My Empress From The Future

My Empress From The Future
Bolehkah Aku Pergi?



Semenjak pertemuannya dengan Hao Chen, Putri ChinSuo sering menghabiskan waktunya dengan melamun. Berharap mendapatkan kesempatan keluar istana lagi, lalu menemui Hao Chen di luar sana. Tapi kemana dirinya harus mencari pemuda itu? Selain nama dan wajah yang terpatri dengan jelas di ingatannya, ChinSuo sama sekali tidak tahu apapun. Jangankan siapa Hao Chen, tempat tinggalnya pun dia tidak tahu.


Tunggu dulu! Bukankah waktu itu Hao Chen meneriakkan namanya dengan jelas? Li Hao Chen! Marga pemuda itu adalah Li. Seharusnya tidak banyak marga Li di ibukota kerajaan Wu ini 'kan? Memikirkan hal ini ChinSuo berlari menemui kakaknya. Berharap mendapatkan bantuan untuk menemukan pemuda itu. Berharap dengan begitu dirinya bisa bertemu lagi dengan pemuda itu, walau hanya sekali sebelum pengangkatannya sebagai selir.


.


.


.


"Gege, maukah Gege membantuku?"


Chen Xu yang sedang membaca sebuah buku menghentikan aktivitasnya. Ditatapnya adiknya yang berbeda ibu itu dengan teliti.


"Membantu apa?"


"Tapi Gege janji harus membantuku!"


"Meimei, kalau kau belum berkata apapun, bagaimana Gege bisa membantumu?"


"Gege ingat dengan pemuda yang bernama Li Hao Chen waktu itu?"tanya ChinSuo malu-malu. Chen Xu mengangkat alis, pura-pura mengingat. "Aiyaa Gege! Pemuda yang menolong kita waktu itu!"


"Baiklah. Baik, Gege ingat. Kenapa dengannya?"


"Gege ingat namanya Li Hao Chen. Apakah Gege bisa mencari tahu dimana dia tinggal?"


"Meimei, kau ingin melakukan apa? Jangan lupa status dan posisi mu sekarang! Sebentar lagi kau akan menjadi Selir Kaisar Tian Yi!"


Mendengar hal itu disebutkan lagi, ChinSuo terduduk lesu. "Aku mengerti. Tapi bukankah kita harus membalas budi? Gege selalu memberitahu ku, kita orang-orang Wen selalu mengingat budi baik sekecil apapun, juga harus membalasnya dengan layak. Apa sekarang Gege lupa?"


"Baiklah. Adik kecilku yang manja sekarang sudah tahu membalas budi, hmm?"


"Jadi maukah Gege membantuku untuk mendapatkan informasi tentang Hao Chen?"


"Baiklah, Gege akan membantumu. Lagipula sekarang Istana Wu sedang berbahagia. Sepertinya pengangkatan mu sebagai Selir tidak akan dilakukan dengan cepat."


"Terimakasih Gege. Hanya Gege yang mengerti aku."


Senyum lebar ChinSuo membuat lesung pipi di kedua pipinya terlihat jelas. Bagi Chen Xu, hal itu adalah kebahagiaan untuknya.


.


.


.


.


Istana kerajaan sangatlah besar. Jalan berkelok yang di lalui Meihua semakin lama semakin sunyi. Matahari juga semakin menggelincir ke barat. Namun hal itu sama sekali tidak ia pedulikan. Baginya pergi sejauh mungkin dari Tian Yi adalah hal baik. Untuk apa dia terus berada di sini jika hatinya akan terus menerus disakiti?


Meihua menghentikan langkah kakinya ketika sampai di danau buatan yang cukup besar. Ingatannya mengatakan danau ini adalah danau yang ia kunjungi pertama kali saat kompetisi pemilihan calon permaisuri. Hanya saja sekarang ia muncul di arah yang berbeda. Meihua membuang nafasnya kasar, lalu melangkah menuju danau. Diciduknya air danau yang dingin, menimbulkan gelombang kecil di permukaan danau. Air danau yang luas memantulkan cahaya matahari terakhir.


"Sungguh indah,"monolog Meihua pada dirinya sendiri. "Andaikan aku bisa menikmati pemandangan ini bersama Tian Yi. Aiyaa!! Apa barusan yang kukatakan? Tian Yi? Ciihh, di manapun para pria memang sama saja. Tidak bisa melihat wanita cantik! Mereka seenaknya mengumbar janji dan cinta, tidak peduli hal itu menyakiti wanitanya."


Puas menumpahkan segala beban hatinya, Meihua mulai menangis. Suara tangisnya yang menyayat hati, terdengar memilukan. Hingga matahari terbenam, Meihua masih duduk di pinggir danau buatan itu dengan kedua tangan memeluk lututnya. Saat langit benar-benar gelap, barulah Meihua mendongak.


"Kupikir hidupku benar-benar sempurna di tempat ini. Memiliki suami yang mencintai ku, memiliki keluarga yang sayang padaku. Aku selalu berbuat baik semasa hidupku, aku tidak pernah berbuat jahat pada orang lain, tapi kenapa langit masih tidak adil padaku? Kenapa??!"


Suara tawa terdengar setelah Meihua menyelesaikan ucapannya. Dengan segera Meihua berdiri, pandangannya mengitari seluruh tempat itu.


"Siapa?! Siapa kau? Keluar!" Tidak ada jawaban yang didapat Meihua. Hanya semilir angin malam yang membawa harum bunga tercium olehnya.


"Siapa kau? Apa kau hantu? Kalau kau hantu, aku tidak takut, keluarlah dan kita pergi ke neraka bersama-sama!"


Tawa itu muncul lagi, kini lebih jelas. Meihua belum bisa menebak si pemilik tawa itu laki-laki atau perempuan. Saat gemerisik ilalang tersibak, barulah Meihua melihat sosoknya walau samar.


"Salam Yang Mulia Permaisuri. Maafkan kelancangan ku." Dari postur tubuh dan suaranya, Meihua yakin sosok itu adalah seorang pemuda.


"Siapa kau?! Dan kenapa kau tahu aku adalah Permaisuri?"


"Aku Chen Xu. Tusuk konde Phoenix yang Anda gunakan, sudah menunjukkan status Anda, Yang Mulia."


"Chen Xu? Kenapa namanya sama dengan nama utusan dari Wen? Jangan-jangan dia memang utusan dari Wen? Gawat, bagaimana kalau dia mendengar kata-kata ku tadi?"batin Meihua panik.


"Kau Pangeran Chen Xu?"


"Benar. Permaisuri sungguh berwawasan luas, bisa mengenali ku padahal kita belum pernah bertemu."


"Kau menyindir ku? Jelas-jelas kau yang mengenali ku hanya dalam sekali lihat, itupun karena tusuk konde ini. Bukan karena wajahku!"


"Pangeran terlalu sungkan!" Meihua kembali duduk di tempatnya semula. Sedangkan Chen Xu memilih mengamati dari tempatnya berdiri.


"Yang Mulia Permaisuri. Tidakkah Anda takut dengan gelap dan binatang seperti ular atau yang lainnya? Kenapa Anda berada di sini?"


"Kau! Kenapa kau juga disini? Lagipula aku tidak seperti wanita-wanita di luar sana. Apanya yang ditakutkan dengan kegelapan? Ular, katak, semut, aku tidak takut!"


Chen Xu kembali tertawa kecil. Pribadi Permaisuri Wu ini sungguh menarik perhatiannya.


"Maafkan saya Permaisuri. Danau ini tepat berada di belakang Paviliun Chunyi, tempat tinggal sementara utusan dari Wen. Jadi sudah wajar jika hamba berada di sini. Sedangkan Anda?"


"Danau ini berada di istana kerajaan Wu. Istana kerajaan Wu juga milikku, jadi aku bisa berada di mana saja!"


"Anda benar, Yang Mulia."


"Sudahlah. Aku harus pergi."


"Kemana?"tanya Chen Xu cepat. Menyadari hal itu, Chen Xu segera menutup mulutnya. Meihua yang melihatnya hanya tertawa.


"Keluar istana. Juga jangan katakan pada siapapun jika kau bertemu denganku disini! Kau mengerti?!"


"Kenapa?"


"Sudahlah! Kau harus patuh! Diam dan lakukan tugasmu! Jadilah anak baik, oke?!"


Chen Xu mengangguk, walau dalam hatinya merasa lucu dengan kata-kata Permaisuri. "Umurnya seharusnya tidak jauh berbeda denganku, tapi dia menggunakan kata-kata seolah dia adalah ibuku," batin Chen Xu geli.


"Apa yang kau tertawakan? Cepat pergi! Jangan sampai kau yang melihat ku pergi! Jangan-jangan kau akan membuntuti ku!"usir Meihua cepat seraya mengibaskan tangannya.


Setelah memastikan Chen Xu menghormat dan berbalik untuk pergi, Meihua buru-buru berlari ke arah semak-semak belukar di sisi kanannya. Disana ada tembok tinggi istana yang berlubang dan tertutupi tanaman merambat. Siapapun yang melihatnya sekilas tidak akan tahu bahwa disana ada lubang. Dengan segera Meihua membungkuk melewati lubang itu.


Lubang kecil itu untunglah masih muat ia lewati. Pemandangan yang menyambutnya adalah hutan-hutan bambu yang gelap. Meihua berpikir dia tidak akan kembali ke rumah Jenderal. Kediaman Jenderal Li adalah tempat pertama yang akan di geledah, untuk menemukannya. Saat ini dia berpikir untuk menyembunyikan dirinya, hingga pikirannya kembali waras. Sementara relung hatinya bertanya-tanya, bisakah dia pergi seperti ini?


.


.


.


.


Pangeran Chen Xu sedianya ingin berjalan-jalan keliling Paviliun Chunyi, setelah menyuruh pengawal pribadinya untuk mencari tahu soal Hao Chen. Saat itu telinganya yang tajam mendengar suara isakan seorang wanita. Benaknya bertanya-tanya siapakah yang menangis di tempat sepi seperti ini? Mungkinkah itu hantu pelayan yang tewas bunuh diri?


Saat lamat-lamat didengarnya wanita itu mengucapkan beberapa kalimat, Chen Xu mulai bisa menebak siapakah wanita itu. Mengintip dari balik semak-semak, tusuk konde yang bergoyang itu memberitahunya satu hal. Wanita itu adalah Permaisuri Kaisar Tian Yi. Tapi mengapa Permaisuri berada di tempat ini sendirian saja? Tanpa para pengawal, dayang dan kasimnya?


Chen Xu memutuskan untuk menunjukkan dirinya di depan Permaisuri Meihua. Dari pertukaran kalimat di antara keduanya, Chen Xu mencapai kesimpulan bahwa wanita di depannya memang sangat menarik. Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, tingkah dan sikapnya yang tidak dibuat-buat seperti wanita kerajaan lain, justru memberikan kesan tersendiri di hatinya.


Saat didengarnya wanita itu ingin keluar istana, sudut hati terdalam Chen Xu merasa khawatir. Perempuan muda yang sedang hamil itu ingin keluar istana tanpa pengawalan sama sekali, bukankah akan mendatangkan kerugian bagi dirinya sendiri? Hanya saja mengingat statusnya di sini, yang hanya seorang utusan kerajaan lain, Chen Xu memutuskan untuk tidak ikut campur.


Setelah pura-pura berbalik dan kembali ke istana, Chen Xu yang sebenarnya bersembunyi, melihat Meihua keluar dari sebuah lubang di tembok istana. Senyum kecil muncul di sudut bibirnya, perempuan muda ini memang berbeda dari yang lain.


Kembali ke Paviliun Chunyi, Chen Xu menatap heran pada sekelompok prajurit yang berlarian penuh kepanikan. Kepala prajurit itu meminta izinnya untuk mencari keberadaan Permaisuri di Paviliun Chunyi. Setelah mendapat izin, para prajurit itu mencari dengan penuh hati-hati.


.


.


.


.


Meihua menyusuri jalan setapak kecil yang membelah hutan bambu itu. Dengan penerangan sinar bulan yang seadanya, Meihua mencoba mengira-ngira jalan yang ia lalui. Setelah penat berjalan, Meihua memutuskan untuk duduk bersandar di bawah pohon besar yang rindang. Tatapannya menyelidik ke seluruh hutan tempatnya beristirahat. Menyadari hari semakin malam, Meihua mulai memutar otak. Dia tidak akan mau tidur beralasan tanah langsung. Binatang malam yang melata akan membuatnya repot nanti.


Merasa bingung, Meihua mengedarkan pandangannya ke atas, mencoba melihat bulan. Namun, dahan pohon yang banyak dan rindang menutupi pandangannya. Pohon oh pohon, kenapa kau begitu besar? Tunggu dulu! Pohon besar ini bisa menjadi tempatnya tidur untuk malam ini. Besok dia akan mencari tempat yang lebih baik.


Meihua segera memanjat pohon besar itu tanpa kesusahan. Walaupun menggunakan gaun Permaisuri yang berat memang sedikit merepotkan, tapi Meihua membutuhkannya untuk dijadikan selimut nanti. Setelah sampai di atas pohon, Meihua mencari tempat yang bisa ia gunakan. Beruntungnya pohon itu bercabang banyak, sehingga Meihua tidak takut akan terjatuh.


Meihua mengistirahatkan diri dan pikirannya yang lelah. Dari atas pohon, sinar bulan tampak begitu indah bagi Meihua. Suara jangkrik dan raungan binatang buas di kejauhan terdengar samar. Setelah merasa mengantuk, Meihua memutuskan untuk melepas selendangnya dan mengikat dirinya sendiri ke dahan pohon yang ia sandari. Hal itu untuk mencegah dia terjatuh, walaupun cabang pohonnya begitu banyak, tapi berjaga-jaga apa salahnya? Setelah menggunakan gaun luar Permaisuri yang berat itu sebagai selimut, Meihua terlelap ke alam mimpi.


.


.


.


Istana kekaisaran Wu.


Kaisar Tian Yi menunggu dengan cemas di Istana Emas. Setiap laporan yang diterimanya semakin menambah kecemasannya. Totalnya, lima komandan militer yang ia tunjuk untuk memimpin pencarian di dalam Istana, melaporkan bahwa Permaisuri tidak bisa ditemukan di manapun.


"Jadi kalian sama sekali tidak menemukan Permaisuri di dalam istana kerajaan?"


"Benar Yang Mulia."


"Dikediaman Jenderal juga tidak ditemukan?"


"Tidak Yang Mulia. Jenderal Li turut kebingungan, sehingga beliau juga mengirim satu regu untuk membantu pencarian."


"Sebenarnya kemana Permaisuri? Mustahil baginya untuk melarikan diri keluar istana tanpa ada yang membantu. Kalian segera lakukan pencarian di dalam kota! Jika masih tidak ditemukan lakukan pencarian di area yang lebih luas!"


"Kami mengerti."


"Pergilah! Berkerjasamalah dengan kediaman Jenderal untuk mencari Permaisuri sampai ketemu!"


"Siap."


Hua'er, sebenarnya dimana kau?


.


.


.


Pangeran Chen Xu yang merasa tidak enak hati akhirnya memutuskan untuk menemui Kaisar Tian Yi di Istana Emas. Setelah kedatangannya dilaporkan, Pangeran Chen Xu memberi hormat dengan takzim.


"Pangeran Chen Xu, ada hal apakah hingga kau datang menemui Zhen?"


"Yang Mulia, ini menyangkut...."


"Pangeran kalau ini menyangkut Putri ChinSuo, maka Zhen harus meminta maaf. Saat ini Zhen sedang dalam masalah besar, jadi keputusan untuk Putri ChinSuo belum bisa Zhen putuskan!"


"Yang Mulia Kaisar. Ini bukan tentang adik hamba. Tapi tentang masalah Anda!"


"Masalah ku? Pangeran Chen Xu apakah kau mengetahui sesuatu?"


"Yang Mulia, sore ini saat hamba memutuskan untuk berjalan-jalan di belakang Paviliun Chunyi, hamba melihat sosok gadis yang menyelinap keluar dari tembok istana. Waktu itu hamba belum yakin siapa dia, namun setelah para prajurit menggeledah seluruh Istana, hamba menebak mungkinkah itu Permaisuri?"


"Katakan! Dimana kau melihat Permaisuri menyelinap? Apakah dia memanjat dinding istana?"


"Tidak Yang Mulia. Beliau menerobos melalui lubang di dinding istana."


"Cepat! Bawa Zhen kesana!"


"Silahkan Yang Mulia."


Kaisar Tian Yi berjalan terburu-buru dengan Pangeran Chen Xu disampingnya. Setelah sampai di belakang Paviliun Chunyi, Kaisar Tian Yi menyibakkan tanaman merambat itu dan menemukan sebuah lubang di dinding. Lubang itu kecil, dengan postur tubuh Meihua tentu saja dia akan mudah melewatinya. Jika dirinya yang melewatinya, maka itu akan sulit.


Kaisar Tian Yi memandang ke atas, ke barisan awan-awan gelap yang menaungi bumi. Walaupun sebagian sisi yang lain, bulan masih bersinar keperakan, awan gelap itu bisa saja memuntahkan muatannya kapan saja. Jika sampai hujan turun Meihua belum juga ditemukan, maka Tian Yi tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


"Yang Mulia. Di balik tembok ini sebenarnya ada apa?"


"Takutnya di balik tembok ini adalah hutan bambu yang berada di Utara,"jawab Tian Yi lesu.


"Kalau begitu, bukankah akan lebih baik bagi Anda untuk membawa pasukan kesana? Siapa tahu Permaisuri belum berlari terlalu jauh."


"Kau benar. Dia sedang hamil, jadi pasti mudah lelah. Pangeran Chen Xu, terimakasih bantuannya."


Chen Xu menghormat, sudut matanya melihat Kaisar Tian Yi berlari dengan cepat kembali ke istana.


.


.


.


Kabar hilangnya Permaisuri telah di dengar oleh Selir Hong di istana Giok. Saat ini Selir Hong bahkan tengah bergembira. Kehamilannya diakui oleh Kaisar. Seluruh rakyat bersukacita juga untuknya, dan Meihua lari dari istana setelah mendengar gelar selirnya di kembalikan.


Menteri Kang, ayahnya bahkan telah mengirim sekelompok orang dari Organisasi Kabut Hitam untuk mengejar Meihua. Jika orang yang dikirim oleh ayahnya menemukan Meihua lebih dulu, maka gadis itu ia pastikan tidak akan hidup setelah ini. Tanpa perlindungan, Meihua sama halnya dengan kura-kura tanpa cangkang. Hongmei bahkan berharap Meihua tidak akan kembali selamanya. Dengan begitu jalannya untuk menjadi Permaisuri akan lebih mudah setelah ini.


.


.


.


.


Luofen, pengawal pribadi Pangeran Chen Xu yang diperintah untuk mencari tahu tentang Li Hao Chen telah kembali ke istana. Dia segera mencari Pangeran Chen Xu di kamarnya. Ternyata Pangeran sedang bersama Putri ChinSuo.


"Salam Pangeran, salam Putri."


"Bagaimana?"


"Lapor Pangeran. Li Hao Chen ternyata adalah keponakan dari Jenderal Li. Yang berarti juga bersaudara dengan Permaisuri. Beliau saat ini menjabat sebagai wakil Jenderal Li."


"Ternyata identitasnya memang tidak biasa,"ucap Pangeran Chen Xu.


"Gege, bukankah itu berarti dia tinggal di kediaman Jenderal Li?


"Putri, saat ini beliau berada di perbatasan. Posisinya adalah wakil Jenderal. Jadi beliau tidak setiap saat berada di ibukota."


"Gege, bagaimana ini? Bolehkah aku pergi ke perbatasan?"


"Meimei, jangan konyol! Ingat statusmu! Sebentar lagi kau akan menjadi Selir Kaisar."


"Tapi Kaisar itu tidak tertarik padaku! Dia sibuk mencari Permaisuri. Di pikirannya hanya ada Permaisuri!"


"Meimei kecilkan suaramu! Jangan sampai siapapun mendengarnya!"


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Meimei kau harus bisa membedakan hal besar dan hal kecil. Membalas budi itu bagus, namun pikirkan prioritas kita saat ini. Seluruh kerajaan Wen sedang bergantung padamu!" Mendengar nada suara kakaknya yang meninggi, Putri ChinSuo mulai menangis. Tanpa memikirkan peraturan istana, Putri ChinSuo berlari kembali ke kamarnya diikuti oleh Yue'er, pelayan pribadinya.