My Empress From The Future

My Empress From The Future
Keputusan Kaisar



Sorot mata tajam bagai elang mengawasi mangsanya itu, terus ditujukan untuk Meihua. Sedangkan si gadis yang merasa di tatap dengan tajam hanya bisa menunduk dan memainkan jari jemarinya. Kini Meihua bahkan berpikir bahwa wajah tampan itu hanyalah sampul belaka. Nyatanya si tampan yang ada dihadapannya seperti seorang iblis yang menakutinya.


"Siapa kau? Kenapa lancang masuk ke ruang pribadi Zhen?" Tegas Kaisar Tian Yi.


Tak ada jawaban keluar dari bibir Meihua. Dia masih bingung dengan keadaannya. Apalagi otaknya seolah macet untuk mencerna berbagai informasi baru. Meihua bahkan yakin sekali kepalanya terbentur batu karang saat jatuh di laut.


"Apa kau bisu? Kau bahkan tidak melakukan penghormatan untuk Kaisar dan sekarang kau tidak menjawab pertanyaan Zhen?" Nada suara Kaisar meninggi.


"Kaisar? Apa benar kau seorang kaisar?"


Justru kalimat itu yang meluncur dari bibir mungil Meihua.


"Lancang!! Kau pikir kau siapa ,seenaknya menjawab pertanyaan Zhen dengan pertanyaan baru?" Kaisar Tian Yi tampaknya kini benar-benar marah. Wajah tampannya memerah. "Berlutut!!!"


Terkejut. Meihua yang begitu takut kemudian mengambil sikap berlutut.


"Apa ini? Kenapa dia galak sekali. Penjaga neraka pun pasti kalah galak daripada dia," gumamnya.


"Bicara apa kau?" Sentak Kaisar Tian Yi.


"Yang Mulia, hamba tidak bicara apapun. Mohon ampuni hamba," kali ini Meihua menjawab dengan suara pelan dan sopan. Dalam hatinya ia bersyukur, hobi menonton drama bertema kerajaan membuatnya tahu hal apa yang harus dilakukan di depan Kaisar.


"Zhen tanya, siapa kau dan bagaimana kau bisa masuk ke kamar Zhen tanpa sepengetahuan penjaga di luar? Kau mata-mata kelompok pemberontak?! Katakan!"


"Yang mulia, nama hamba Bai Meihua. Hamba juga tidak tahu bagaimana bisa terbangun di kamar anda. Terakhir kali hamba ingat, hamba di kejar-kejar serombongan preman lalu hamba menceburkan diri ke laut. Hamba pikir sudah mati. Tapi saat terbangun ternyata hamba malah berakhir di sini."


"Laut? Jangan mengarang cerita! Laut begitu jauh dari negara Wu. Laut hanya berbatasan dengan kerajaan Ching, dan apa hubungan mu dengan istri jenderal Li? Jangan-jangan kau memang mata-mata pemberontak?!"


"Yang mulia, hamba tidak berbohong. memang benar hamba jatuh ke laut. Hamba bukan mata-mata. Mohon Kaisar menyelidikinya."


Kaisar Tian Yi terdiam. Akhir-akhir ini istana dalam keadaan damai. Bahkan tidak ada gerakan sekecil apapun yang dilakukan para pemberontak di luaran sana. Atau mungkin dirinya yang telah bersikap lengah.


"Kerajaan Ching? Bukankah negara itu sudah hilang ribuan tahun lalu," gumam Meihua dengan raut wajah bingung. Tentu saja dia tidak lupa dengan pelajaran sejarah. Bahkan dia selalu mendapat nilai bagus dikelasnya dulu.


"Apa maksudmu? Kerajaan Ching saat ini adalah salah satu dari 5 negara besar di bawah pemerintahan kaisar Shen Long." Ternyata gumaman yang menurutnya lirih itu masih terdengar oleh Kaisar. Tampaknya telinga Kaisar satu ini sangat peka. "Kau belum menjawab pertanyaan Zhen. Apa hubungan mu dengan istri Jenderal Li, Bai Lianhua?"


"Tapi hamba juga tidak lupa dengan pelajaran sejarah di kelas,"kukuh Meihua. "Hamba tidak merasa punya hubungan apapun.Sebenarnya tahun berapa ini??"


"Dasar bocah. Sekarang tahun ke 719 kekaisaran Wu," cibir kaisar Tian Yi.


"Hamba bukan bocah. Hamba sudah berusia 23 tahun,"sungut Meihua. Dirinya merasa tidak terima disebut bocah, hingga melupakan dengan siapa dia berhadapan.


"Hanya bocah yang tidak terima disebut bocah."


"Apa maksud anda?" Sekarang Meihua sudah menatap tajam wajah tampan didepannya.


"Kau!! Siapa yang mengijinkanmu berdiri? Berlutut!! Atau kau ingin kuhukum? Seharusnya sudah sejak tadi kau kuserahkan pada pengawal."


Bai Meihua hanya bisa menurut. Dia tidak tahu dunia di luar kamar itu dunia seperti apa. Jadi menurut adalah pilihan yang tepat. Lagipula Meihua sekarang mempertanyakan kematiannya. Bahkan dia sempat merasa telah mengikuti sebuah pembuatan drama.


Tian Yi menggeleng-gelengkan kepalanya. Hal yang tabu untuk dilakukan seorang Kaisar sepertinya. Tapi entah kenapa menghadapi seorang gadis kecil seperti Meihua membuat kepalanya pusing. Hal anehnya dia masih belum memanggil pengawal. Pada zaman itu memasuki ruang pribadi kaisar harus dengan izin kaisar. Tanpa izin sudah pasti melanggar peraturan, dianggap menerobos paksa dan akan dihukum dengan hukuman yang berat.


"Yang Mulia, maafkan hamba. Tapi mohon jangan masukkan hamba ke penjara. Satu hal yang hamba tahu, sepertinya hamba tersesat ribuan tahun dari masa depan," jelas Meihua. Dipandanginya wajah tampan yang mengaku sebagai Kaisar itu dengan berkaca-kaca. Berharap tingkah imutnya akan meluluhkan hati Kaisar.


Melihat hal itu, kaisar malah membuang muka.


"Kasim Kang, panggilkan Jenderal Li, suruh dia menghadap ke Istana Emas sekarang!"


"Perintah Yang Mulia akan hamba laksanakan,"jawab Kasim Kang dari luar pintu.


.


.


.


Bibir mungil yang merah merekah itu, entah kenapa terlihat begitu manis. Memandangnya menimbulkan suatu hasrat aneh dalam hati Kaisar Tian Yi. Rambut yang panjang terurai itu, terlihat seperti tirai sutra hitam yang halus dan lembut.


Alangkah nyamannya jika menyentuh rambut itu, memainkan jari jemariku di sana, batin sang kaisar. Gadis ini aneh, pakaian apa yang di kenakannya? Bagaimana bisa seorang gadis berpakaian terlalu terbuka seperti itu?


Kaisar menarik nafas panjang. Lalu lebih memilih mengalihkan pandangan ke rak buku di sisi lain ruangan. Sedangkan Meihua terus berlutut dengan berbagai macam pemikiran yang melintas di otaknya.


Pasti aku akan diserahkan kepada Jenderal itu untuk dihukum. Tamatlah riwayat ku sekarang, batinnya nelangsa. Mungkinkah aku akan di penggal seperti dalam drama-drama yang biasa kutonton?


"Jenderal Li memohon menghadap Yang Mulia Kaisar."


"Masuk!!"


"Li Hao menghadap Kaisar, semoga Kaisar panjang umur hingga ribuan tahun."


"Bangunlah!"


"Terimakasih Yang Mulia."


Jenderal Li beranjak bangun dan sempat melirik seorang gadis di samping Kaisarnya.


"Li Hao, Zhen memanggilmu kesini karena sebuah permasalahan baru. Kau lihat gadis itu? Dialah masalahnya!"


"Mohon ampun Yang Mulia Kaisar. Tapi hamba belum paham duduk persoalannya."


"Kau! Jelaskan semua pada Jenderal Li Hao!!"


Perintah Kaisar Tian Yi pada Meihua.


"Jenderal, nama hamba Bai Meihua. Hamba tersesat kesini dari ribuan tahun di masa depan. Hamba juga tidak tahu bagaimana bisa hamba tersesat seperti ini. Yang hamba ingat terakhir kali, hamba melompat ke laut untuk menghindari kejaran orang jahat," jelas Meihua.


" Ini.... Yang mulia. Hamba belum pernah mendengar kasus yang seperti ini. Hamba tidak tahu keputusan apa yang harus dibuat. Mohon Yang Mulia memberi petunjuk," jawab Jenderal Li. Wajah tuanya terlihat kebingungan.


Kaisar Tian Yi memberi kode agar Jenderal Li Hao mendekat lalu membisikkan beberapa kalimat di telinganya.


"Zhen merasa masalah ini tidak sesederhana kelihatannya. Mungkinkah gadis ini mata-mata dari kelompok pemberontak? Bagaimana kalau kutitipkan dia di kediamanmu, awasi dia untukku!"


Setelah acara bisik-bisik itu, kali ini Kaisar Tian Yi sengaja mengucapkan kata-katanya dengan keras.


"Jenderal, kau belum mempunyai anak, bukankah istrimu selalu sedih setiap kau tinggal berperang? Kenapa tidak kutitipkan bocah ini di kediamanmu? Marganya sama dengan marga keluarga istrimu. Dia bisa menemani istrimu. Tanyakan dulu apakah istrimu mau mengangkatnya sebagai anak? Katakan ini perintah Kaisar!!"


"Kenapa harus bertanya istriku kalau ini sudah merupakan perintah kaisar?"batin Jenderal Li.


"Yang Mulia telah berbaik hati. Hamba tentu tidak menolak. Biarlah hamba mewakili istri hamba menghaturkan terima kasih untuk Yang Mulia."


Jenderal Li berlutut dan mulai bersujud tiga kali.


"Apa-apaan kaisar ini. Seenaknya menyuruhku menjadi anak angkat orang lain," batin Meihua. Tapi masih lebih baik daripada aku harus kehilangan kepala ku.


"Nona Bai. Ahh bukan. Putriku, lekas berterima kasih kepada Kaisar karena kemurahan hati beliau," ucap Jenderal Li pada Meihua.


"Terimakasih Kaisar telah mengampuni hamba dan memberikan keluarga untuk hamba," hormat Meihua dengan takzim.


"Pergilah bersama Jenderal Li! Upacara pengangkatanmu sebagai Putri mereka akan diadakan beberapa hari kemudian. Zhen akan datang untuk menyaksikan," putus kaisar Tian Yi. "Pergilah!"


"Hamba mohon diri kaisar," kata Jenderal Li dan Meihua bersamaan. Kaisar Tian Yi hanya mengibaskan lengan jubahnya.


Mari kita lihat, kau mata-mata atau bukan? Sampai saat itu tiba, sebaiknya kau bersikap baik dan tidak macam-macam.