
Di aula utama kerajaan Wu.
Pertemuan rutin yang dihadiri oleh seluruh menteri dan pejabat telah digelar. Kaisar Tian Yi duduk di takhtanya dan mendengarkan laporan dari para pejabat. Setelah dilakukan diskusi, akhirnya titik terang permasalahan ditemukan.
Tidak berapa lama, seorang kasim tergopoh-gopoh mendatangi Kasim Kang. Kasim kecil itu mengulurkan sepucuk surat. Oleh Kasim Kang surat itu kemudian di berikan kepada Kaisar.
Setelah membaca surat tersebut, raut wajah Kaisar menjadi senang.
"Para pejabat dan menteri ku yang tersayang. Tahukah kalian apa isi surat ini? Surat ini datang dari kerajaan Wen. Isinya menerangkan bahwa mereka meminta izin agar bisa berkunjung ke kerajaan kita. Kerajaan Wen ingin menjalin kerjasama dengan kita. Apa tanggapan kalian?"
"Selamat kepada Kaisar Tian Yi dan kerajaan Wu. Menurut hamba, tidak ada salahnya menjalin kerjasama dengan mereka. Tanah negeri Wen kaya dengan pertambangan batu mulia. Berbagai perhiasan dari kerajaan Wen hampir seluruhnya memiliki nilai jual tinggi," menteri Kang bersuara pertama kali.
Walaupun putrinya hanya menjadi seorang Guifei, Menteri Kang semakin merasa berada di atas awan. Banyak menteri yang tidak sejalan dengan pikirannya, diam-diam dia musuhi dan dipersulit setiap mengajukan argumen walaupun di depan Kaisar.
"Menteri Kang benar, menurut hamba kerajaan Wu kita bisa semakin berjaya tanpa harus mengalami peperangan," pejabat Huo berkata.
"Apakah yang lain juga setuju?" Kaisar bertanya seraya memandang seluruh aula.
"Kami setuju, Yang Mulia." Seluruh pejabat bersuara bersamaan.
"Kirim surat balasan yang menyatakan persetujuan kita menerima utusan mereka! Benahi kota, siapkan sambutan dan perayaan untuk menyambut mereka! Tunjukkan bahwa negeri Wu kita adalah negeri yang ramah dan terbuka!" perintah Kaisar Tian Yi.
"Kami siap melaksanakan perintah Kaisar."
"Bagus. Bubarkan pertemuan!"
"Semoga Kaisar panjang umur hingga ribuan tahun," seluruh pejabat mengiringi kepergian Kaisar dengan hormat.
.
.
.
.
Selir Ming memutuskan berkunjung ke istana Zhuanshi. Baginya yang suka ketenangan, terkurung di istana Mutiara hanya ditemani oleh dayang dan kasim tidaklah merepotkan. Hanya saja demi menghormati Permaisuri, dirinya harus mengunjungi Permaisuri di istananya.
"Selir Ming mohon menghadap Permaisuri."
"Persilakan masuk."
"Hormat hamba pada Permaisuri Meihua, semoga damai selalu."
"Bangunlah adik, kemarilah duduk di sini! Akhirnya kau berkunjung juga. Aku sampai kesepian."
"Terimakasih Permaisuri. Maafkan hamba yang baru bisa berkunjung sekarang."
"Aiyaa, panggilah kakak seperti biasa. Panggilan Permaisuri itu bukankah terlalu panjang untuk diucapkan?"
"Permaisuri benar. Tapi memanggil sesuai kedudukan adalah peraturan istana. Hamba tidak berani."
"Panggil saja saat ada banyak orang!" Putus Meihua.
"Baiklah."
"Adik, minumlah teh hijau ini. Baru saja di seduh oleh Li Mei. Adik Ming, apakah kau sedang tidak enak badan? Kenapa wajahmu pucat?"
"Terimakasih kakak, akhir-akhir ini kepala adik sering pusing dan terkadang pandangan mata berkunang-kunang."
"Kau sakit? Sudah memanggil tabib?" Tanya Meihua khawatir.
"Sudah kakak, kata tabib aku tidak boleh terkena udara dingin terlalu lama." Saat itulah baru Meihua menyadari, Mingfen memakai jubah tebal di luar gaunnya. Padahal sekarang adalah awal musim semi, udara telah berubah hangat.
"Li Mei, bawakan ginseng dan jamur Lingzhi hadiah dari Ibu Suri, berikan pada Mingfen!" Perintah Meihua, langsung dilakukan oleh pelayan pribadinya itu.
"Aiyaa, kakak tidak perlu repot-repot. Sungguh adik sudah membaik," tolak Mingfen.
"Diamlah dan terima saja. Gunakan untuk kesehatan mu. Ingat lah pesan Ibu Suri untuk memberikan keturunan bagi kerajaan Wu."
"Adik mengucapkan terimakasih atas kemurahan hati kakak."
"Tidak perlu sungkan, apakah adik Hong telah menjenguk mu?"
"Sudah, bahkan membawakan ku racikan obat. Katanya dari tabib terpercaya keluarganya."
"Ahh begitu, syukurlah dia juga baik padamu."
"Kakak, karena adik sudah lama di sini, adik mohon diri."
"Kenapa buru-buru? Kita belum bertukar banyak cerita."
"Lain kali adik berkunjung lagi. Adik permisi."
"Baiklah, hati-hati Mingfen. Jaga kesehatan baik-baik."
Setelah mengangguk memberi hormat, selir Ming berjalan pergi. Di belakangnya, Meihua hanya bisa menghela nafas prihatin. Li Mei yang diperintahnya menyelidiki kandungan dupa pemberian selir Hong, menemukan hal yang tidak terduga.
Dupa itu mengandung suatu zat yang bisa menyebabkan ketergantungan, berhalusinasi dan efek jangka panjangnya bahkan meninggal dunia. Meihua berharap, Mingfen tidak mendapatkan dupa itu dan menggunakannya.
.
.
.
.
Seseorang berjalan mengendap-endap keluar dari istana. Langkah yang diambil begitu terburu-buru, terkadang kepalanya menoleh kesana kemari. Tudung kepala berwarna hitam itu begitu besar, menutupi hingga separuh wajahnya. Hanya bibir dan dagu yang terlihat. Bibir berwarna merah dan dagu kecil itu menunjukkan bahwa pemiliknya adalah seorang wanita muda.
Namun apa yang dilakukan seorang wanita muda di tengah malam, mengendap-endap setengah berlari menuju kediaman para tabib istana?
Seolah telah hafal dengan jalan yang dilalui, sosok misterius itu mengetuk salah satu pintu. Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan sosok itu masuk dengan cepat.
"Tabib apakah pesanan tuanku sudah siap?"
"Sudah siap sejak kemarin. Hanya saja menunggu orang dari istana kediaman...."
"Berikan saja sekarang! Tidak perlu menyebutkan nama tuanku."
"Baiklah. Ini ambilah, hati-hati,"tabib paruh baya itu mengulurkan sebuah kertas kecil yang terlipat rapi.
"Bagus. Ini bayarannya," sosok misterius itu menanggapinya dengan cepat dan mengulurkan sekantong uang. "Ingat, bila saatnya tiba kau harus bersaksi untuk tuanku!"
"Saya mengerti. Saya akan bersaksi untuk tuan."
Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, sosok misterius itu kembali menyusuri jalan menuju kediaman tuannya. Langkahnya cepat, setengah berlari tanpa mengeluarkan suara.
.
.
.
.
"Yang Mulia. Tidakkah Anda akan berkunjung ke istana Zhuanshi?"
Pertanyaan Kasim Kang ditanggapi dingin oleh Kaisar Tian Yi. Masih diingatnya bahwa Meihua sendirilah yang mendorongnya pergi ke istana para selir.
"Tidak. Kita pergi ke istana Giok!"
"Tapi Yang Mulia. Jika Anda hanya berkunjung ke istana Giok saja, maka orang-orang akan berpikir Anda tidak menyukai selir Ming."
"Baiklah. Pergi ke istana Mutiara!"
"Baik."
.
.
.
.
Istana Mutiara tampak damai dan tenang. Lampion tergantung di berbagai sudut istana. Prajurit yang berjaga semuanya membungkuk hormat saat Kaisar melewati mereka. Ketika Kasim Kang mengumumkan kedatangan Kaisar, Mingfen terkejut bukan kepalang. Benaknya berpikir, angin apa yang membawa Kaisar hingga datang ke tempatnya.
"Salam bagi Yang Mulia Kaisar."
"Bangunlah!"
"Terimakasih Yang Mulia."
"Selir Ming, bagaimana keadaanmu?"
"Menjawab Yang Mulia. Keadaan hamba di sini baik-baik saja. Terimakasih atas perhatian paduka."
"Baguslah."
Setelah percakapan itu, suasana kembali hening. Suasana canggung jelas terasa. Mingfen bahkan meremas kedua tangannya hingga memerah. Gadis itu menahan rasa pusing di kepalanya. Kaisar yang berpandangan tajam melihat kejanggalan itu.
"Selir Ming apakah kau sakit?"
"Hamba tidak apa-apa Yang Mulia. Hanya sedikit merasa pusing."
"Seharusnya kau memanggil tabib! Kasim Kang!"
"Yang Mulia. Tidak perlu. Hamba sudah memanggil tabib istana, ini hanyalah penyakit biasa yang di derita wanita."
"Ooh. Kalau begitu Zhen bisa tenang."
"Maafkan hamba karena telah merepotkan Anda."
"Lupakan! Karena kau merasa tidak sehat, sebaiknya kau lekas beristirahat. Zhen masih ada pekerjaan yang belum selesai."
"Hamba mengerti. Yang Mulia hati-hati."
"Hmm."
Syukurlah Kaisar tidak ingin bermalam disini.
.
.
.
.
"Permaisuri, beberapa hari ini Kaisar tidak datang kemari. Apakah Anda dan paduka Kaisar bertengkar lagi?"tanya Li Mei pelan. Sedangkan Meihua hanya menghela nafas.
"Permaisuri, jika hal ini dibiarkan saja, yang merugi adalah Anda sendiri."
"Apa maksud mu?"
"Kalau Kaisar menyukai selir Hong, maka kedudukan Anda akan terancam."
"Aku tidak peduli dengan kedudukan dan status ini. Sejak awal bukankah aku memang tidak mau menjadi Permaisuri?"
"Tapi sekarang Anda telah menjadi Permaisuri. Anda tidak bisa sembarangan melepas status Anda."
"Kenapa?"
"Pikirkan kediaman Jenderal Li, Yang Mulia. Pikirkan kehidupan orang-orang yang terhubung dengan Anda."
Meihua kembali menghela nafas, benarkah kali ini dia harus mengalah lebih dulu?
"Sudahlah Li Mei! Bawakan aku beberapa kue dan teh hijau!"
"Anda akan membawanya pada Kaisar?"tanya Li Mei gembira. Wajahnya berbinar.
"Tentu saja untuk kunikmati sendiri!"
"Aihh. Baik Yang Mulia."
Dalam perjalanannya menuju dapur istana Zhuanshi, Li Mei berpapasan dengan seorang pelayan perempuan yang membawa kotak makanan. Pelayan itu tampak gugup, bahkan terlihat takut. Li Mei yang harus segera memenuhi permintaan Meihua, memutuskan untuk mengabaikan pelayan itu.
.
.
.
.
Sementara itu ibukota dihias sedemikian rupa, lampion yang sudah lama diturunkan dan digantikan dengan yang baru. Jalan-jalan di ibukota dibersihkan, para pedagang di pasar ditertibkan, bunga-bunga beraneka warna ditanam di sepanjang jalan.
Warga ibukota menatap heran, namun keheranan mereka tidak berlangsung lama setelah melihat pengumuman yang ditempel petugas istana. Kabar kedatangan utusan dari kerajaan Wen segera menyebar luas. Seluruh rakyat bergembira, senyum mereka terkembang sempurna.
Istana kerajaan juga mulai dibenahi. Paviliun Chunyi yang akan digunakan sebagai tempat tinggal para utusan di tata dengan cermat. Para pelayan dan kasim bekerja bersamaan. Paviliun Chunyi tampak semakin menarik.