My Empress From The Future

My Empress From The Future
UPACARA PEMAKAMAN II



Kaisar ternyata tidak keberatan dengan gagasan Meihua. Saat itu ketiganya tengah berkumpul di aula Istana Emas.


"Salam hormat pada Kaisar dan Permaisuri."


"Bangunlah, duduk disini!"


"Baik." Segera setelah Mingfen menyamankan posisi duduknya, Meihua mulai berkata.


"Adik Ming, Kaisar telah menyetujui permintaanmu. Setelah ini kau bebas keluar istana. Tapi apakah itu sebanding dengan pengorbananmu? Kau selamanya tidak boleh kembali kesini. Kau tidak boleh berhubungan dengan mereka, kau akan dianggap 'mati'."


Ada setitik air mata yang hampir jatuh dari mata Meihua saat ia berkata seperti itu. Bagaimanapun melepas seorang adik yang begitu baik dan perhatian padanya, seperti Mingfen sangat terasa berat.


"Yang Mulia Kaisar, terimakasih atas kemurahan hati paduka. Permaisuri terima kasih. Hamba tidak merasa ragu lagi, hidup sederhana seperti rakyat biasa adalah keinginan hamba sejak kecil. Berpisah dengan keluarga sudah tentu menyakitkan hati, tapi hamba rela."


Aku tahu keinginan mu ini mungkin sejak kecil telah ada Mingfen, ditambah lagi dengan adanya Xiao Wu, orang yang siap berbagi suka suka denganmu. Kau pasti tidak ragu lagi,batin Meihua.


"Kau akan dianggap 'mati' oleh keluargamu, kau akan dianggap 'mati' sebagai seorang selir. Kau akan kehilangan semua kemewahan dan hidup seadanya, apakah itu setimpal?" Giliran Kaisar yang bertanya.


"Hamba tidak ragu lagi Yang Mulia," Mingfen menjawab dengan sorot mata yakin.


"Baik. Malam ini pergilah, bawa Jingmi bersamamu. Jangan pernah kembali ke ibukota atau kembali ke keluargamu. Kasim Kang akan mengumumkan 'kematian'mu karena sakit. Upacara pemakaman akan dilakukan secara tertutup,"tutur Kaisar lagi.


Mingfen mengangguk. Setelah memberi hormat, gadis itu meninggalkan aula Istana Emas dengan diiringi Jingmi. Meihua yang mulai menangis, memohon pada Kaisar untuk mengantarkan Mingfen hingga ke gerbang istana dan disetujui Kaisar.


Ketika Meihua sampai di istana Mutiara, Mingfen tengah berganti pakaian dengan baju biasa. Dia dan Jingmi hanya membawa keperluan secukupnya.


"Adik Ming,"panggil Meihua pelan.


"Kakak Meihua, kenapa anda kesini?"


"Aku ingin mengantarmu hingga gerbang istana, bolehkah?"


"Tentu saja." Mingfen tersenyum lembut. "Kakak terimakasih telah mengabulkan permintaanku. Kelak kalau kita masih berjodoh, kita pasti bertemu lagi."


"Adik, kau memang tidak boleh kembali ke sini. Tapi kakak bisa mengunjungimu. Katakan kemana tujuanmu, biar kakak bisa datang kapanpun kakak ingin,"ucap Meihua serak.


"Sejak kecil aku selalu ingin hidup di desa yang berpanorama indah, di pinggir danau yang luas. Mungkin desa Yinghua cocok untukku."


"Desa Yinghua sangat jauh, kirimkan surat segera setelah kau sampai di sana. Ini bawalah sebagai bekal untukmu," Meihua mengulurkan sekantong uang emas pada Mingfen.


"Kakak, sungguh tidak perlu begitu repot. Adik sudah membawa uang sendiri,"tolak Mingfen.


"Jangan menolak! Bawalah! Aku merasa tak tenang jika kau hidup susah."


"Terimakasih kakak. Maafkan aku."


Gadis yang berusaha tegar itupun mulai menangis.


"Tidak apa-apa. Yang penting kau bahagia,"ucap Meihua seraya memeluk Mingfen. Keduanya berpelukan erat dan cukup lama, keduanya sama-sama meneteskan air mata, begitu pula Jingmi.


"Ayo kuantar hingga kau naik kereta kuda," Meihua yang melepaskan pelukan itu pertama kali. Mingfen hanya mengangguk. Mereka bertiga berjalan beriringan menuju gerbang istana. Di sana Li Mei telah menunggu bersama seorang kusir kereta kuda yang telah disiapkan Meihua. Dan ternyata kusir kereta kuda itu justru Xiao Wu sendiri.


"Kakak, seberapa jauh mengantar, tetap akan berpisah. Sampai disini saja. Kakak lekaslah kembali, jangan sampai sakit. Satu lagi, tolong berikan surat ini pada keluarga ku," Mingfen memberikan sepucuk surat pada Meihua.


"Baik. Adik jaga diri dan kesehatan mu. Hati-hati di jalan."


.


.


.


.


Kabar 'kematian' selir kehormatan Ming telah diumumkan. Rakyat terkejut mendengar pengumuman tersebut. Keluarga Chu seolah mendapatkan pukulan keras. Bahkan Chu Fan Yao sampai jatuh sakit karena mendengar kematian putrinya. Selir Ming meninggal dunia karena sebuah penyakit yang sangat menular, oleh karena itu pemakamannya dilakukan secara tertutup.


Istana memberikan waktu tiga bulan untuk masa berkabung. Seluruh istana dan penghuninya menggunakan pakaian putih. Bahkan Kaisar memakai jubah kebesarannya yang berwarna putih bersulam naga.


Matahari seolah meredup, seluruh negeri Wu bersedih. Di perjalanan, Mingfen yang mendengar berita itu, pingsan karena terlalu banyak menangis. Bagaimanapun ini adalah keputusan yang diambilnya demi kebahagiaannya sendiri.


.


.


.


Untuk ayahku, Chu Fan Yao yang tegas namun berhati lembut dan adil.


Ayah, saat anda membaca surat ini mungkin putrimu telah pergi jauh darimu. Kumohon ayah janganlah bersedih. Jaga kesehatan ayah untukku. Mingfen sengaja menyembunyikan penyakit ini dari kalian agar kalian tidak merasa cemas. Ayah, percayalah putrimu akan bahagia disini. Putrimu akan selalu mendoakan yang terbaik bagi ayah dan seluruh keluarga Chu di manapun aku berada.


Ayah, jika kelahiran kembali benar-benar ada, maka ijinkan putrimu ini untuk menjadi putrimu lagi di kehidupan selanjutnya. Ijinkan putrimu untuk berbakti padamu dikehidupan selanjutnya, karena di kehidupan ini putrimu sama sekali tidak berbakti padamu.


Sekian surat ini Ayah, untuk terakhir kalinya, maafkan Mingfen dan percayalah dia akan bahagia.


Dari Mingfen, putri yang tidak berbakti.


.


.


.


Pejabat hukum yang sekarang adalah Chu Fan Yao, ayah kandung dari Selir Ming. Melewati berbagai ujian negara, Chu Fan Yao diangkat menjadi pejabat hukum pada awal pemerintahan Kaisar Tian Yi. Sejak dulu Chu Fan Yao selalu melaksanakan tugasnya dengan jujur dan adil, sehingga Kaisar selalu memperlakukannya dengan baik.


Satu hal yang sampai saat ini menjadi penyesalannya hanyalah satu, tidak bisa menjadikan Hua Rong sebagai istri resminya. Hua Rong adalah ibu dari Mingfen, yang dulunya hanyalah seorang pelayan. Karena perbedaan status mereka, Fan Yao muda hanya bisa pasrah dengan perjodohan yang diatur keluarga.


Hua Rong akhirnya hanya bisa menjadi istri tidak resminya dan tinggal di kediaman dengan semua penghinaan yang ditujukan untuknya. Tertekan terus menerus, kesehatan Hua Rong semakin memburuk sejak mengandung Mingfen. Ketika akhirnya Mingfen lahir ke dunia, Hua Rong harus membayarnya dengan nyawanya sendiri.


Kesedihan yang mendalam dan kecewa karena wanita yang dicintainya meninggal, Fan Yao menghindari Mingfen kecil. Bukan tanpa sebab, seiring pertumbuhannya menjadi seorang gadis, wajah Mingfen begitu mirip dengan sang ibu. Sosok Hua Rong yang menjadi belahan jiwanya, kembali pada diri Putri mereka. Hal itu kembali membawa kesedihan yang mendalam baginya.


Wajah Mingfen yang terlalu mirip dengan sang ibu juga lah, yang membuatnya selalu mendapat hinaan dan perlakuan buruk dari Ibu pertama dan semua saudaranya. Namun, Mingfen kecil nyatanya sangat kuat, tumbuh menjadi seorang gadis yang baik hati dan ceria.


Kini Mingfen kecilnya, yang tidak bisa ia lindungi ternyata harus pergi lagi dari kehidupannya. Mingfen kecil yang telah tumbuh dewasa, harus menikah ke dalam keluarga kerajaan. Kini putrinya benar-benar tidak akan kembali.


Kabar 'kematian' Mingfen menjadi pukulan keras baginya. Sebenarnya dosa apa yang telah ia lakukan sehingga istri dan putrinya harus meninggalkannya seorang diri di dunia ini?


Kini Chu Fan Yao tidak semuda yang terlihat dulu. Tidak seperti Chu Fan Yao yang dulu, walaupun kebijaksanaan tetap tampak di setiap tindakannya. Namun satu hal yang pasti, Chu Fan Yao yang sekarang tidak lebih dari cangkang kosong, yang ditinggalkan oleh hati dan jiwanya. Yang seolah pergi bersama istri dan putrinya.