
Malam mulai larut, tidak ada aktivitas lagi di kediaman Jenderal Li. Hanya para penjaga yang berkeliling kediaman untuk memastikan keamanan.
Di Paviliun Musim Semi, nyala terang lentera hanya tersisa di kamar Meihua, sang pemilik kamar itu tengah berjalan mondar-mandir diiringi tatapan lelah Li Mei.
"Aiyaa nona muda, malam sudah larut tidakkah nona merasa mengantuk?" Ucap Li Mei sambil menguap. "Besok Anda akan mulai berkompetisi, kalau anda mengantuk saat acara itu, tamatlah riwayat anda."
"Ini tidak benar, sangat tidak benar." Meihua terus berucap frustasi.
"Sebenarnya apa yang tidak benar Nona?" Li Mei ikut berdiri dan mulai membuntuti setiap langkah yang dibuat nonanya.
"Li Mei, seharusnya aku tidak mengikuti kompetisi pemilihan permaisuri itu. Seharusnya aku tidak perlu masuk istana entah sebagai permaisuri atau selir. Aku takut kepala ku akan hilang sewaktu-waktu."
Tiba-tiba Meihua berbalik badan dan hampir bertabrakan dengan Li Mei.
"Aiyaa nona muda. Kalau mau berbalik katakan dulu!"
"Kau yang salah, kenapa mengikutiku?"
"Nona tidak mau berhenti sejak tadi. Kepalaku sampai pusing melihatnya. Lagipula apa yang tidak benar? Nona muda, setiap gadis di kerajaan ini mengharapkan menjadi pendamping Kaisar, bisa menjadi selirnya sungguh suatu keberuntungan, apalagi menjadi Permaisuri. Banyak dari mereka yang akhirnya hanya menjadi bunga penghias istana, Kaisar kejam itu sama sekali tidak menyentuh mereka."
Meihua menghela nafas,"Nah kalau begitu bukankah semakin baik bagiku tidak ikut kompetisi ini? Lagipula aku sama sekali tidak ingin menikah dengan Kaisar itu."
"Nona, tidak boleh menghela nafas atau nanti keberuntungan akan menjauh! Nona jangan sembarangan berkata kepala dipenggal, jangan mengatakan tidak ingin menjadi istri Kaisar, sama sekali tidak boleh berkata seperti itu!"
"Haaaahhh, lalu aku harus bagaimana?"
"Aiyaaa nona, tidak boleh menghela nafas, kenapa anda lakukan lagi?" Li Mei panik sendiri.
"Sudahlah, yang akan datang bagaimanapun harus kuhadapi juga. Jangankan kompetisi pemilihan permaisuri, pergi ke ujung dunia juga akan kulakukan. Sudah larut, pergilah tidur, besok kita ke istana! Ingat kita harus berhati-hati!"
"Baik Nona. Perlukah ku bantu melepas perhiasan anda?"
"Tidak perlu. Aku akan melakukannya sendiri, kau cepatlah tidur!"
"Siap nona."
Aku tidak mengerti, kenapa harus ikut pemilihan permaisuri? Apa besok aku pura-pura bodoh saja ya? Ahh tapi bagaimana reputasi ayah dan ibu kalau aku mempermalukan mereka. Bagaimanapun mereka sungguh begitu baik padaku,batin Meihua merana.
.
.
.
.
.
Keesokan paginya, di istana Ibu Suri.
Tiga kandidat utama telah hadir ditemani dayang pribadi mereka. Setelah memberi salam penghormatan kepada ibu suri, mereka lalu bersiap menyelesaikan tugas yang di bagi menjadi tiga tahap.
Tahap pertama seni ketrampilan, tahap kedua seni lukis, dan tahap ketiga seni sastra. Tahap pertama bagi Meihua sangatlah mudah, mereka hanya diminta menyulam, sulaman terindah akan ditetapkan sebagai pemenang. Meihua sangat percaya diri dengan hasil sulaman miliknya, karena dia telah berlatih sejak kecil. Sekarang dia bersyukur, mendiang ibunya di masa depan selalu menyuruhnya belajar menyulam ternyata ada manfaatnya.
Tahap kedua adalah melukis, mereka diminta melukis apapun yang menurut mereka cocok untuk menghiasi ruangan Ibu Suri. Tahap ini hampir diselesaikan dengan sempurna oleh Meihua, sebelum insiden itu membuat kepalanya serasa mendidih.
"Sebentar lagi selesai,"monolog Meihua pada dirinya sendiri.
"Kakak, kau melukis apa ?" Hongmei lewat sambil membawa palet catnya. "Ah indah sekali lukisan kakak, lukisanku sudah pasti kalah jauh."
"Adik jangan merendah, kakak lihat lukisanmu juga bagus sekali," Meihua tersenyum tipis.
"Tapi kakak melukis bunga Meihua dengan begitu hidup. Ahhh apakah nama kakak berasal dari bunga Meihua ?" Hongmei pura-pura terkejut.
"Benar, Meihua dari kata Mei yang artinya cantik dan hwa yang artinya bunga,"Meihua menjelaskan seraya menekuni lukisannya, gadis itu bahkan tak melihat seringai licik Hongmei.
"Ahh kalau begitu, aku akan kembali ke tempatku," Hongmei berjalan meninggalkan tempat Meihua melukis.
"Aiyaaa." Gadis itu menginjak tepi gaunnya sendiri. Palet cat yang penuh warna itupun melayang dan jatuh di atas lukisan Meihua. Dengan cepat lukisan yang tadinya begitu cantik kini menjadi tak karuan.
"Aiyaa, kakiku," Hongmei yang terjatuh di dekat Meihua memegangi kakinya sambil menampakkan wajah kesakitan.
"What the...." Meihua berseru lantang.
"Kakak Hongmei, kau tidak apa-apa?" Mingfen menghampiri keduanya.
"Adik Hongmei kau tidak apa-apa kan? Kenapa kau bisa jatuh? Dan...dan palet mu mengenai lukisanku, aduhh apa yang harus kulakukan?" Meihua ikut melihat keadaan Hongmei.
"Adik Mingfen, kakak Meihua, aku tidak apa-apa. Kakiku hanya sakit sedikit saja. Lukisan kakak jadi rusak. Aku minta maaf," Hongmei berdiri dibantu Mingfen, setelah melihat lukisan Meihua, gadis itu mulai menangis terisak.
"Ahh tidak apa-apa. Yang penting kaki mu baik-baik saja. Biar ku perbaiki sebelum waktu yang diberikan habis. Kalian kembali saja ke tempat duduk kalian!"
"Baik kakak."
Meihua mulai panik, waktu yang diberikan hampir habis, sedangkan lukisannya benar-benar tidak sedap dipandang mata. Warna bunga Meihua yang tadinya merah merona kini campur aduk dengan warna-warna lain.
Di kursinya, Hongmei tersenyum puas,"lihatlah, baru hal kecil yang kulakukan dan kau sudah kebakaran jenggot seperti itu. Salah siapa berani bersaing denganku? Akan kulakukan apapun agar hanya aku yang pantas menjadi permaisuri."
"Kasihan sekali kakak Meihua. Sebentar lagi waktu habis, dan lukisannya harus dimulai dari awal. Aku takut dia tidak punya cukup waktu," Mingfen bersuara lirih.
"Adik, jangan cemas. Pasti kakak Meihua bisa melakukannya," Hongmei tersenyum. "Dan untukmu, lihat nanti apa yang bisa kulakukan padamu."
.
.
.
Seorang kasim masuk dan mengumumkan bahwa waktu mereka habis.
"Nona sekalian, waktu yang diberikan oleh Ibu Suri telah habis, lukisan Nona semua bisa ditinggalkan di atas meja. Setelah ini akan ada waktu istirahat, dan dilanjutkan lagi setelah makan siang."
Meihua menghela nafas, sepertinya menghela nafas akan menjadi kebiasaannya di zaman ini. Padahal Li Mei telah mengingatkannya, menghela nafas akan membuatnya sial.
Biarlah, aku telah berusaha. Kalaupun aku tidak menang dalam tahap kedua ini, bukankah lebih bagus? Aku tidak perlu menjadi istri Kaisar kejam itu.
.
.
.
.
"Nona muda, bagaimana kompetisinya?"
Li Mei menyambut Meihua di depan pintu dengan senyum ceria.
"Mei'er, jangan berharap banyak. Lukisannya rusak, tersiram palet cat milik Hongmei." Meihua berkata dengan lesu.
"Aiyaa, bagaimana itu bisa terjadi? Nona, Anda harus bilang pada Ibu Suri agar mendapatkan tambahan waktu."
"Sudahlah, biarkan saja. Lagipula mendapatkan tambahan waktu juga tidak ada gunanya. Sebenarnya nonamu ini 'kan tidak pandai melukis."
"Kemarin Ibu membawa ku melewati kompleks belakang istana. Di sana kulihat ada danau buatan yang lumayan besar, bunga-bunganya juga bagus. Ayo kesana."
"Baiklah nona."
Keduanya segera berlalu dan menuju kompleks belakang istana yang sepi.
.
.
.
"Ahhhh segar sekali udara di sini,"Meihua merentangkan kedua tangannya.
"Nona, silahkan dinikmati," Li Mei telah menyusun berbagai makanan yang dibawanya di atas sebuah kain.
"Baiklah. Ayo kita makan bersama. Bukankah kita seperti piknik di sini," ucap Meihua seraya mengambil nasi dan sayur dengan sumpitnya.
Gadis itu makan dengan lahap, begitupun Li Mei.
Danau buatan itu terlihat cukup besar. Ikan yang berenang pun terlihat karena airnya yang begitu jernih. Dari pinggiran danau terdapat jembatan kayu yang masih kokoh dan agak menjorok hingga ke tengah danau.
Menikmati semilir angin dan semerbak harum bunga teratai, Meihua memejamkan matanya sambil tersenyum. Ia duduk di atas jembatan, kakinya berayun-ayun namun tak sampai mengenai air danau.
Gadis muda itu tak menyadari, tingkahnya sejak tadi diawasi oleh sepasang mata yang menyorot tajam dan dingin.
Tatapan itu seolah-olah bisa membekukan siapapun yang dipandangnya, namun seulas senyum yang jarang sekali terlihat kini menghiasi bibir sang pemilik pandangan mata tajam.
.
.
.
"Fen'er, ajak kesini Mingfen dan biarkan ia makan bersamaku,"perintah Hongmei pelan pada dayang pribadinya.
"Baik Nona."
Tak berapa lama kemudian, Mingfen diiringi dayang pribadinya telah sampai di gazebo tempat Hongmei mengundang makan.
"Kakak, seharusnya tidak perlu repot-repot menunggu adik, tapi terimakasih atas undangannya," Mingfen membungkuk hormat.
"Adik, tidak perlu sungkan. Marilah duduk dan kita nikmati makan siang kita."
Mingfen hanya tersenyum dan mengambil tempat duduk, Fen'er mengambilkan mangkuk berisi nasi dan sayur. Mereka makan dalam diam. Suasana sedikit canggung, tapi dengan cepat Hongmei mengajak Mingfen bercakap-cakap.
" Adik cobalah kue lotus ini, enak sekali," Hongmei mengangsurkan sepiring kue bulan.
"Ahh kakak, apakah rasanya seenak itu? Kue lotus dimana-mana rasanya sama," Mingfen terkikik kecil.
Tapi demi kesopanan dia mengambil juga kue itu. Seketika matanya berbinar," waahh benar-benar enak sekali. Kakak, aku mau lagi."
"Ayo makanlah, tidak perlu sungkan. Koki dari kediaman ku sangat piawai membuat kue ini. Ini adalah kue kesukaanku sejak kecil."
"Ngomong-ngomong kemana kakak Meihua? Kenapa aku tidak melihatnya sejak tadi," Mingfen mengedarkan pandangannya ke sekeliling gazebo itu.
"Ah, aku juga tidak tahu, kalaupun sejak tadi kulihat, pasti ku undang juga untuk makan bersama."
"Tepat sekali. Semakin banyak orangnya semakin lezat makannya."
"Nona, waktu istirahat hampir habis, Anda berdua harus segera kembali ke istana Ibu Suri untuk menyelesaikan tugas ketiga," ucap Fen'er.
"Baiklah, ayo adik, kita harus menyelesaikan tugas terakhir ini dengan baik."
"Mari kakak."
.
.
.
.
.
Tahap ketiga dan terakhir adalah seni sastra.
Walaupun telah belajar seni sastra sejak masih kecil, tapi saat ini Mingfen merasa ada yang salah dengan kepalanya. Sebentar-sebentar gadis itu memijit kepalanya, merasakan denyutan sakit yang membuatnya gagal berkonsentrasi. Bahkan sekarang matanya sangat mengantuk. Akhirnya gadis itu hanya bisa menuliskan seperempat bagian jawabannya saja.
Di tempatnya, Hongmei mengulum senyum,"obat itu sudah bereaksi ternyata. Fen'er pintar juga mencari obat yang ku suruh. Hanya seperempat dosis yang kuberikan, Mingfen sudah terlihat begitu payah."
"Nona Hongmei apakah anda mengatakan sesuatu?"seorang pengawas yang ditunjuk ibu suri bertanya penuh selidik.
"Ahh, tidak begitu penting. Aku hanya begitu senang karena aku bisa menjawab dengan mudah."
"Baiklah. Silahkan dilanjutkan!"
Bagi Meihua, pertanyaan yang diajukan ibu suri adalah jebakan. Akhirnya dia menuliskan semua jawaban yang menurutnya benar dan menambahkan strategi pengaturan negara yang dipelajarinya dari buku-buku di perpustakaan ayahnya.
Tahap ketiga berakhir dengan baik. Mingfen yang terlihat begitu payah nampak dibantu dayang pribadinya untuk menuju aula kediaman Ibu Suri. Satu hal yang mengejutkan Meihua adalah kedatangan kaisar Tian Yi diiringi serombongan kasim dan dayang.
"Yang Mulia Kaisar tiba,"seruan kasim Kang membuat seluruh penghuni aula kediaman itu berlutut dan mulai berkowtow.
"Semoga Yang Mulia Kaisar panjang umur hingga ribuan tahun."
Ibu suri pun menunduk memberi penghormatan," Salam Yang Mulia."
"Ibu jangan begitu sungkan. Bagaimanapun Zhen adalah putramu."
"Kalian semua bangunlah!"
"Terimakasih, Yang Mulia."
Ternyata kaisar ini walaupun dingin dan terlihat kejam, tapi sangat menghormati ibundanya, batin Meihua.
"Yi'er ibu senang kau mau berkunjung dan memutuskan hasil akhir kompetisi ini,"senyum ibu suri.
(Yi'er - panggilan kesayangan ibu suri untuk kaisar)
"Ibunda, ini semua demi kepentingan kerajaan, demi Ibunda juga, katakan Ibu, siapa kandidat terbaik yang menurut ibu pantas menjadi pendamping Zhen?" Kaisar melihat ke arah tiga sosok kandidat calon pendampingnya.
Untuk sejenak pandangan mata itu terhenti di wajah Meihua, namun yang dipandang sama sekali tidak berani mendongak di bawah tatapan Kaisar.
"Kalian semua sudah berusaha keras. Pulanglah! Hasil akhir akan diumumkan besok,"perintah Ibu Suri.
"Baik Ibu Suri. Kami permisi."
Mereka semua lantas meninggalkan Aula dengan patuh. Besok adalah hari penentuan. Siapa yang paling berbakat akan di angkat menjadi Permaisuri.