My Empress From The Future

My Empress From The Future
Wisteria



Tabib Mo mulai membuka matanya. Pertama kali yang dilihatnya adalah langit-langit ruangan yang begitu gelap. Ketika dia mencoba menggerakkan tubuhnya, barulah dia sadar posisinya sedang terikat dengan kuat. Rasa perih muncul saat ia memaksa bergerak, kini matanya menyusuri setiap jengkal tubuhnya, hanya untuk mendapati bahwa ia terluka parah akibat cambuk.


"Kau sudah sadar tabib Mo?" suara perempuan muda masuk ke indera pendengarannya.


"Siapa kau? Apa tujuanmu menyekap dan menyiksa ku disini?"


"Wahh kau ternyata memang sudah tua hingga mulai pikun, coba kau ingat-ingat lagi!"


Tabib tua itu diam, mencoba mengingat.


"Kau! Kau adalah Permaisuri?"


"Ooohh sudah ingat ya? Kalau kau tahu aku adalah Permaisuri kenapa kau tidak menghormat padaku?"


"Hormat pada Permaisuri, mohon lepaskan hamba. Hamba tidak tahu apapun tentang kejahatan Selir Hong," tabib Mo mulai merengek.


"Maksudku menghormat dengan bersujud padaku! Melepaskanmu itu mudah bagiku, asal kau memberi tahuku seluruh rencana dan rahasia Hongmei yang masih ditutupinya."


"Yang Mulia, mohon berbelas kasih, bagaimana hamba akan bersujud jika hamba terikat seperti ini? Permaisuri, ampuni hamba, sungguh hamba hanya orang bodoh. Tidak tahu apapun, mana mungkin hamba ikut dalam rencana Selir Hong."


"Bohong! Kau minta dikasihani, aku sudah mengasihanimu. Tapi kau membuang waktuku, kau juga tidak mau jujur, jadi biarkan cambukku yang bicara padamu!"


Ctaarr.


Cambukan pertama, tabib Mo melolong kesakitan.


Ctaaarrr.


Cambukan kedua, tabib tua itu berteriak minta tolong.


"Bagus, berteriaklah dengan keras hingga suaramu hilang, tidak ada seorangpun yang akan menemukanmu!" Meihua masih terus mencambuk.


Ctarrrr.


Ctarrrr.


Cambukan ketiga dan keempat meninggalkan luka baru ditubuh tabib Mo.


"Ampuunn. Hamba mengaku. Hamba akan bicara dengan jujur. Asal permaisuri mengampuni nyawa hamba,"runtuh sudah pertahanan tabib Mo. Daripada emas dan permata yang dijanjikan pada ku, lebih baik menyelamatkan secuil nyawa ini, pikirnya.


"Coba sedari tadi kau bicara jujur, kau tidak akan tambah menderita. Katakan! Jika kau berani membohongiku walau satu kata, maka kau tahu sendiri akibatnya. Satu kebohongan, satu potongan jari. Kalau jarimu sudah habis, anggota tubuhmu yang lain yang akan dipotong."


"Hamba tidak berani, tidak berani. Selir Hong ingin menjadi seorang permaisuri, dia mulai menyusun rencana menyingkirkan Anda, dia mulai menyiapkan racun dupa itu. Dupa itu akan memberikan racun secara perlahan, membuat tubuh yang menghirup dupa itu kehilangan kekuatannya perlahan-lahan dan akhirnya mati."


Meihua mengangguk,"aku sudah tahu. Lanjutkan!"


"Setelah rencana itu, selir Hong juga berencana untuk meracuni selir Ming. Dia memberikan kantong pengharum yang sebenarnya mengandung racun."


"Lalu apa?"


"Hanya itu. Hanya itu yang saya tahu Yang Mulia."


"Semua yang kau katakan aku sudah mendengarnya, karena informasi darimu tidak berguna, maka kau juga tidak berguna lagi untukku. Pengawal!"


"Ampuni hamba. Ampuni hamba Yang Mulia Permaisuri. Ada satu hal lagi, satu hal lagi."


"Oh. Apa itu? Lebih baik kau tidak mengatakan omong kosong!"


"Tidak. Hamba akan mengatakan sesuatu, tapi Anda harus membebaskan hamba."


"Tabib Mo, kau berada di posisi yang tidak menguntungkan, dan bukan bagian mu untuk bernegosiasi denganku. Lekas katakan!"


"Tapi Anda harus berjanji untuk mengampuni nyawa hamba."


"Kalau informasi darimu bagus, kau boleh pergi dengan nyawamu! Kalau kau hanya mengatakan omong kosong, kau akan menjadi hantu di tempat ini!"


"Baiklah. Hamba katakan, hamba akan katakan. Selir Hong sengaja menyebarkan rumor bahwa dia sedang mengandung seorang pewaris takhta. Saat kelahirannya, akan ada sesuatu yang besar yang akan terjadi. Namun, itu tergantung sikap Yang Mulia Kaisar pada Selir Hong dan putranya."


"Apa maksud mu?"


"Hamba tidak tahu. Sungguh tidak tahu. Waktu itu hamba mendengar secara tidak sengaja, lalu hamba langsung di usir keluar dari sana."


"Dengan siapa Hongmei berbicara saat itu?"


"Dengan menteri Kang, ayahnya."


"Baiklah. Aku akan mempertimbangkan informasi darimu, untuk sementara nyawamu akan aman."


"Terimakasih Permaisuri. Terimakasih."


Hongmei, sebenarnya rencana apa yang kau mainkan? Apakah kau memang merencanakan untuk menyerang istana kerajaan saat kelahiran putramu?


.


.


.


.


Istana Zhuanshi.


"Hormat pada Kaisar."


"Bangunlah semuanya!"


"Terimakasih Kaisar."


"Bao-yu, bagaimana keadaan Selir Ming?"


"Yang Mulia, jika anda begitu mencemaskan dirinya, kenapa tidak menjenguknya?"


"Bao-yu, kau tahu sendiri. Selir Ming tidak pernah dekat denganku. Lagipula hanya kau yang ada di hatiku. Zhen tidak ingin kejadian seperti waktu itu terulang."


"Yang Mulia, ini hanya menjenguknya karena sedang sakit. Lagipula dengan menunjukkan bahwa Kaisar peduli dengan selirnya yang sedang sakit, posisi Anda di hati rakyat akan semakin kuat."


"Kau benar. Kalau begitu, besok temani Zhen menjenguk Selir Ming."


"Hamba pasti akan menemani Anda."


"Yang Mulia, ada sesuatu hal yang ingin hamba sampaikan."


"Katakan! Jangan ragu!"


"Yang Mulia, waktu itu kita membahas tentang rencana kudeta menteri Kang. Akhir-akhir ini hamba mendapat informasi bahwa kudeta itu mungkin dilaksanakan saat proses persalinan Selir Hong."


"Kenapa harus waktu itu?"


"Hamba juga tidak mengerti Yang Mulia. Umumnya saat seorang wanita melahirkan, dia akan berada di kondisi lemah. Menggerakkan pasukan untuk menduduki istana saat putrinya melahirkan adalah hal yang tidak masuk akal, kecuali..."


"Kecuali itu hanyalah taktik pengalihan. Saat seluruh orang sibuk dengan kelahiran Selir Hong, maka perhatianku dan semua prajurit juga akan teralihkan. Membawa pasukan dengan jumlah besar saat peristiwa itu, akan menguntungkan bagi mereka."


"Anda benar Yang Mulia. Jadi Anda harus mempersiapkan segala sesuatunya."


"Terimakasih Bao-yu, kau telah memperingatkan Zhen."


"Yang Mulia, ini sudah menjadi kewajiban hamba untuk berbagai beban dengan Anda."


"Apakah ada hal yang lain Bao-yu?"


"Sepertinya, penyerangan itu juga tergantung perlakuan Anda pada Selir Hong."


"Apa maksud mu?"


"Jika Anda memperlakukan Selir Hong dan putranya dengan baik, mungkin penyerangan itu tidak akan dilakukan. Dengan begitu bukankah kita akan menyelematkan nyawa orang-orang yang tidak bersalah, Yang Mulia?"


"Menurut mu begitu Bao-yu? Tapi menteri Kang selalu berambisi. Tidak menyerang kali ini, dia akan menyerang lain waktu. Zhen sungguh harus menyiapkan rencana cadangan."


"Anda benar."


"Selain itu Zhen juga mengkhawatirkan mu Bao-yu."


"Apakah paduka mencintai hamba?"tanya Meihua tiba-tiba.


"Apakah kau tidak punya rasa yang sama padaku Meihua?" Kaisar balik bertanya.


"Kalau paduka mencintai hamba, maka paduka harus percaya bahwa hamba pasti baik-baik saja."


Hening. Keduanya sama-sama diam, hanya saling menatap. Menyelami isi hati masing-masing lewat pandangan mata. Kata orang mulut bisa berbohong, tapi sorot mata tidak akan pernah bisa berbohong.


"Bao-yu, kau tahu setiap sudut hati ku hanya penuh dengan dirimu. Zhen percaya padamu, tapi Zhen juga tahu, rumor yang beredar di istana tentang pewaris takhta, sedikit banyak pasti mengusik hatimu."


"Yang Mulia, hamba tidak gila kekuasaan. Bagi hamba, bisa berdiri di samping paduka sudah menjadi kebahagiaan dan keberuntungan."


"Kau sungguh Meihua ku yang berharga. Kau benar-benar Permaisuri ku. Tunggulah sebentar lagi, akan Zhen urus masalah menteri Kang ini dengan tuntas. Zhen akan tegakkan keadilan bagimu dan Selir Ming."


"Terimakasih paduka, sudah larut mari beristirahat," ajak Meihua.


"Permaisuri, tidakkah kau akan mengajak Zhen mandi bersama?"


Pipi Meihua memerah,"Yang Mulia bicara apa? Hamba mengantuk."


"Kalau kau tidak mau mandi bersama, kita tidur bersama. Bagaimana kalau kita buat pangeran kecil? Atau putri kecil?" Ucap Kaisar mengekor langkah Meihua menuju peraduan.


"Yang Mulia,"pekik Meihua manja saat tubuhnya diangkat dan dibaringkan di peraduan dengan posisi Kaisar diatasnya.


"Ssssttt sudah malam, jangan sampai insiden malam pengantin terulang lagi,"ucap Kaisar mengingatkan, tidak peduli bahkan wajah Meihua telah semerah apel.


Kadang hanya kejujuran yang dibutuhkan untuk mendapatkan hati seseorang. Tian sungguh punya kehendaknya sendiri, siapa yang tahu akan lahir seorang pangeran atau putri di istana Wu.


.


.


.


.


"Hormat pada Permaisuri."


"Lupakan sopan santun tabib Han! Kalian semua boleh keluar," perintah Meihua pada para dayang dan kasim. "Mei'er kau tinggal disini!"


"Baik Permaisuri," ketika pintu telah tertutup barulah tabib Han membuka mulut.


"Yang mulia Permaisuri, kantung pengharum itu memang berisi bunga-bunga segar dan biji-bijian. Tapi yang menarik adalah ditemukannya biji bunga wisteria dalam jumlah yang banyak didalamnya. Bijinya beracun, bisa menyebabkan mual, muntah, kebingungan bahkan efek terburuknya adalah kematian."


"Ternyata memang Hongmei berniat mendapatkan kursi Permaisuri. Adik Ming bahkan juga disakiti olehnya."


"Yang Mulia, hamba telah meresepkan obat untuk Selir Ming, jika Selir rutin meminumnya, dalam waktu satu minggu ini efek dari racun-racun itu akan hilang."


"Baiklah, terimakasih tabib Han. Pergilah, dan tunggu hadiahku untukmu!"


"Terimakasih Yang Mulia Permaisuri."


"Li Mei, racun harus dibalas dengan racun. Ambil daftar ini, pergilah cari bahan-bahan yang kubutuhkan,"perintah Meihua pada Li Mei.


"Laksanakan Permaisuri."


Perlu cukup banyak bukti yang harus kukumpulkan, dengan adanya tabib Mo, kantung pengharum dan kesaksian Selir Ming, seharusnya cukup untuk menjebloskan Hongmei ke penjara atas kejahatannya.


.


.


.


.


Hari berganti Minggu. Minggu pun berganti bulan. Musim semi telah lama berlalu. Kini negeri Wu tengah diterpa musim dingin.


Setiap rencana menteri Kang selalu dalam pengawasan kaisar Tian Yi. Kaisar berpura-pura seolah tidak tahu apapun, tapi sebenarnya di luar tembok ibukota, pasukan Jenderal Li Hao telah siaga.


Musuh dari negeri DongYi diprediksi datang dari arah barat dan barat laut, hal ini karena negeri DongYi berbatasan dengan Wu di sebelah barat. Maka pasukan Jenderal Li Hao dibagi menjadi tiga bagian. Satu bagian di luar tembok kota sebelah Utara, satu bagian di luar tembok kota sebelah selatan dan satu bagian lagi telah sampai di lingkungan istana. Tentara yang menjaga istana menyamar sebagai penduduk biasa, yang mengisi kota, karena penduduk asli telah diungsikan.


Penduduk yang berada di kota yang kemungkinan menjadi jalan bagi pasukan musuh, telah diungsikan diam-diam, sedikit demi sedikit agar tidak menimbulkan kepanikan dan memberikan peringatan bagi kubu Menteri Kang.


Kegiatan di istana masih berjalan seperti biasa. Bahkan kini kandungan Hongmei tinggal menunggu hari persalinan. Kaisar sengaja mengangkat status Hongmei yang sebelumnya hanyalah seorang Fei kini menjadi Huang Guifei. Tentu saja semua itu atas izin Permaisuri. Ralat bukan izin, namun strategi dari Permaisuri.


Perlakuan untuk Hongmei juga semakin baik. Sesekali, Kaisar akan bermalam di istana Giok. Tentu saja tanpa menyentuh Hongmei sama sekali. Hal ini ia lakukan untuk mengecoh kubu Menteri Kang. Jika perlakuannya pada Hongmei memang menjadi alasan penyerangan itu, maka Kaisar berharap dengan cara ini orang-orang tidak bersalah di istana bisa terhindar dari bahaya.


Untuk sementara kubu Menteri Kang bersikap manis. Bahkan suasana seolah kembali damai dan tenang. Jun Li yang menyamar ke dalam pasukan inti dari menteri Kang memberikan informasi bahwa penyerangan tidak jadi dilakukan saat hari persalinan Huang Guifei.


.


.


.


.


Hari itu istana Giok ramai bukan kepalang. Para pelayan berlarian, mempersiapkan hal-hal yang diperlukan untuk persalinan. Tabib didatangkan, sedari pagi teriakan dan tangisan Hongmei terdengar hingga ke aula Istana Giok.


Kaisar Tian Yi, permaisuri Meihua dan Selir Ming yang sudah sembuh, sama-sama hadir menunggu kelahiran Hongmei. Hingga siang belum ada tanda-tanda tangisan seorang bayi. Belum ada yang mengabarkan proses persalinannya telah selesai. Akhirnya karena tidak sabar, Meihua berinisiatif memasuki ruang persalinan Hongmei.


Disana para tabib tengah panik, mereka mondar-mandir bergantian, posisi mereka terpisah oleh sekat tipis dengan ranjang. Hanya para dayang perempuan yang membantu proses persalinan, sedangkan para tabib itu hanya memberikan instruksi. Melihat kedatangan Meihua mereka ingin menghormat, namun dilarang Meihua dengan cepat.


"Apakah ada masalah? Tabib Han jelaskan padaku!"


"Menjawab Yang Mulia Permaisuri, Selir kekurangan tenaga untuk mengejan. Sebab sejak tadi selir terlalu banyak berteriak dan bergerak yang tidak perlu. Kondisinya semakin lemah, kami khawatir dengan keselamatan bayinya."


"Aku akan membantu, kalian lakukan yang terbaik."


Meihua lalu menyibakkan sekat tipis itu, mendekati kepala ranjang tempat Hongmei tergolek lemas. Dia duduk pelan dan menepuk-nepuk pipi Hongmei.


"Hei Selir Hong, bangun! Selamatkan bayimu, selamatkan pangeran kecil. Atau kau lebih memilih melihat aku yang mengandung pewaris takhta istana Wu? Sedangkan bayimu yang kau katakan seorang pangeran ini mati begitu saja, bahkan sebelum ia melihat dunia?" Meihua memanas-manasi Hongmei.


Berhasil. Kata-kata Meihua membuat Hongmei tersadar, dengan menatap tajam Meihua, wanita itu mulai mengejan. Meihua tidak berhenti begitu saja, mulutnya terus membisikkan berbagai kalimat yang membuat Hongmei geram. Hingga akhirnya tangis bayi memenuhi ruang persalinan.


"Selamat pada Selir, anda melahirkan seorang bayi yang cantik, bayi perempuan,"ucap seorang dayang yang membantu proses persalinan itu.


"Selamat Selir Hong kau melahirkan burung Hong sesuai namamu, dan bukan bayi naga,"bisik Meihua di telinga Hongmei.


Hongmei yang telah mengetahui sejak awal merasa lemas. Kini dia merasa seolah tidak ada harapan lagi. Hanya hukuman yang menantinya, karena telah membohongi Kaisar tentang pewaris takhta.


Setelah bayi itu dibersihkan, Meihua membawanya ke hadapan kaisar Tian Yi.


"Selamat kepada Yang Mulia Kaisar, burung Hong telah lahir di istana,"ucap Meihua. Serentak seluruh pelayan dan kasim yang mendengarnya, memberikan ucapan.


"Selamat kepada Baginda Kaisar, atas kelahiran seorang Putri."


Kaisar Tian Yi duduk diam di kursinya. Bukan perkara bayi perempuan atau laki-laki yang menjadi pikirannya, namun kebohongan Hongmei yang mengatakan mengandung seorang pangeran. Kaisar geram, membohongi penguasa sama halnya mendapatkan hukuman mati.


"Yang mulia, lihatlah bayi ini cantik sekali. Seorang anak yang dididik dengan baik pasti akan menjadi seorang putri yang baik juga,"ucap Meihua seraya memperlihatkan bayi itu ke hadapan Kaisar.


"Memang cantik, uruslah putri ini Meihua. Jangan biarkan dia seperti ibunya. Maafkan Zhen yang menyakiti perasaanmu lagi."


"Jangan terlalu dipikirkan Yang Mulia, hamba dengan tulus akan merawat bayi ini. Segeralah memberinya nama Yang Mulia."


"Hari ini istana Wu dianugerahi seorang putri yang cantik. Kuberi nama Wu Mei Lian,"ucap Kaisar lantang.


"Selamat kepada Yang Mulia Kaisar, selamat atas kelahiran Putri Mei Lian."


"Karena selir Hong berbohong dan menyebarkan berbagai rumor bahwa dia telah mengandung seorang pangeran maka Zhen akan menghukumnya setelah kesehatannya pulih."


Setelah berkata seperti itu, kaisar Tian Yi meninggalkan Istana Giok.


.


.


.


.


Malam itu di istana Zhuanshi, Kaisar dan Permaisuri yang sedang bersama, hanya saling bersandar menikmati keheningan malam. Para pelayan telah disuruh beristirahat, bahkan pelita di istana telah dimatikan. Hanya tersisa satu pelita di peraduan.


"Yang Mulia, Anda beristirahatlah,"ucap Meihua pelan.


"Zhen belum mengantuk Bao-yu. Kalau kau mengantuk tidurlah dulu."


"Hamba akan menemani paduka. Bukankah bagus pemandangan langit malam di luar sana? Bagaimana kalau kita berjalan-jalan berdua Yang Mulia?"


Kaisar Tian Yi setuju. Akhirnya keduanya mengenakan mantel tebal dan keluar halaman. Sambil berjalan dalam remang-remang malam, tangan mereka saling bergandengan.


Ketika akhirnya langkah mereka berhenti di danau buatan, Kaisar memilih duduk di jembatan seperti yang dulu dilakukan Meihua.


Kini tangan Kaisar merengkuh tubuh Meihua, dan kepala Meihua bersandar dipundaknya.


"Yang mulia, tidakkah paduka merasa kasihan pada adik Ming?"


"Apa maksud mu Meihua?"


"Yang mulia tidak pernah mengunjunginya, tidak pernah berbincang dengannya. Dia sebagai selir seolah hanya pajangan saja, sedangkan kebebasannya bagai burung dalam sangkar."


Kaisar diam sejenak.


"Bukan maksud Zhen tidak mau berbincang dan mengunjunginya, tapi sungguh dalam hati Zhen hanya ada kau seorang permaisuriku. Kesalahan Zhen saat mengunjungi istana Giok berakhir seperti ini, Zhen tidak ingin mengulanginya lagi."


Hati Meihua terasa hangat mendengar perkataan suaminya. Bukankah itu berarti hanya ada dia seorang dalam hati Kaisar.


"Yang mulia, dulu adik Ming pernah memohon padaku. Setelah penyelidikan atas Selir Hong selesai, dia meminta aku berjanji padanya satu hal."


"Apa itu?"


"Dia ingin meninggalkan istana, hidup di pedesaan dan menjadi orang yang biasa saja. Dia tidak menginginkan hidup di istana, bukan berarti dia tidak menghormati paduka Kaisar. Namun dia masuk istana juga tidak punya pilihan lain. Mohon Baginda jangan marah pada adik Ming."


"Zhen tidak marah. Tidakkah kau tanyakan padanya jika meninggalkan istana berarti meninggalkan keluarganya juga? Seorang bekas istri Kaisar tidak bisa kembali ke keluarganya. Mereka dianggap membawa aib dan kesialan."


Meihua terperanjat, tak pernah ia tahu begitu berat konsekuensi yang harus ditanggung. Kini seolah ada beban berat dihatinya.


"Itu berarti seumur hidupnya, adik Ming tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya? Dia akan menderita disini sampai mati?"lirih Meihua.


"Jangan sedih. Zhen ada sebuah cara. Tapi Selir Ming harus bersabar. Pemberontakan menteri Kang hanya tinggal menghitung hari. Tunggulah sampai kita mengatasi hal ini."


"Baik Yang Mulia."


Lebih baik hubungan Mingfen dan Xiao Wu tidak kuceritakan pada yang mulia, atau dia akan marah karena merasa dihina. Dan parahnya lagi, bisa-bisa adik Ming tidak jadi keluar istana.


.


.


.


.


Sebelumnya Kang Li Bo cukup berpuas hati, sebab gelar putrinya naik menjadi Huang Guifei. Hanya perlu satu tingkat lebih tinggi untuk menjadi Permaisuri. Selain itu, perhatian Kaisar pada Hongmei juga membaik. Dalam suratnya, Hongmei mengatakan bahwa Kaisar bahkan bersedia bermalam lagi di istananya.


Tentu saja Kang Li Bo bahagia jika putrinya bahagia. Oleh karena itu, rencana penyerangan ke Istana ditunda. Menurut Hongmei, hanya tinggal menyingkirkan Meihua maka dirinya bisa menjadi Permaisuri. Jika Meihua mati, maka gelar Permaisuri pasti menjadi miliknya.


Akan tetapi perhatian Kaisar pada putrinya ternyata mempunyai maksud lain. Segera setelah cucunya lahir, Kaisar memberikannya pada Permaisuri dan memenjarakan putrinya. Hongmei dituduh melakukan upaya pembunuhan pada Selir Ming, menyebarkan rumor tentang pewaris takhta yang merusak kedamaian istana dan sederet kejahatan lain yang menyangkut nyawa Permaisuri.


Dengan semua kejahatan itu, Hongmei dipastikan akan mendapatkan hukuman mati. Marah luar biasa, Kang Li Bo memutuskan untuk segera mengirimkan surat ke DongYi dan ke kamp Jenderal Mu. Penyerangan terencana itu akan dilaksanakan segera setelah DongYi mengirimkan bantuannya.