My Empress From The Future

My Empress From The Future
Penyerangan



Kabar kelahiran putri Mei Lian telah didengar seluruh rakyat walaupun mereka berada di pengungsian. Banyak yang merasa geram karena Selir Hong sama saja membohongi Kaisar dengan mengatakan bahwa ia mengandung seorang pangeran.


Kini saat kenyataan sudah di depan mata, banyak orang yang mengutuk perbuatan Selir Hong. Putri Mei Lian diasuh oleh Permaisuri Meihua di istana Zhuanshi. Bersama dengan Li Mei dan Selir Ming yang terkadang berkunjung.


Mingfen telah menceritakan secara jujur hubungannya dengan Xiao Wu pada Meihua. Awalnya gadis itu takut, namun Meihua yang telah mengetahui sejak awal berjanji akan membantu mereka.


Selir Hong yang telah pulih, dijebloskan ke penjara. Untunglah ia tidak kehilangan kepalanya, namun hal itu membuat menteri Kang meradang. Diputuskannya penyerangan ke istana akan dilakukan sebelum waktunya.


Surat rahasia segera di kirim ke negeri DongYi, tentu saja menteri Kang tidak tahu bahwa yang diutusnya adalah Jun Li, mata-mata Kaisar Tian Yi. Jun Li membawa surat rahasia itu kepada Kaisar, dan Kaisar lah yang membalas bahwa bala bantuan akan datang tepat pada waktunya. Menteri Kang hanya perlu menyambut mereka di luar tembok istana. Bersama-sama mereka akan menduduki Istana dan mengalahkan Tian Yi.


Maka dengan kepercayaan diri yang tinggi pagi itu, menteri Kang mengepung istana. Para pejabat dan prajurit yang berhasil dihimpunnya hanya berjumlah lima ribu pasukan berkuda dan bersenjata lengkap. Seharusnya jumlah mereka akan bertambah berkali-kali lipat jika mendapatkan bantuan dari kerajaan DongYi dan pasukan Jenderal Mu. Hal itu merupakan ancaman serius bagi kubu Kaisar Tian Yi sendiri.


.


.


.


.


Pagi itu terompet perang dibunyikan. Kaisar Tian Yi membawa Permaisuri dan Selir Ming serta putri Mei Lian ke tempat aman, bersama sejumlah pelayan dan kasim. Menurut Kaisar istana Emas adalah yang teraman saat ini, sebab Istana Emas dulunya merupakan kediaman Kaisar dan mempunyai banyak jebakan jika diaktifkan.


"Bao-yu tetap disini! Jangan keluar sebelum Zhen yang menjemput mu kesini. Apapun yang terjadi, tetaplah menunggu. Percayalah Zhen pasti datang untukmu,"ucap Kaisar Tian Yi meyakinkan Meihua.


Hanya anggukan yang bisa diberikan Meihua, lidahnya kelu untuk bicara, dadanya sesak menahan segala emosi. Meihua memeluk erat Tian Yi, tak peduli dimana mereka berada. Ia hanya ingin menyampaikan bahwa apapun yang terjadi dia akan percaya Tian Yi baik-baik saja.


Sejumlah pelayan dan Selir Ming yang menyaksikan hal itu, meneteskan air mata.


"Selir Ming, kutitipkan Meihua padamu. Zhen memang tidak pernah memperhatikanmu. Tapi Zhen percaya padamu."


"Baik paduka. Hamba akan menjaga Permaisuri untuk anda."


Setelahnya kaisar Tian Yi keluar untuk memimpin sendiri musuh yang datang. Pasukan Jenderal Li Hao yang berada di dalam kota telah bersiaga. Sedangkan pasukan yang berada di luar tembok istana sedang bergerak mengepung dari belakang.


Di atas tembok istana, prajurit pemanah telah bersiap. Begitu juga para prajurit yang berada di bawah. Tinggal menunggu waktu musuh menyerang, maka mereka akan melawan dengan sekuat tenaga. Kaisar memberi perintah, jika memungkinkan pertempuran seharusnya dilakukan di luar tembok istana, untuk mengantisipasi rusaknya istana dan korban yang akan berjatuhan.


Sebelumnya pasukan pemanah telah menghiasi pasukan musuh dengan anak panah mereka, namun kubu Kang Li Bo ternyata juga pintar. Mereka mundur beberapa ratus meter ke belakang, sehingga jangkauan panah tidak bisa mengenai mereka.


Melihat hal itu, Kaisar Tian Yi beranggapan akan lebih baik menyerang mereka secara terbuka di luar tembok istana.


Ketika pintu gerbang istana dibuka, Kaisar Tian Yi membawa para prajurit menunggang kuda untuk berhadapan langsung dengan menteri Kang.


"Menteri Kang, kau adalah salah seorang menteri. Kenapa berniat memberontak? Menyerahlah dan Zhen akan mengampunimu dari hukuman mati!"


"Hahahaha kau pikir setelah sampai pada titik ini aku, Kang Li Bo masih mau mundur dan menyerah? Tidak! Aku akan merebut takhta mu untukku sendiri!"


"Kau benar-benar tidak tahu malu. Apa yang kau andalkan untuk mengambil paksa takhta kerajaan Wu?"


"Kau tidak perlu tahu Kaisar, aku punya bantuan yang akan membuatmu bertekuk lutut,"balas Kang Li Bo sombong.


"Baik. Tidak ada gunanya negosiasi denganmu. Lebih baik kita akhiri ini dengan segera." Kaisar Tian yi langsung memberikan perintah penyerangan. "Seluruh pasukan, SERAANGG!!"


SERAAAANNGGG!!!


BUNUUUHH!!!!


AYOO SERAAAANGGG!!


Teriakan para prajurit yang bersemangat untuk maju perang terdengar keras. Maklum saja, akhir-akhir ini kedamaian yang tercipta membuat para prajurit sedikit lebih santai. Banyak diantara mereka yang tak sabar untuk kembali ke medan perang. Sehingga saat terjadi penyerangan oleh Menteri Kang, mereka lebih bersemangat daripada biasanya. Dari kubu Kang Li Bo sendiri, setelah mendengar aba-aba dari pemimpinnya, mereka juga maju menyerang.


Sekejap kemudian pertempuran pecah antara kedua belah pihak. Mereka saling menyerang, berusaha menjatuhkan lawan. Kuda-kuda meringkik keras, ditimpali suara senjata yang beradu nyaring. Korban berjatuhan dari kedua belah pihak. Hanya ada dua pilihan dalam setiap pertempuran. Mati atau bertahan hidup dengan membunuh lawanmu.


Keringat dingin mengucur deras dari tubuh Kang Li Bo, dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan pasukannya banyak yang jatuh menjadi korban. Pasukan Jenderal Li Hao ternyata juga mengepung mereka dari belakang. Sementara bala bantuan yang dijanjikan pemimpin DongYi tidak kunjung datang, pun dengan pasukan Jenderal Mu yang bersedia bekerjasama.


Pasukan elit milik Jenderal Li telah lama tidak merasakan pertempuran, karena situasi negeri Wu akhir-akhir ini sangat damai. Dengan adanya pertempuran lagi, mereka sangat bersemangat memacu adrenalin untuk menjatuhkan lawan dan menumpas pemberontakan Kang Libo.


Kaisar Tian Yi yang ikut maju ke medan perang layaknya malaikat kematian. Setiap musuh yang berhadapan dengannya, tidak pernah berhasil hidup. Rata-rata mereka mati dengan satu tebasan pedang. Akhirnya Kaisar Tian Yi berhadapan dengan Kang Libo, masing-masing mengacungkan pedang dengan sorot mata tajam.


"Kau sungguh berani berniat menggulingkan kekuasaan klan Wu sebagai penguasa kekaisaran ini. Hari ini jika Zhen tidak bisa memenggal kepalamu, Zhen tidak akan bisa hidup dengan tenang."


"Kau sungguh penguasa yang sombong. Lihat saja setelah bala bantuan pasukanku datang. Seluruh pasukan mu akan kusapu habis! Hahahaha."


Kang Libo tertawa pongah.


"Bala bantuan yang mana? Dari negeri DongYi yang kau janjikan batangan emas dan perak hasil menaikkan pajak rakyat dengan paksa? Atau bantuan dari Jenderal Mu yang kau janjikan kedudukan yang tinggi sebagai seorang Jenderal Pertahanan?"


"Kau... bagaimana kau bisa tahu?" Kang Libo gemetar.


"Hahahaha, kalau kau sungguh menganggap Zhen bodoh. Kau salah besar. Kau pikir Zhen tidak tahu segala sepak terjangmu setahun terakhir? Kau seharusnya tahu, mulusnya rencana pemberontakanmu karena Zhen yang mengizinkannya. Semua dibawah kendali Zhen!"


Marahlah Kang Libo, urat-urat kemarahan tampak jelas diwajahnya. Dengan nekat dia maju menyerang Kaisar Tian Yi. Kaisar Tian Yi sendiri menyambut serangan Kang Libo dengan tenang, sorot matanya dingin. Dalam setiap pertempuran, emosi seseorang juga mempengaruhi hasil akhirnya. Bertempur dengan kemarahan, akan membuat seseorang ceroboh, dan bertempur dengan kepala dingin akan sangat menguntungkan


"Lapor menteri Kang. Pasukan kita yang terkepung dari dua sisi oleh pasukan Jenderal Li Hao, hampir semuanya terluka dan banyak jatuh korban!" Seorang pejabat yang berada dibawah perintah Kang Li Bo berkata dengan panik.


Gerakan Kang Libo terhenti, kini dirinya tahu Kaisar benar-benar berkata jujur beberapa saat lalu. Tidak ada jalan kembali saat dia telah memutuskan untuk memberontak. Daripada mati terpenggal tanpa melakukan perlawanan dan terhina oleh rakyat, lebih baik ia mati di medan perang.


Pertempuran terus berkecamuk, lima ribu pasukan yang dibawa Kang Li bo tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sepuluh ribu pasukan milik Kaisar.


*


*


*


*


*


*


Di Istana Emas.


Meihua berjalan mondar-mandir dengan tangan saling meremas. Raut wajahnya penuh kekhawatiran, sedangkan Mingfen tengah menggendong bayi Mei Lian. Gadis itu juga menatap Meihua dengan cemas.


"Yang Mulia, tolong tenanglah. Paduka Kaisar akan baik-baik saja. Paduka sangat gagah berani, lima ribu pasukan menteri Kang tidak akan menyulitkannya." Selir Ming berkata seraya mendekati Meihua.


"Adik Ming, aku khawatir menteri Kang menggunakan tipuan licik untuk melukai paduka Kaisar."


"Kakak Meihua, paduka sangat pandai, percayalah! Perang ini akan dimenangkan oleh paduka Kaisar. Sekarang ayo duduk bersamaku!"


Meihua mengikuti langkah Mingfen, baru saja ia duduk, beberapa orang prajurit berlari masuk dan melaporkan bahwa Kaisar dalam posisi tidak menguntungkan. Kaisar terkepung, para prajurit istana banyak yang gugur. Belum sempat Meihua mencerna informasi yang diterimanya, salah seorang dari prajurit itu merebut Putri Mei Lian dengan paksa dari tangan Mingfen, lalu melarikan diri. Sementara rekannya yang lain menghalangi prajurit yang menjaga Istana Emas.


Adu pedang tak dapat di hindari, tampaknya prajurit yang menyerbu masuk adalah prajurit siap mati yang di kirim oleh Menteri Kang. Tujuannya hanya satu, merebut cucunya dan membawanya melarikan diri. Para pelayan perempuan berteriak-teriak ketakutan, sementara para kasim lebih pemberani. Mereka mengambil apapun yang bisa dijadikan alat pelindung diri. Li Mei melindungi Meihua dan Mingfen pada saat yang bersamaan, menggunakan tubuhnya sebagai tameng.


Tanpa mereka duga sebelumnya, Meihua berlari menerobos kekacauan itu dan nekad mengejar prajurit yang membawa Mei Lian seorang diri. Tak diindahkan olehnya seruan Mingfen, dan jeritan Li Mei yang menyuruhnya berhenti.


Meihua terus saja memacu kedua kakinya untuk mengejar prajurit yang membawa Mei Lian. Samar di dengarnya isak tangis bayi kecil itu. Lubuk hatinya semakin merasa sakit, perasaan keibuannya merasa tak tega pada bayi malang itu. Terlepas dari betapa jahat dan licik ibunya, Mei Lian masihlah seorang bayi mungil tak berdosa.


Karena jaraknya dengan prajurit itu semakin jauh, tanpa berpikir panjang Meihua memutuskan untuk menunggangi kuda, yang ia temukan di luar istana. Melupakan bahwa sebenarnya dia bahkan tidak pernah dekat-dekat dengan hewan berkaki empat itu, bahwa sebenarnya ia tidak bisa menunggang kuda!


Mendekati medan pertempuran, hatinya semakin cemas, tak dihiraukannya mayat-mayat yang tergenang darah. Walaupun sebenarnya hal itu membuatnya mual. Keselamatan Mei Lian masih menjadi prioritasnya.


"Yang Mulia Permaisuri. Apa yang Anda lakukan disini?"


"Mei Lian diculik. Prajurit itu pasti suruhan Kang Li Bo! Cepat bantu aku menemukannya! Dia menangis begitu keras. Jun Li bantu aku menemukannya!"


"Hamba mengerti. Yang Mulia sebaiknya Anda pergi dari sini segera! Keadaan di sini terlalu berbahaya! Serahkan pencarian Putri Mei Lian pada hamba."


"Tidak bisa. Kau melindungi ku! Aku yang akan membawa Mei Lian nanti!"


"Tapi..."


"Ini perintah!"


"Baik. Jun Li mengerti."


Jun Li memacu kudanya di belakang Permaisuri, seraya sibuk menghalau musuh yang mendekat. Sementara Meihua mengedarkan pandangannya ke segala arah. Sekelebat kain pembungkus bayi Mei Lian tertangkap oleh netranya. "Jun Li, disana! Sebelah sana!"


"Baik."


Bersama dengan Jun Li, Meihua memacu kudanya menerobos pertempuran. Para prajurit istana yang mengenali Permaisuri masuk ke pertempuran, sebisa mungkin melindungi Meihua. Banyak yang berkorban nyawa, dan Meihua melihatnya dengan perasaan bersalah.


Ketika Meihua dan Jun Li berhasil menghadang prajurit penculik itu, Meihua segera berseru keras,"Serahkan Mei Lian padaku!"


"Dalam mimpimu!" Tanpa di duga oleh Meihua, prajurit itu nekad melemparkan Mei Lian ke atas. Tangis Mei Lian yang melengking tinggi terdengar oleh Meihua, bersamaan dengan melambungnya bayi itu ke atas. Mengabaikan bahwa dirinya berada dalam peperangan, Meihua melompat dengan bertumpu pada punggung kudanya.


Katakan bahwa Meihua beruntung bisa menangkap Mei Lian tepat waktu. Tapi bersamaan dengan dirinya yang melompat ke atas, salah seorang prajurit mengacungkan tombak yang di bawanya ke arah Meihua. Berhasil, tombak itu menancap di perut Meihua, tepat di bekas luka lamanya.


Sementara Jun Li marah besar melihat itu, disabetkannya pedang miliknya ke arah si prajurit yang langsung meregang nyawa. Darah segar langsung mengucur di perut Meihua. Mengernyit menahan sakit, Meihua tersenyum lega melihat Mei Lian baik-baik saja.


.


.


.


.


"Kau lihat Permaisuri mu di seberang sana, Kaisar? Dia nekad menyelamatkan bayi yang bahkan bukan anaknya. Bukankah dia bodoh?"tanya Kang Li Bo sembari bertumpu pada pedangnya. Nafasnya turun naik tak teratur, begitu juga Tian Yi.


Mendengar hal itu, Tian Yi menoleh ke segala arah mencari Meihua. Tepat saat Meihua tertusuk tombak panjang, Kaisar hanya bisa membelalakkan matanya. Saat Kaisar yang terkejut menjadi lengah, hal itu dimanfaatkan dengan baik oleh Kang Li Boo, dia berhasil memberi sebuah luka pada Kaisar.


"Kau! Sungguh kejam, menggunakan cucumu sendiri untuk menjadi umpan?"


"Cucu? Aku tidak mengakui cucu perempuan yang di dalam tubuhnya mengalir darahmu! Aku tidak butuh cucu perempuan!"teriak Kang Li Bo.


"Kurang ajar!"


Pertempuran berlangsung lagi di antara keduanya. Tubuh tua Kang Li Bo ternyata tak menguntungkan dirinya. Menyerang membabi buta, Kang Li Bo malah mendapat lebih banyak luka.


Dalam perlindungan Jun Li, Meihua berniat meninggalkan medan pertempuran. Mendekati gerbang istana, seorang prajurit pemanah dari kubu Kang Li Bo membidikkan panahnya dengan tepat sasaran. Panah runcing itu tepat mengenai bahu kanan Meihua dari belakang. Tubuh Meihua mematung sekejap, sebelum jatuh ke tanah, bersama dengan bayi Mei Lian di pelukannya.


"Permaisuri!" Jeritan Jun Li mengalahkan denting senjata yang beradu. Juga memperingatkan Tian Yi, bahwa permaisurinya kembali terluka.


Jun Li melompat dari atas kuda, tanpa memikirkan tata krama, Jun Li menopang tubuh Meihua. Perlahan dipatahkannya panah yang menembus tubuh Meihua itu, menyisakan mata panah yang menusuk daging dan sejengkal kayu sisa panahnya.


Kang Li Bo yang melihat peristiwa itu tertawa lantang,"Permaisuri mu sama bodohnya. Dia masuk dalam jebakan ku dengan mudah, hahahaha."


"Kau berani menyakiti Meihua. Sungguh tidak termaafkan. Kau harus mati!"


"Coba kalau kau bisa membunuhku,"tantang Kang Li Bo.


Dengan penuh kemarahan, Kaisar Tian Yi maju menyerang Kang Li Bo lagi. Pertempuran kali ini lebih hebat, tak membutuhkan waktu lama kepala Kang Li Bo telah terpenggal.


Salah seorang komandan pasukan Kaisar yang melihat hal itu segera menyerukan bahwa pemimpin pemberontak telah tewas. Sontak seluruh prajurit Kaisar segera meneriakkannya berulang-ulang. Hal itu membuat nyali pihak musuh menjadi menciut. Tanpa di perintah mereka menghentikan perang. Beberapa bahkan mencoba melarikan diri. Tak pelak,kemenangan ini berada di pihak Kaisar.


.


.


.


.


"Yang Mulia Permaisuri, mohon pertahankan kesadaran Anda! Jangan sampai Anda pingsan!" Jun Li membujuk Meihua dengan raut wajah panik.


Meihua berkedip pelan, dilihatnya bayi Mei Lian di dalam pelukannya. Mata bayi mungil itu masih tampak basah, namun bibir merahnya yang mungil tersenyum kecil. Senyum yang menggemaskan bagi Meihua.


Andaikan aku bisa melihat bayi ini lebih lama. Andaikan aku bisa melihatnya tumbuh, batin Meihua miris.


"Dimana Kaisar? Mataku terasa sangat berat, sekujur tubuhku begitu sakit. Jika aku mati, katakan pada Kaisar aku sungguh mencintainya,"lirih Meihua terbata-bata.


"Kau tidak akan mati Permaisuri, Zhen di sini. Jun Li katakan pada semuanya untuk mengakhiri perang! Kang Li Bo sudah mati, jika pasukannya mau menyerah akan diampuni, yang tidak mau menyerah habisi!"


Kaisar berlari mendekati keduanya dengan terburu-buru. Dilemparkannya pedang yang sejak tadi berada di genggamannya.


"Baik."


Kaisar Tian Yi memangku kepala Meihua. Pandangan keduanya bertemu. Ada air mata di sudut mata Kaisar, sedangkan Meihua malah tersenyum manis.


"Yang Mulia, syukurlah Anda dan Mei Lian selamat."


"Kau bodoh! Demi anak yang bukan milikmu kau mengorbankan nyawamu begitu saja?"


"Yang mulia, hamba bahagia bisa menyelamatkan anak itu. Walaupun bukan anakku, dia tetap seorang anak yang tidak berdosa. Jika hamba mati, tolong jangan bersedih! Angkat Mingfen sebagai permaisuri, katakan aku meminta maaf tidak bisa mengabulkan keinginannya."


"Kau tidak akan mati. Zhen akan menyelamatkan mu. Zhen adalah putra langit, raja dunia bawah tidak akan berani mengambil mu dariku. Berhenti bicara yang tidak-tidak, hanya ada seorang permaisuri dan itu kau!"


Meihua memuntahkan darah segar, memaksa bicara membuat darah naik ke mulutnya. Semakin lama dadanya terasa sesak, pandangannya juga semakin kabur. Meihua merasa mungkin ini adalah akhir dari perjalanannya.


Secara samar, teriakan Jun Li yang meminta perang dihentikan, terdengar oleh Meihua. Dengan tersenyum manis, kepalanya terkulai dalam pelukan Kaisar.


"Tidaaaakkk!!! Meihua bangun! Jangan menakuti Zhen! Bangun! Kuperintahkan kau bangun, buka matamu!"


"Yang Mulia, jangan mengguncangkan tubuh permaisuri, bisa lebih berbahaya!" Jun Li mengingatkan Kaisar. "Lebih baik Paduka membawa Permaisuri ke istana untuk segera ditangani tabib,"lanjut Jun Li.


Tanpa berkata lagi, Tian Yi membawa Meihua ke arah Istana.


Meihua, jangan pergi! Jangan tinggalkan Zhen!


.


.


.


.


Perang berakhir, kemenangan Kaisar Tian Yi menumpas pemberontakan terdengar hingga ke seluruh pelosok negeri Wu. Rakyat bersuka cita, kedamaian menghampiri mereka. Kepala Kang Li Bo dipajang di tembok kota selama tiga hari, sebagai pengingat bahwa pemberontak tidak akan memiliki akhir yang bagus.


Seluruh keluarga Kang Li Bo dijatuhi hukuman penggal, kecuali anak-anak di bawah umur 10 tahun. Anak-anak itu dibawa ke perbatasan untuk menjadi budak.


Hongmei yang tahu tentang rencana pemberontakan itu, juga ditetapkan bersalah. Apalagi dengan serangkaian upaya pembunuhan yang ia lakukan pada Permaisuri dan Selir Ming. Hongmei juga dijatuhi hukuman mati. Namun, mengingat jasanya telah melahirkan seorang putri, dan pernah menjadi seorang Selir Kaisar, Hongmei diijinkan untuk mati dengan terhormat. Meminum anggur beracun yang langsung diantarkan oleh Kaisar.