My Empress From The Future

My Empress From The Future
Kaisar ku Tampan Sekali



Upacara pengangkatan Bai Meihua sebagai anak angkat jenderal Li menggegerkan berbagai pihak. Selama ini marga Bai dikenal sebagai salah satu keluarga yang berperan penting di kerajaan Wu. Namun, nama Bai Meihua baru sekali ini didengar rakyat kerajaan Wu.


Jenderal Li menyatakan bahwa Bai Meihua sebenarnya adalah keponakan istrinya yang hidup di desa dan tersembunyi selama puluhan tahun.


Yang lebih mengejutkan adalah, Kaisar Wu Tian Yi ternyata menghadiri upacara tersebut. Sehingga banyak orang terutama kalangan bangsawan dan anak gadis mereka yang bertanya-tanya seperti apa sosok Bai Meihua.


Yang paling bahagia ternyata adalah Nyonya Besar Lianhua sendiri. Sekian tahun menikah dan belum dikaruniai keturunan membuatnya menyerah dan pasrah dengan takdir Tian. Tapi sekarang dia bisa mempunyai seorang putri yang cantik dan cerdas. Bukankah Tian sangat bermurah hati padanya?


.


.


.


Pagi itu, kediaman Jenderal Li sangat ramai. Berbagai hiasan terpajang untuk menyemarakkan suasana. Para pelayan hilir mudik melayani tamu-tamu penting yang diundang oleh Jenderal Li. Hidangan dan arak disajikan dalam jumlah besar. Ucapan selamat dari para tamu undangan datang dari berbagai penjuru untuk keluarga Jenderal Li.


Sebagian besar para tamu yang datang adalah kenalan dari Jenderal Li. Mereka adalah para pejabat yang sama-sama menghadiri pengadilan di istana. Berbagai hadiah diterima oleh kediaman Jenderal. Sepanjang pagi, Jenderal Li sibuk menyambut tamu di luar pintu gerbang kediamannya.


Setiap tamu yang datang selalu membawa Putri mereka yang tercantik atau putri kesayangan mereka. Hal ini tidak luput dari berita bahwa Kaisar akan menghadiri upacara pengangkatan itu. Sehingga mereka berharap Kaisar akan menyukai salah satu dari putri mereka. Bahkan bila beruntung menjadi salah satu selir Kaisar.


.


.


.


Di Paviliun Musim Semi, kesibukan telah terjadi sejak pagi buta. Nyoba Lianhua kesana kemari mengatur para pelayan agar melakukan pekerjaan mereka dengan baik. Sama sekali tidak boleh ada kesalahan sedikit pun.


"Hua'er kau sangat cantik. Pakai ini dirambutmu pasti lebih cantik lagi,"ucap Nyonya Lianhua seraya mengangsurkan jepit rambut terbuat dari giok.


"Ibu, ini sudah terlalu banyak. Kepalaku mulai pusing, bolehkah Hua'er tidak berdandan saja?"keluh Meihua.


"Aiyaaa. Mana bisa? Kau kan bintang utama, kau mau kalah cantik dari para putri yang di bawa para tamu undangan? Pikirkan reputasi ayahmu, Hua'er!"


"Nona anda sangat cantik. Tahan beberapa jam saja ya? Kumohon,"ucap Li Mei.


"Kau dengar itu Hua'er? Ibu ingin bahkan Kaisar pun tidak akan berkedip saat menatapmu."


Mengingat Kaisar dan pandangan dinginnya, Meihua mau tak mau bergidik ngeri. Aku malah berharap Kaisar tidak memperhatikanku, aku sungguh merasa ngeri dengan pandangannya.


"Nyonya besar, Kaisar sudah hampir sampai. Apakah Nona muda sudah selesai bersiap? Tuan Besar memerintahkan agar Nyonya Besar dan Nona muda segera keluar untuk menyambut kedatangan Kaisar." Seorang pelayan laki-laki memberitahu.


"Baiklah kami keluar sekarang. Ayo Hua'er, berjalan di samping ibu."


"Baik ibu."


.


.


.


Nyonya Lianhua berjalan memimpin rombongan kecil itu, dengan Meihua di sampingnya. Sepanjang jalan menuju Aula besar, setiap pasang mata menatap Meihua dengan takjub dan kagum.


"Jadi dia Nona muda keluarga Li? Sungguh cantik sekali."


"Cantiknya, andai putraku bisa berjodoh dengannya. Jenderal Li sungguh beruntung mendapat seorang putri yang begitu cantik."


" Lihat, Nona muda Meihua ini menyaingi kecantikan nomor satu di ibukota, Nona dari keluarga Kang."


"Kau benar, bahkan Nona Meihua sepertinya terlihat lebih cantik. Sungguh kecantikan dari surga."


"Benar. Kecantikan para Dewi."


Rombongan Nyonya Besar Lianhua memasuki ruangan dengan penuh keanggunan. Tidak berapa lama kemudian, Kasim Kang mengumumkan kedatangan Kaisar.


"Yang Mulia Kaisar telah tiba."


Sosok yang ditunggu akhirnya menampakkan diri. Sosok tegap dengan raut wajah tampan, dengan aura pemimpin yang kuat memancar dari seluruh tubuhnya. Setiap orang lalu memberikan penghormatan dengan berlutut lalu bersujud.


"Hormat kami Yang Mulia Kaisar. Semoga Kaisar panjang umur hingga ribuan tahun."


"Bangkitlah semuanya!"


"Terimakasih Yang Mulia."


"Hari ini adalah hari bahagia Jenderal Li dan keluarganya. Mulailah upacaranya!"


Dengan sekali perintah Kaisar, upacara pengangkatan Bai Meihua menjadi Li Meihua dilakukan. Sepanjang berjalannya upacara itu, pandangan Kaisar Tian Yi tidak pernah lepas dari Meihua. Pandangan yang disadari oleh sekian banyak orang itu penuh misteri dan sulit ditebak.


Meihua yang merasakan pandangan tajam dan seolah bisa menembus kulitnya bergerak tidak nyaman. Dia mencari tahu sumber pandangan itu dan terkejut saat menemukan mata sehitam malam menatapnya tanpa berkedip.


"Kenapa Kaisar dingin itu menatapku seperti itu. Tapi kalau kupikir- pikir Kaisarku tampan sekali. Andaikan di masa depan, dia pasti bisa menjadi anggota boyband,"batinnya.


.


.


.


Gadis yang disebut-sebut sebagai kecantikan nomor satu di ibukota, Kang Hongmei duduk di barisan pertama. Tempat duduk itu memungkinkan baginya untuk melihat Kaisar secara jelas. Sudah berbagai hal ia lakukan agar bisa menarik perhatian Kaisar. Sayang sekali, pandangan Kaisar hanya terpaku pada Meihua.


Tarian, musik dan nyanyian yang dimainkan semakin lama semakin apik dan membius. Aroma arak tersebar ke seluruh ruangan. Di tempat duduknya, Meihua beberapa kali menanggapi permintaan beberapa putri bangsawan untuk bersulang. Walaupun telah minum beberapa cangkir, tapi Meihua sepertinya belum terlihat mabuk.


Saat itulah salah seorang tamu undangan berdiri sambil mengangkat secawan arak.


"Jenderal Li. Aku, Wei Jing bersulang untuk anda. Semoga keluarga Jenderal Li senantiasa harmonis."


Jenderal Li ikut berdiri sambil mengangkat cawannya sendiri. "Terimakasih Tuan Wei. Bersulang!"


Keduanya meneguk arak masing-masing dengan gembira. Kali ini Tuan Wei kembali membuka mulut. "Memiliki seorang putri yang berbudi luhur dan cantik adalah anugerah. Memiliki putri yang pandai dan berseni adalah keberuntungan. Hari ini anda mengangkat seorang putri. Bagaimana kalau putri angkat Anda mempersembahkan tarian pada kami, Jenderal Li?"


Sekejap Jenderal Li terdiam, lalu menoleh ke arah Meihua duduk. Di tempatnya Meihua mematung, dirinya sudah pernah menduga hal seperti ini cepat atau lambat akan segera terjadi. Beruntungnya hobi menonton drama membuatnya mengingat beberapa tarian putri-putri bangsawan. Hanya tinggal mengandalkan keberuntungannya.


Jenderal Li merasa gugup. Bagaimana jika Meihua bahkan sama sekali tidak bisa menari? Sementara itu bisik-bisik merebak di kalangan putri-putri bangsawan duduk. Mereka sama-sama mempertanyakan kemampuan Meihua.


Di tempatnya duduk, Meihua berdiri dengan anggun. Gadis itu melangkah ke tengah Aula lalu memberi hormat pada Kaisar dengan takzim.


"Hormat untuk Yang Mulia Kaisar."


"Berdirilah!"


"Terimakasih Kaisar. Para tamu sekalian. Izinkan Meihua mempersembahkan sebuah tarian. Hanya saja jika ada gerakan yang salah, mohon para tamu sekalian memaklumi. Aku hanyalah gadis yang bodoh."


"Eihhh Nona Meihua bicara apa? Kami hanya ingin melihat sedikit saja. Benar sedikit saja,"ucap Tuan Wei.


"Mainkan musik!"


Musik mulai dimainkan dengan riang. Meihua mulai menggerakkan tangannya dan berputar. Lengan gaunnya melambai mengikuti setiap gerakannya. Entah tarian apa yang dilakukannya. Yang pasti seluruh pasang mata terpesona menatap setiap gerakannya. Langkah yang anggun dan tangan yang gemulai, serta wajah cantik yang memikat. Tak lupa senyum yang ia sematkan di bibirnya, sungguh membuat setiap orang mabuk kepayang.


Pandangan Meihua terkunci ke arah Kaisar. Dalam lubuk hati kecilnya, ada sebuah dorongan untuk membuktikan bahwa dirinya bisa dalam segala hal. Kaisar sendiri merasa dirinya tidak bisa lepas menatap setiap gerakan Meihua.


Di barisan para putri bangsawan, beberapa dari mereka berdecak kagum. Sebagian lagi merasa iri dengan kemampuan Meihua. Beberapa orang lagi merasa Meihua hanyalah beruntung bisa menarikan tarian indah seperti itu. Kang Hongmei termasuk dalam kelompok kecil ini.


Tatapannya penuh kebencian pada Meihua. Dengan tangan mengepal yang tersembunyi di balik gaun, Hongmei merasa Meihua adalah sebuah ancaman baginya. Apalagi pandangan Kaisar tidak pernah lepas dari gadis itu. Hongmei merasa dia harus bertindak dengan menyelidiki asal-usul Meihua.


Setelah akhirnya selesai menari, Meihua membungkuk dengan anggun dan meminta maaf jika tariannya sangatlah buruk. Tapi tepuk tangan yang membahana memberitahunya bahwa tariannya tadi sukses dan di sukai semua orang.


"Nona Meihua sungguh berbakat. Bolehkah aku tahu apa nama tarian itu?"tanya salah seorang putri bangsawan.


"Pujian nona berlebihan. Aku hanya mencoba menampilkan yang terbaik untuk semuanya. Tarian ini mungkin terasa asing, karena aku sendiri yang menciptakannya. Namanya tarian hujan bunga Persik."


"Bagus. Nama yang bagus, seperti tariannya. Pak tua ini merasa sangat puas. Terimakasih nona Meihua." Tuan Wei memuji dengan tulus.


Meihua membungkuk sekali lagi lalu beranjak dari tengah aula, kembali ke mejanya. Jenderal Li merasa sangat puas. Diam-diam sang Jenderal menyikut lengan sang istri yang duduk di sampingnya. Raut wajah keduanya sangat bahagia dan bangga dengan kemampuan Meihua. Hari ini adalah hari yang bersejarah bagi keluarga Jenderal.


.


.


.


.


Kaisar pergi dari pesta setelah tengah hari. Ada banyak hal yang perlu diurusnya di istana. Akan tetapi kebahagiaan dan kemeriahan suasana jamuan di kediaman Jenderal tetap berlangsung hingga malam menjelang. Setelah mengantar kepergian tamu undangan yang terakhir, kediaman Li kembali tenang.


Hanya tersisa para pelayan yang membereskan berbagai kekacauan selepas acara itu. Sedangkan keluarga kecil Jenderal Li berkumpul di Aula. Senyum Nyonya Lianhua tak pernah meninggalkan bibirnya. Jemari tangannya bertaut erat dengan tangan putrinya.


"Hua'er. Kau sungguh putri ibu yang baik. Kau mampu menjaga nama dan reputasi ayahmu. Besok kabar tentangmu dan tarian ini pastinya telah menyebar ke seluruh kota."


"Ibu tidak perlu memuji seperti itu. Sebenarnya Hua'er juga asal menari saja."


"Kau menari dengan asal? Bagaimana bisa begitu indah di lihat?"tanya Jenderal Li tak percaya.


Meihua mengangguk, gadis itu menuangkan teh ke dalam dua cangkir kecil lalu memberikannya pada ayah ibunya. "Sebenarnya di masaku, ada banyak drama yang bertema kerajaan. Di dalam drama itu kadang ada putri-putri bangsawan yang menari. Aku belajar dari sana."


"Aihh ayah tidak mengerti maksudmu."


"Sudahlah Hua'er. Mulai besok mungkin akan ada berbagai undangan dari beberapa kediaman. Kau bersiap-siaplah. Sekarang ayo kembali ke Paviliun mu dan tidur!"ucap Nyonya Lianhua.


"Baiklah. Ayah ibu, Hua'er permisi."


"Pergilah, Nak!"


Setelah menutup pintu di belakangnya, Meihua di temani Li Mei menuju Paviliun Musim Semi. Sepanjang jalan, Meihua berpapasan dengan para pelayan di kediaman. Mereka semua memberi hormat pada Meihua. Sedangkan gadis itu sendiri merasa kikuk karena penghormatan itu.


"Nona. Tadi anda menari dengan sangat bagus. Seluruh pasang mata yang hadir disana terpesona. Seharusnya Anda juga melihat ekspresi dari Kaisar. Karena tarian itu, Kaisar bahkan tidak berkedip,"ucap Li Mei menggebu-gebu.


"Aihhh. Sial sekali. Kenapa aku harus menarik perhatian Kaisar kejam itu?"


"Nona tahu kalau Kaisar sangat kejam? Rumornya setiap selir yang dibawa ke istana, semuanya meninggal dengan berbagai cara yang sadis."


"Apaaaaa???!"