My Empress From The Future

My Empress From The Future
Wen Chinsuo



Kebenaran yang terungkap akhirnya membersihkan nama Permaisuri dari tuduhan meracuni Selir Ming. Fen'er yang mengakui kesalahan Selir Hong dihukum mati dan Selir Hong diturunkan statusnya menjadi Fei. Gelar Selir di bawah Guifei. Walau tidak terima dengan keputusan itu, Hong Fei tidak bisa berbuat apapun. Apalagi Fen'er dayang kesayangannya mati karena menyelamatkan nyawanya.


Dengan segera, Kaisar pergi ke penjara langit. Tujuannya adalah menjemput Permaisuri secara langsung. Berharap mendapatkan senyum hangat dari Permaisuri, yang Kaisar temui adalah Meihua yang tidak sadarkan diri. Kaisar sendirilah yang menggendong Permaisuri ke istana Zhuanshi. Menyadari berat badan Permaisuri turun begitu banyak, wajahnya yang tirus dan tubuh yang tidak terawat, hati Kaisar Tian Yi bagaikan ditusuk seribu jarum.


Tabib istana kembali dipanggil, para pelayan kembali sibuk. Kaisar bahkan tidak beranjak dari sisi Permaisuri.


"Salam Yang Mulia." Tabib Han memberi salam dengan takzim.


"Cepat bangun! Periksa keadaan Permaisuri! Lakukan yang terbaik! Jika terjadi sesuatu dengan Permaisuri, keluarga mu juga akan menerima akibatnya."


"Baik Yang Mulia."


Tabib Han lalu berlutut di samping ranjang, mengeluarkan kain sutra kecil dan mulai memeriksa nadi Permaisuri. Tabib Han menampakkan ekspresi terkejut, lalu menutup matanya dan kembali memeriksa nadi Permaisuri.


"Tabib Han, bagaimana?"


Melihat tabib Han menghela nafas panjang, Kaisar merasa tidak tenang.


"Selamat pada paduka Kaisar. Yang Mulia Permaisuri sedang mengandung, usia kehamilannya memasuki minggu ketiga. Hanya sayangnya Permaisuri pastilah mengalami tekanan batin didalam penjara, kondisinya memprihatinkan. Tidak ada asupan gizi yang masuk, sehingga janin Permaisuri sangatlah lemah."


"Apaa? Tabib Han kau bilang apa? Permaisuri mengandung?"


"Benar Yang Mulia. Permaisuri mengalami kecemasan yang berlebihan, ditambah tidak adanya pelayan yang mendampinginya di penjara membuat Permaisuri tidak terurus."


"Li Mei! Bukankah kau setiap waktu mengantarkan makanan untuk Permaisuri?"


"Yang Mulia. Ampuni Li Mei, setiap waktu memang saya membawa makanan ke penjara langit. Tapi hamba selalu tidak diperbolehkan masuk, setiap waktu juga makanan itu tidak berkurang."


"Sudahlah! Itu kesalahan Zhen, tidak mengizinkan siapapun masuk kesana."


"Yang Mulia, hamba akan membuatkan obat penguat kandungan, juga berbagai obat untuk menguatkan Permaisuri dan janinnya. Anda tenanglah Yang Mulia."


"Tabib Han, harus merepotkan mu!"


"Itu adalah sebuah berkah bagi hamba. Hamba permisi Yang Mulia."


Kaisar tidak tahu harus sedih ataupun senang. Senang karena akhirnya akan mempunyai penerus dan sedih karena rencananya malah membuat Permaisuri dan bayinya berada dalam bahaya. Saat ini Kaisar ingin sekali menghukum dirinya sendiri, bibirnya bahkan tidak berhenti mengutuki kesalahannya pada Meihua.


Hua'er cepatlah bangun, biarkan Zhen mengakui kesalahan ini dan berbagi kebahagiaan denganmu.


.


.


.


Permaisuri tidak sadarkan diri selama hampir tiga hari. Selama itu pula, Li Mei tidak meninggalkan kamar tempat Permaisuri terbaring. Setiap hari Kaisar akan menyempatkan menjenguk Permaisuri di sela-sela kesibukannya sebagai pemimpin kerajaan, sedangkan di malam hari Kaisar akan menunggui disampingnya.


Tian Yi hanya berharap yang pertama kali dilihat Meihua saat bangun adalah dirinya. Agar dia bisa mengatakan kabar gembira ini secara langsung. Memikirkan betapa bahagianya Meihua kalau mendengar bahwa dirinya hamil, sudah membuatnya tersenyum kecil.


.


.


.


Kerajaan Wen adalah salah satu kerajaan yang berbatasan langsung dengan Wu di sebelah Utara. Tanah negeri Wen kaya dengan tambang batu mulia. Mayoritas penduduk di sana bekerja sebagai penambang batu mulia. Perhiasan dan batu mulia yang dihasilkan dari negeri Wen sangat terkenal dan memiliki nilai jual yang tinggi.


Menjalin kerjasama dengan negeri Wen adalah salah satu cara memajukan negara Wu tanpa harus melakukan peperangan.


Istana telah di dekorasi dengan meriah. Musim semi tahun ini benar-benar membawa keberuntungan bagi kerajaan. Hari ini adalah hari kedatangan utusan dari kerajaan Wen. Seluruh rakyat berbondong-bondong memenuhi jalan untuk menyaksikan iring-iringan. Seluruh pasukan penjaga kota dikerahkan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


Rombongan utusan dari kerajaan Wen memasuki gerbang kota. Sekelompok prajurit menunggang kuda, tampaknya dibawah komando seorang pria tampan dengan baju khas bangsawan, sebuah kereta kuda yang dihias dengan cantik, beberapa gerobak yang mengangkut peti-peti juga ditarik beberapa ekor kuda besar dan gagah, dibagian akhir serombongan prajurit berkuda mengawal perjalanan itu.


Yang paling menarik perhatian adalah kereta kuda yang dihias dengan cantik. Ketika tirai jendela disibakkan terlihat seorang gadis belia yang tersenyum menawan. Matanya berbinar senang mendapati keramaian, melihat kerajaan Wu secara langsung yang selama ini hanya bisa ia dengar dari para pelayannya.


Di istana, Kaisar Tian Yi dan Selir Ming telah menyambut kedatangan mereka. Selir Ming harus menggantikan posisi Permaisuri untuk sementara, hingga Permaisuri pulih. Sedangkan Selir Hong, posisinya sekarang tidak memungkinkan dia untuk menghadiri acara-acara resmi di istana.


Para pejabat dan menteri kerajaan juga diundang. Aula istana ditetapkan sebagai tempat penyambutan. Meja-meja penuh dengan berbagai hidangan, buah, teh dan arak. Para pemain musik telah bersiap di sisi yang lain, siap memainkan musik saat mendapat perintah.


"Wen Chen Xu memberikan penghormatan kepada Yang Mulia Kaisar dan Ming Guifei, semoga panjang umur hingga ribuan tahun." Pimpinan utusan dari Wen membungkuk hormat.


"Wen ChinSuo memberi hormat pada Kaisar dan Ming Guifei, semoga panjang umur hingga ribuan tahun." Gadis cantik dengan lesung pipi yang menawan itu menghormat takzim.


"Kalian bisa berdiri. Tidak perlu sungkan! Melihat kerajaan Wen mengirim pangeran ke tujuh dan putri ke sembilan untuk datang langsung ke Wu, Zhen sungguh merasa terhormat."


"Baginda Kaisar sungguh berwawasan luas. Terimakasih atas pujian Baginda."


"Silahkan duduk pangeran Chen Xu dan Putri ChinSuo! Jangan sungkan, nikmati hidangan yang ada. Perjalanan dari Wen kemari pasti membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit, kalian pasti lelah."


"Terimakasih Yang Mulia. Sepanjang perjalanan pemandangannya sangat menarik, hingga rasa lelah tidak terasa lagi."


"Hahahaha. Pangeran Chen Xu sungguh terlalu memuji. Mari mulai perjamuannya, dan nikmati arak kalian!"


Musik mulai dimainkan, bersamaan dengan para gadis penari yang seolah turun dari langit. Mereka seolah para dewi langit yang turun ke bumi. Pakaian putih mereka berkibar tertiup angin musim semi. Gerakan luwes dan senyum manis mereka memikat mata siapapun yang melihatnya.


Para utusan dari kerajaan Wen tidak berhenti berdecak kagum, bahkan Putri ChinSuo sampai bertepuk tangan. Tanpa terasa, hidangan yang tersaji di atas meja mulai berkurang, sementara para pelayan kerajaan Wu menuangkan arak ke masing-masing tamu. Aroma arak yang harum menguar ke udara.


"Terimakasih atas jamuan Kaisar, hamba sungguh beruntung bisa berkunjung ke kerajaan Wu yang tersohor." Chen Xu berdiri dan memberi hormat.


"Pangeran ketujuh terlalu memuji. Zhen sungguh merasa senang karena kerajaan Wen memiliki niat baik berkerja sama dengan kami. Zhen bersulang arak untukmu." Kaisar Tian Yi mengangkat secawan arak dan meminumnya.


"Bersulang." Chen Xu melakukan hal yang sama. "Yang Mulia, dari tanah Wen kami dihasilkan berbagai batu mulia, hamba jauh-jauh membawanya dari Wen menuju Wu semoga Yang Mulia Kaisar berkenan menerima."


Sekelompok orang dari kerajaan Wen memasuki aula dengan membawa peti-peti. Setelah meletakkan peti-peti itu di tengah aula, mereka keluar lagi.


"Hahahaha, Zhen tidak akan menolak. Terimakasih atas pemberian pangeran ketujuh."


Setelah Kaisar Tian Yi menerima pemberian itu, giliran para pelayan pria istana Wu yang mengangkut peti-peti itu ke dalam istana.


"Baginda, adikku ChinSuo pandai menari, semoga Yang Mulia berkenan melihat tarian adik hamba yang tidak seberapa."


"Putri ChinSuo sudah terkenal cantik, terpelajar, anggun dan pandai menari. Hari ini Zhen bisa menyaksikannya, itu adalah sebuah anugerah."


Wen ChinSuo mulai unjuk kebolehan, menari diiringi musik khas negara Wen, tubuhnya yang indah dan gerakannya yang gemulai memanjakan mata. Setiap kibasan lengan gaunnya, setiap gerakan yang dilakukannya membuat setiap orang seperti tersihir. Pada dasarnya gerakan tarian kerajaan Wu dan kerajaan Wen berbeda. Melihat secara langsung tarian dari Wen yang terkenal, para tamu undangan sangat antusias. Ketika akhirnya tarian itu selesai, ChinSuo berlutut di tengah aula. Sementara para tamu undangan yang menyaksikan belum juga berkedip.


"Yang Mulia Kaisar, Ayahanda bermaksud menjalin hubungan kerjasama antar kedua kerajaan. Agar hubungan ini semakin erat dan dalam, Ayahanda ku ingin agar adik ChinSuo bisa menjadi salah seorang selir paduka,"ucapan Chen Xu sekejap membuat seluruh aula hening.


"Terimakasih Yang Mulia." Chen Xu hanya bisa menghormat dan mulai memapah ChinSuo untuk bangun. Keduanya mengikuti Kasim Kang menuju Paviliun Chunyi.


.


.


.


.


.


Wen ChinSuo adalah putri kesembilan dari kerajaan Wen. Ibunya adalah selir Yun, selir kesayangan Kaisar Wen. Otomatis Wen ChinSuo juga merupakan putri kesayangan Kaisar. Mengirim putri kesayangannya jauh dari kerajaan Wen sebagai pengikat tali kerjasama antara dua kerajaan, adalah keputusan sulit bagi Kaisar Wen.


Demi kemakmuran rakyatnya, Kaisar Wen rela berpisah dari putrinya. Padahal sejak awal dia tahu, putrinya hanya akan menjadi seorang selir di istana Wu.


ChinSuo sendiri tidak keberatan saat keputusan Kaisar sampai ke telinganya. Bahkan dia merasa senang bisa berguna bagi negara dan rakyatnya. Tahun ini, ChinSuo berumur 18 tahun. ChinSuo tumbuh menjadi gadis yang cantik, anggun, pandai, berkulit putih dan halus khas keturunan kerajaan. Sikapnya lemah lembut, dan rendah hati, sejak kecil ChinSuo menyukai seni musik dan tarian.


Bakat menari rupanya diturunkan dari sang ibu. Ibunya, selir Yun dulunya adalah seorang penari di istana, Kaisar Wen tertarik dan kemudian mengangkatnya menjadi seorang selir.


Sebenarnya ChinSuo sendiri belum tahu rupa Kaisar Tian Yi seperti apa. Gadis itu bahkan sejujurnya tidak berniat menjadi seorang selir. Hanya saja, rasa cinta tanah airnya membuatnya rela jauh dari rumah.


Hari ini ChinSuo ditemani sang kakak, Chen Xu berkeliling kota. Mereka berpakaian sederhana, agar tidak menarik perhatian. Kaisar Tian Yi juga mengutus serombongan prajurit yang menyamar sebagai rakyat biasa, untuk menjaga mereka. Bagaimanapun mereka adalah Pangeran dan Putri dari negeri tetangga, utusan langsung Kaisar Wen.


"Gege lihat, perhiasan di pasar kota Wu ini juga bagus-bagus." ChinSuo mendekati lapak pedagang perhiasan.


(Gege - kakak laki-laki)


"Benar Meimei. Apakah kau menginginkan salah satunya?" Chen Xu bertanya lembut.


(Meimei - adik perempuan)


"Untuk apa? Nanti aku juga akan tinggal di sini. Bisa membelinya kapan-kapan," ChinSuo menyahut.


"Tidak mudah mencari kesempatan keluar Meimei, Apalagi saat statusmu telah berubah nanti."


"Tidak masalah, aku bisa menyuruh dayang, atau memanggil langsung pembuatnya,"jawab gadis itu tersenyum ceria.


Saat kedua kakak beradik itu hampir melanjutkan perjalanan, dari arah berlawanan seorang lelaki paruh baya nampak dikejar serombongan prajurit.


"Pembunuh, berhenti di sana! Berhenti !"


Orang yang diteriaki sebagai pembunuh itu lari dengan cepat, dari depannya tampak pula serombongan warga biasa yang menghalangi jalan. Warga biasa itu adalah para prajurit yang ditugaskan untuk menjaga pangeran Chen Xu dan putri ChinSuo.


Merasa tidak ada jalan lain, lelaki paruh baya itu memutuskan menggunakan sandera. Celakanya yang berada didekatnya adalah ChinSuo. Gadis itu belum sempat memahami situasi saat tiba-tiba tangannya ditarik dan sebilah belati ditodongkan dilehernya.


Kepanikan prajurit yang mengenali sandera sama halnya dengan kepanikan Chen Xu.


"Meimei jangan bergerak. Tenang, Gege akan menyelamatkan mu."


ChinSuo tidak berani bersuara. Lelaki yang dianggap sebagai pembunuh itu mulai berpikir bahwa keputusannya menggunakan ChinSuo sebagai sandera adalah tepat.


"Kalian jangan ada yang mengikutiku atau gadis ini akan mati!" ucapnya seraya menodongkan tangan yang memegang belati kearah Chen Xu. Tiba-tiba seolah datang dari langit, seutas cambuk melecut tangan laki-laki itu, memaksanya menjatuhkan belati. Belum sempat dia mengambil tindakan, seorang pria berbaju putih menendang punggungnya. Laki-laki itu terjatuh dengan keras dan langsung di ringkus para prajurit. ChinSuo yang terdorong hampir jatuh, menutup mata karena yakin sekejap kemudian dia akan membentur tanah didepannya.


Merasa tubuhnya melayang, ChinSuo membuka mata hanya untuk melihat sosok pria yang membuatnya terpana. Wajah itu, wajah penolongnya. Begitu tampan dengan senyum memikat. Garis wajah yang halus dan pelukan yang hangat, tangan yang kokoh menjaganya agar tidak jatuh. Ketika telah menginjak tanah, ChinSuo masih terpaku pada wajah pemuda di depannya.


"ChinSuo, kau tidak apa-apa? Ada yang terluka tidak?" Chen Xu menghampiri adiknya dengan khawatir.


"Aku baik-baik saja Gege."


"Bagus. Tuan muda terimakasih telah menyelamatkan adikku." Chen Xu menghormat pada penolong adiknya.


"Anda tidak perlu sungkan. Itu sudah tugas saya, membantu yang sedang kesusahan. Saya masih ada urusan, permisi."


"Tunggu! Aku belum mengucapkan terimakasih dan membalas budi,"ucap ChinSuo.


"Nona tidak perlu membalas apapun. Sebaiknya nona dan Tuan muda berhati-hati. Permisi."


"Tapi, siapa nama anda?"ChinSuo masih kukuh mengejar.


"Li Hao Chen!"teriak pria itu.


.


.


.


.


Kaisar masih setia duduk di samping ranjang tempat Permaisuri tertidur. Raut wajah lelah membayangi wajah tampannya. Tangannya menggenggam erat tangan Meihua. Berharap bisa menyalurkan kekuatan pada sang pemilik hati.


Saat hari beranjak sore, tangan Meihua bergerak lemah. Kelopak matanya berkedip perlahan. Hal itu tak luput dari perhatian Kaisar. Digenggamnya tangan Meihua lebih erat.


"Permaisuri, kau sudah sadar?"


Tak ada jawaban. Meihua bahkan belum sepenuhnya sadar saat sebuah kecupan mendarat di keningnya dengan hangat.


"Terimakasih dewa. Terimakasih Tian. Akhirnya kau sadar Permaisuri. Hati-hati, jangan banyak bergerak! Biar Zhen bantu kau meminum obatnya."


"Yang Mulia?" Suara Meihua bahkan sangat lirih, tenaganya seolah menghilang.


"Benar. Ini Zhen. Permaisuri adakah yang masih sakit? Pelayan! Cepat panggil tabib Han kemari!"


"Yang Mulia, pergilah! Aku masih ingin tidur sebentar lagi!"


"Kau masih ingin tidur? Tapi...."


"Yang Mulia, pergilah, kumohon!"


Tanpa menunggu jawaban Tian Yi, Meihua berbalik membelakanginya. Dia pura-pura memejamkan matanya, berharap dengan begitu Tian Yi segera pergi. Saat ini dirinya belum siap untuk melihat wajah Kaisar, wajah suaminya. Dalam hatinya terpatri dengan jelas, ekspresi Kaisar saat memasukkannya ke penjara. Dingin, kejam dan tanpa perasaan. Dinginnya tembok penjara dan gelapnya tempat itu masih lekat di ingatannya.


Kaisar menghela nafas panjang. Wajah yang semula bahagia itu kembali murung. Penolakan Meihua terasa menyakitkan baginya, dan alasannya mungkin karena dirinya. Mencoba mengerti keinginan Permaisuri, Kaisar Tian Yi akhirnya beranjak dengan tak rela.