My Empress From The Future

My Empress From The Future
Kabar Bahagia



Angin malam berdesau lirih, menggoyangkan lonceng-lonceng kecil yang terikat di dahan pohon Meihua. Suara serangga malam terdengar samar. Langit malam ini terlihat kelabu sebab bulan tertutup awan. Lentera di setiap sudut istana telah dinyalakan, para penjaga malam berkeliling bergantian. Terkadang, keselamatan keluarga kerajaan adalah prioritas nomor satu, dibanding nyawa mereka sendiri.


Istana Zhuanshi terlihat dingin, tidak ada nyala lentera yang dinyalakan, kecuali di pintu gerbang. Hal itu memicu pertanyaan di benak Kaisar. Mengira terjadi sesuatu dengan Permaisuri, Kaisar Tian Yi berlari meninggalkan Kasim Kang yang mengikuti di belakangnya.


Pintu ganda itu terbuka lebar, perlu waktu bagi Kaisar untuk membiasakan diri dengan kegelapan. Beberapa saat kemudian, dengan cepat Kaisar menuju ranjang tempat Meihua terbaring.


"Li Mei! Kenapa tidak menyalakan lentera? Cepat nyalakan semuanya!"


"Ampuni hamba Yang Mulia. Permaisuri tidak mengizinkan lentera dinyalakan."


"Sekarang nyalakan semuanya!"


"Baik. Hamba akan menyalakannya."


Setelah Li Mei menyalakan lentera di kamar itu, suasana menjadi terang benderang. Kaisar kini bisa melihat Meihua yang terbaring miring membelakanginya.


"Permaisuri, apakah kau merasa sakit lagi?"


"Tidak."


"Lalu kenapa kau tidak ingin lentera dinyalakan?"


"Tidak apa-apa."


"Permaisuri apakah kau marah pada Zhen?"


"Tidak."


"Lantas kenapa kau seperti ini?"


"Tidak apa-apa."


Kaisar kehabisan kata-kata, jawaban singkat dan dingin dari Permaisuri terasa mencubit hatinya. Perlahan Kaisar membaringkan tubuhnya di belakang Meihua, salah satu tangannya memeluk Meihua.


"Zhen tahu kau marah padaku. Zhen memang mengaku salah. Zhen kira dengan memasukkan mu ke penjara, itu bisa melindungi nyawamu. Tapi Zhen salah, bukan hanya tidak menyuruh seorang dayang pun menemani mu, Zhen juga tidak menjenguk mu. Hua'er maafkan aku, maukah?"


Hening. Tak ada jawaban dari Meihua. Desah nafas Kaisar kemudian terdengar.


"Hua'er. Kau boleh memaki ku, kau boleh menghukum ku, kau boleh mendiamkan ku, tapi jangan membenciku! Jangan mendorong ku menjauh darimu! Kumohon, maafkan aku. Hua'er maafkan aku. Kau bersedia 'kan?"tambahnya.


Meihua mati-matian menahan air mata yang terkumpul di sudut matanya. Air mata itu bahkan siap jatuh kapan saja. Mendengar permohonan maaf Tian Yi yang begitu menyentuh, hatinya sebagai wanita mulai luluh. Apalagi sebelum ini, Li Mei telah menceritakan semua kejadian yang terjadi semenjak dirinya di penjara. Hingga Kaisar yang membawanya keluar penjara dan menungguinya saat dia tidak sadarkan diri.


"Hua'er. Kalau kau masih ingin sendiri, tidak masalah. Zhen akan memberimu waktu. Hanya saja jangan menyiksa dirimu, jangan menyiksaku juga! Rawatlah dirimu dengan baik, makanlah yang banyak, minumlah obatmu dengan teratur, demi Zhen. Demi anak kita."


Kalimat terakhir Kaisar membuat Meihua tersentak, demi anak kita katanya? Anak siapa?


"Benar. Zhen belum memberitahumu sesuatu, Zhen juga melarang siapapun memberitahu. Agar Zhen sendiri yang menyampaikannya langsung pada mu! Hua'er kau sedang mengandung, mengandung anak kita. Kita akan segera menjadi ayah dan ibu, apakah kau senang?"


Kali ini air mata Meihua benar-benar menetes. Kabar bahagia itu membuat pertahanan yang dibangunnya runtuh dalam sekejap. Tanpa memperdulikan hal apapun, Meihua berbalik. Membalas pelukan Kaisar, menyembunyikan wajahnya yang berlinang air mata di pelukan Tian Yi.


"Yang Mulia. Benarkah yang Anda katakan? Ulangi sekali lagi!"


"Benar Hua'er. Kau sedang mengandung, kita akan segera menjadi ayah dan ibu. Istana ini akan segera ramai dengan tawa dan tangis anak kita. Bukankah kau senang?"


Meihua menganggukkan kepalanya kuat-kuat. Tangannya mencengkram jubah Tian Yi erat. Begitupun Tian Yi, memeluk Meihua-nya dengan lembut namun hangat.


"Selamat untukmu Yang Mulia Kaisar. Anda akan segera mempunyai penerus."


"Benar. Hua'er mari kita jaga anak kita dengan baik. Hal-hal lain tidak perlu kau pikirkan. Biarkan Zhen yang menanggungnya untukmu. Bagaimana?"


Meihua kembali mengangguk, senyum indah muncul di wajahnya yang cantik. Senyum terindah yang pernah di lihat Kaisar Tian Yi selama Meihua di istana. Musim semi tahun ini memang membawa banyak keberuntungan. Kerjasama dengan kerajaan Wen, dan kehamilan Permaisuri Meihua. Tampaknya langit sangat memberkati kerajaan Wu.


.


.


.


.


Kabar kehamilan Permaisuri tersebar ke seluruh penjuru kerajaan Wu. Seluruh rakyat bersukacita. Kaisar bahkan membuat perayaan besar selama tiga hari berturut-turut. Perayaan itu dilaksanakan di ibukota. Festival lentera, festival kembang api, festival bunga Meihua, festival kue bunga, semua dirayakan penuh kebahagiaan. Utusan kerajaan Wu juga ikut berbagi kebahagian itu. Begitu juga dengan Wen ChinSuo.


Kabar bahagia ini ditanggapi berbeda oleh setiap orang. Ibu Suri misalnya, sebagai bentuk perwujudan rasa syukur dan terimakasih pada Dewa, Ibu Suri memperpanjang masa tinggalnya di Kuil untuk berdoa. Kediaman Jenderal Li mengadakan pesta besar tanpa memandang kasta. Seluruh penghuni kediaman bernyanyi dan menari bersama, bahkan para pelayan paling rendah sekalipun. Di Istana Zhuanshi, tumpukan hadiah memenuhi hampir separuh halaman. Hadiah-hadiah itu kebanyakan berasal dari kediaman para pejabat, hingga datang dari keluarga Kaisar terdahulu.


Sudah lama sejak terakhir kalinya Istana dipenuhi dengan suara riuh tawa anak-anak. Apalagi kejadian beberapa tahun terakhir meninggalkan duka di benak setiap orang. Sehingga kehamilan Permaisuri ini, merupakan angin segar musim semi yang menandakan bahwa kebahagiaan sekali lagi adalah milik mereka.


Hanya satu orang di istana yang tidak bahagia, bahkan merasakan kemarahan yang luar biasa. Orang itu merasa kabar bahagia ini seharusnya menjadikan dia sebagai tokoh utama. Karena dia sebenarnya juga sedang mengandung keturunan Kaisar. Ya, Hong Fei sebenarnya juga sedang mengandung. Bahkan kehamilannya lebih cepat dari Permaisuri. Selir Hong saat ini telah mengandung enam minggu.


"Paduka Kaisar, Hong Fei meminta izin untuk menghadap."


"Hong Fei? Hukumannya belum berakhir, tapi dia seenaknya keluar istana Giok?"


"Selir berkata bahwa beliau mempunyai kabar penting."


"Baiklah. Karena Zhen sedang bahagia saat ini, izinkan dia masuk!"


"Baik."


"Hamba menghadap Kaisar. Semoga Kaisar sejahtera selalu."


"Kau bisa berdiri! Katakan ada urusan apa kau mencari Zhen?"


"Yang Mulia. Urusan ini sangat penting, sehingga hamba harus melanggar hukuman anda. Hamba takut jika Anda hanya mendengar dari orang lain, Anda tidak akan mempercayainya."


"Sangat penting? Katakan!"


"Yang Mulia. Sebelumnya hamba telah mendengar kabar gembira tentang kehamilan Permaisuri. Hamba mengucapkan selamat kepada Anda. Hanya saja izinkan hamba menambah satu kabar gembira lagi...."


"Kabar gembira soal apa?"


"Yang Mulia, Anda akan segera menjadi seorang ayah. Hanya saja bukan hanya satu Pangeran atau Putri yang akan Anda dapatkan, melainkan dua."


Kali ini Kaisar berdiri dengan cepat, ucapan selir Hong membuatnya penasaran.


"Apa maksudmu selir Hong?"


Selir Hong berlutut, lalu melakukan kowtow hingga kepalanya hampir menyentuh lantai.


"Kaisar. Hamba juga sedang mengandung, usia kandungan hamba bahkan lebih tua dari Permaisuri. Saat ini hamba telah mengandung enam minggu. Hanya saja karena beberapa waktu yang lalu hamba kehilangan Fen'er, jadi hamba telat mengetahuinya. Mohon Kaisar jangan marah."


Perkataan Selir Hong bagaikan petir yang menyambar dengan keras. Kaisar bahkan terhuyung mundur dua langkah. Otaknya berpikir cepat, bisa saja ini adalah akal-akalan Selir Hong untuk mendapatkan perhatiannya kembali.


"Selir berdirilah dulu!"


"Terimakasih Kaisar."


"Apakah kau mempunyai bukti bahwa kau sedang mengandung?"


"Ya Yang Mulia. Hamba telah menyuruh tabib istana untuk memeriksa."


"Itu bagus. Sekarang ayo kembali ke istana Giok, biarkan tabib memeriksa lagi. Zhen akan menemani mu!"


"Silahkan Yang Mulia."


"Kasim Kang! Panggil tabib Han segera ke istana Giok!"


"Baik Yang Mulia."


.


.


.


.


Sepanjang hari Meihua hanya diam di istana Zhuanshi, di bawah pengawasan ibunya, Nyonya Lianhua. Lianhua sengaja di undang Kaisar ke istana agar bisa mengawasi tingkah Meihua. Saat ini kandungan Meihua sangat lemah, jadi Meihua harus patuh pada kata tabib dan beristirahat total. Walaupun merasa tidak nyaman dengan segala larangan, Meihua hanya bisa menurut demi bayinya.


Hal bisa ia lakukan hanyalah berbaring, membaca buku, bermain catur dengan Li Mei, menyulam, menjahit baju. Dalam dua hari masa istirahatnya, Meihua yang terlalu bosan sudah lima kali tertangkap hendak melarikan diri. Hari ini untunglah Mingfen datang berkunjung, sehingga Meihua melupakan keinginannya untuk berjalan-jalan di taman kekaisaran.


"Salam untuk Permaisuri. Selamat pada Permaisuri, kerajaan Wu kita akan segera memiliki penerus."


Mingfen menurut tanpa kata, senyum manis senantiasa ia pasang di bibirnya. "Kakak, maafkan adik atas kejadian terakhir kali. Salahkan adik karena kecerobohan ku membuat kakak menderita di penjara langit."


"Aiyaa. Yang sudah berlalu tidak perlu dipusingkan lagi. Aku baik-baik saja sekarang, tenang saja! Malah kau yang repot, membantuku mengurus istana harem, bahkan merepotkan diri dengan utusan Wen."


"Adik tidak merasa repot, justru adik senang bisa berbagi beban dengan kakak. Jingmi bawakan kemari kue-kue yang ku buat!"


Jingmi mengulurkan sekotak kue-kue beraneka warna. Mingfen kemudian meletakkannya di meja. "Kakak ini adalah kue pencuci mulut yang adik buat sendiri. Tentu saja ini aman untuk ibu hamil. Kakak tenang saja."


"Aiyaa tidak perlu repot-repot. Terimakasih, boleh kucicipi satu?"


"Tentu saja. Kalau kakak suka, adik akan merasa senang."


Mata Meihua berbinar ceria, persis seperti seorang anak kecil yang mendapatkan mainan baru. Diambil sepotong kue lalu digigitnya perlahan.


"Waah enak sekali. Adik Ming, tanganmu yang halus ini sungguh terampil."


"Terimakasih atas pujian kakak."


Keduanya lalu berbincang dengan penuh tawa, ditemani kue-kue dan sepoci penuh teh. Saat Li Mei berlari masuk ke dalam istana, Meihua menatap dengan heran.


"Li Mei ada apa?"


"Salam Permaisuri. Salam Selir Ming. Li Mei membawa kabar baik tapi sekaligus tidak baik."


"Kalimat apa itu? Berbelit-belit. Katakan!"


"Kaisar dan Selir Hong bersama-sama menuju istana Giok. Kudengar tabib Han juga dipanggil kesana."


"Apakah selir Hong sakit?"tanya Mingfen pelan.


"Tidak. Saat hamba melihat, tampaknya Selir Hong baik-baik saja."


"Adik Ming mari kita susul Kaisar ke istana Giok."


"Tapi kakak, Anda belum pulih sepenuhnya."


"Tidak masalah. Aku cukup kuat untuk berjalan."


"Tidak Hua'er. Kau tidak boleh berjalan jauh untuk saat ini. Pelayan! Ambilkan tandu! Bawa Permaisuri dengan tandu ke istana Giok!" Perintah Nyonya Lianhua yang baru datang.


Serombongan pelayan laki-laki kemudian melaksanakan perintah itu. Dengan dipapah Li Mei dan Mingfen, Meihua menaiki tandu.


"Bawa tandu dengan hati-hati!"


"Siap Nyonya!"


.


.


.


.


Untuk kesekian kalinya tabib Han memeriksa kondisi Selir Hong. Hal itu dilakukannya dengan was-was. Pandangan tajam Kaisar terasa menusuk punggungnya. Sementara selir Hong duduk manis dengan sikap tenang. Berapa kali pun tabib Han memeriksa, maka hasilnya akan tetap sama, dia memang tengah mengandung.


"Selamat kepada Kaisar, selamat pada Yang Mulia Selir. Saat ini Selir memang tengah mengandung."


"Apaaa?" Kaisar tersentak kaget di tempat duduknya.


"Yang Mulia, kenapa Anda kaget begitu? Bukankah ini adalah anugerah langit? Memberikan dua penerus dalam waktu berdekatan?" Ucap Selir Hong.


"Selir kau benar. Kau benar. Tabib Han, kau boleh kembali!"


"Hamba permisi Yang Mulia."


Tabib Han keluar dari istana Giok dengan diikuti oleh asistennya. Di depan pintu tabib Han berpapasan dengan Permaisuri dan selir Ming. Belum sempat memberikan penghormatan, Permaisuri sudah memberinya isyarat tangan untuk diam dan menyuruhnya pergi.


Para kasim dan dayang hanya membungkuk hormat tanpa berani mengucapkan salam pada Permaisuri dan Selir Ming. Hal itu tidak luput dari isyarat tangan Meihua yang menyuruh mereka semua untuk diam. Permaisuri dan Selir Ming lalu berdiri agak jauh dari pintu, cukup untuk mendengarkan percakapan Kaisar dan Selir Hong.


"Yang Mulia Kaisar, hamba sungguh bahagia bisa mengandung seorang putra dari Anda." Ucapan Selir Hong yang manis terdengar hingga ke balik pintu. Di luar, Meihua membulatkan matanya. "Ternyata dia juga sedang mengandung?"


"Ini adalah kabar baik,"jawab Kaisar.


"Hanya sayangnya, setelah anak ini lahir dia akan ditertawakan semua orang, hiks hiks." Kini Selir Hong menangis pilu. Di luar, Meihua mencebikkan bibirnya. "Pasti dia bersandiwara."


"Kenapa?"


"Karena anak ini akan lahir dari seorang Fei. Dia akan di ejek oleh semua orang, dia akan menjadi bahan hinaan. Yang Mulia apakah Anda tega?"


Kaisar menghela nafas lelah. Hal ini sulit ia putuskan, jika Hongmei menjadi seorang Guifei lagi, maka ia akan mendapatkan kekuasaannya yang dulu. Hal itu bisa membahayakan Meihua. Tapi anak yang dikandung Hongmei juga tidak bersalah, akan menyedihkan jika anak itu menjadi bahan ejekan.


Meihua tahu saat ini Kaisar tengah dilema. Sedangkan ia juga menunggu keputusan Kaisar. "Kumohon jangan kabulkan permintaan itu!"


"Baiklah! Sebarkan perintahku! Selir Hong sedang mengandung, hal ini tentu kabar gembira. Buatlah perayaannya menjadi tujuh hari tujuh malam! Gelar Selir Hong dikembalikan seperti semula, menjadi Hong Guifei."


Dibelakang Kaisar, Kasim Kang membungkuk takzim, bersiap melaksanakan perintah Kaisar. Tanpa mereka sadari, Meihua yang mendengar hal itu merasakan kekecewaan yang besar. Tanpa berpikir panjang, Meihua menghambur keluar dari istana Giok. Selir Ming, Li Mei dan seluruh pelayan yang mengikutinya serentak berlari menyusul langkah Meihua. Begitu pula dengan pelayan pemikul tandu, mereka membawa tandu berat itu dengan susah payah, berharap Permaisuri mau menaikinya lagi.


.


.


.


"Permaisuri kumohon berhenti! Berhentilah! Ingat kandungan Anda!" Mingfen berteriak keras seraya mengejar langkah Meihua. Berharap dengan begitu Meihua akan memelankan larinya.


"Permaisuri, hamba mohon berhenti! Yang Mulia, berhentilah!" Li Mei yang bermandikan peluh kembali berteriak.


Tanpa menggubris teriakan mereka, Meihua terus saja berlari. Ternyata walaupun telah melintasi ruang dan waktu, keahliannya dalam berlari tidak pernah hilang. Tidak sia-sia aku pernah memenangkan lomba lari saat masih sekolah. Meihua sengaja memilih jalan-jalan berkelok untuk menyusahkan para pengejarnya. Juga memilih tempat sepi yang tidak ada para penjaga, sehingga langkahnya tidak akan di hentikan.


Dalam sekejap Selir Ming dan Li Mei serta seluruh pelayan yang mengejar Permaisuri kehilangan sosoknya. Mereka mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk mencari Permaisuri. Hingga senja hampir menjelang, pencarian itu tidak berhasil. Selir Ming kini hampir menangis. Akhirnya ia putuskan untuk melaporkan hal ini pada Kaisar.


.


.


.


Selepas mengunjungi istana Giok, Kaisar kembali ke Istana Emas untuk mengerjakan tugasnya sebagai Kaisar. Hingga tengah hari lewat, Kaisar masih senantiasa duduk disana. Walaupun tampaknya Kaisar membaca berbagai laporan pejabat dan menganalisanya, hatinya sama sekali tidak tenang.


Kehamilan Selir Hong memang terjadi, namun hal itu bukankah karena kesalahannya? Saat itu karena bertengkar dengan Permaisuri, dirinya memang menghabiskan banyak waktu dengan Selir Hong. Siapa yang menyangka, bahwa benih yang ia tanam akan bersemi? Sekarang saat Permaisuri telah hamil, kemudian Selir Hong juga hamil bukankah hubungannya dengan Permaisuri bisa kembali memburuk?


Memikirkan semua itu membuat kepalanya terasa sakit. Tapi Permaisuri adalah Permaisuri. Dia adalah seorang istri dan juga ibu bagi seluruh rakyat. Bukankah salah satu tugas Permaisuri adalah berlapang dada jika hal seperti ini terjadi? Benarkah bisa seperti itu? Jika seperti ini bukankah dia, sebagai seorang Kaisar sangatlah egois.


Akhirnya setelah duduk merenung tanpa ada hasilnya, Kaisar Tian Yi memutuskan untuk kembali ke istana Zhuanshi. Tiba disana yang ia dapati hanyalah Lianhua yang berjalan hilir mudik. Belum sempat kedatangannya diumumkan, Selir Ming menghambur masuk dengan berlari.


"Yang Mulia. Yang Mulia, ga...gawat...!"


"Ada apa Selir Ming? Bicaralah yang jelas! Apa yang gawat?"


"Ka... Kaisar. Permaisuri menghilang! Kakak Meihua menghilang!"


"Apaaa???!!! Bagaimana bisa? Sejak kapan?"


"Sejak pagi, setelah mendengar keputusan Anda di istana Giok."


"Kenapa tidak segera melapor pada Zhen? Kenapa menunggu hingga malam?"


"Ampuni hamba Yang Mulia. Setelah mendengar keputusan Anda tentang Selir Hong, Permaisuri tampak marah dan kecewa. Beliau berlari meninggalkan kami, bahkan meninggalkan tandunya. Kami mengejar sekuat tenaga, siapa sangka lari Permaisuri sangat cepat. Kami segera kehilangan beliau. Awalnya kami berpikir Permaisuri bersembunyi, jadi kami mencarinya dulu. Namun sampai sekarang Permaisuri masih belum ditemukan."


"Prajurit! Lakukan pencarian di seluruh istana kerajaan! Cari Permaisuri sampai ketemu! Lakukan dengan cepat! Kerahkan seluruh prajurit!"


"Baik Yang Mulia."


"Selir Ming, kau beristirahat saja. Zhen akan melakukan pencarian ini!"


"Terimakasih Yang Mulia."


Kaisar pergi dengan panik. Permaisuri pastilah sangat patah hati mendengar keputusannya tentang Hongmei, sehingga melarikan diri darinya. Kali ini jika ia sampai kehilangan Permaisuri dan calon anaknya, maka dirinya hanyalah Kaisar yang gagal.