My Empress From The Future

My Empress From The Future
Hao Chen



Keluarga Li sebenarnya banyak menghasilkan orang-orang hebat yang setia pada negara. Jenderal Li Hao adalah generasi ke tujuh keluarga Li yang mengabdi pada kekaisaran Wu. Kebanyakan dari keluarga Li adalah orang-orang yang bekerja di militer.


Walaupun sering di curigai akan melakukan kudeta karena memegang kendali militer, namun keluarga Li selalu bisa membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang setia. Setiap Kaisar yang berkuasa di kerajaan Wu, selalu mempunyai satu atau dua Jenderal dari marga Li.


.


.


.


Seorang pemuda berbaju biru dengan kipas putih di tangan berjalan memasuki toko perhiasan. Pemilik toko langsung menyambutnya dengan penuh keramahan.


"Mari mari tuan muda. Silahkan dilihat perhiasan kami. Lihat dengan baik, apakah ada yang sesuai dengan selera anda."


Wajah si pemuda berkerut, sesungguhnya masuk ke toko perhiasan adalah hal yang tak pernah ia lakukan. Sedari kecil dirinya hanya akrab dengan senjata dan kuda.


"Laoba. Pilihkan aku beberapa set perhiasan yang bagus!"


"Baiklah. Tuan muda silahkan tunggu sebentar. Pak tua ini akan segera menyiapkannya untuk Anda."


"Terimakasih."


Tuan muda itu duduk dengan sikap tegak. Kipas di tangannya bergoyang pelan. Sesekali ia akan meneguk teh di dalam cangkir kecil. Tanpa perlu menunggu lama, pemilik toko perhiasan itu telah kembali.


"Tuan muda. Lihatlah beberapa set perhiasan yang ku bawa untukmu. Lihat dan pilihlah yang Anda suka!"


Dalam diam pemuda itu menatap dengan teliti. Satu set perhiasan yang berada di ujung kiri menarik perhatiannya. Satu set perhiasan dari emas dengan motif bunga Peony. Diraihnya kotak berisi perhiasan itu lalu diamatinya dengan cermat.


"Aiyoo. Tuan muda, pilihan anda sungguh tepat. Bunga Peony adalah raja para bunga. Dengan perhiasan ini, pemakainya akan mendapat kehormatan dan keberuntungan,"terang si pemilik toko.


"Benarkah?"


"Tentu saja."


"Baiklah. Laoba bungkuskan perhiasan ini!"


"Baik Tuan."


Setelah mendapat apa yang diinginkannya, tuan muda itu meninggalkan toko perhiasan. Tujuannya saat ini adalah kediaman Jenderal.


.


.


.


"Nona Meihua. Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." Li Mei datang dengan wajah penuh keringat dan nafas yang terputus-putus. Gadis pelayan kecil itu berlari dari aula depan hingga ke Paviliun Musim Semi.


"Siapa?"


"Tuan muda Hao Chen."


"Tuan muda Hao Chen? Siapa dia?"


"Aiyoo Nona. Dia adalah keponakan dari Tuan Besar."


"Kenapa aku tidak pernah mendengar namanya? Ayah dan ibu juga tidak pernah menyebutkan namanya."


"Karena tuan muda Hao Chen selalu tinggal di perbatasan. Posisinya sebagai wakil Jenderal tidak memungkinkan baginya untuk pergi kemanapun dengan bebas."


"Baiklah, kita temui dia. Bagaimanapun dia termasuk saudara ku saat ini. Benar,'kan?"


.


.


.


.


Dengan mulut terbuka, Meihua memandang pemuda yang disebut Li Mei sebagai keponakan dari ayahnya itu baik-baik. Wajah itu adalah wajah tertampan kedua yang ia lihat setelah wajah Kaisar. Wajah yang putih bersih, hidung mancung, bola mata yang indah dan bibir yang senantiasa mengulas senyum, sungguh ketampanan yang menyilaukan.


"Tak kusangka di masa lalu sebenarnya penuh dengan pemuda-pemuda tampan yang natural. Wajah tampan mereka sudah dipastikan tidak memerlukan operasi plastik. Aiyaa, kalau begini terus bukankah aku bisa dibilang bakal cuci mata setiap hari? Asyikkknya"batin Meihua girang.


"Adik Meihua. Perkenalkan namaku Li Hao Chen."


Tak ada jawaban dari Meihua. Bahkan kini muncul semburat merah jambu di pipi putihnya. Li Mei yang melihat hal itu lalu menyenggol lengan nonanya dengan keras. Cukup untuk membuat Meihua kaget bukan kepalang.


"Nona. Tuan muda Hao Chen bicara padamu. Kenapa kau melamun?"


"Ap...apaa? Aahh. Maafkan aku. Kakak Hao Chen namaku...eiih kau sudah tahu namaku?"


"Tentu saja. Paman sudah menceritakan tentangmu lewat suratnya. Jadi aku buru-buru datang ke ibukota untuk menemuimu."


Meihua tersipu. Suara yang keluar dari bibir Hao Chen teramat merdu baginya. Seketika hatinya seolah melayang di angkasa.


"Apa yang diceritakan ayah? Bukan hal yang buruk tentang ku, benar 'kan?"


"Tidak. Hanya berkata kalau putrinya suka sekali mencuri makanan dari dapur kediaman pada tengah malam. Suka tidur berjalan, bahkan sampai ke halaman depan. Suka...."


"Stop! Stop it !! Don't say anymore!! Don't say anymore, ok?!"


"Nona. Kau bicara bahasa aneh lagi. Sebenarnya apa yang kau katakan?"


"Adik Meihua. Kenapa aku tidak boleh mengatakannya lagi?"


"Aiyoo. Kakak, tidak pernahkah kau tahu tentang harga diri wanita? Dan kau Li Mei kalau kau tidak tahu, ya tidak usah tahu!"


"Nona. Kenapa begitu?"


"Sssstt!!"


Hao Chen tersenyum lalu mengangguk pelan menandakan dirinya paham dengan maksud Meihua. Beberapa waktu berlalu dalam keheningan, masing-masing mencoba menikmati teh yang tersaji. Meihua bahkan mulai mengupas kulit buah jeruk.


"Oh ya Hua'er. Ada sedikit hadiah untukmu,"ucap Hao Chen sambil mengulurkan sebuah kotak kayu pipih. Meihua menanggapinya dengan kening berkerut.


"Apa ini?"


"Bukalah!"


Setelah membuka kotak itu, Meihua seolah silau dengan kilau emas yang dipancarkan berbagai macam perhiasan disana.


"Untukku? Benarkah?"


"Tentu saja. Anggaplah sebagai salam perkenalan dariku."


"Terimakasih kakak."


"Tidak perlu berterimakasih. Tidak perlu."


Meihua menyimpan kotak itu di meja dengan penuh hati-hati. Kini pandangannya pada Hao Chen semakin berubah. Selain tampan, dia juga pandai menyenangkan hati wanita. Aihh sungguh tipe cowok idaman. Beda sekali dengan Kaisar kejam itu. Hanya memandangnya saja membuatku ingat dengan dewa kematian,batin Meihua lagi.


"Hua'er kenapa melamun?"


"Aahh.. tidak apa-apa. Kakak lebih baik makan malam bersama kami, bagaimana?"


"Tapi...."


"Tidak ada alasan! Kau harus mau!"


"Baiklah kalau kau memaksa."


"Senangnya. Ayo menemui ibu dulu!"


"Mmhh. Baiklah."


Hao Chen hanya pasrah ditarik berdiri oleh Meihua. Kini keduanya melangkah dengan gembira menuju Paviliun Lianhua.


.


.


.


.


Seorang pria misterius memasuki ruang baca di kediaman Kang. Berjalan dengan mengendap-endap agar tidak ada yang memergokinya, pria misterius itu tampaknya hafal dengan setiap sudut kediaman Kang. Setelah menutup pintu dengan lirih, pria itu kini berlutut di lantai menghadap Tuan Kang.


"Lapor Tuan. Penyelidikan di kediaman Jenderal tidak ada yang mencurigakan. Meihua sepanjang hari hanya berada di kediaman. Hanya saja asal-usulnya memang mencurigakan."


"Katakan!"


"Salah seorang pelayan berkata, Jenderal Li datang ke istana dengan tergesa-gesa. Setelah pulang kembali ke kediaman, dia sudah membawa gadis itu. Lalu upacara pengangkatan dilakukan."


"Memang mencurigakan. Sebenarnya darimana asal-usul gadis itu? Kau! Terus lakukan pemantauan di kediaman itu. Jangan sampai hal sekecil apapun lewat dari pandangan mu!"


"Baik Tuan."


"Pergilah!"


.


.


.


.


"Ayah. Bagaimana hasilnya?"


Hongmei bertanya pada ayahnya saat keluarga Kang sedang makan malam.


"Asal-usul gadis itu mencurigakan. Dia datang dari istana, lalu kembali ke kediaman Jenderal. Sekarang dia akan masuk ke istana lagi."


"Ternyata begitu. Aku juga merasa ada yang tidak beres. Gadis itu seolah menyimpan rahasia besar. Pemikirannya juga licik. Aku tidak akan kalah darinya."


"Sudahlah. Lekas makan makanan kalian, kalau sudah dingin tidak enak untuk disantap lagi,"ucap Nyonya Kang menengahi.


Jangan sampai Meihua menjadi permaisuri. Atau kedudukan ku di ibukota juga akan tergeser oleh gadis itu.