
Jeritan melengking itu membuat Kasim Kang yang hampir saja meninggalkan Istana Emas, terburu-buru kembali. Serombongan prajurit patroli istana berlari menuju istana Kaisar dengan cepat. Berbeda halnya dengan Jun Li, pengawal pribadi Kaisar. Pemuda itu hanya duduk manis di atas atap, seraya menggelengkan kepala karena mengetahui dengan pasti sebab jeritan itu.
"Yang Mulia. Yang Mulia, apakah Anda baik-baik saja?" Tanpa memikirkan peraturan Kasim Kang merangsek masuk ke peraduan Kaisar. Kasim tua itu disuguhi pemandangan yang membingungkan. Kaisarnya masih utuh, dengan sebelah tangan berada di pipi Permaisuri. Sedangkan Permaisuri sendiri duduk dengan mata terbelalak dan mulut terbuka. Keduanya menoleh bersamaan ke arah pintu.
"Kasim Kang apa yang kau lakukan? Kau lupa peraturan di istana ini?" Suara dingin kaisar Tian Yi menyadarkan Kasim Kang.
"Ampuni hamba Yang Mulia. Hamba mendengar jeritan keras dari kediaman Yang Mulia. Hamba pikir Yang Mulia dalam bahaya. Mohon ampuni hamba."
"Pergilah, dan urus serombongan prajurit yang datang ke sini!"
"Baik paduka."
Tanpa menunggu diperintah dua kali, Kasim tua itu keluar dan menjelaskan keadaan kepada para prajurit yang datang.
"Tidak ada apapun di kediaman Yang Mulia Kaisar, hanya Permaisuri yang terlalu terkejut, ayo pergilah dan lanjutkan tugas kalian,"Kasim Kang menjelaskan dengan rona wajah memerah.
Tentu saja itu semua disalahkan artikan oleh para prajurit itu. Mereka kemudian pergi dengan menyisakan tanda tanya.
"Kaisar ternyata sangat agresif."
"Benar, Permaisuri sampai menjerit begitu keras."
"Jangan keras-keras, kalau ada yang dengar kita bisa dihukum."
"Ternyata Kaisar kita, dingin di luar panas di dalam."
"Huss kau kira Kaisar kita pemandian air panas?"
"Aku tidak bilang begitu. Kau yang bilang."
"Sudah diam. Ayo patroli lagi."
.
.
.
Sementara itu di peraduan Kaisar.
"Ahh Permaisuri. Kenapa kau menjerit begitu keras? Telingaku sakit sekali." Kaisar menggosok-gosok telinganya dengan ekspresi kesakitan.
"Omong kosong, hanya jeritan apa bisa membuatmu sakit?" Batin Meihua.
"Yang Mulia, maafkan hamba. Hanya saja hamba merasa sangat terkejut."
"Sudahlah. Zhen tahu Permaisuri mungkin tidak sabar ingin memulai semua ini. Kemari kita mulai lebih awal."
Memahami maksud Kaisar dengan baik membuat wajah Meihua memerah seperti apel. Tergagap, gadis itu mencoba menggeser posisi duduknya, menjauh dari Kaisar.
"Tapi Yang Mulia lelah. Bukankah lebih baik bagi kita untuk segera tidur?"
Mendengar perkataan Permaisuri, tiba-tiba kaisar Tian Yi memajukan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan.
"Tentu saja Zhen merasa lelah. Hanya saja melihat permaisuri begitu cantik malam ini, bukankah terlalu sayang untuk dilewatkan?"
Meihua tergagap, tidak tahu harus berbuat apa. Hembusan nafas hangat Kaisar membuatnya kehilangan kata-kata. Saat ini dia bahkan sangat yakin wajahnya sama merahnya dengan baju pengantin.
"Aaa... Bukan itu maksud saya. Mak.. maksudnya bukankah ada ri..ritual minum arak persatuan?"
Dari sekian banyak topik untuk mengalihkan pembicaraan, entah kenapa Meihua malah menyebutkan perihal arak.
"Benar sekali. Arak persatuan, mari temani Zhen minum!"
Kaisar beranjak dari ranjang menuju meja, tempat diletakkannya teko arak dan dua cawan kecil. Meihua mengikuti di belakangnya dengan enggan. Setelah menuangkan arak ke dalam dua cawan kecil itu, Meihua memberikannya pada Kaisar. Dengan tangan saling bertaut, mereka meneguk arak dari tangan pasangannya.
"Yang Mulia, hamba telah menemani Anda minum arak. Sekarang hamba akan tidur."
Tidur adalah pilihan terakhir yang bisa dipikirkan oleh Meihua, guna menghindari topik malam pertama dengan Kaisar. Sayangnya niat itu tidak bisa terlaksana dengan mulus. Sebelum Meihua berdiri, Kaisar telah menarik lengan jubahnya. Membuat Meihua kehilangan keseimbangan hingga jatuh di pelukan Kaisar.
"Oo. Ternyata permaisuriku sangat agresif. Bahkan berani memeluk Zhen. Katakan Permaisuri, apakah kau sengaja? Atau kau sudah tidak sabar?"
"Apa maksud anda? Jelas-jelas anda yang menarikku hingga jatuh. Lepaskan!"
Meihua berontak dari kungkungan lengan yang kokoh itu. Sekuat tenaga dilakukan olehnya agar Kaisar melepaskan pelukannya. Sayangnya tenaga Kaisar lebih kuat darinya. Memberontak adalah hal yang sia-sia.
"Permaisuri. Kau sekarang adalah milik Zhen! Kau wanita milik Kaisar! Ingat itu!!"
"Aiyaa. Aku tahu. Tapi tidak bisakah aku memiliki kebebasan? Jangan mengambil keuntungan dariku!"
"Wanita-wanita di istana memiliki batasan dan kebebasan mereka masing-masing."
"Tapi aku tidak mau melayani mu!"
Mendengar hal itu diucapkan Meihua dengan berani, Kaisar Tian Yi menunduk ke arah Permaisuri. Dua pasang mata bertemu dalam sebuah pandangan. Masing-masing mencoba menyelami isi hati.
Tanpa sadar, jarak wajah keduanya hanya tinggal beberapa senti.
"Bibir mungil yang merah itu terasa manis hanya dengan memandangnya. Apakah akan terasa manis jika aku mencicipinya?" batin Kaisar.
"Ternyata wajah Kaisar kejam ini masihlah wajah yang paling tampan yang pernah kutemui. Belum pernah aku melihat iris mata yang sehitam ini, seolah langit gelap tak berujung berada di dalamnya," batin Meihua.
"Apa yang kau pikirkan Permaisuri? Ayo minumlah secangkir arak lagi!"
Sekejap kemudian Meihua mendapatkan kesadarannya kembali. Dengan canggung di dorongnya pelan bahu Kaisar tanpa kesulitan. Untuk menghilangkan kecanggungannya, diterimanya cangkir arak dari Kaisar lalu diminumnya dalam sekali tegukan.
Sementara itu Kaisar telah menghabiskan isi cangkirnya yang kelima. Setelah meminum arak ketiganya, Meihua mulai merasa pusing. Seharusnya dia ingat, toleransinya terhadap alkohol selalu rendah.
"Yang Mulia kenapa wajah Anda memerah?"
"Benarkah? Zhen lihat justru wajahmu yang memerah sekarang."
"Bukan. Bukan. Wajah ku tidak merah, dan Anda juga semakin terlihat tampan."
Kaisar tersenyum. Dia tahu Meihua mungkin sudah mulai mabuk. Dipegangnya tangan Meihua yang sebelumnya menunjuk-nunjuk wajahnya dengan lembut.
"Toleransi alkohol mu rendah Permaisuri. Bagaimana jika kembali ke ranjang dan tidur?"
"Apakah Kaisar ingin menemani permaisuri Anda ini?"
"Oww. Ada apa ini permaisuri? Bukankah tadi kau mencoba menghalangi ku untuk melaksanakan hak ku?"
"Sudahlah. Jika anda tidak mau maka permaisuri ini bisa tidur sendiri!"
Meihua berdiri lalu melangkah menuju ranjang dengan sempoyongan. Penglihatannya mulai kabur, rasa pusing semakin menyergap kepalanya. Hal yang diinginkannya adalah merebahkan dirinya dan terlelap.
Dibelakangnya, Kaisar mengamati dengan senyum terkulum. Tanpa kata, Kaisar menyusul Meihua ke ranjang mereka. Sebelum Meihua benar-benar tertidur, dipeluknya tubuh Meihua dengan lembut. Tirai besar yang mengelilingi ranjang mewah itu tertutup pelan, seiring dengan nyala lilin merah yang semakin temaram.
Malam mulai larut. Suara binatang malam bersahutan bagaikan simfoni. Bintang dan bulan bersinar bersisian. Malam itu untuk pertama kalinya, istana kerajaan Wu terasa hangat. Sehangat hati Kaisar Tian Yi yang menemukan apa yang diinginkannya dari sang Permaisuri.
.
.
.
.
Matahari sudah tinggi saat Meihua terbangun dengan rasa pusing yang menusuk kepalanya. Erangan lirih terdengar dari bibir mungilnya. Seluruh tubuhnya terasa remuk redam, bahkan ia merasa sangat kelelahan. Li Mei yang siaga di samping ranjang, segera mendekati nonanya.
"Nona. Aiyaa bukaan!! Yang Mulia Permaisuri, anda sudah bangun?"
"Li Mei? Panggilan apa-apaan itu?"
"Sekarang kedudukan Anda di istana begitu tinggi. Li Mei tidak bisa memanggil dengan sembarangan lagi."
"Kenapa?"
"Karena Anda sudah resmi menjadi Permaisuri."
"Sudahlah!! Kemana Kaisar?"
"Yang Mulia Kaisar sudah pergi sejak dua jam yang lalu. Anda minumlah ini, Permaisuri. Ini sup penghilang mabuk."
Tanpa berkata apapun, diterimanya mangkuk kecil berisi sup penghilang mabuk dari Li Mei.
"Li Mei. Apakah hari ini aku melupakan sesuatu?"
"Hari ini anda harus mengunjungi istana Ibu Suri."
"Aiyaaa. Jam berapa ini? Kenapa baru bilang sekarang? Cepat bantu aku berganti pakaian! Cepat!!"
Dibantu oleh Li Mei dan dua dayang lain, Meihua telah rapi dan cantik menggunakan baju kebesaran khusus untuk Permaisuri. Diiringi kasim dan para pelayan Meihua menuju Istana Ibu Suri dengan penuh keanggunan.
.
.
.
"Permaisuri bangunlah! Bagaimana mungkin aku marah? Kau baru saja melewati malam yang berat bagimu. Duduklah!"
"Terimakasih Ibu Suri."
"Kelak kau hanya harus memanggilku Ibunda, sama seperti Yi'er memanggilku."
"Baik Ibunda."
"Gadis yang baik. Ibunda lihat kau masih mengantuk."
Meihua tergagap, sementara ibu suri tersenyum jail. "Ibunda hanya menggodamu. Terimakasih telah bersedia menemani Yi'er ku, Permaisuri."
"Apa maksud Anda ibu? Sudah tugas dan kewajiban hamba sebagai istri Kaisar."
"Kau benar. Aku bahkan sangat berharap bisa segera menimang cucu darimu."
Kali ini Meihua bahkan tersedak tehnya sendiri, hingga sulit bernafas. Li Mei dengan panik memijat punggung permaisuri. Ibu suri bahkan terkejut melihat respon dari Meihua.
"Kenapa Ibu Suri berkata seperti itu? Tidak terjadi apapun antara aku dan Kaisar itu 'kan tadi malam? Atau jangan-jangan?" Benak Meihua penuh dengan berbagai macam pemikiran. Hingga sentuhan tangan ibu suri mengejutkannya.
"Permaisuri. Memiliki keturunan adalah hal yang wajar bagi suami istri. Sekarang setiap orang dari kerajaan Wu sedang menunggu berita bahagia."
"Tapi hamba dan kaisar tidak....tidak... melakukan apapun,"sangkal Meihua pelan.
"Ooo. Tapi kabar tentang selimut yang mempunyai bercak merah telah tersebar di seluruh penjuru istana, dan mungkin bisa menyebar ke seluruh penjuru kerajaan."
Bruughhh.Meihua sukses terguling dan pingsan di tempat duduknya. Mengundang kepanikan di istana Ibu Suri.
.
.
.
.
Ini mimpi buruk. Bagaimana bisa kehidupan pribadiku menjadi konsumsi publik? Ini sungguh mimpi buruk dan aku harus segera bangun.
Meihua membuka kedua matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit tinggi yang berukir indah. Dia menutup matanya lagi, berharap dengan begitu dia akan terbangun di tempat lain. Ketika membuka kedua matanya lagi, siluet wajah tampan yang menatapnya khawatir terlihat olehnya.
"Permaisuri kau sudah sadar?!"
Suara itu adalah suara Kaisar. Benar-benar suara Kaisar Tian Yi. Meihua segera berpaling, mengubah posisi tidurnya, membelakangi Kaisar. Secara samar ingatannya kembali pada kejadian tadi malam. Saat dirinya jatuh ke pelukan Kaisar lalu meminum arak pernikahan. Baru menghabiskan tiga cangkir kecil arak, dirinya sudah mabuk. "Mungkinkah saat aku mabuk aku melakukan suatu hal yang tidak kusadari?"
"Permaisuri apa yang kau lakukan?"
Kali ini wajah Meihua memanas saat suara itu lagi-lagi terdengar di telinganya. Ingatan samar saat suara itu memanggil namanya dengan lembut tadi malam membuat Meihua salah tingkah.
"Yang Mulia. Sebaiknya anda segera pergi!"
"Kenapa?"
"Sebaiknya Anda segera mengurus laporan-laporan Anda!"
"Permaisuri. Kau jatuh pingsan di istana Ibu Suri dan sekarang kau ingin mengusir Zhen dari istana Zhen sendiri?"
"Tapi...tapi hamba juga tidak ingin bertemu anda."
"Kenapa? Kau malu? Setelah yang kita lakukan sema...."
"Yang Mulia! Shut up!!!"
"Apa? Kau bicara apa?!"
Tanpa bisa Meihua cegah, Kaisar Tian Yi telah memeluknya dengan erat.
"Hua'er. Hua'er. Kenapa Zhen harus pergi dari sisi mu setelah apa yang kita lakukan semalam? Kau harus tahu, untuk pertama kalinya hati ku terasa hangat dan itu karenamu."
Meihua tercenung, pengakuan Kaisar sungguh di luar dugaannya. Gadis itu tak tahu harus menjawab apa. Apalagi pelukan Kaisar begitu erat sekaligus hangat. Tanpa Meihua sadari, kedua tangannya telah melingkari pinggang Kaisar, membalas pelukannya.
.
.
.
Keesokan harinya Meihua kembali memberikan penghormatan ke istana Ibu Suri. Sekaligus meminta maaf telah membuat ibu suri terkejut dan menyebabkan kehebohan di istana. Ibu suri memaafkannya dengan ramah, bahkan meminta maaf karena keterlaluan saat menggoda Meihua.
Penghormatan kepada Ibu Suri dilakukannya dengan baik. Bahkan hingga tengah hari dia masih di sana menemani Ibu Suri berbincang. Banyak hal yang disampaikan oleh Ibu Suri padanya. Semua tentang peraturan istana, hak dan kewajiban seorang permaisuri dan menyinggung sedikit tentang Kaisar Tian Yi.
Menurut Ibu Suri, pada masa kecilnya, kaisar Tian Yi tidaklah sedingin sekarang. Pribadinya ramah dan hangat kepada siapapun. Pandai mempelajari sesuatu dan selalu ingin tahu tentang banyak hal. Namun kematian ayahandanya, ternyata mampu mengubahnya menjadi pribadi yang begitu berbeda.
Ibu Suri berpesan agar Meihua selalu menemani Kaisar Tian Yi dalam keadaan apapun. Jangan pernah mengkhianati dan meninggalkan Kaisar sendiri. Bahkan Ibu Suri menyampaikan suatu hal yang membuatnya tersadar akan posisinya di istana.
"Hua'er. Sebagai seorang Permaisuri kau harus belajar tentang lapang dada dan keihklasan. Kaisar adalah Kaisar. Raja dari seluruh negeri. Dia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri dan keluarganya, tapi juga seluruh rakyat. Suatu saat Kaisar akan memiliki selir dan mungkin ada begitu banyak selir. Saat itu kau harus mempersiapkan hatimu, Hua'er."
"Nasehat Ibunda akan Hua'er ingat selalu."
"Dua bulan lagi adalah pengangkatan Selir kehormatan. Permaisuri, manfaatkan waktumu dengan baik sebelum kedatangan mereka."
"Baik."
"Aku lelah. Permaisuri pergilah dan mulailah belajar mengurus istana Harem."
"Baik Ibunda. Hua'er permisi."
Ibu Suri mengangguk kecil, memperhatikan punggung Meihua yang semakin menjauh. Berharap Permaisuri Meihua bisa mengisi kekosongan hati putranya. Bagi Meihua, itu adalah wejangan ibu suri padanya di hari pertama dia tinggal di istana.
.
.
.
.
Lianhua secara khusus mengunjungi istana tiga hari kemudian, guna bertemu dengan putrinya. Ada hal penting yang ia ingin sampaikan secara langsung. Ketika kasim kecil yang bertugas di istana emas memanggilnya, Lianhua seolah tak sabar sehingga hampir berlari.
"Ibu? Kenapa tidak bilang kalau ingin datang ke istana? Hua'er bisa mengunjungi ibu di kediaman, kalau seperti ini bukankah merepotkan ibu?"
"Hua'er. Kau adalah permaisuri sekarang ini. Tidak bijak bagimu untuk sering pergi keluar istana!"
"Tapi kehidupan di istana juga tidak menyenangkan."
"Ssssttt!!! Mana bisa kau berkata seperti itu? Jika didengar oleh orang, mereka akan mulai membuat rumor."
"Benar sekali, Yang Mulia." Li Mei menyahuti perkataan Lianhua.
Melihat gelagat ibunya, Meihua memutuskan untuk membubarkan para dayang dan kasim yang berjaga di dalam Istana Emas.
"Sekarang ibu bisa mengatakannya dengan bebas."
"Baiklah. Hua'er, para pembunuh yang datang untuk membunuhmu beberapa hari yang lalu telah diketahui asalnya. Mereka berasal dari organisasi Kabut Hitam."
"Organisasi Kabut Hitam? Apa itu?"
"Hao Chen berkata mereka adalah sekumpulan pembunuh bayaran yang membunuh demi uang. Tidak peduli siapa yang mereka bunuh, asal mendapat bayaran yang sepadan, mereka akan melakukannya."
"Jadi siapa yang menyewa mereka?"
"Itulah yang belum Hao Chen ketahui. Tapi kami semua curiga ini ada hubungannya dengan kediaman menteri perpajakan."
"Apaa?!!!"
"Hua'er kau harus semakin berhati-hati disini. Kaisar adalah satu-satunya orang yang bisa kau jadikan sandaran di istana ini. Kau harus baik-baik padanya dan menjaganya dengan sungguh-sungguh!"
"Ananda mengerti ibu. Sampaikan terimakasih pada ayah dan kakak Hao Chen."
"Baiklah. Ibu pasti menyampaikannya. Sekarang ibu harus kembali. Hua'er jaga dirimu!"
"Ya ibu. Anda berhati-hatilah! Li Mei, antarkan ibu kembali ke kediaman!"
"Baik Yang Mulia. Mari Nyonya Besar."
Ketika pintu ganda besar itu telah tertutup kembali, Meihua mengangkat cangkir tehnya dengan perlahan. Benaknya kembali mengingat perkataan ibunya. Jika upaya pembunuhan ini ada hubungannya dengan kediaman menteri perpajakan, maka dia harus berhati-hati pada Hongmei. Jangan sampai dia mengambil langkah yang salah kedepannya.
"Benar. Aku harus berhati-hati pada Hongmei. Bukan mustahil yang merencanakan pembunuhan ini adalah Hongmei."