
Yang dinamakan sebagai penjara langit adalah penjara yang diperuntukkan bagi penjahat kelas kakap. Biasanya orang yang memasuki penjara ini tidak akan keluar hidup-hidup. Tanpa izin dari Kaisar, tidak ada seorangpun yang diperbolehkan untuk memasuki penjara langit.
Meihua duduk tak bergerak menatap tembok kusam dihadapannya. Penjara yang mengurungnya begitu besar, sekaligus begitu dingin dan sunyi. Tak ada jejak air mata di wajah halusnya, Meihua merasa menangis hanya akan sia-sia. Dirinya yakin kejadian Selir Ming yang diracun dengan menggunakan namanya adalah sebuah konspirasi.
Sekarang bisa selamat dari penjara ini atau tidak hanyalah bergantung pada ayahnya, yang mestinya akan membersihkan namanya. Tapi bagaimana jika kediaman Jenderal juga ikut kena imbasnya? Bagaimana jika mereka pun juga mendapatkan hukuman? Bukankah dengan begitu harapannya akan sirna?
Perlahan Meihua menoleh ke arah pintu penjara yang terbuat dari besi-besi tebal dan kokoh. Berharap Kaisar akan muncul dari sana dan membawanya keluar. Atau dirinya hanya terlalu berharap? Jelas-jelas Kaisar sendiri yang menjebloskannya ke penjara ini. Tanpa menyelidiki dengan cermat, hanya karena menemukan bungkusan kecil berisi sisa racun itu. Meihua berpikir, siapa yang bisa dia andalkan saat ini?
.
.
.
.
.
Kaisar sedang duduk termenung di istana Zhuanshi. Duduk di atas ranjang yang biasa ditidurinya bersama dengan Meihua. Ada segurat kesedihan di bola matanya. Tangan kokoh dan besar itu, mengelus permukaan ranjang. Merasakan halusnya kain yang menjadi alas ranjang. Kenangannya bersama Meihua di istana ini terasa begitu manis.
Angin berdesir pelan, menggoyangkan nyala lilin. Telinga Kaisar yang tajam menangkap adanya gerakan tak biasa.
"Keluar!"
"Jun Li menghadap Yang Mulia Kaisar."
"Ada hal penting apa?"
"Yang Mulia. Pelayan yang membawa kue bunga persik ke istana Mutiara ditemukan mati terbunuh. Jasadnya ditemukan di Paviliun Chouyi."
"Apakah ada tanda pengenal darimana dia berasal?"
"Pelayan itu menggunakan tanda pengenal istana Zhuanshi."
"Ternyata memang istana Zhuanshi."
"Yang Mulia, Anda tidak berpikir bahwa Permaisuri yang melakukannya bukan?"
"Permaisuri berada di penjara langit. Bagaimana mungkin orang yang masuk kesana bisa membunuh pelayan?"
"Kaisar memang bijaksana."
"Sementara itu selidiki setiap orang di istana Harem! Awasi apakah ada yang mencurigakan!"
"Baik."
"Pergilah!"
Ketika Jun Li telah pergi, Kaisar menutup matanya. Saat membukanya kembali, kekejaman tampak diwajahnya.
"Meihua untuk sementara kau aman di penjara langit. Walaupun kau mungkin salah paham terhadap Zhen, tapi Zhen mohon bertahanlah sebentar lagi."
.
.
.
.
Jenderal Li buru-buru pergi ke istana setelah mendengar kabar bahwa Meihua di penjara, untuk menemui Kaisar Tian Yi. Sementara itu Nyonya Lianhua menangis sepanjang hari hingga kedua matanya membengkak. Walaupun belum lama mengenal Meihua, dengan sifat gadis itu tidak mungkin dirinya akan mencoba membunuh seseorang.
Jenderal Li menghadap Kaisar di ruang baca Istana Emas. Disana Kaisar yang biasanya dingin, kini terlihat semakin dingin.
"Yang Mulia Kaisar, hamba mohon izinkan hamba untuk menemui Permaisuri."
"Menemuinya percuma saja, Jenderal Li. Lagipula kenapa kau sedih? Bukankah dia hanyalah putri angkat?"
"Yang Mulia, seorang putri angkat memang tidak memiliki hubungan darah. Namun selama menjadi putriku Meihua sudah ku anggap seperti anak kandung kami."
"Zhen tahu kau sedih Jenderal Li. Tenanglah! Bagaimanapun juga Meihua masihlah istri Zhen, tentu saja Zhen akan menyelidiki hal ini sebelum menjatuhkan hukuman. Mengirim Meihua pergi ke penjara langit adalah tindakan keamanan."
"Hamba tidak mengerti. Mungkinkah semua ini adalah...."
"Konspirasi besar di istana,"sahut Kaisar pelan.
Jenderal Li terperangah, jika hal ini seperti yang dikatakan oleh Kaisar, maka nyawa Meihua memang dalam bahaya. Siapapun lawannya, mereka mencoba membunuh tiga burung dengan satu batu.
.
.
.
.
Mingfen berangsur pulih di bawah pengawasan tabib istana Han. Tabib Mo yang semula merawatnya, digantikan oleh Tabib Han atas perintah Kaisar. Sedangkan Tabib Mo menghilang entah kemana.
Jingmi yang selalu berjaga di samping ranjang Mingfen, hari ini tertidur pulas setelah berhari-hari tidak memejamkan mata. Tanpa ia sadari, seseorang telah berdiri di samping ranjang. Ketika percikan air mengenai wajahnya, barulah Jingmi terbangun.
Seraut wajah halus dan cantik dengan pakaian berwarna biru langit, menatap dingin ke arahnya. Jingmi yang baru sadar jika berhadapan dengan Selir Hong buru-buru menghormat takzim.
"Pelayan bodoh! Kau seharusnya menjaga tuanmu, bukan tidur dengan nyaman disitu! Kalau seseorang ingin membunuh Tuan mu, maka sudah pasti itu hal yang mudah dilakukan!"
"Yang Mulia selir, ampuni hamba. Hamba tadi merasa begitu mengantuk, lalu tidak sengaja tertidur. Ampuni hamba, Yang Mulia."
"Fen'er! Tampar pelayan ini untukku! Biarkan dia bangun!"
"Baik." Fen'er maju lalu menampar Jingmi sekuat tenaga. Tamparan itu begitu kerasnya hingga pipi Jingmi memerah dalam sekejap. Sementara Jingmi terus meratap memohon ampun, Hongmei justru duduk dengan tenang menikmati penyiksaan itu.
Di atas ranjang, kebisingan yang terjadi membuat Mingfen terusik. Bulu mata hitam lentik itu bergerak perlahan. Perlu waktu bagi Mingfen untuk membiasakan diri dengan cahaya. Ketika telah fokus, hal pertama yang dilihatnya adalah Jingmi yang terus ditampar oleh Fen'er.
"Berhenti!!"
Bisikan kecil itu terdengar oleh Jingmi di sela-sela kerasnya tamparan yang diterimanya.
"Nona. Anda sudah bangun?" Jingmi buru-buru bergerak ke samping ranjang, mengabaikan Fen'er dan Selir Hong.
"Berhenti! Siapa bilang kau boleh kabur?"tanya Fen'er keras.
Selir Hong mengangkat tangannya pelan, Fen'er lalu berhenti berteriak.
"Adik Ming. Kau sudah bangun? Bagaimana perasaan mu? Pelayan cepat panggil tabib!"
"Kakak Hong. Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku? Membantumu memberi pelajaran pada pelayanmu!"
"Haruskah kau menampar mereka?"
"Tentu saja. Kalau aku tidak menamparnya, dia tidak akan bangun dan menjagamu dengan baik. Bukankah yang kulakukan sudah benar?"
"Terimakasih atas perhatian kakak. Tapi aku masih bisa memberikan pelajaran pada pelayanku sendiri, tidak memerlukan bantuan kakak."
"Aiyooo. Kau sedang sakit, mana mungkin bisa melakukan pengajaran sendiri?"
Mingfen terdiam, dia merasa begitu lemah. Baru saja bangun, dia harus beradu argumen dengan Selir Hong, sungguh melelahkan.
"Kakak. Bukankah kau harus menemani Kaisar? Apakah kau tidak takut Permaisuri akan mengambilnya darimu?"
"Takut? Aku harus takut dengan siapa? Permaisuri? Aiih mungkin Permaisuri sudah membusuk di penjara langit."
"Apa katamu?"
"Oh iya, adik Ming kau tidak tahu. Permaisuri dikirim ke penjara langit karena terbukti mencelakai mu dengan menggunakan racun. Dia juga lah penyebab kau harus terbaring di ranjang."
"Tidak mungkin! Kakak Meihua tidak mungkin berbuat seperti itu padaku!"
"Kakak? Apa kau benar-benar menganggapnya kakak? Mana mungkin ada kakak sejahat dia?"
"Kau berbohong!"
"Tanyakan pada Kaisar sendiri! Semua orang di istana sudah tahu hal ini, kalau tidak salah hitung sudah lima hari Permaisuri di penjara. Sudahlah, aku lelah. Sebaiknya aku pergi."
Saat Selir Hong meninggalkan Istana Mutiara, seluruh pelayan yang dibawanya, mengikuti dari belakang. Menyisakan Mingfen yang terpaku dan Jingmi yang masih menangis dengan darah di kedua pipinya.
.
.
.
.
Meihua tidak tahu sudah berapa lama dia di penjara. Penjara langit begitu gelap dan pengap, sinar matahari sama sekali tidak bisa masuk. Yang ia tahu, dirinya merasa sangat lama terkurung disana. Tanpa Li Mei di sisinya, Meihua merasakan kesepian yang sangat.
Sampai saat ini Meihua masih tidak habis pikir mengapa Kaisar sampai tega memasukkannya ke penjara. Mungkinkah semua hal yang mereka lewati hanyalah sebuah khayalan? Mungkinkah Kaisar telah melupakannya dan memilih bersama dengan Selir Hong? Lalu bukankah sebelum peristiwa ini mereka sempat berbaikan?
Memikirkan hal itu membuat nafsu makan Meihua menurun. Ditambah dengan kondisi penjara yang pengap dan berbau amis, Meihua sama sekali tidak menyentuh makanan yang dibawakan untuknya. Semakin hari cahaya di matanya semakin meredup, tatapannya yang biasa berbinar cerah kini menatap kosong. Meihua mulai kehilangan kepercayaan diri dan kehilangan kepercayaan pada Kaisar.
Satu hal yang tidak pernah padam dalam hatinya adalah tekad untuk melakukan pembalasan. Jika suatu hari dia berhasil keluar dari penjara ini, dia bersumpah akan membalas perbuatan setiap orang yang menuntun jalannya ke penjara.
.
.
.
.
Penyelidikan Kaisar tentang racun itu belum juga menemui titik terang. Apalagi satu-satunya pelaku telah tewas terbunuh. Petunjuk yang ada untuk menyelidiki kasus ini semakin tidak jelas. Kaisar hanya tahu, memasukkan Permaisuri ke penjara adalah langkah aman melindungi nyawa Permaisuri. Sayangnya Kaisar sama sekali tidak tahu, di dalam penjara Permaisurinya hampir kehilangan nyawa.
.
.
.
Setelah beberapa lama, ketika harapan seolah semakin menghilang, Jun Li yang menyelidiki kasus ini akhirnya menemukan titik terang. Pelayan wanita yang dibunuh di Paviliun Chouyi bukanlah satu-satunya pelaku. Dia menemukan satu pelayan lagi yang menjadi saksi perbuatan itu. Di Istana Emas, pelayan wanita yang menjadi saksi pembunuhan itu mengatakan bahwa orang-orang yang membunuh temannya adalah para kasim dari istana salah satu Selir.
Malam itu seseorang yang menggunakan penutup kepala datang ke istana Zhuanshi. Menawarkan koin emas dan perhiasan yang banyak, orang itu hanya menugaskan untuk mengantar kue bunga persik ke Istana Mutiara. Dua orang pelayan wanita itu dengan segera langsung setuju, mengira bahwa itu adalah tugas mudah dengan imbalan besar.
Ketika Permaisuri telah ditangkap, barulah keduanya mengerti arti dari tugas itu. Membawa barang-barang mereka yang tak seberapa, keduanya memutuskan untuk pergi dari istana. Belum sempat melangkahkan kaki keluar istana, salah seorang dari mereka telah tertangkap dan dibunuh. Mayatnya dibuang ke Paviliun Chouyi, Paviliun yang terkenal berhantu di kompleks istana kerajaan.
"Kenapa kau bisa selamat?" Pertanyaan Jun Li memecah keheningan istana emas.
"Hamba bersembunyi di balik semak-semak bunga yang gelap. Para kasim itu mengira hamba sudah lari, mereka kemudian memutuskan untuk mencari di tempat lain. Kemudian hamba bersembunyi di Paviliun Chouyi, sampai akhirnya Anda menemukan hamba."
"Kau sungguh bernyali besar, mencoba membunuh Selir dan memfitnah Permaisuri!"
"Ampuni hamba, ampuni hamba. Sungguh hamba tidak tahu."
"Yang Mulia, bagaimana menurut Anda?"
"Untuk sementara biarkan dia hidup. Cari para Kasim yang melakukan pembunuhan dan cari tahu siapa yang menyuruh mereka!"
"Baik."
.
.
.
.
"Selir Ming bagaimana keadaan mu?"
"Menjawab Yang Mulia Kaisar. Hamba sudah hampir pulih."
"Baguslah! Jangan lupa minum obat mu!"
"Baik. Yang Mulia izinkan hamba menyatakan sesuatu."
"Zhen izinkan!"
"Yang Mulia, Permaisuri mungkin tidak bersalah. Beliau selalu baik pada hamba dan seluruh istana Mutiara. Rasanya tidak mungkin jika Permaisuri ingin mencelakai hamba."
"Selir Ming. Apakah kau yakin dia tidak menyimpan suatu niat buruk di hatinya?"
"Hamba sangat yakin."
"Kalau begitu kau sangatlah naif. Hati seseorang bagaikan lautan. Kau tidak bisa melihat seberapa luasnya dan seberapa dalamnya lautan itu. Orang yang kau percayai bisa menjadi pisau tak terlihat yang membunuhmu."
"Tapi hamba percaya Permaisuri tidak mungkin berniat membunuh hamba. Yang Mulia Kaisar, bisakah anda melepaskan Permaisuri? Kasihan dia berada di penjara langit yang gelap."
"Selalu ada hukuman bagi seseorang yang melanggar hukum."
"Yang Mulia tapi...." Belum selesai Selir Ming berbicara, Selir Hong telah datang menyela.
"Salam Yang Mulia Kaisar. Adik Ming bagaimana keadaan mu?"
"Kakak, aku sudah merasa lebih sehat. Terimakasih atas perhatian kakak."
"Baguslah. Yang Mulia, ada hal apakah Yang Mulia mengundang hamba kemari? Kenapa tidak di tempat hamba saja yang nyaman? Kalau disini bukankah mengganggu istirahat adik Ming?"
"Selir Hong, ada sesuatu yang harus Zhen tanyakan padamu!"
"Silahkan Yang Mulia."
"Kasim Kang bawa mereka masuk!"
"Baik."
Tiga orang Kasim dan satu orang pelayan masuk ke istana Mutiara dengan wajah ketakutan. Wajah Selir Hong sendiri terlihat memucat. Fen'er yang berdiri di belakang Selir Hong tidak kalah pucatnya.
"Selir Hong apakah kau mengenal mereka?"
"Yang Mulia, hamba tidak mengenal mereka. Lagipula mereka bukanlah Kasim dan pelayan dari istana hamba. Pelayan wanita itu bahkan mempunyai tanda pengenal istana Zhuanshi."
Memang benar setiap pelayan dan kasim yang melayani istana tertentu akan mempunyai tanda pengenal di tubuh mereka. Pelayan di istana Zhuanshi misalnya, mereka akan memakai tusuk konde berbentuk bunga Plum atau Meihua kecil. Sedangkan pelayan di istana Mutiara akan mempunyai tanda pengenal berbentuk tetesan air dan pelayan istana Giok akan mempunyai tanda pengenal berbentuk kupu-kupu kecil.
"Selir Hong. Kalau kau tidak mengenal pelayan wanita itu, maka seharusnya kau mengenal kasim-kasim itu!"
"Yang Mulia Kaisar. Mereka memang punya tanda pengenal berbentuk kupu-kupu, tapi hamba tidak pernah melihat mereka."
"Katakan apakah kalian mengenal Selir Hong?"
"Ya Yang Mulia. Hamba adalah Kasim yang bertugas di depan pintu istana Giok." Salah satu Kasim menjawab dengan gemetar ketakutan.
"Hamba bertugas di depan kamar Selir Hong."
"Hamba bertugas di depan aula istana Giok."
"Mereka jelas-jelas begitu dekat denganmu dan kau mengatakan tidak mengenal mereka Selir Hong?" Nada suara Kaisar semakin meninggi.
"Hamba memang melihat mereka, namun hamba tidak punya hubungan apapun."
"Lalu darimana mereka punya keberanian untuk membunuh pelayan wanita dari istana Zhuanshi?"
"Hamba benar-benar tidak tahu, mohon Kaisar menyelidiki dengan seksama."
"Pelayan katakan dengan jelas!"
"Ya Yang Mulia. Hamba dan teman hamba di suruh seseorang untuk membawa kue bunga persik ke istana Mutiara. Segera setelah itu, Selir Ming sakit keras dan Permaisuri di bawa ke penjara. Hamba dan teman hamba ketakutan, kemudian berencana untuk meninggalkan istana. Belum sempat kami keluar istana, kami sudah ketahuan. Lalu teman hamba dibunuh. Mayatnya di buang ke Paviliun Chouyi. Para kasim ini lah yang membunuhnya."
"Kaisar mohon ampun. Kami hanya disuruh."
"Benar kami hanya disuruh untuk menghilangkan bukti."
"Ampuni kami Yang Mulia."
"Siapa yang menyuruh kalian?"
"Itu...."
"Katakan! Jawaban kalian akan mempengaruhi nyawa kalian."
"Selir Hong yang menyuruh kami. Selir Hong yang menyuruh kami. Beliau memberikan imbalan sepuluh koin emas untuk masing-masing dari kami."
Kasim Kang lalu mengeluarkan kantong uang berisi tiga puluh koin emas, ke hadapan Kaisar. Ditambah dengan kantong uang lain dan beberapa perhiasan yang diberikan pada pelayan wanita itu. Bukti telah tersedia di depan semua orang.
Dituduh dengan terang-terangan, Selir Hong berteriak keras. "Apa?? Apa kau bilang? Kalian memfitnah ku. Yang Mulia Kaisar, mereka berbohong. Hamba tidak mengenal mereka, tapi mereka memfitnah hamba. Yang Mulia, tegakkan keadilan pada hamba."
"Selir Hong diam!"
Kali ini Selir Hong terdiam, wajahnya pucat pasi tapi tetap tidak menghalanginya, untuk menatap keempat pelayan didepannya dengan penuh kemarahan.
"Selir Hong. Bukti dan saksi telah ada di depanmu, dan kau masih berniat berkelit? Kau menggunakan nama Permaisuri untuk meracuni Selir Ming. Kau membuat Permaisuri mendekam di penjara. Kejahatan ini bukankah harus mendapatkan hukuman setimpal?"
Selir Hong jatuh berlutut, begitu pula Fen'er. Air mata menetes dari kedua matanya. "Yang Mulia. Hamba benar-benar tidak melakukan hal itu, mohon Yang Mulia tidak percaya ucapan mereka. Mereka hanya berbohong, mereka iri dengan kepedulian dan kasih sayang Kaisar pada hamba."
"Cukup!! Selir Hong kau bersalah, jadi kau pantas mendapatkan hukuman!"
"Yang Mulia, bukan Selir Hong yang bersalah. Bukan Selir yang bersalah, tapi hamba. Hamba yang melakukannya. Mohon Kaisar melepaskan Selir Hong,"ucap Fen'er. Pelayan itu berkowtow dengan membenturkan kepalanya ke lantai dengan keras. Hal itu diulanginya terus hingga darah mulai mengucur.
"Fen'er apa yang kau lakukan? Berhenti! Berhenti!"
Selir Hong merangsek memeluk Fen'er dengan erat, pandangannya terarah pada Kaisar.
"Yang Mulia. Itu adalah kesalahan hamba, jangan hukum Fen'er."
"Bukan. Yang Mulia Kaisar, itu adalah kesalahan Fen'er sepenuhnya, Selir Hong tidak tahu apa-apa. Fen'er benci pada Meihua karena terpilih sebagai Permaisuri dan mendapatkan kasih sayang Kaisar, sehingga nonaku tidak berkesempatan untuk menjadi Permaisuri. Fen'er membencinya."
"Jadi kau mengaku jika kau adalah dalang dari peristiwa ini?"
"Benar. Mohon Kaisar tidak menghukum Selir Hong. Hukum saja Fen'er. Hukum saja hamba. Hamba akan menerimanya."
"Baiklah. Semuanya dengarkan keputusan Zhen! Pelayan Fen'er bersalah karena meracuni Selir Ming dan memfitnah Permaisuri yang tidak bersalah. Oleh karena itu Zhen menjatuhkan hukuman penggal untuknya! Selir Hong tidak bisa menjadi tuan yang baik, sehingga pelayannya mempunyai niat jahat pada orang lain, Zhen menurunkan posisinya dari Guifei menjadi Fei. Yang lain bawa mereka ke penjara."
"Terimakasih pada kebaikan Kaisar. Terimakasih pada kebaikan Kaisar,"ucap Fen'er tersendat-sendat.
"Yang Mulia ampuni Fen'er. Ampuni Fen'er."
"Prajurit laksanakan hukuman!"
Dua orang prajurit menyeret Fen'er pergi dengan paksa. Gadis pelayan itu tersenyum pedih pada Selir Hong. Tangannya menggapai dengan lemah, sementara bibirnya berucap pelan. "Yang Mulia Selir, Anda harus hidup dengan baik. Harus hidup dengan baik, Fen'er pergi dulu. Fen'er pergi dulu."
Selir Hong mengejar Fen'er sepenuh tenaga. Walaupun hanya pelayan, Fen'er telah mendampinginya sejak kecil. Hanya Fen'er seorang yang tahan dengan sikapnya yang sering berubah-ubah, dan kini Fen'er harus pergi karena kesalahannya. Hongmei berpikir langit begitu kejam padanya kali ini.