My Empress From The Future

My Empress From The Future
Rencana Yang Lain



"Yang Mulia Permaisuri, Selir Hong meminta izin berkunjung,"ucap seorang kasim kecil.


"Persilakan masuk!"


"Hamba memberi salam untuk Permaisuri." Selir Hong menghormat takzim.


"Kau boleh berdiri Selir Hong."


"Terimakasih Yang Mulia. Hamba mendengar bahwa Anda terluka saat keluar istana, jadi hamba hari ini menyempatkan diri untuk menjenguk Anda."


"Terimakasih atas niat baikmu. Aku tidak apa-apa."


"Bagaimana mungkin kehilangan anak disebut sebagai tidak apa-apa?"tanya Selir Hong pelan. Permaisuri Meihua tersentak di tempat tidurnya, hal itu tidak luput dari penglihatan Selir Hong. Sudut bibirnya menyeringai, kali ini dia merasa bahagia di atas penderitaan Meihua.


"Lancang!" Justru Li Mei yang berteriak keras. Seketika hal itu menyadarkan Selir Hong.


"Ahh ampuni kelancangan hamba, Yang Mulia Permaisuri. Tolong jangan hukum hamba."


Permaisuri membuang nafasnya perlahan, bagaimanapun kali ini dia tidak boleh mudah tersulut emosi. "Sudahlah Selir Hong. Jika tidak ada yang kau sampaikan lagi, pergilah! Aku masih butuh beristirahat."


"Tunggu sebentar Yang Mulia. Ling'er bawa kemari pemberianku untuk Permaisuri!"


Ling'er, pelayan baru Selir Hong membawa kotak kayu kecil dan memberikannya pada Li Mei. Selir Hong menjelaskan bahwa isinya adalah dupa yang beraroma menenangkan dan mempercepat proses penyembuhan.


"Karena Permaisuri harus banyak beristirahat, maka hamba harus pamit."


"Pergilah!"


Selir Hong kembali menghormat dan meninggalkan istana Zhuanshi dengan senyum bahagia. Saat ini posisinya berada di atas angin. Sambil berjalan, di elusnya perlahan perutnya yang masih rata. "Nak kali ini tidak akan ada yang menjadi saingan mu!"


.


.


.


.


Sejak dirinya terluka untuk yang kedua kalinya, Tian Yi semakin protektif padanya. Apapun yang berpotensi untuk membuatnya terluka lagi, harus dihindari bahkan disingkirkan. Walaupun merasa tidak terima, Meihua hanya bisa menelan kekesalannya bulat-bulat. Sebab peristiwa terakhir kalinya juga berawal dari kesalahannya.


"Yang Mulia Kaisar tiba."


"Salam untuk Yang Mulia Kaisar,"seluruh dayang lalu berlutut. Permaisuri bermaksud untuk beranjak dari tempat tidurnya, namun Kaisar segera menghalangi niatnya.


"Hua'er, tidak perlu bangun. Lihat! Zhen sudah duduk disini, kau tidak perlu kemana-mana."


"Yang Mulia, Anda pasti merasa lelah. Pasti ada banyak laporan yang harus Anda selesaikan, kenapa masih menyempatkan diri berkunjung kemari?"


"Tenanglah! Zhen sudah menyelesaikan semuanya. Sekarang waktu Zhen hanya untukmu!"


Meihua tersenyum kecil, tangannya digenggam erat oleh Tian Yi.


"Kalian semua keluarlah!"


"Baik."


"Hua'er apakah kau masih merasa sakit?"tanya Tian Yi lirih.


"Yi'er, yang sakit bukan di bekas luka ini. Tapi di sini,"jawab Meihua seraya menunjuk tempat dimana hatinya berada.


"Maafkan aku, Hua'er. Karena diriku, kita harus kehilangan buah hati kita."


"Kita sudah pernah membahas ini sebelumnya, Yi'er. Justru karena aku yang ceroboh melarikan diri dari istana, hal ini lalu terjadi."


Tian Yi menggeleng cepat, kali ini dipeluknya Meihua erat-erat. "Aku tidak menyalahkan mu. Tunggu hingga kesehatan mu pulih, aku akan mengadakan perjamuan di istana."


"Untuk apa?"


"Untuk mengingat jasa mu telah menyelamatkan nyawa ku."


"Tian Yi, kau tahu sendiri aku tidak menginginkan hal seperti itu!"


"Baiklah. Baiklah. Kalau begitu, tunggu hingga kesehatan mu pulih, kita akan memiliki anak sebanyak apapun yang kau mau. Bagaimana?" Tanya Tian Yi dengan senyum menggoda.


"Apaa?? Sebanyak apapun? Apa maksud mu?!"pekik Meihua tersipu. Tian Yi tertawa lepas, begitu pula Meihua.


Malam ini keduanya menghabiskan waktu bersama di Istana Zhuanshi. Bagi Meihua hal itu seolah menegaskan bahwa hati dan tubuh Tian Yi masihlah bersamanya. Kehamilan Selir Hong mungkin hanyalah suatu kesalahan.


.


.


.


Istana Giok.


Awalnya Selir Hong sedang duduk dengan tenang sembari menikmati secangkir teh harum. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama setelah dayang barunya, Ling'er memberitahunya satu hal. Setelah mendengar hal itu, tangannya mencengkeram cangkir teh dengan kuat. Matanya menyorot tajam, gurat kemarahan nampak diwajahnya yang masih muda.


"Aiyaa selir, jangan sampai memecahkan cangkir itu, tangan Anda bisa terluka,"seru Ling'er buru-buru merebut cangkir digenggaman Selir Hong.


"Ling'er, katakan apa yang kulakukan sudah benar?!"


"Selir, mohon tenang dulu. Sekarang Kaisar pasti masih bingung, sehingga tidak ada waktu untuk menengok Anda."


"Bukan itu yang kumaksud. Kaisar hanya memikirkan Permaisuri seorang, apakah masih ada aku dimatanya? Bahkan setelah dia pulih, Kaisar akan mengadakan perjamuan untuknya?"


"Aiyaa Selir. Anda takut apa? Bukankah rencana selanjutnya sudah dijalankan? Apakah mungkin perjamuan itu akan diadakan?"


"Kau benar. Hanya jika rencana kita berjalan lancar, Meihua tidak akan menerima kehormatan itu!"


"Selir memang bijaksana. Sekarang tenangkan diri Anda, jangan marah-marah berlebihan. Itu tidak baik, pikirkan kesehatan Anda dan bayi Anda."


"Ling'er. Terimakasih."


"Aiyaa, Selir apa yang anda katakan?."


Hongmei kembali tenang. Benar kata Ling'er, jika Meihua tetap sakit bukankah perjamuan itu tidak akan pernah diadakan?


.


.


.


.


Akhirnya Meihua sedikit demi sedikit mulai pulih. Tabib terbaik dan obat-obatan terbaik semuanya diberikan padanya. Semakin hari kesehatan Meihua semakin bagus, wajahnya kembali merona penuh vitalitas. Kaisar yang melihatnya kembali tersenyum bahagia. Selir Ming bahkan ikut bergembira. Bersama Li Mei dan Jingmi, Mingfen menari-nari di aula Istana Zhuanshi. Meihua yang melihat itu bahkan tertawa keras, sebab tarian ketiganya berbeda dari tarian di istana yang biasanya anggun dan indah.


Ketiganya menari tidak beraturan, terkadang mereka akan saling menabrak satu sama lain. Jika satu musik telah selesai dimainkan, maka ada musik lain yang akan dimainkan. Suasana Istana Zhuanshi yang semula dingin penuh kesedihan, kini berubah hangat penuh keceriaan.


Dari kejauhan, Kaisar Tian Yi yang berdiri di depan gerbang masuk istana Zhuanshi, menatap bahagia. Tawa Meihua yang begitu lepas menular dengan cepat ke sekelilingnya. Bahkan dari kejauhan, Kaisar Tian Yi seolah bisa melihat lesung pipi Meihua. Akhirnya Meihua bisa sejenak melupakan kesedihannya.


.


.


.


.


Ibu Suri yang akhirnya tiba di Istana segera menyambangi Istana Zhuanshi, khusus untuk menengok Permaisuri. Kedatangannya di umumkan dengan lantang oleh Kasim. Semua orang serentak berlutut dan mulai memberikan penghormatan, tak terkecuali Meihua.


Ibu Suri buru-buru memapah menantunya untuk segera berdiri. Ketika semua orang yang tidak berkepentingan telah pergi, mulailah Ibu Suri memberikan nasehat-nasehat penting.


"Nak kau pasti sudah menderita belakangan ini,"ucap Ibu Suri mengawali pembicaraan.


Meihua menggeleng cepat," Tidak Ibunda, Hua'er baik-baik saja. Justru Hua'er ingin meminta maaf. Akibat kecerobohan ku, kita kehilangan penerus kerajaan."


"Sudahlah Nak! Jangan di ingat-ingat lagi! Anggaplah itu adalah kehendak Dewa. Kau harus fokus pada penyembuhan mu!"


"Justru Ibu yang ingin berterima kasih padamu! Kau menyelamatkan nyawa Yi'er. Sebagai seorang Ibu, aku harus membalas budi mu."


"Itu tidak perlu Ibunda. Bagaimanapun Hua'er juga milik Yang Mulia, sudah kewajiban Hua'er untuk mementingkan keselamatan Kaisar."


"Kau melakukannya dengan baik, bahkan kau mengesampingkan nyawamu sendiri?"


Meihua tersenyum kikuk. Diambilnya teh lalu diteguknya dengan cepat. Ibu suri yang melihatnya, hanya tersenyum kecil.


"Hua'er hanya saja kau harus selalu ingat satu hal! Di Istana, Kaisar bebas melakukan apa saja yang ia kehendaki. Bahkan jika itu berarti harus menyakiti hati salah satu wanitanya, demi kepentingan rakyat, Kaisar pasti akan melakukannya."


"Hua'er mengerti."


"Maafkan Ibunda karena selalu meminta mu untuk berlapang dada. Tapi kau harus benar-benar mengerti, sebagai anggota keluarga kerajaan, hanya ada dua hal yang tidak bisa kita miliki, sementara rakyat biasa memilikinya. Kau tahu apa itu, Hua'er?"


"Menjawab Ibunda, itu...persahabatan dan cinta?"


Ibu suri mengangguk perlahan. "Baguslah kalau kau mengerti. Kalau begitu Ibu tidak akan menganggu istirahat mu."


Ibu suri kemudian berdiri dan mulai melangkah pergi dengan dipapah dayang kepercayaannya. Dibelakangnya, Meihua menghaturkan hormat.


"Sampai jumpa, Ibu Suri."


.


.


.


.


Berita bahwa Permaisuri menyelamatkan nyawa Kaisar dengan menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng untuk menghadang belati, telah tersebar luas ke seluruh penjuru kerajaan. Semua orang tersentuh dengan sikap Permaisuri. Juga berita bahwa Permaisuri harus rela kehilangan bayinya karena kejadian itu, telah mengetuk hati seluruh rakyat. Para ibu di seluruh penjuru kerajaan Wu menangis mendengar hal itu. Lalu dimulailah suatu upacara doa untuk mendoakan kebaikan bagi Permaisuri. Juga berdoa agar Permaisuri kembali diberi kehamilan oleh Dewa.


Menanggapi hal itu, Kaisar Tian Yi sengaja mengirim Menteri ritus kerajaan untuk memimpin doa dengan disaksikan oleh Selir Ming. Setelah upacara doa selesai, kabar lain yang datang tak kalah menghebohkan. Kabar bahwa Kaisar akan mengadakan pesta rakyat dan perjamuan di istana dengan meriah. Pesta rakyat sangat jarang di adakan, sehingga rakyat yang mendengarnya bergembira.


Sementara itu, perjamuan di istana akan diadakan dengan mengundang seluruh pejabat dari berbagai tingkatan, hingga keluarga bangsawan di ibukota. Para pelayan di istana kembali disibukkan dengan berbagai macam persiapan. Berbagai hal untuk menunjang pesta di persiapkan dengan teliti.


.


.


.


.


Sinar matahari musim semi terasa panas pada tengah hari, namun tak menyurutkan langkah ChinSuo untuk keluar istana. Hanya berdua dengan pelayannya, gadis itu berhasil keluar istana dengan menyamar sebagai seorang laki-laki.


"Nona, kita mau kemana?" Yue'er bertanya pelan.


"Ke pasar kota, aku ingin membeli perhiasan yang waktu itu."


"Waktu itu nona menolak dibelikan Pangeran, sekarang malah ingin beli sendiri."


"Huss diam! Ayo cepat jalan."


Tentu saja ChinSuo menyembunyikan tujuan sebenarnya, kepergiannya ke pasar itu hanya dengan secuil harapan bisa bertemu dengan Hao Chen di jalan. Jika Yue'er tahu, pasti pelayan itu akan berkata, tuan muda Hao Chen itu asisten jenderal, jika ingin menemuinya seharusnya pergi ke kamp militer bukan ke pasar, toh tuan muda Hao Chen bukan kuli angkut barang.


Suasana pasar masih sama seperti terakhir kali ChinSuo kesana. Masih tetap ramai dan itu membuatnya senang. Gayanya yang seperti Tuan muda kecil malah mengundang tatapan penasaran dari setiap orang yang berpapasan dengannya.


"Mari Tuan muda, adakah perhiasan yang Anda inginkan?"penjual perhiasan itu mulai menawarkan dagangannya.


"Ya. Aku ingin beli yang ini dan ini," tunjuk ChinSuo pada perhiasan yang menurutnya menarik.


"Bagus sekali, pilihan tuan muda memang bagus. Apakah untuk diberikan pada kekasih tuan?"tanya pedagang itu seraya membungkus perhiasan yang dibeli ChinSuo.


"Betul,"ChinSuo menjawab asal. Setelah melakukan pembayaran, dia mengajak Yue'er segera pergi dari sana. Namun belum berjalan hingga lima langkah, dia telah dihadang segerombolan preman pasar. Suasana seketika sunyi senyap, para pedagang yang berada dekat dengan para preman itu segera bersembunyi. Persetan dengan dagangannya, yang penting sembunyi menyelamatkan nyawa masing-masing.


Para preman itu berbadan besar, bertampang garang dan kesemuanya membawa senjata.


"Tuan kecil, jika kau ingin selamat, serahkan seluruh uangmu padaku!"pimpinan preman berkata pada ChinSuo yang dikiranya seorang tuan muda kecil, karena perawakannya yang mungil.


"Enak saja, kalau kalian mau uang seharusnya kalian bekerja. Badan kalian besar dan sehat, bukan malah menjadi preman pasar seperti ini. Jika Yang Mulia Kaisar tahu, kalian bisa dipenggal," ChinSuo menjawab dengan berani.


Dibelakangnya, Yue'er memegang tangannya erat,"nona lebih baik kita pergi, berurusan dengan mereka kita bisa celaka."


"Kau berani juga untuk ukuran pria kecil sepertimu. Apa hubungannya dengan Kaisar? Kaisar jauh di istana, hal kecil semacam ini apa mungkin sampai ke telinganya?


Cepat serahkan uangmu dan kau akan selamat!"


"Tidak! Sekali kubilang tidak ya tidak. Kalian bisa melamar pekerjaan sebagai tentara atau prajurit penjaga istana, kenapa malah menjadi preman?"ChinSuo tetap kukuh.


"Banyak mulut kau bocah kecil. Kau memilih mati, maka kukabulkan keinginanmu!" Pemimpin preman itu menghunus sebilah pedang pendek, dengan gerakan cepat ditusukkannya pedang itu ke arah ChinSuo.


Seperti Dejavu, bahkan sebelum pedang itu mengenai ChinSuo, seutas cambuk telah membelit tangan pemimpin preman.


"Siapa yang berani ikut campur?" Pemimpin itu menjadi marah. Para pengikutnya menjadi siaga, memandang ke segala arah, dan menemukan seorang pria tampan berdiri di salah satu atap rumah dengan memegang seutas cambuk.


"Chen Gege, kau datang," ChinSuo berseru gembira.


"Meimei, menjauh!" Awalnya Hao Chen tidak mengenali tuan muda kecil itu, tapi setelah mendengar suaranya saat beradu mulut dengan para preman dia sadar, tuan muda kecil itu adalah ChinSuo, gadis yang akhir-akhir ini mengisi pikirannya.


"Baik." Gadis itu segera menjauh bersama Yue'er dan berlindung di belakang salah satu gerobak pedagang.


"Siapa kau mencampuri urusanku?" Pemimpin preman itu menjadi marah.


"Siapa aku tidak penting, tapi kau mengganggu ketentraman dan ketertiban pasar ini, itu yang menjadi urusanku," ucap Hao Chen tenang. "Oh iya. Ditambah kejahatan menghina Kaisar."


"Hahahaha, kita lihat seperti apa akhir hidupmu anak muda. Terima ini," pemimpin preman itu ternyata mempunyai ilmu bela diri yang lumayan, menggunakan ilmu peringan tubuh, dia melesat cepat ke arah Hao Chen.


Cambuk adalah senjata jarak jauh, menghadapi pedang pendek tidak akan maksimal, maka Hao Chen mengeluarkan sebilah belati dari balik lengan bajunya.


Traaanggg sebilah pedang pendek bertemu dengan belati menciptakan suara nyaring. Hao Chen dan pemimpin preman itu saling menyerang dari berbagai sisi.


Ketika akhirnya keadaan berbalik, Hao Chen telah mengungguli lawannya. Sekejap kemudian, pedang pendek itu jatuh, dan pemimpin preman bertekuk lutut tak berdaya. Para pengikutnya yang melihat kondisi pemimpinnya, menjadi kalap dan berniat menyerang.


Namun sebelum itu terjadi, Hao Chen berkata dengan lantang,"jika kalian ingin menyerang ku, tidak ada jaminan kalian akan selamat seperti pemimpin kalian. Bisa jadi kalian justru kehilangan nyawa."


Keraguan tampak jelas di wajah mereka. Akhirnya mereka hanya bisa berlutut dan pasrah pada nasibnya. Ketika akhirnya pasukan penjaga kota datang, para preman itu digiring menuju penjara istana, menunggu pengadilan yang memutuskan nasib mereka.


"Chen Gege, terimakasih bantuannya,"ChinSuo keluar dari persembunyiannya dan menghampiri Hao Chen.


"Meimei lain kali bawalah prajurit untuk menjagamu. Untung saja aku sedang lewat sini, kalau tidak entah apa jadinya," Hao Chen menghela nafas. "Kenapa kau berdandan seperti laki-laki?"


"Chen Gege, aku hanya ingin pergi sebentar ke pasar ini. Ada sesuatu yang ingin kubeli, jika mengajak kakak ketujuh pasti Kaisar akan mengutus serombongan prajurit lagi. Dan aku tidak mau."


"Untunglah dewi keberuntungan masih berpihak padamu," ucap Hao Chen gemas.


"Iya, tapi dewa kesialan selalu mengikutiku,"ChinSuo membalas. Setelahnya terdengar tawa dari keduanya.


"Bagaimana kalau kita makan mie bersama diujung jalan itu,"Hao Chen menunjuk sebuah kedai mie.


"Ayo, aku senang sekali. Yue'er kamu pulang duluan ya, aku diantar Chen Gege nanti," ucap ChinSuo sambil mengedipkan sebelah matanya pada Yue'er. Pelayan itu ternyata pintar, dengan segera menangkap isyarat ChinSuo dan mengangguk.


"Putri hati-hati ya, tuan muda juga. Yue'er permisi."


"Pergilah cepat."


Asyik sekali bisa jalan-jalan berdua dengan Chen Gege, kapan lagi aku punya kesempatan ini, ChinSuo senyum-senyum sendiri.


"Meimei, kau baik-baik saja?" Hao Chen yang heran dengan tingkah ChinSuo mulai bertanya.


"A-aku baik-baik saja."


"Ini kedainya, kau duduk disini. Aku akan memesan mie-nya," Hao Chen meninggalkan ChinSuo di salah satu meja kedai. Gadis itu hanya mengangguk pelan.


Ketika mie-nya datang, keduanya makan dengan lahap. Sesekali terdengar tawa dari Hao Chen dan senyum ChinSuo selalu terpasang di bibirnya. Hari itu, adalah hari yang menyenangkan bagi Putri ChinSuo. Bagi Hao Chen sendiri, ada rasa nyaman dan bahagia melihat senyum di wajah ChinSuo. Apalagi rumor yang beredar mengatakan, bahwa Kaisar tidak berniat menjadikan ChinSuo sebagai selir, semakin membuatnya yakin dengan hatinya. Benih-benih cinta berakar semakin kuat dalam hati mereka.