My Empress From The Future

My Empress From The Future
Permata Yang Berharga



Pangeran Chen Xu kembali menghadap Kaisar Tian Yi. Tujuannya hanya satu, memastikan status adiknya, Putri ChinSuo. Sebab utusan Wen sudah berada di kerajaan Wu hampir satu bulan lamanya. Karena banyaknya masalah dan kejadian yang melibatkan hidup dan mati, kepastian tentang Putri ChinSuo tidak segera ditangani oleh Kaisar.


"Chen Xu memberi salam pada Kaisar."


"Tidak perlu sungkan, Pangeran. Ada hal penting apa yang mau kau sampaikan pada Zhen?"


"Sebelumnya, hamba mohon maaf jika pernyataan ini akan sangat lancang. Yang Mulia Kaisar, mohon Anda segera memutuskan status adik hamba. Kami sudah berada di kerajaan Wu hampir satu bulan, sedangkan kepastian kerjasama dengan Wen belum juga Anda selesaikan."


"Zhen bisa mengerti kekhawatiran mu, Pangeran. Hanya saja kau mengetahui dengan jelas, beberapa waktu terakhir ini ada banyak kejadian yang menyita perhatian ku. Jadi bagaimana kalau tinggal di Wu lebih lama? Anggaplah sebagai pekerjaan yang menyenangkan."


"Terimakasih atas tawaran Anda Yang Mulia. Tapi Ayahanda ku juga telah menulis surat, agar hamba segera kembali ke Wen. Ada banyak pekerjaan yang harus hamba tangani."


Kaisar Tian Yi mengangguk pelan, memikirkan kali ini bagaimana dia akan berkelit dari Putri ChinSuo?


"Begini saja Pangeran, tunggu hingga perjamuan di istana selesai diadakan, Zhen akan segera memutuskan status untuk Putri ChinSuo, bagaimana?"


"Kalau begitu, hamba akan menurut dengan pengaturan Anda, Yang Mulia. Hamba permisi."


"Pangeran, hati-hati!"


.


.


.


.


Istana Zhuanshi.


"Li Mei sudah lakukan yang kuperintahkan?"


"Sudah Yang Mulia. Tapi apakah tidak terlalu beresiko untuk kesehatan Anda?" Li Mei menunjukkan wajah ragu. "Tidakkah Anda kembali mengalah saja? Hamba khawatir jika berdampak pada kesehatan Anda."


"Tenang saja. Aku tahu apa yang kulakukan untuk membalas Hongmei. Kita tahu mengalah bukan berarti kita kalah. Kita diam bukan berarti kita tak mampu. Kita perlu tenang dalam setiap mengatur rencana,kan?"


"Anda benar. Tapi Yang Mulia, berjanjilah Anda akan baik-baik saja."


"Baik. Aku berjanji,"Meihua tersenyum penuh kepercayaan.


.


.


.


.


Yue'er melihat nonanya sedang melamun. Semenjak pertemuannya dengan Hao Chen, yang dilakukan ChinSuo hanya melamun dan melamun saja.


"Nona sedang apa?" Yue'er masuk membawa sebuah kotak berwarna merah.


"Ahh tidak ada. Aku tidak melakukan apa-apa. Apa itu?" ChinSuo bertanya heran untuk menutupi kegugupannya.


"Ini, gaun pemberian Permaisuri untuk pesta perjamuan besok malam nona. Seorang pelayan Istana Zhuanshi yang mengirimkannya kemari, untuk Anda."


"Permaisuri sungguh baik hati. Beliau sedang sakit, tapi masih memikirkan ku."


"Ya. Kalau dipikir-pikir, Permaisuri Meihua ini menyedihkan sekali. Kehilangan bayinya bahkan sebelum beliau bisa menimangnya. Dan sekarang Selir Hong yang hamil, mengatakan jika dia mengandung seorang penerus takhta."


"Yue jangan sembarang bicara! Belum pasti apakah seorang pangeran atau Putri."


"Tabib sudah bilang bahwa yang dikandungnya adalah seorang Pangeran."


"Ya, tabib bisa berkata seperti itu, tapi Tian selalu punya kehendak sendiri. Lagipula siapakah diantara kita yang bisa menebak dengan benar jenis kelamin bayi itu?"


Yue'er diam, tidak berani membantah nonanya lagi. Setelahnya hanya keheningan yang mengisi tempat itu.


Kenapa Tian mempertemukanku dengan Chen Gege setelah aku hampir menjadi Selir kaisar? Kenapa sebelumnya aku tidak bertemu Chen Gege lebih dahulu, ChinSuo membatin merana.


.


.


.


"Meimei, kenapa melamun?" Tiba-tiba Chen Xu bertanya setelah duduk di depan ChinSuo.


"Gege kapan datang? Aku tidak melamun."


"Kalau kau tidak melamun, lalu memikirkan siapa? Kau juga tidak melihat ku datang."


"Gege masih ingat dengan Hao Chen? Hari ini secara tidak sengaja, aku diselamatkan olehnya lagi di pasar ibukota. Setelahnya kami berbincang-bincang, ternyata pribadinya menyenangkan sekali. Senyumnya juga sangat manis," pipi ChinSuo memerah.


"Dan kau jatuh cinta padanya?"


Chen Xu sepertinya menebak tepat sasaran.


"Gege, walaupun aku jatuh cinta padanya, tapi sepertinya itu tidak mungkin. Tidak lama lagi bukankah aku akan menjadi Selir Kaisar Tian Yi?" Raut wajah ChinSuo berubah murung.


"Meimei kau benar. Jika Kaisar tahu kau mencintai orang lain, takutnya perjanjian kerjasama ini akan batal."


"Tentu tidak akan batal begitu saja," sahut Kaisar Tian Yi mengagetkan keduanya.


"Hormat pada Kaisar," Chen Xu membungkuk, disampingnya ChinSuo ikut memberi hormat.


"Hormat pada Baginda Kaisar."


"Yang Mulia, sejak kapan Anda berdiri didepan pintu?" Tanya Chen Xu. Semoga Baginda tidak mendengar dari awal, batinnya.


"Sejak kalimat senyumnya juga sangat manis." jawab Kaisar tenang.


Chen Xu membungkuk dalam-dalam,"Mohon ampun Baginda, ampuni ChinSuo karena telah menghina paduka dengan menyukai orang lain."


"Yang Mulia, ampuni kami. Hamba berjanji akan menjadi Selir anda. Tidak akan ada laki-laki lain dalam hati hamba. Asalkan jangan sampai mempengaruhi kerjasama kedua kerajaan," ChinSuo mulai berkowtow.


"Apa yang kalian lakukan? Bangunlah kita diskusikan dengan tenang. Akhir-akhir ini kepala Zhen sangat pusing," ucap Kaisar.


Setelah saling bertukar pandang bingung, keduanya mengucap,"Terimakasih Kaisar."


ChinSuo yang malu, merasa tak enak untuk menjawab.


"Tak apa, Zhen tahu Hao Chen memang seorang pria yang sebaik namanya. Dia putra tertua dari Jenderal besar negara Wu, Jenderal Li Huo. Li Huo adalah seorang jenderal yang setia pada masa pemerintahan ayahandaku. Sekarang, beliau sudah meninggal di usia tua karena sakit." Kaisar menghela nafas. "Li Hao Chen sekarang masih seorang asisten jenderal, dibawah pengawasan Jenderal Li Hao, pamannya sendiri, ayah dari Permaisuri."


"Maafkan hamba Yang Mulia."


"Tak perlu meminta maaf, kalau Putri ChinSuo benar-benar mencintai Hao Chen, Zhen merasa tenang dan senang. Ini bukan berarti Zhen menolak kerjasama, hanya saja, sungguh dalam hati Zhen hanya ada Permaisuri Meihua seorang. Berapa kali kau bertemu dengan Hao Chen?"


"Terimakasih atas kemurahan hati paduka Kaisar. Sepertinya kami telah bertemu sebanyak tiga kali, itupun secara tidak sengaja."


"Kau boleh tinggal disini untuk lebih dekat dengan Hao Chen, dan Pangeran Chen Xu setelah pesta perjamuan besok malam, kita akan mulai membahas hal-hal dalam kerjasama kita, bagaimana?"


"Baik Kaisar. Hamba setuju," Chen Xu tersenyum.


"Terimakasih Kaisar," ChinSuo merasa beban dalam hatinya menghilang. Kini senyumnya semakin merekah, di bibirnya yang indah.


.


.


.


.


Persiapan pesta perjamuan telah selesai seluruhnya. Malam ini pesta itu akan diselenggarakan di Aula Istana. Sejak pagi Kasim Kang telah berkeliling untuk mengawasi pekerjaan para pelayan. Tidak boleh ada satupun kesalahan sedikitpun dalam pesta ini nantinya.


Ketika hari beranjak sore, kereta kuda bergiliran untuk masuk ke istana. Para bangsawan dan pejabat yang di undang semuanya menaiki kereta kuda masing-masing. Sampai di gerbang utama, mereka harus berjalan kaki menaiki undakan hingga ke Aula Istana.


Terkadang para pejabat yang saling mengenal akan bertukar sapaan, bahkan mengenalkan putra atau putri mereka. Setiap keluarga yang di undang akan membawa salah satu putra atau putri kesayangan mereka untuk pergi ke istana. Tidak setiap orang memiliki kesempatan memasuki istana. Bahkan jika mereka hanya sampai di Aula Istana, mereka akan dengan sombongnya memamerkan hal itu pada keluarga mereka yang lain.


.


.


.


.


Sejak sore musik telah mulai dimainkan oleh para pemain musik istana. Tarian demi tarian dipentaskan di panggung pertunjukan. Hal itu untuk mengisi waktu para tamu sembari menunggu kedatangan Kaisar dan Permaisuri.


Akhirnya, setelah para tamu telah memenuhi meja dan kursi, kedatangan Kaisar dan Permaisuri diumumkan dengan lantang. Setelah memberikan penghormatan pada Kaisar dan Permaisuri, seluruh tamu undangan kembali duduk di kursinya masing-masing.


Kaisar didampingi oleh Permaisuri duduk di singgasana tertinggi, sedangkan Selir Hong dan Selir Ming duduk di arah yang berlawanan, satu tingkat di bawah tempat duduk Kaisar.


Pangeran Chen Xu hadir bersama Putri ChinSuo yang terlihat antusias, duduk di barisan kiri, bersama utusan Wen yang lain.


Setelah duduk di kursinya, ChinSuo mulai mengedarkan pandangan ke seluruh aula. Tidak lama kemudian netranya menangkap sosok yang akhir-akhir ini selalu muncul dalam pikirannya. Tanpa ia sadari, tangannya melambai ke arah sosok itu.


Beberapa pasang mata menyadari lambaian tangan tersebut, begitu juga Permaisuri yang merasa tergelitik untuk sekedar berbasa-basi.


"Putri ChinSuo malam ini terlihat begitu anggun dan cantik," ucap Meihua menyapa ChinSuo.


" Terimakasih atas pujian Permaisuri. Juga terimakasih atas gaun yang Anda berikan. Lihat, sangat cantik dan aku menyukainya. Ukurannya juga pas dengan tubuhku." ChinSuo berdiri dan mulai memutarkan tubuh, memamerkan gaun pemberian Permaisuri, bahkan di depan banyak orang. Disampingnya Chen Xu menarik ujung lengan gaunnya pelan.


"Baguslah kalau Putri ChinSuo suka dengan gaunnya. Maafkan aku karena belum sempat mengajakmu jalan-jalan berkeliling istana," Meihua tersenyum.


"Aiyaa, Permaisuri tidak perlu meminta maaf. Justru akan sangat merepotkan Permaisuri kalau aku memaksa jalan-jalan."


"Meimei duduklah! Kau akan berdiri terus hingga pertunjukan Opera ini di mulai?" Chen Xu mulai merasa gerah dengan kelakuan sang adik. Untungnya ChinSuo segera menuruti perintah kakaknya. Kaisar dan Permaisuri yang melihatnya hanya tersenyum kecil.


"Aiyaa Gege, kau mempermalukan adikmu sendiri di depan Kaisar dan Permaisuri."


ChinSuo cemberut, sementara Chen Xu hanya menggelengkan kepala.


"Hormat pada Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri, hormat kepada Pangeran Chen Xu dan Putri ChinSuo." Jenderal Li dan Hao Chen membungkuk bersamaan.


"Bangunlah kalian berdua! Duduklah."


"Terimakasih Baginda Kaisar."


Pembagian tempat duduk berbeda antara pria dan wanita. Hanya Kaisar dan Permaisuri serta Pangeran Chen Xu dan putri ChinSuo yang duduk berdampingan.


Hal itu sedikit membuat ChinSuo tidak puas.


"Kakak, kenapa aku tidak boleh duduk dengan Chen Gege?"protesnya pada Chen Xu.


"Meimei kau ini agresif sekali. Diam dan nikmati saja pertunjukan ini. Di negara Wu, pria dan wanita yang bukan saudara dan belum menikah, tidak bisa berdekatan terlalu intim. Etika sopan santun sangat di junjung tinggi di negara ini. Berbeda dengan Wen, disana prinsip kesetaraan gender lebih dimaklumi," bisik Chen Xu. Sedangkan adiknya itu hanya manggut-manggut.


.


.


.


.


Akhirnya, pertunjukan Opera di mulai. Para pemain yang telah memakai kostum dan riasan mulai menampilkan kebolehannya. Pertunjukan kali ini mengangkat cerita legendaris kerajaan Wu. Pangeran Chen Xu dan ChinSuo yang baru menyaksikan pertama kali tampak antusias. Bahkan terkadang ChinSuo bertepuk tangan, mengundang pandangan heran dari sebagian tamu undangan.


Lakon yang dimainkan para pemain Opera terus berganti-ganti. Para pelayan perempuan yang cantik dengan tubuh indah berkeliling ruangan, membawa berbagai kudapan. Arak dan teh dituang bergantian.


Gelak tawa terdengar bersahutan. Kebahagiaan menyelimuti seluruh ruangan. Meihua menyaksikan dengan mata berbinar senang, namun pikirannya tertuju pada hal lain.


Ketika lakon terakhir telah dimainkan, suasana bahagia yang terasa terpecahkan oleh Kaisar yang tiba-tiba berdiri. Semua ikut berdiri, untuk menghormati Kaisar.


"Hadirin sekalian. Tentu kalian telah mendengar berita bahwa Permaisuri menyelamatkan nyawa Zhen dengan dirinya sendiri. Perjamuan kali ini adalah niat Zhen untuk membalas hal itu pada Permaisuri. Atas jasa menyelamatkan Zhen tanpa memikirkan nyawanya sendiri, Zhen menganugerahkan gelar Bao-yu untuk Permaisuri."


Para tamu undangan lalu serentak memberikan ucapan selamat pada Permaisuri. Meihua sendiri merasa terkejut dengan keputusan Kaisar. Sebab selama ini dirinya sama sekali tidak mengetahui rencana penganugerahan gelar itu. Ketika Kaisar mengajaknya bersulang secawan arak, Meihua menanggapinya dengan penuh terimakasih.


"Terimakasih atas gelar yang diberikan oleh Kaisar. Hamba berjanji akan menjadi Permaisuri yang baik untuk kerajaan ini, menjadi Permaisuri yang bisa diandalkan seluruh rakyat. Yang Mulia, bersulang."


"Bersulang semuanya!"


Semua orang mengangkat cawan araknya masing-masing. Setelah mengucapkan kata bersulang, setiap orang meminum araknya sampai habis. Saat semuanya kembali duduk, denting cawan yang membentur lantai dan pecah mengejutkan setiap orang. Diikuti dengan tubuh yang terjatuh dengan suara keras. Permaisuri Meihua pingsan di tempatnya duduk, disamping Kaisar.


Sekejap kemudian, teriakan demi teriakan terdengar silih berganti. Teriakan Kaisar Tian Yi lah yang paling keras, setelah memanggil nama Permaisuri tanpa ada jawaban. Kaisar Tian Yi memerintahkan tabib istana untuk mengikutinya ke Istana Zhuanshi.