuk kembali ke kamar ia tersentak karena Elliot ada di sana dengan balutan jaket tebal sambil menenteng kantong plastik di tangan nya.
Mereka berdua saling menatap beberapa saat.
"Kenapa disini tidak ada stok makanan?." tanya Moza.
"Aku belum mengisinya, lagi pula kita hanya semalam disini." ujar Elliot.
"Aku tau, tapi perutku sangat lapar." pekik Moza.
Elliot memberikan kantong plastik itu pada Moza.
"Siapkan makan malam untukku." ucap Elliot dengan datar.
"What! Kau pikir hanya kau saja yang lapar hah?!." bentak Moza.
Elliot tidak menjawab ia malah membuka topi hitam nya dengan sangat santai.
"Siapkan saja sendiri, aku ingin tidur!." pekik Moza kemudian ia melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar nya.
Namun tiba tiba lampu pun mati hingga tidak ada celah untuk melihat kesekelilingnya.
"Aaagghh!!. tolong kenapa ini gelap sekali!." Moza berteriak sambil memeluk tubuh kokoh yang ada di hadapan nya itu.
Elliot yang di peluk oleh Moza itu tidak bisa mengelak. Ia membiarkan Moza yang bersembunyi di dalam dada bidang nya.
"Glenn! Ada apa ini?." teriak Elliot.
"Saya akan cek terlebih dahulu tuan." ujar Glenn yang segera mengecek keadaan listrik.
Elliot mencoba melepaskan Moza dari tubuhnya, namun Moza malah semakin memperkuat pelukan nya.
"A-aku takut gelap, tolong nyalakan lampunya." rintih Moza dengan nada penuh ketakutan.
Elliot mendengar itu langsung terdiam dan membiarkan Moza yang semakin kuat memeluk dirinya.
Rambut Moza begitu sangat harum membuat Elliot sangat nyaman menghirupnya.
"Tenanglah." Elliot berjalan sambil menggiring Moza untuk duduk di kursi meja makan.
Namun Moza enggan melepaskan pelukan nya, ia lebih memilih duduk di pangkuan Elliot, membuat Elliot membelalakan matanya.
"K-kenapa lampunya belum saja menyala?." rintih Moza dengan menyusupkan wajahnya ke bagian tengkuk Elliot, membuat Elliot begitu menggelikan.
"Glenn sedang mengeceknya, sabarlah." Elliot menenangkan Moza dengan membalas pelukan nya.
"Ada apa denganku? kenapa aku bisa membiarkannya memelukku? dan kenapa juga aku bisa membalas pelukan nya?." pikir Elliot di dalam hatinya.
Beberapa menit mereka berdua saling berpelukan di tengah kegelapan ruangan yang membuat mereka betah dalam pelukan hangat nya, di tambah di luar sana sedang hujan dengan kilatan gelap yang menyinari apartemen nya.
Mereka berdua seperti tidak menyadari apa yang mereka lakukan di dapur itu.
Selang tak lama lampu pun kembali menyala. Glenn yang menghampiri Elliot seketika mematung melihat kemesraan mereka berdua, dan ia mengurungkan niatnya untuk kembali pergi dari sosok pengantin baru yang sedang berpelukan, karena Glenn tidak ingin mengganggu suasana romantik itu.
Mereka berdua masih betah berpelukan dengan memejamkan matanya.
Elliot yang terlebih dahulu membuka matanya, ternyata Moza masih memeluknya.
"Lampunya sudah menyala, jadi lepaskan pelukannya." ucap Elliot membuat Moza segera membuka matanya dan secepat kilat Moza melepaskan pelukannya lalu berdiri dari pangkuan Elliot dengan wajah kembali menahan rasa malu.
"Maaf aku memang takut gelap, aku tidur dulu." ucap Moza menundukan wajahnya yang kemudian ia melangkahkan kakinya.
Tetapi Elliot menahan tangan Moza membuat Moza berhenti terkaku.
"Tidak, aku sudah tidak lapar." Moza menolak permintaan nya.
"Duduklah, atau aku akan melahapmu malam ini."
Moza membelalakan matanya. "Apa maksudmu?." Moza membalikan badannya dan mengerutkan alisnya.
"Duduklah, malam ini adalah malam pertama kita bukan?." ucap Elliot membuat Moza terasa geli untuk mendengarnya.
"Jangan sembarangan, lagi pula aku sedang berhalangan."
"Kalau begitu duduklah." ucap Elliot.
Dengan terpaksa Moza pun menurutinya dan menduduki dirinya karena tidak bisa membohongi perutnya yang sejak tadi berteriak kelaparan.
"Glenn!!."
"Iya tuan?." Glenn segera menghampirinya.
"Siapkan makanan nya." titah Elliot.
"Baik tuan." Glenn pun segera menyiapkan makanan nya dan membuka isi kantong plastik itu.
"Silahkan tuan dan nona." ucap Glenn setelah ia selesai menyiapkan makanan di atas meja.
Moza terdiam menatap makanan di atas meja itu.
Namun tidak dengan Elliot, ia sudah menyantapnya makanan nya.
"Mau sampai kapan diam seperti itu?. Ohh rupanya kau memilih aku harus melahapmu malam ini ya?."
Moza mendengar itu langsung memakan makanan nya.
"Dasar pria mesum!." gerutu Moza di dalam hatinya.
Elliot yang melihat itu menyunggingkan senyuman nya.
.
.
...****************...
Saat makan malam selesai, Moza langsung masuk kedalam kamar untuk mengistirahatkan diri sambil melihat pemandangan city di jendela kamar.
Namun tiba tiba pintu knop itu terbuka, membuat Moza membuka matanya dan langsung membalikan badan nya.
Elliot datang ke kamar itu dengan wajah yang begitu datar.
"Kau! untuk apa datang kesini?." tanya Moza dengan wajah keterpanikan.
"Tentu saja untuk tidur, kau pikir datang kesini untuk apa? Olah raga begitu?." jawab Elliot.
"Apa!? tidak tidak! kau tidak boleh tidur disini." pekik Moza menggelengkan kepalanya.
"Kenapa? Ini kamarku." sahut Elliot.
"T-tapi kenapa tidak mencari kamar lain? kenapa harus disini?." tanya Moza.
"Di apartemen ini hanya ada dua kamar, dan kamar satunya lagi di pake Glenn." ujar nya.
Elliot segera merebahkan dirinya di samping Moza dengan wajah begitu datar. Membuat Moza melongo di buatnya.
"Hei!!." pekik Moza
"Tidurlah, aku tidak ingin berdebat." ucap Elliot sambil memejamkan matanya.
Dengan terpaksa dan rasa kesal, Moza pun membaringkan badan nya.
Ia menyimpan guling sebagai pembatas mereka berdua.
"Jangan pernah tidur melebihi garis batas ini." ujar Moza memicingkan matanya.
Namun Elliot tidak menyautinya.
Rasanya begitu sangat bermimpi, malam ini adalah malam pertama dimana Moza tidur dengan seorang laki laki, bahkan ia sangat membenci laki laki itu.
Laki laki yang sejak tadi pagi menikahinya. Laki laki yang membuat Moza terus berteriak, dan laki laki yang membuat Moza selalu kesal di buatnya.
Moza pun akhirnya tertidur dengan posisi yang membelakangi Elliot, namun Elliot tertidur dengan posisi terlentang.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa klik like nya ya bestie🤗