
Selama perjalanan menuju kediaman Jenderal Li, Meihua lebih banyak diam. Sejujurnya dia bingung bagaimana membuka pembicaraan dengan sang Jenderal yang kini menjadi ayah angkatnya. Setelah kehilangan orangtuanya kandungnya, Meihua terlempar ke masa lalu dan memiliki orang tua baru. Mungkin ini adalah berkah dewa untuknya.
Mereka duduk di dalam kereta kuda di sisi yang berlainan. Jenderal Li memandang ke depan dengan sikap serius. Sedangkan Meihua menunduk, melihat sepatunya yang ternyata basah. Jadi mungkin saja, insiden dirinya jatuh ke laut adalah nyata. Lalu entah bagaimana tersesat ke ribuan tahun yang lalu
Sepanjang jalan ini, hanya derap kaki kuda dan derak roda kereta yang terdengar. Jalanan yang biasanya ramai dengan lalu lalang para pejalan kaki, kini tampak lengang karena malam mulai larut.
Perjalanan itu terasa begitu jauh bagi Jenderal Li. Hal yang aneh menurutnya, sebab kediaman Jenderal sebenarnya tidak terlalu jauh dari kompleks istana. Tak tahan dengan keheningan yang terus berlanjut, Jenderal Li mulai membuka percakapan.
"Ehmm. Hmm. Nona Bai, ah tidak. Putriku apakah kau keberatan dengan keputusan Kaisar?"
"Tidak dihukum mati saja sudah merupakan keberuntungan bagiku. Apalagi menjadi salah satu anggota keluarga dari kediaman Jenderal," jawab Meihua.
"Ya. Memang lebih baik daripada kematian. Putriku, nama istriku Bai Lianhua, dia akan menjadi ibumu mulai dari sekarang. Aku juga akan menjadi ayahmu. Jangan pikirkan kalau kau bukan putri kandung kami. Tenang saja, kami pasti akan memperlakukanmu dengan baik seperti putri kandung kami sendiri,"jelas Jenderal Li.
"Menjadi putri angkat Anda pastilah merupakan takdir Dewa dan anugerah untukku. Terimakasih ayah, telah memperbolehkan aku tinggal bersamamu."
"Benar. Mulai sekarang kau adalah anakku. Akhirnya aku punya seorang putri yang cantik. Dewa sungguh memberkatiku."
Lalu pecahlah tawa sang Jenderal, sementara sudut matanya menitik setetes air mata. Senyum Jenderal Li Hao penuh kebahagiaan. Tidak peduli asal-usul Meihua yang sebenarnya, dirinya bersyukur Tian memberinya seorang putri. Meihua ikut tersenyum manis, hatinya menghangat. Walaupun ayah dan ibu kandungnya telah pergi, setidaknya Dewa memberikan gantinya.
Dalam hatinya Meihua berjanji, akan memperlakukan kedua orang tua angkatnya dengan baik. Bagaimanapun dewa telah memberikannya kehidupan kedua di tempat ini.
.
.
.
Kediaman Jenderal Li begitu besar. Ketika kereta kuda memasuki gerbang kediaman yang dijaga oleh dua orang prajurit, seorang pelayan langsung berlari menyambut kedatangan kereta kuda itu. Pintu kereta terbuka, Jenderal Li turun pertama kali menyusul kemudian Bai Meihua.
"Pelayan panggilkan Nyonya besar! Katakan padanya aku menunggu di aula utama!"
"Baik Tuan." Pelayan itu lalu berlari kecil melaksanakan perintah tuannya.
"Hua'er, mari kita tunggu ibumu di aula utama,"ajak Li Hao.
"Ayah, bagaimana kalau ibu tidak menerimaku?"ada nada ketakutan dari suara Meihua.
"Bagaimana dia bisa tidak menerima, kau dititipkan langsung oleh Kaisar, dan setelah kami menikah sekian tahun tidak dikaruniai anak, Lianhua sangat-sangat menginginkan seorang anak."
Pintu Aula terbuka lebar, seorang wanita paruh baya terlihat memasuki aula. Walaupun telah memasuki usia tua, kecantikan masa muda masih membayang di raut wajahnya. Bibirnya juga mengukir senyum tipis.
"Suamiku, kau sudah pulang?"
Bai Lianhua mengambil tempat duduk di samping suaminya. Menuangkan secangkir teh yang diterima Li Hao dengan senang hati. Setelah menuangkan teh, Bai Lianhua mulai memandang Meihua dengan cermat. Tidak ada perubahan di wajahnya. Tapi Meihua bisa melihat rasa penasaran yang tinggi dari sorot mata itu. Apalagi melihat jubah suaminya tersampir di pundak Meihua.
"Nona ini siapakah?" Tanyanya langsung pada sang suami. "Apa kau wanita yang disukai suamiku?"
Pertanyaan itu kini ditujukan langsung pada Meihua.
Belum sempat Jenderal Li Hao menjawab, Meihua telah mengambil inisiatif memperkenalkan diri.
"Menjawab Nyonya, namaku Bai Meihua. Aku bukan calon selir suami anda ataupun wanita yang disukainya. Sebenarnya, masalah ku bahkan lebih rumit daripada itu."
"Kau dari keluarga Bai? Tapi aku tidak ingat ada anggota keluarga yang bernama Meihua. Katakan, kenapa kau bilang lebih rumit? Apa kau telah...?"tanya Nyonya Lianhua lembut. Namun kedua matanya terlihat menyipit.
"Apa maksudmu? Jadi keluarga Bai kita tetap ada sampai ke masa depan? Aahhh bukankah itu berarti kita bisa dikatakan sebagai saudara?" Nyonya Lianhua merasa senang sekali. Rasa penasarannya hilang seketika, pun dengan rasa curiga terhadap gadis di depannya.
" Istriku, ada banyak marga Bai yang ada saat ini," kata Jenderal Li. "Gadis itu benar. Dia bukan selirku, justru akan menjadi putri kita."
"Suamiku, jangan ragukan perkataanku. Aku yakin kita dari keluarga Bai yang sama. Setiap keluarga Bai bukankah selalu berani berkata terus terang?"
Mendengar perkataan itu Jenderal Li Hao hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Baiklah. Berarti kau setuju untuk menjadikan Meihua keluargamu? Karena Yang Mulia Kaisar memerintahkan kita untuk mengangkat Meihua menjadi putri angkat keluarga kita," jelas Jenderal Li Hao lagi.
Wajah Nyonya Lianhua jelas menunjukkan raut terkejut. Untuk sementara waktu, dirinya terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Di sisi lain, Meihua menggigit bibirnya, ragu untuk mendengar jawaban Nyonya Lianhua.
"Jenderal Li, Nyonya Besar. Jika kalian tidak bersedia menerima saya, biarlah saya menjadi pelayan saja. Yang penting saya tidak di penjara dan dihukum mati," terang Meihua.
"Aiyaaa! Siapa bilang kami tidak setuju. Sejujurnya aku terkejut, tapi aku sangat bahagia sekarang. Bukankah aku akan mendapatkan seorang anak gadis yang begini cantik," Nyonya Besar menjawab cepat.
"Anda tidak keberatan dengan keputusan Kaisar?" Tanya Meihua mencoba memastikan.
"Kalau sudah keputusan Kaisar, berarti itu menyangkut nyawa kita. Mana mungkin aku keberatan? Justru sangat bahagia."
"Meihua sangat berterima kasih atas kemurahan hati Nyonya dan Tuan besar," mata Meihua berkaca-kaca. Dia merasa bahagia mendapat keluarga baru di tempat yang asing untuknya
"Bicara apa kau,Nak? Justru aku yang sangat bahagia. Setelah sekian tahun, akhirnya langit mendengar doaku. Mendapatkan seorang anak sepertimu bukankah itu anugerah langit untukku." Nyonya Lianhua mulai terisak.
Melihat hal itu, Jenderal Li Hao merengkuh istrinya ke dalam pelukannya. "Istriku. Kita sungguh beruntung mendapat seorang anak yang cantik. Hua'er panggil kami ayah dan ibu mulai sekarang!"
"Baik. Ayah. Ibu."
Ketiganya lalu berpelukan dengan hangat. Ada sebuah senyuman hangat di bibir mereka masing-masing.
.
.
.
Jenderal Li Hao memberikan Paviliun Musim Semi untuk Meihua. Serta seorang dayang yang akan melayani kebutuhannya, Li Mei. Juga beberapa pelayan lain yang bertugas di Paviliun. Walaupun terpisah dengan rumah induk kediaman Jenderal, Paviliun Musim Semi sebenarnya berdiri sendiri. Bahkan ada dapur kecil disana, memungkinkan penghuninya untuk memasak makanan mereka sendiri.
Mendengar hal itu, Meihua tak henti-hentinya berterimakasih. Mengundang tawa kecil dari orang tua angkatnya. Setelah mengantar Meihua kesana, pasangan suami istri keluarga Li kembali ke kamar mereka sendiri. Di sana barulah Lianhua bertanya tujuan sebenarnya dari Kaisar.
"Gadis itu mengaku jatuh ke laut. Lalu terbangun di kamar pribadi Kaisar Tian Yi. Kaisar yang terkejut, merasa bahwa mungkin saja gadis itu adalah mata-mata dari kelompok pemberontak." Jelas Jenderal pada istrinya.
"Tapi tidak mungkin seorang mata-mata langsung datang ke ruangan pribadi Kaisar dan memberitahukan nama aslinya. Apalagi pakaian yang dikenakan gadis itu sungguh berbeda dari pakaian pada umumnya. Bahkan aku sendiri tidak pernah melihat pakaian yang seperti itu." Giliran Nyonya Lianhua yang menyanggah pernyataan suaminya.
Jenderal Li Hao mengangguk. "Oleh karena itu, Kaisar ragu untuk memberinya hukuman. Gadis itu juga tidak terlihat memiliki niat buruk. Sekali lihat saja gadis itu bukanlah seorang praktisi bela diri. Jadi, gadis itu dikirim ke rumah ini. Menjadi putri angkat kita dan sekaligus meminta kediaman Jenderal untuk mengawasinya."
"Ternyata begitu. Suamiku, maafkan aku karena mengira dia adalah calon selir barumu."
Jenderal Li terkekeh, tangannya membelai lembut rambut sang istri. "Mana mungkin di hatiku masih ada wanita lain? Kalau aku sampai melakukan itu, bukankah aku adalah pria yang tidak tahu terimakasih?"
Nyonya Lianhua tersipu malu. Walaupun telah lama menikah bahkan hingga kini belum di karuniai seorang anak pun, suaminya tetap memperlakukannya dengan penuh kasih.