
...MY FAVORITE WIFE...
.
.
.
Boutique Billblues.
Moza dan Glenn baru saja menapaki kakinya di sebuah butik ternama di jalan pusat kota.
"Selamat datang nona dan tuan ada yang bisa saya bantu?." sambut para pelayan butik dengan ramah.
Belum sempat menjawab Glenn sudah melihat Elliot sedang duduk di sofa.
"Tidak ada." jawab Glenn tersenyum pada pelayan kemudian menghampiri Elliot.
"Selamat sore tuan, maaf kami telah membuat anda menunggu." ucap Glenn membungkukan badan nya.
"Kenapa bisa?." tanya Elliot dengan wajah datar.
"Di jalan macet tuan." jawab Glenn berbohong.
"Lalu dimana wanita itu?." tanya Elliot.
"Dia ada di samp..." belum sempat Glenn menyelesaikan kalimatnya karena ia mencari sosok Moza yang kini tidak ada di sampingnya.
"Ohh, nona ada di luar tuan." jawab Glenn setelah ia melihat Moza.
Elliot segera beranjak dari duduknya untuk menghampiri Moza.
"Masuk." titah Elliot.
Moza menoleh nya namun ia kembali menatap lurus.
"Untuk apa?."
"Kau akan melakukan fitting gaun untuk pernikahan nanti." ucap Elliot.
Moza terdiam seolah meratapi nasib nya.
"Ya Allah apakah takdirku memang harus seperti ini? Jika memang ini garis nasibku kumohon kuatkanlah aku dan lancarkan lah hamba untuk menjalani nya." ucap Moza di dalam hati.
Elliot memanggilkan seorang pelayan dengan mengangkat tangan nya.
"Tolong carikan gaun pengantin untuk dia." ucap Elliot.
"Baik tuan, mari nona ikut dengan saya untuk memilih berbagai macam gaun pengantin, dan mungkin salah satunya ada yang nona sukai." ucap pelayan itu dengan ramah.
Moza pun terpaksa mengikuti pelayan itu dengan tatapan kosong penuh pikiran.
"Silahkan nona disini ada gaun yang modelan terbaru, dan disini manik mutiara nya asli impor dari laut korea." ucap pelayan menjelaskan beberapa gaun mewah yang sejak tadi ia keluarkan namun Moza tidak menyahutinya.
"Bagaimana nona? Mana yang nona sukai?." tanya pelayan itu
Moza pun menujuk ke arah gaun sebelah kanan itupun ia memilih dengan asal, agar dirinya segera pulang ke rumah.
Dia sangat tidak ingin jika harus bertemu dengan Elliot, pria yang sudah membuatnya selalu muak.
"Pilihan yang sangat bagus nona. Mari kita coba terlebih dahulu nona." ajak pelayan itu menggiring Moza ke arah kamar pengganti.
Setelah Moza di bantu oleh seorang pelayan untuk mencoba gaun indah tersebut, ia termenung di depan cermin.
"Wow anda sangat cocok sekali memakai gaun ini nona, mari kita tunjukan kepada tuan El." ucap pelayan itu dengan wajah antusias nya.
Dengan terpaksa Moza mengikuti pelayan itu menghampiri Elliot yang dirinya juga sedang mencoba tuxedo yang sangat mewah dan pas di tubuh kekar nya.
Glenn yang sedang menguap lebar seketika menghentikan nya saat melihat di antara kedua insan itu begitu sangat serasi.
Glenn membelalakan mata dan mulut nya.
"Amazing couple!." lirihnya dengan wajah penuh kekaguman.
Elliot mengalihkan padangan nya setelah seseorang menghampiri dengan balutan ballgown yang sangat mewah dan elegan.
Elliot menatap Moza dari atas hingga bawa dengan tatapan penuh arti.
Namun ekspersi Moza tidak berubah, ia masih cuek seakan tidak peduli dengan tatapan Elliot yang terlihat kagum padanya.
"Mau aku colok matamu!?." pekik Moza dengan gusar karena Elliot tidak berkedip.
Elliot segera membuyarkan tatapan nya.
"Jangan terlalu pede bahwa aku terpesona melihatmu!, jujur saja kau sangat tidak cocok memakai gaun semewah ini."
Moza membelalakan matanya ia sungguh tidak terima perkataan dari Elliot di depan pelayan, yang membuat dirinya sangat malu bukan kepalang.
"Pelayan cepat ganti gaun ini, cari yang lebih sederhana untuknya." titah Elliot kepada pelayan.
"Apa maksudmu!? Aku menginginkan gaun ini." pekik Moza tidak terimaz
"Gaun itu sangat tidak cocok untukmu. Lagi pula pernikahan ini tidak akan bergelar mewah." ucap Elliot dengan wajah datar.
Moza kembali membulatkan matanya.
Bagaimana bisa seorang Moza Miss Superstar tidak cocok membawa gaun mewah ini, Elliot sungguh keterlaluan.
"Tidak akan bergelar mewah maksudnya?." tanya Moza mengerutkan keningnya.
"Pernikahan kita hanya akan di hadiri oleh kerabat dan keluarga saja. Karena aku tidak ingin para pengusaha lain tau jika aku punya istri lagi. Itu sungguh mencoreng nama baikku dan perusahaanku." ucap Elliot dengan nada penuh penekanan.
Degg!!
Moza semakin membulatkan matanya hingga manik coklat itu terlihat jelas nan indah.
"Kau pikir aku mau pamer jadi istri keduamu? aku sungguh tidak sudi, bahkan itu akan membuat popularitasku jelek jika media tau aku menikah denganmu!." pekik nya.
Kemudian Moza berjalan dengan langkah sedikit terhentak untuk pergi mengganti gaun tersebut.
"Dasar pria arogan! bikin moodku jelek saja, jika aku tidak melihat Glenn yang sudah menungguku berjam jam mungkin aku tidak sudi untuk datang kesini bersamanya!." gerutu Moza sambil berjalan dengan wajah yang kesal.
Glenn mengerutkan alisnya melihat kejadian di hadapan nya antara majikan dan calon majikan nya itu.
"Maaf tuan, padahal menurutku gaun itu co..." belum semat Glenn meneruskan perkataan nya tiba tiba Elliot memotong nya.
"Diam." ucap Elliot seketika membuat Glenn langsung terdiam.
Glenn segera menundukan wajahnya.
.
.
Saat Moza kembali untuk memilih gaun yang lain ia masih memasang wajah gusarnya.
Padahal pelayan sudah beberapa kali mengeluarkan gaun nya.
"Nona, jadi gaun mana yang anda pilih?." tanya pelayan itu yang kesekian kalinya.
"Pilihkan saja yang paling jelek di butik ini dan paling murah di antara yang lainnya!." ucap Moza dengan rasa kesal.
Pelayan itu pun tercengang karena di butik ini tidak ada bahan yang jelek dan semuanya impor. Dengan terpaksa pelayan itu memilih gaun yang berada di tangan kirinya, karena gaun itu pasti sangat cocok untuk Moza.
"Saya memilih gaun ini nona, pasti cocok untuk anda." ucap pelayan itu.
Moza menoleh ke arah gaun itu dengan wajah sinis.
"Terserah saja aku tidak peduli." ungkap nya.
Setelah Glenn selesai untuk pembayaran nya, gaun itu ternyata seharga mobil padahal Moza memilih gaun yang lebih murah namun tetap saja menurutnya itu sangat mahal.
Kini mereke bertiga baru saja keluar dari toko butik dengan langit yang sudah berubah menjadi gelap.
"Sudah selesai kan fitting gaun nya?, kalau begitu aku pamit pulang." ucap Moza kepada Elliot dan Glenn.
"Kita makan malam dulu." ucap Elliot.
"Tidak perlu, aku bisa makan di rumah." ucap Moza menolak.
"Kau pikir aku mengajakmu?, aku berbicara pada Glenn." ucap Elliot.
Glenn yang mendengar itu menahan tawa nya.
Wajah Moza berubah menjadi memerah seperti kepiting yang di rebus.
Ia sungguh malu bukan main, Elliot benar benar keterlaluan.
"Ishhh!!." Moza berdengus kesal.
Karena tidak kuat ia menahan malunya akhirnya ia pergi memasuki taksi yang sedang terparkir di pinggir jalan.
"Kita ke jalan Manda no 34 pak." ucap Moza setelah ia masuk ke dalam taksi.
Ia terus mengatur nafasnya yang benar benar sedikit sesak akibat menahan malu.
"Baik non." sahut supir itu.
Kemudian taksi itu melaju pergi.
Elliot yang menatap kepergian taksi itu memiringkan bibirnya.
"Aku yakin dia pasti tidak bisa tidur saking malu nya." ucap Glenn berseringai.
"Dia memang harus di beri pelajaran, karena sejak di butik dia terus saja berwajah masam." ucap Elliot dengan tangan yang di masukan ke saku celana nya.
"Calon istri tuan yang satu ini sangat galak dan jutek bahkan pelayan butik pun ia jutekin, tuan harus bisa meluluhkan kucing liar itu." ucap Glenn.
"Kucing liar?, hmm panggilan yang cocok untuknya." pikir Elliot menyunggingkan bibirnya.
Elliot pun pergi menuju mobil sport nya di susul oleh Glenn.
.
.
...****************...
Moza yang sedang di dalam taksi itu terus saja mengumpat di dalam hatinya tiada henti.
"Dasar dia berani sekali membuatku malu. huft emang Moza...Moza kenapa bisa berkata seperti itu membuatku malu sampe ubun ubun!." gerutu nya di dalam hati dengan kuku ia gigit dan memejamkan matanya.
Ting (nada dering pesan)
Moza seketika menoleh ke arah ponsel nya menandakan ada sebuah pesan masuk.
"Nomor siapa ini?." pikir nya mengerutkan kening.
^^^'Selamat malam Miss Moza'^^^
"Ahh iya aku baru menyadarinya, tuan Brian memberiku pesan selamat malam saja?." pikrinya membuat ia tersenyum dengan sendirinya.
Ya, sejak makan siang tadi Brian sempat meminta nomor ponsel Moza hanya untuk menghubungi saja untuk soal pekerjaan.
"Aku bales apa nih?, hmm..." pikirnya
Moza terus saja mengetik namun ia hapus kembali dan terus saja begitu.
"Selamat malan juga tuan Issander." Moza segera membalas isi pesan tersebut kepada Brian.
Beberapa detik kemudian Brian pun membalas kembali.
Membuat Moza segera membuka isi pesan nya.
^^^Malam ini aku akan pergi ke Canada,^^^
^^^dan mungkin akan tinggal beberapa bulan disana, untuk sebagai penggantiku aku alihkan pada tuan Gerald. Jika ada yang ingin di tanyakan tentang kontrak kerja sama, kau tanyakan saja pada tuan Gerald. Maaf jika aku hanya titip dengan pesan karena acaranya sangat mendadak.^^^
^^^*Brian Issander*^^^
Setelah Moza membaca isi pesan tersebut ia menutup mulutnya seolah tak percaya.
"Tuan Brian ke Canada untuk apa ya? Berarti pertemuan tadi sepertinya perpisahan." gumam Moza di dalam hatinya dengan raut wajah di tekuk.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa minta klik like dan komenan nya untuk author biar lebih semangat nih lanjutin ceritanya 🙏🤗🤗
Semoga dapat menghibur kalian para readers yang terhormat🙏 salam dari author tercinta❤️