
Kali ini perang dingin antara Kaisar dan Permaisuri berlangsung sedikit lama. Sebab Ibu Suri tidak berada di istana untuk menjadi penengah di antara keduanya, seperti yang sudah-sudah. Masing-masing berpikiran apa yang mereka lakukan telah benar. Sama sekali tidak ada niat untuk menjelaskan hal yang sudah terjadi.
Yang diuntungkan tentu saja adalah selir Hong. Beberapa kali Kaisar datang ke Istana Giok, membuat senyuman tidak pernah lepas dari bibirnya. Tentu saja Kaisar pernah mengunjungi Istana Mutiara, tempat tinggal selir Ming. Namun Kaisar bahkan tidak bersedia bermalam disana.
Bukan tanpa alasan Kaisar tidak bersedia menghabiskan waktu di tempat Selir Ming. Hanya saja kesehatan Selir Ming sedang tidak baik. Jingmi bahkan merasa aneh, sejak masuk ke istana, nonanya tidak pernah merasa sehat. Semua makanan yang dimakan oleh selir Ming adalah buatannya dan dia selalu memperhatikan kebersihannya. Sayangnya tabib istana juga tidak menemukan penyakit serius dalam diri Selir Ming.
Hari ini Mingfen berencana untuk sedikit berjemur di taman Istana Mutiara. Ditemani Jingmi dan beberapa pelayan lain, Mingfen duduk dengan sikap anggun khas putri bangsawan.
"Aiyoo siapa yang sedang duduk santai di sini? Adik Ming tidakkah kau seharusnya memikirkan bagaimana caranya menaklukkan Kaisar? Bukannya bermalas-malasan disini."
Kalimat dingin dan penuh sindiran itu dilontarkan oleh Selir Hong. Mingfen hanya menanggapinya dengan tersenyum kecil.
"Aiyaa lihat juga siapa yang sedang berdiri menyindir orang lain? Kakak kalau kau tidak lekas pergi, Kaisar akan kembali jatuh ke pelukan Permaisuri! Ohh, benar sekali. Kakak mendapatkan perhatian dari Kaisar hanya karena Kaisar dan Permaisuri sedang tidak akur."
"Kau!!! Apa yang kau katakan?! Apa hak mu mengurusi hidup ku?
"Aiyaa kakak, jangan marahi adik! Aku hanya berbicara sesuai fakta, lagipula status ku di istana ini setara dengan mu!! Jangan lupa itu, kakak!!" Kalimat terakhir Mingfen sungguh membuat Hongmei terbakar amarah. Dengan wajah yang bersungut-sungut karena marah, Hongmei meninggalkan tempat itu diiringi oleh para pelayan.
"Nona, kenapa hari ini Anda punya keberanian untuk melawan perkataan Selir Hong?"tanya Jingmi penasaran.
"Jingmi. Lain waktu kau harus berhati-hati dengan Selir Hong dan juga Fen'er. Ingatlah sikap bersahabat mereka hanyalah palsu!"
"Baik, nona."
.
.
.
"Cihh. Gadis lemah seperti Mingfen bahkan berani menantang ku? Dia tidak pernah mendapat perhatian Kaisar, tapi dia berani menjawab kata-kata ku dengan keras?"
Melihat tuannya begitu marah, Fen'er mendekat dengan wajah tersenyum licik.
"Yang Mulia. Selalu ada balasan bagi setiap orang yang meremehkan Anda."
"Kau benar Fen'er. Kemari dan lakukan tugasmu!"
Fen'er mendekat saat Hongmei membisikkan beberapa kalimat di telinganya. Ketika bisikan itu selesai, sebuah seringai menghiasi wajah keduanya.
.
.
.
Meihua tengah berkutat dengan adonan tepung saat Li Mei membisikkan beberapa kalimat padanya. Tepung yang sedang di uleni olehnya terlupakan begitu saja saat Li Mei selesai berbisik.
"Ada kejadian seperti itu?"
"Benar Permaisuri. Selir Ming membalikkan kata-kata selir Hong dengan tepat sasaran. Sekarang seluruh istana Harem sedang bergosip tentang itu."
"Mingfen memang tidak bisa dianggap remeh. Walaupun terlihat lemah lembut, namun gadis itu punya batas kesabaran sendiri."
"Permaisuri, bukankah sekarang waktu yang tepat untuk bertindak?"
"Belum. Belum saatnya. Li Mei, selesaikan ulenan tepung ini! Bantu aku membuat pangsit untuk Yang Mulia!"
"Baik."
Maka dimulailah pertarungan keduanya di dapur. Ketika akhirnya pangsit telah matang, senyum puas terukir di bibir Meihua.
"Li Mei. Bantu aku berbenah diri dan kita menuju Istana Emas!"
"Baik Yang Mulia."
.
.
.
Meihua tampak semakin cantik dengan hiasan rambut bermotif bunga Peony. Hadiah dari Hao Chen itu tampak serasi menghiasi sanggul rambutnya. Dengan jubah kebesaran Permaisuri, Meihua berjalan anggun menuju Istana Emas. Kasim Kang yang berjaga di luar pintu, mengumumkan kedatangan Permaisuri dengan lantang.
"Meihua memberi salam pada Kaisar."
"Bangunlah Permaisuri!"
"Yang Mulia. Hamba sengaja membuat pangsit kukus dan bubur kacang merah untuk Anda."
"Terimakasih Permaisuri. Letakkan saja!"
Meihua mengangguk, pandangan matanya menatap Tian Yi dengan lembut. Kaisar yang merasa di tatap dengan intens oleh Meihua menghentikan gerakan kuasnya.
"Permaisuri. Adalah hal lain yang ingin kau sampaikan?"
Meihua memutuskan untuk menaruh baki makanan yang dibawanya di atas meja Kaisar. Tepat di atas laporan-laporan penting kerajaan. Kaisar yang melihat hal itu menatap dingin Meihua, namun Meihua pura-pura tidak peduli.
"Yang Mulia. Memang ada hal penting yang ingin hamba sampaikan pada Anda."
"Zhen juga punya hal penting yang harus di bicarakan."
"Kalau begitu, Anda mulailah dulu Yang Mulia!"
"Kau dulu Permaisuri!"
"Anda."
"Kau!!!"
Keduanya tidak ada yang ingin mengalah. Akhirnya Meihua menarik nafas panjang, berencana mengatakannya dalam satu tarikan nafas.
"Maafkan aku."
"Maafkan aku."
Siapa menyangka, keduanya berbicara bersamaan, satu kalimat yang sama pula. Raut wajah Kaisar sulit ditebak, sedangkan Meihua mengedipkan matanya dengan cepat. Tanpa bisa menahan diri, Tian Yi merengkuh Meihua dalam satu pelukan hangat.
"Maafkan aku, Yang Mulia. Mungkin kata-kata ku soal selir kemarin melukai hati Anda. Tapi sebenarnya aku...."
"Sssttt. Hua'er, seharusnya Zhen yang meminta maaf padamu. Zhen telah melukai hatimu, Zhen merasa menghabiskan waktu dengan Selir Hong adalah sebuah kesalahan."
"Yang Mulia. Anda adalah seorang Kaisar. Kaisar haruslah berlaku adil, itu benar. Dan Permaisuri haruslah bersifat lapang dada, semua itu demi kejayaan kerajaan Wu kita."
"Kau benar. Zhen tidak salah memilih mu sebagai Permaisuri."
Meihua tersenyum dalam pelukan Kaisar. Ketika tangan kokoh Kaisar merengkuh kepalanya dengan lembut, Meihua memutuskan untuk menutup mata. Membiarkan Kaisar menciumnya dengan penuh perasaan, merangkum cinta di antara keduanya.
.
.
.
Hari itu, kaisar Tian Yi menghabiskan waktu di ruang kerjanya. Meihua yang khawatir suaminya belum makan apapun memutuskan mendatangi ruang kerja Kaisar membawa senampan penuh masakan buatannya.
"Permaisuri datang," seruan kasim membuat Kaisar mendongak dari laporan yang dibacanya.
"Hormat pada Yang Mulia kaisar."
"Hormat pada Yang Mulia Kaisar," para dayang yang dibawa Meihua ikut memberi hormat.
"Bangunlah ! Ada hal apa Permaisuri datang kemari?"
"Yang Mulia, hamba ingin makan malam bersama Anda. Apakah hamba menganggu?"
"Ooh, Permaisuri sungguh perhatian. Letakkan saja di meja, biarkan Zhen membaca laporan yang terakhir ini."
Meihua mengangguk dan mulai memerintahkan dayang mengatur meja serta hidangan itu. Setelah semua selesai, Kaisar Tian Yi menutup laporan yang dibacanya dan mulai duduk untuk menikmati makanan yang dibawa Permaisuri.
"Aromanya membuatku lapar. Kenapa banyak sekali yang kau bawa Permaisuri?"
"Hamba tidak bisa menahan diri untuk memasak semua ini Yang Mulia."
"Masakan ini kau yang memasaknya sendiri?"
"Benar, kalau tidak berkenan di hati Yang Mulia, mohon maafkan Hua'er."
"Tidak. Masakanmu pasti lezat. Mari makan!"
Seperti yang sudah-sudah, Meihua dengan telaten melayani suaminya. Mangkuk nasi, lauk, sayur dan teh dia sediakan.
"Rasanya begitu enak, Permaisuri sungguh berbakat."
Dipuji seperti itu Meihua merasa pipinya memanas. Tak berapa lama kemudian, hidangan itu habis tak bersisa. Kaisar sendiri heran, baru kali pertama ini dia makan dengan begitu lahap. Setelah para dayang membereskan meja, Kaisar mulai beranjak dan duduk kembali di kursinya. Meihua mengekori langkah Kaisar, berdiri di belakangnya dan mulai memberikan pijatan di bahu suaminya.
"Kau lihat Permaisuri, laporan-laporan ini semuanya bernada keluh kesah dari para pejabat. Zhen bahkan tidak bisa tidur jika belum memikirkan solusinya."
"Yang Mulia, tugas seorang Kaisar memang berat, tapi Kaisar yang memikirkan rakyatnya dengan sungguh-sungguh seperti Baginda, akan mendapatkan tempat tersendiri di hati rakyat. Mereka akan mencintai paduka, menghormati dan mendukung semua keputusan paduka."
"Kau benar, tidak salah Zhen memilih mu sebagai ibu negara. Lihat ini, laporan dari desa Lun. Dilaporkan ada banyak hewan liar dan buas menyerang desa. Ternak mati, tanaman pun terinjak-injak oleh hewan-hewan itu. Bahkan jatuh korban manusia. Mereka terancam kelaparan. Menurut Permaisuri apa yang harus dilakukan?"
"Yang Mulia, tentu ada alasan kenapa hewan liar menyerang desa. Paduka harus mengirim sekelompok prajurit, cari tahu penyebab hewan itu menyerang desa. Jangan lupa membawa bantuan makanan. Kelaparan bisa menyebabkan berbagai keributan yang tidak perlu. Gunakan para prajurit yang telah lama menganggur karena tidak ada perang, bawakan bantuan makanan dibawah pengawasan seorang pejabat yang setia dan jujur. Sertakan seorang anggota pasukan khusus, suruh anggota pasukan khusus itu mengawasi dari jauh tanpa pejabat itu tahu. Setelah selesai mintalah laporan dari mereka, cocokkan. Apakah sama ataukah ada yang berbeda. Dengan begitu Yang Mulia bisa sekaligus tahu, kesetiaan pejabat paduka."
Kaisar Tian Yi nampak menimbang usulan Meihua. Tidak berapa lama kemudian senyumnya mengembang.
"Hamba masih berpikiran rendah paduka. Tapi jika itu perintah, maka hamba akan mematuhinya."
"Baiklah. Sudah hampir larut. Kita kembali ke istana Zhuanshi!"
"Baik Yang Mulia."
Perjalanan kembali ke istana Zhuanshi, hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar. Kaisar menggandeng tangan Meihua dengan lembut, diiringi kasim dan pelayan, keduanya sampai di istana Zhuanshi.
Di peraduan, kaisar Tian Yi memeluk Meihua dengan erat. Mengingat kesalahan yang dilakukannya saat berada di istana Giok, rahangnya mengeras dan pelukannya mengetat.
"Yang Mulia, ada apakah?" Meihua memberanikan diri bertanya, saat dirasanya pelukan itu membuat tubuhnya sakit.
"Tidak ada apapun Permaisuri, Zhen hanya takut kau pergi dari sisi Zhen."
"Hamba tidak akan meninggalkan paduka, selamanya hamba akan disisi paduka, biarlah maut yang memisahkan kita."
"Maut tidak akan berani mengambil mu dariku Meihua, karena Zhen adalah putra langit,"kaisar tersenyum. "Kau tahu Permaisuri, satu minggu lagi ada utusan datang dari kerajaan Wen. Kau ikutlah dengan Zhen menyambut mereka. Ajak kedua Selir untuk menemanimu."
"Ada urusan apakah mereka berkunjung Yang Mulia?"
"Mereka mengagumi kebesaran kerajaan Wu, dan mereka mengajak kita melakukan kerja sama."
"Tian sangat memberkati kerajaan Wu kita. Selamat Yang Mulia."
Keduanya berpelukan erat, memejamkan mata dan mulai mengarungi dunia mimpi.
.
.
.
.
Istana Mutiara.
Jingmi menatap nonanya dengan penuh kekhawatiran. Air mata terkumpul di sudut matanya, siap jatuh kapan saja. Di ranjangnya, Mingfen sedang terbatuk-batuk dengan hebat. Wajahnya pias, keringat membasahi keningnya. Di tangan kanannya, sapu tangan sutra berwarna putih tergenggam erat. Ada noda darah disana. Hal itu pula lah yang membuat Jingmi semakin khawatir.
Jingmi telah memanggil tabib istana, juga menyuruh seseorang untuk memberi tahukan hal ini pada Permaisuri. Namun dari waktu ke waktu, kondisi Mingfen semakin terlihat mengkhawatirkan.
"Nona. Tahanlah sebentar lagi, tabib akan segera datang."
Mingfen mengangkat salah satu tangannya, mencoba menjelaskan pada Jingmi bahwa ia baik-baik saja. Sapu tangan sutra yang digenggamnya, hampir berubah warna menjadi merah karena darah.
Ketika tabib datang dengan tergopoh-gopoh, saat itu pula Mingfen jatuh pingsan.
.
.
.
Meihua sedang membaca buku, saat dayang dari istana Mutiara meminta izin menghadap. Dayang perempuan itu menangis sesenggukan. Meihua bahkan harus mendekat untuk memahami apa yang disampaikannya. Ketika informasi tentang Mingfen telah diterimanya, Meihua langsung memerintahkan semua orang untuk bersiap. Tentu saja, Kaisar juga harus di beri tahu.
"Permaisuri tiba."
Yang menyambut kedatangan Meihua di istana Mutiara adalah Jingmi yang terus menangis dan tabib yang sedang memeriksa kondisi Mingfen dengan gugup.
"Salam Yang Mulia Permaisuri."
Ketika semua orang menyadari kedatangannya, Meihua buru-buru memberikan perintah agar semuanya berdiri.
"Tabib bagaimana kondisi Selir Ming?"
"Menjawab Yang Mulia Permaisuri. Kondisi Ming Guifei semakin memburuk. Racun yang ada di tubuhnya telah menyerang paru-paru. Itu mengakibatkan batuk darah yang diderita oleh Ming Guifei sangat parah."
"Racun? Selir Ming diracun seseorang?"
"Benar. Racun ini bereaksi dengan cepat. Segera setelah termakan oleh seseorang."
"Jingmi! Apa saja yang dimakan oleh Mingfen akhir-akhir ini?"
"Selir Ming selalu memakan masakan buatan hamba. Hamba sudah mengikuti Selir Ming sejak masih kecil, hamba tidak akan berani meracuni beliau."
"Apakah ada kiriman makanan dari istana lain?"
"Permaisuri, bukankah pelayan Anda yang mengirimkan kue bunga persik kemari? Selir Ming memakannya dengan bahagia, segera setelah itu beliau terbatuk-batuk dengan parah."
"Apaaa??? Pelayan istana Zhuanshi? Jingmi bicara dengan benar!"
"Ampun Permaisuri. Hamba bicara yang sebenarnya. Hamba tidak berbohong, pelayan yang mengirimkan kue itu mempunyai tanda pengenal istana Zhuanshi."
Meihua memijat pelipisnya pelan, rasa pusing tiba-tiba menyerangnya. Siapa yang mencelakai selir Ming dengan meminjam nama istana Zhuanshi? Belum sempat memikirkan semua ini, seruan Kasim membuatnya menoleh ke arah pintu.
"Kaisar dan Selir Hong tiba."
Seruan Kasim Kang membuat seluruh isi istana Mutiara menghormat takzim. Setelah mendapatkan izin Kaisar barulah mereka mengangkat kepala. Kaisar berjalan dengan agung memasuki istana Mutiara dan Selir Hong berpegangan tangan padanya. Melihat hal itu, rasa pusing Meihua semakin menjadi.
"Permaisuri apa yang terjadi?" Pertanyaan Kaisar terdengar tegas, para pelayan menahan nafas.
"Menjawab Yang Mulia. Selir Ming terkena racun, sekarang racun itu telah menyerang paru-parunya."
"Dari mana asal racun itu?"
"Jingmi berkata, setelah Selir Ming memakan kue bunga persik."
"Darimana asal kue itu? Segera selidiki!"
"Yang Mulia. Kue bunga persik itu diantar kemari oleh pelayan dari istana Zhuanshi." Jawaban Jingmi membuat Kaisar terkejut. Pandangannya menyapu wajah Permaisuri dengan segera.
"Aiyaa. Permaisuri, apakah selir Ming melakukan sesuatu yang salah padamu? Kenapa kau tega meracuninya?" Ucapan selir Hong terdengar sedih.
"Selir Hong jaga bicaramu! Aku tidak mungkin meracuni adik Mingfen!"
"Tapi Jingmi berkata, kue itu diantar kemari oleh pelayan istana Zhuanshi!"
"Tapi aku tidak pernah membuat kue itu! Lagipula itu bukan kue kesukaan ku!"
"Siapa yang tahu, Permaisuri? Dengan kedudukan Anda sekarang, melakukan hal itu akan mudah saja!"
"Jangan bica..."
"Cukup!!!!"
Kaisar membentak keras, seluruh pelayan semakin menunduk ketakutan. Sementara adu argumen antara Selir Hong dan Permaisuri terhenti karena bentakan Kaisar.
"Kasim Kang! Bawa serombongan prajurit dan geledah istana Zhuanshi! Cari bukti racun itu! Tabib Mo lakukan yang terbaik untuk menyembuhkan Selir Ming!"
"Baik."
"Yang Mulia. Anda tidak bisa melakukan ini! Hamba tidak mungkin meracuni adik Ming,"ucap Meihua mencoba membela diri.
"Permaisuri. Meracuni atau tidak akan diputuskan dengan adanya bukti!"
"Yang Mulia. Permaisuri tidak mungkin meracuni Selir Ming. Permaisuri tidak pernah membuat kue itu atau bahkan menyuruh para pelayan membuatnya." Li Mei juga mencoba membela Meihua.
"Lancang! Apa hak mu pelayan rendahan berani berbicara di hadapan Kaisar?!" Selir Hong membentak Li Mei dengan keras. Pandangan matanya terlihat marah. Akhirnya Istana Mutiara kembali hening, hanya isakan Jingmi yang sesekali terdengar.
.
.
.
Kasim Kang membawa serombongan prajurit menuju istana Zhuanshi. Menggeledah dengan cermat, berusaha tidak melewatkan satupun tempat. Ketika salah seorang prajurit berteriak telah menemukan sesuatu, Kasim Kang memutuskan segera menghadap Kaisar.
Kasim tua itu setengah berlari memasuki istana Mutiara. Di tangannya terdapat sebuah kertas kecil yang terlipat rapi. Setelah memberikannya pada Kaisar, Kasim Kang kembali ke tempatnya semula.
"Permaisuri bisakah kau jelaskan apa ini?"
Meihua terbelalak melihat kertas kecil itu. Kepalanya menggeleng perlahan. "Hamba tidak pernah melihatnya Yang Mulia."
"Tabib Mo periksa benda ini!"
"Baik Yang Mulia Kaisar."
Semua orang menunggu tabib Mo selesai memeriksa benda kecil itu dalam ketegangan. Saat tabib Mo bicara dengan ekspresi sedih, Meihua tahu nama baiknya telah tercemar.
"Yang Mulia Kaisar. Ini adalah bubuk racun yang mungkin di gunakan untuk meracuni Selir Ming."
"Permaisuri jelaskan!!"
"Yang Mulia. Hamba sungguh-sungguh tidak meracuni Selir Ming. Hamba tidak memiliki niatan itu."
"Sudahlah Permaisuri. Bukti sudah ditemukan. Apa lagi yang akan kau katakan?"ucap Selir Hong pedas.
"Prajurit! Bawa Permaisuri ke penjara langit! Masukkan dia kesana dan jangan biarkan siapapun menemuinya!"
"Yang Mulia. Anda menuduh orang yang tidak bersalah!"
"Yang Mulia. Ampuni Permaisuri. Jangan masukkan Permaisuri ke penjara. Yang Mulia Kaisar, kumohon ampuni Permaisuri." Li Mei mencoba membela Permaisuri, pelayan itu lalu berkowtow pada Kaisar. Sayangnya Kaisar seolah tidak mendengar pembelaan itu. Saat prajurit membawa Meihua dengan paksa, salah seorang dari mereka menyunggingkan senyum kemenangan.
nb: satu bab tambahan sebagai permintaan maaf karena kemarin tidak bisa up, karena author benar-benar sibuk. maafkan saya 😊