
Malam itu bulan bersinar terang, bintang di langit juga terlihat begitu banyak. Sayangnya, pemandangan indah itu tidak bisa menghibur hati Meihua. Sejak selesai makan malam tadi, Meihua hanya duduk di samping jendela, menatap jauh ke depan. Entah apa yang dipikirkan olehnya.
"Permaisuri, sudah malam. Mari beristirahat," Li Mei membujuk dengan pelan.
"Mei'er. Hampir saja kita membongkar kebusukan Hongmei beberapa waktu yang lalu, tapi dia punya cara untuk mengelak. Sekarang dia bilang sedang mengandung seorang pangeran, tapi apakah mungkin?"
"Permaisuri, Anda harus mencari cara lain agar membongkar semua rahasianya."
"Kau benar. Li Mei, apakah ada kabar dari orang yang kita suruh?"
"Belum ada kabar terbaru Yang Mulia Permaisuri. Anda tenang saja, cepat atau lambat kita akan menangkap tabib Mo dan menginterogasinya."
"Li Mei, tadi di taman bunga kekaisaran, aku melihat Mingfen bersama dengan pelayan baru itu. Kedekatan mereka telah melebihi batas, namun ada kebahagiaan yang terpancar dari mereka. Menurut mu aku harus bagaimana?"
"Yang Mulia, mungkin Anda harus bertanya pada Selir Ming secara langsung?"
"Kau benar. Besok kita ke istana Mutiara!"
"Hamba mengerti."
.
.
.
.
Kasim Kang berdiri dibelakang kaisar Tian Yi dengan setia. Kaisarnya saat ini sedang membaca laporan-laporan dari para pejabat. Tapi sekian waktu berlalu, kaisar Tian Yi tidak mendapatkan kemajuan dalam menyelesaikan seluruh laporan yang menggunung.
"Kasim Kang, tahukah kau apa yang mengganjal pikiran Zhen?"
"Ampuni hamba paduka Kaisar, mungkin tentang kehamilan selir Hong." Kasim Kang menjawab dengan cepat.
"Benar, kehamilan ini aneh. Zhen tidak tahu harus merasa senang ataupun sedih."
"Baginda, tidakkah Baginda merasa jika Selir menipu Baginda Kaisar?"
"Apa maksud mu? Perutnya jelas-jelas membesar dan dia memang hamil. Hal itu sudah di pastikan oleh tabib Han."
"Yang Mulia, akhir-akhir ini beredar rumor di istana..."
"Kasim Kang, kau sudah tua tapi masih sering mendengarkan gosip murahan para pelayan?"
"Ampuni hamba Yang Mulia. Tapi rumor ini menyangkut Selir Hong."
"Oh apa itu?"
"Rumor yang beredar mengatakan bahwa Selir sedang mengandung seorang pangeran. Pangeran ini akan menjadi penerus takhta."
"Lancang! Siapa yang menyebarkan rumor itu? Hanya Pangeran yang mampu dan memiliki kualitas sebagai seorang pemimpin yang akan menjadi putra mahkota. Mana bisa memutuskan seorang pangeran mahkota hanya karena dia lahir lebih dulu?"
"Hamba tidak tahu Yang Mulia. Setelah hamba mendengar rumor ini, para pelayan yang bergosip itu telah hamba hukum."
"Kasim Kang, kau sudah melakukan tindakan yang benar. Berbohong soal penerus takhta bisa di hukum mati."
"Yang Mulia Kaisar memang bijaksana."
.
.
.
.
Beberapa hari terakhir, Mingfen merasakan keanehan pada tubuhnya. Setiap saat dia akan merasa lebih lemas dari sebelumnya. Tabib Han bahkan telah di undang ke Istana Mutiara, namun sama sekali tidak bisa menemukan penyakit yang di deritanya. Tabib Han bahkan hanya memberi resep obat penambah darah dan stamina tubuh.
Hari ini Mingfen hanya bisa terbaring di atas ranjang. Keinginannya untuk menemui Xiao Wu di taman kekaisaran harus pupus. Sejak pagi, Jingmi telah berulang kali membujuknya untuk meminum obat. Tapi Mingfen merasa, obatnya hanya akan sia-sia.
"Selir, kumohon Anda lekas minum obat ini, tabib Han telah meresepkannya untuk Anda," Jingmi berlutut di depan Mingfen membawa semangkuk obat.
"Letakkan saja di meja!"
"Selir, Anda tidak boleh seperti itu. Mari hamba bantu," Jingmi terus membujuk Mingfen.
"Tidak perlu. Nanti akan ku minum. Pergilah!"
"Tapi..."
"Permaisuri datang berkunjung,"seruan itu mengagetkan keduanya.
"Hormat kami pada Yang Mulia Permaisuri, semoga damai selalu."
"Aiyaaa adik, kau tahu kedamaian dalam hidupku hancur beberapa bulan belakangan ini. Bangunlah kalian!" ucap Meihua sambil duduk. "Apa ini? Obat? Adik Ming kau sakit lagi?
Kenapa belum diminum? Biar ku bantu!"
"Selir Ming tidak mau meminumnya Yang Mulia, hamba sudah membujuknya, tapi Selir tetap kukuh tidak mau minum obat itu," Jingmi menjawab dengan sedih.
"Jingmi, lekas buatkan teh untuk Permaisuri!" ucap Mingfen seraya memelototi pelayannya.
Jingmi yang mendapat pelototan, langsung undur diri untuk menyiapkan teh.
"Adik, kau tidak boleh menyerah terhadap hidupmu. Kau harus tetap sehat, untuk segera memberikan keturunan pada kerajaan ini," Meihua berkata lembut.
"Kakak, sebenarnya adik tidak menyerah untuk terus hidup. Hanya saja...."
"Ahh,, kakak paham kesedihan mu. Maafkan Yang Mulia Kaisar, karena setiap berkunjung ke istana Mutiara, tidak pernah bermalam disini. Tenang saja, aku akan membujuknya."
"Bukan, sama sekali bukan itu keinginanku. Anda juga tahu hal itu dengan baik. Aku tidak menginginkan perhatian Kaisar. Aku...aku sebenarnya tidak ingin masuk ke istana, tapi Ibu Suri menunjukku sebagai salah satu kandidat Permaisuri. Aku tidak punya pilihan, kakak."
Meihua sungguh terkejut mendengar pengakuan Mingfen,"adik jangan berkata seperti itu! Kata Li Mei menjadi seorang istri Kaisar adalah sebuah keberuntungan."
"Kakak, sungguh bukan seperti ini yang adik inginkan. Sejujurnya, aku selalu mendambakan hidup di pedesaan, menjadi orang biasa, hidup sederhana. Tapi takdir ku ternyata seperti ini,"ucap Mingfen seraya mulai menangis.
Kini Meihua mengerti, gadis muda didepannya ini terpaksa masuk ke istana. Jika dia tidak masuk ke istana, maka dia tidak akan menderita.
"Adik, kakak mengerti perasaan dan keinginanmu. Menjadi orang biasa memang lebih baik daripada menjadi bangsawan yang berurusan dengan kerajaan."
Hening, hanya terdengar isak tangis Mingfen. Jingmi yang berada di balik tirai untuk mengantarkan teh diam mematung. Pelayan itu bahkan menangis mendengar perkataan nonanya. Jingmi telah melayani Mingfen sejak kecil, pelayan itu bahkan lebih memahami Mingfen daripada ayah dan keluarganya sendiri. Setelah dirasanya tenang, Jingmi kemudian keluar dan menuangkan teh untuk Permaisuri.
"Kakak, silahkan diminum. Ahh andaikan ada arak," Mingfen berucap pelan.
"Adik Ming, arak tidak baik untuk kesehatanmu saat ini. Sebenarnya kakak kemari ingin menanyakan sesuatu padamu, entah apakah kau akan menjawab jujur atau tidak."
Sebaiknya aku tidak menanyakan soal Xiao Wu dulu padanya, mungkin lebih baik menanyakan hal yang lain.
"Kakak, bertanyalah! Adik tentu saja akan menjawab dengan jujur, membohongi seorang Permaisuri akan dihukum."
"Adik, apakah akhir-akhir ini kau menerima sesuatu dari istana Giok? Karena aku merasa aneh, sebelumnya kau baik-baik saja. Tapi sekarang, kau begitu kurus dan lemah seperti ini."
Mingfen diam, gadis itu tampak menerawang berusaha mengingat-ingat. "Sebelumnya saat aku sakit beberapa waktu lalu, kakak Hongmei memberiku sebuah kantung pengharum. Dia berkata kantung itu harus selalu kupakai agar tubuhku senantiasa harum dan pikiranku tenang."
"Saat aku berada di penjara langit?"tanya Meihua tepat sasaran.
"Benar. Waktu itu, kakak Hongmei sering kemari. Dia memberikan perhatian padaku, dan membawakanku berbagai macam hadiah. Tapi aku tidak pernah memakainya, hanya akhir-akhir ini aku memakai kantung pengharum yang waktu itu."
Mingfen tidak berani berkata bahwa alasannya menggunakan kantong pengharum itu karena kedekatannya dengan Xiao Wu. Sebelumnya, Mingfen bahkan tidak pernah menggunakan aksesoris yang berlebihan, sekarang karena Xiao Wu, Mingfen bahkan sering berdandan.
"Dimana sekarang kantung itu?"
"Karena isinya adalah bunga segar dan biji-bijian, kadang tidak bertahan lama. Tapi salah seorang pelayan kakak Hongmei akan mengirimkannya setiap waktu," ucap Mingfen. Tangannya menarik sebuah kantung kecil yang diikatkan di pinggangnya, lalu memberikannya pada Meihua.
"Boleh kuminta yang satu ini?"
"Lebih baik Anda membawa yang masih baru." Mingfen menyuruh Jingmi mengambil sisanya.
"Kakak, aku tahu kau sedang mengumpulkan bukti-bukti tentang kejahatan kakak Hongmei. Setelah semua ini selesai maukah kau berjanji satu hal padaku?"
"Apa itu? Jika aku bisa pasti akan ku janjikan padamu, asal tidak melanggar peraturan istana dan tidak menyakiti Kaisar."
"Kakak, setelah semua ini selesai, bantulah aku memohon pada Baginda agar merelakanku pergi dari istana."
"Apa? Adik kau serius dengan keputusanmu?"
Hanya anggukan mantap yang dilihat Meihua. Pancaran keberanian dan keyakinan yang kuat dapat dilihatnya di sorot mata Mingfen.
"Kakak berjanji akan membantumu, tapi kakak tidak tahu waktunya. Kau tahu sendiri, akhir-akhir ini Kaisar sibuk dengan penyelidikan soal pajak yang terus naik. Maukah kau bersabar?"
Mingfen mengangguk,"tentu aku akan bersabar. Ayahku juga berkata bahwa akhir-akhir ini beliau sangat sibuk menyelidiki berbagai hal di ibukota."
"Kalau begitu, kakak pergi dulu."
"Ya. Permaisuri hati-hati di jalan!"
.
.
.
.
Rumor yang berhembus tentang Pangeran penerus takhta yang sedang dikandung Selir Hong, beredar semakin santer di istana. Bahkan kini rumor itu telah beredar ke seluruh ibukota. Meihua yang merasa gerah dengan rumor itu memutuskan untuk pergi keluar istana.
Meihua memutuskan mendatangi sebuah restoran berlantai dua di jalan Zhuque. Lantai satu telah penuh sesak, hari itu ada seorang penari yang menyuguhkan tarian indah dan wajahnya pun cantik, sehingga lantai satu dipenuhi rakyat biasa. Dari lantai dua sebenarnya lebih leluasa menyaksikan apa yang terjadi di lantai satu, namun setiap mejanya di hargai satu koin emas, sehingga biasanya hanya orang berkantong tebal yang duduk di sana.
Meihua mengambil tempat duduk berdekatan dengan pagar pembatas lantai dua, matanya menyusuri segerombolan orang di lantai satu. Di depannya Li Mei tengah menuangkan teh.
"Nona, apakah mau memesan makanan? Saya dengar daging bebek bakar disini paling enak dan terkenal seantero ibukota."
"Boleh, pesanlah untuk kita berdua dan nanti minta bungkuskan dua,"perintah Meihua.
"Baik Nona,"Li Mei memanggil pelayan dan memesan sejumlah makanan.
Bertepatan dengan datangnya makanan yang mereka pesan, empat anak muda berpakaian mewah telah memasuki lantai dua dan duduk tidak jauh dari meja Meihua. Sekali lihat mereka adalah putra-putra para bangsawan.
"Kalian dengar, ayahku telah menaikkan pajak di kota ini. Kemarin menteri Kang datang ke kediaman kami, berdiskusi dengan ayahku tentang pajak, dan pagi ini pajak kota telah resmi naik," ucap tuan muda berbaju hijau.
"Ya, menteri Kang juga datang ke kediamanku kemarin lusa. Mereka membicarakan tentang desa Cheng yang kaya hasil alamnya itu. Lalu sebelum aku mendengar pembicaraan selanjutnya, aku sudah ketahuan ayah,"giliran tuan muda berbaju merah yang bicara.
"Kau bodoh, menguping saja tidak bisa,"cemooh pria berbaju biru. "Menurut salah satu pelayan setia ayahku, menteri Kang tengah berusaha mengumpulkan dana untuk membangun kerjasama dengan negara DongYi."
"Pemimpin negeri DongYi yang terkenal pemberani itu mata duitan. Apapun akan ia lakukan jika ada bayaran yang setimpal,"sahut pria baju merah.
"Jangan-jangan menteri Kang berniat memberontak?" Rona wajah pria berbaju hijau dibuat-buat seolah ketakutan. Gelak tawa kemudian pecah diantara mereka.
"Jangan keras-keras, kalian lupa kalau ada di restoran yang ramai, setiap dinding, meja dan kursi punya telinga,"pria berbaju putih yang sejak tadi diam saja mulai angkat bicara. "Kalau menteri Kang berniat memberontak, dan ayah kalian setuju untuk mendukungnya, pasti ayahku juga,"lanjutnya.
Meihua yang mendengar semuanya, mengepalkan tangannya dengan geram. Hal yang didengarnya pastilah rahasia, dan anak-anak bangsawan yang bodoh itu telah menjadikannya bahan gunjingan seolah-olah hal itu sepele saja.
Mereka tentu anak-anak pejabat yang berada dibawah kendali menteri Kang. Entah sejak kapan menteri perpajakan itu punya nyali untuk membangun kubunya sendiri. Ketika menit-menit setelahnya tidak ada hal penting yang didengar Meihua lagi, dia memutuskan untuk segera pulang ke istana.
"Li Mei, bayar tagihannya dan kutunggu kau di pintu keluar!" Ucap Meihua seraya berdiri dari kursinya.
"Baik Nona," Li Mei kemudian bergegas turun dari lantai dua menuju kasir restoran.
Meihua sengaja berjalan lambat, ketika sampai di samping meja para tuan muda itu, matanya memandang dengan teliti wajah mereka masing-masing.
.
.
.
.
Sesampainya di istana, Meihua tidak membuang waktu untuk segera membersihkan badannya, berdandan dan memakai jubah kebesaran Permaisuri. Tujuannya saat ini adalah ruang kerja Kaisar. Dengan alasan membawakan makan malam untuk suaminya. Selain itu hal yang didengarnya di restoran tadi adalah hal penting menyangkut kelangsungan kerajaan Wu.
"Permaisuri datang berkunjung," Kasim yang menjaga pintu meneriakkan kedatangannya.
"Hormat pada Baginda Kaisar, semoga bahagia selalu."
Para pelayan Meihua kemudian memberikan penghormatan pada Kaisar.
"Hormat pada Yang Mulia Permaisuri,"Kasim Kang dibelakang Kaisar membungkuk pada Meihua.
"Bangunlah! ada apa Permaisuri? Zhen pikir kau sedang bermalas-malasan di istana Zhuanshi?"
"Hamba membawa hidangan makan malam untuk Yang Mulia, juga ada bebek bakar yang terkenal dari restoran Teratai Emas di ibukota."
"Kenapa kau bisa sampai di sana?" Kaisar bertanya heran.
"Panjang ceritanya Yang Mulia. Marilah makan dulu."
Seperti yang sudah-sudah, mereka makan dalam diam. Porsi makan Kaisar selalu banyak setiap bersama Meihua, dan itu mengundang senyum di bibir merah Meihua.
"Sesuai kabar yang beredar, daging bebek bakar ini benar-benar empuk dan harum. Rasanya pun enak,"ucap Kaisar. "Tidak kalah dengan masakan para juru masak di Istana."
"Yang Mulia, setelah ini ada hal penting yang ingin hamba bicarakan dengan paduka."
"Hal apa itu? Tentang apa?"
"Kalian semua keluarlah!"perintah Meihua pada seluruh pelayan dan kasim.
"Baik."
Setelah para pelayan pergi, Meihua mendekat ke arah Kaisar dan mulai menyampaikan hal-hal yang ia dengar di restoran.
"Kurang ajar sekali mereka! Sebelumnya Zhen tengah menyelidiki kenaikan pajak di seluruh kerajaan Wu. Sekarang mereka bahkan berani menarik pajak tinggi di dalam ibukota? Apakah mereka menganggap Zhen adalah patung tak berguna?"
"Yang Mulia mohon redakan amarah Anda. Karena mereka telah mengambil langkah serius, bukankah Anda harus punya langkah untuk menghentikan mereka?"
"Sebelumnya Zhen telah menugaskan pejabat Chu, untuk melakukan penyelidikan dan menghukum siapapun yang bersalah dalam penarikan pajak ini. Zhen juga menugaskan Jenderal Li Hao untuk menyiagakan pasukan."
"Berarti sejak awal Anda sudah tahu bahwa Kang Li Bo berniat memberontak?"
"Ya. Zhen telah mengetahuinya, hanya saja Zhen berpura-pura tidak tahu soal ini. Kemulusan rencana Kang Li Bo ternyata membuatnya semakin gelap mata."
"Lalu apa yang akan kita lakukan dengan Selir Hong, Yang Mulia?"
"Benar sekali. Kandungannya hampir mencapai usia sembilan bulan, tidak lama lagi bukankah dia akan melahirkan?"
"Benar Yang Mulia. Andaikan..."
"Bao-yu, maafkan Zhen. Kau pasti menjalani hari-hari yang sulit akhir-akhir ini. Apalagi rumor yang beredar pastilah sangat..."
"Anda tidak perlu mengatakan hal itu. Aku baik-baik saja. Mungkin takdir dewa memang seperti ini."
"Bao-yu, kau harus percaya pada Zhen! Penerus takhta tidak dipilih berdasarkan urutan lahirnya, tapi dipilih berdasarkan kualitas dan kemampuannya memimpin rakyat. Kau harus tenang!"
"Yang Mulia, yang seharusnya tenang adalah Anda! Aku baik-baik saja, sangat baik-baik saja."
"Syukurlah." Tian Yi merengkuh Meihua dalam pelukannya. Hingga beberapa waktu berlalu, keduanya masih larut dalam kehangatan pelukan yang mereka ciptakan.
Kedamaian yang terjadi akhir-akhir ini hanyalah kedamaian semu. Ibaratnya ketenangan yang terjadi sebelum badai. Badai yang mungkin akan menghancurkan kerajaan Wu.
.
.
.
Pagi ini, mentari bahkan belum muncul. Udara masih terasa dingin, di ujung timur masih nampak bintang besar yang terang. Embun masih tertinggal di pucuk daun dan bunga.
Siluet seseorang tengah duduk di gazebo taman kekaisaran tampak kabur. Tubuhnya yang kecil, tenggelam dalam balutan mantel bulu berwarna merah. Kepalanya menunduk, terkadang tangan mungilnya menghapus air mata yang meleleh di pipi.
Tak lama kemudian, sosok lain yang lebih tinggi dan tegap menghampirinya. Di tangannya tergenggam setangkai bunga Peony.
"Ming'er, kenapa pagi buta kau disini? Bukankah kau sedang sakit?"
"Xiao Wu. Ku mohon bawa aku pergi dari sini. Bawa aku pergi!"
Sosok tinggi dan tegap yang ternyata Xiao Wu itu, memberikan tangkai bunga Peony yang dibawanya pada Mingfen. "Ming'er. Jangan berlaku ceroboh! Kau harus tabah dan sabar menghadapi ini semua, yakinlah bahwa Permaisuri pasti akan membantu kita."
"Xiao Wu, tapi kau harus berjanji kau akan setia padaku!"
"Tentu saja."
"Kau bohong! Setiap hari para pelayan perempuan itu hilir mudik mendatangi mu untuk memberikan berbagai macam hadiah!"
"Walaupun mereka datang setiap hari, tidak bisa menggantikan tempatmu di hatiku. Percayalah!'
"Hm."
Tertawa geli, Xiao Wu mengangkat tangan kanannya ke udara. "Aku, Xiao Wu bersumpah, dalam hidup ini hanya akan mencintai Mingfen seorang. Dewa langit dan bumi menjadi saksi, jika aku melanggar sumpahku, maka aku akan mati tersambar petir."
"Kau! Apa yang kau lakukan dengan menyumpahi dirimu sendiri?"
"Kau sudah dengar, sekarang kembalilah ke istana mu! Kau sedang sakit, juga jangan sampai siapapun melihatmu bersama ku!"
"Kau takut hubungan ini terbongkar?"lirih Mingfen.
"Ming'er, aku tidak pernah takut untuk mencintaimu, tapi aku takut jika harus kehilangan dirimu. Sekarang bersikap baiklah, dan kembali ke Istana Mutiara. Jingmi pasti kebingungan mencari mu."
"Baiklah. Aku pergi."
Tanpa mengucapkan apapun, Mingfen berjalan kembali menuju kediamannya. Dibelakangnya, Xiao Wu menghela nafas panjang.