My Empress From The Future

My Empress From The Future
BERTAHAN



Kaisar memperbolehkan kediaman Chu untuk berkabung selama tiga bulan. Sedangkan di istana, masa berkabung hanya satu bulan lamanya. Seluruh sudut istana penuh dengan warna putih, sehingga suasana tampak pucat dan dingin. Permaisuri Meihua terus murung di dalam Istana Zhuanshi selama lebih dari sepuluh hari.


Berbeda halnya dengan Shen Jia. Gadis cantik itu penuh keriangan masa muda. Senyumnya yang cerah mampu menular dengan cepat ke orang-orang di sekelilingnya. Pembawaannya yang anggun dan ceria di saat bersamaan, tutur katanya yang sopan menunjukkan didikan keluarga kelas atas. Tentu saja, keluarga kerajaan adalah keluarga yang selalu lebih unggul dalam hal apapun dibandingkan keluarga yang lain.


Hari ini Shen Jia memutuskan untuk kembali mengunjungi Permaisuri setelah kunjungan yang sebelumnya gagal, sebab Permaisuri sedang tidur pulas. Dengan membawa sebuah kotak kayu besar di tangannya, Jia'er tersenyum manis di depan gerbang istana Zhuanshi.


"Salam Shen Jia Junzhu,"ucap kedua penjaga pintu ganda besar, yang menghubungkan Istana Zhuanshi dengan istana yang lain.


Junzhu-gelar untuk putri yang merupakan anak seorang Pangeran. Bukan anak atau putri kandung Kaisar.


"Bangunlah! Cepat bangunlah! Bolehkah aku masuk ke dalam?"tanya Shen Jia pelan.


"Tentu saja. Junzhu silahkan!"


"Terimakasih."


Melangkah dengan riang, Shen Jia memasuki halaman besar Istana Zhuanshi. Sapaan para pelayan yang berpapasan dengannya, ditanggapinya dengan senyuman. Walaupun menggunakan pakaian putih tanda berkabung, Shen Jia masih tampak seperti Dewi yang baru turun dari langit.


.


.


.


.


"Li Mei. Menurut mu apa yang sebaiknya kita lakukan hari ini?"


"Apapun yang ingin Anda lakukan, Li Mei akan menemani Anda. Asal Anda bahagia. Tapi jangan yang beresiko melukai Anda!"


"Kau sama sekali tidak asyik!"


"Shen Jia Junzhu datang." Seruan Kasim membuat Meihua menoleh ke arah pintu.


"Salam Permaisuri Bao-yu. Maafkan kedatangan ku yang tidak sopan."


"Tidak masalah. Bangunlah! Ada perlu apa kemari?"


"Beberapa waktu yang lalu Jia'er berkunjung kemari. Tapi mereka mengatakan bahwa Anda sedang tidur. Sekarang baru bisa mengunjungi Anda lagi, hamba membawa sup biji teratai yang masih hangat dan kue osmanthus, khusus untuk Anda."


Nada suara Jia'er sungguh indah di dengar. Tutur bahasa yang lembut dan sopan membuat Meihua tersenyum. Li Mei segera mengambil alih kotak kayu dalam pegangan Shen Jia.


"Terimakasih, Shen Jia Junzhu."


"Anda tidak perlu memanggil seperti itu. Cukup panggil saja Jia'er seperti yang lainnya."


"Baiklah. Jia'er, duduklah di sini!" Meihua menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. Jia'er segera menurut.


"Permaisuri, tidakkah Anda bosan berada di Istana Zhuanshi sepanjang waktu?"


"Tentu saja bosan. Sekarang sedang berkabung, jadi kita tidak bisa pergi kemana-mana."


"Jia'er juga merasa bosan. Sebenarnya aku ingin pergi keluar istana, ingin melihat keadaan di ibukota. Namun, nenek selalu tidak memperbolehkan ku."


"Ibu suri hanya takut kalau kau terluka, terkadang kata-kata para orang tua ada benarnya. Jadi bersikaplah baik dengan menjadi putri yang penurut."


"Baik. Jia'er akan mengingat nasihat Permaisuri. Terimakasih Permaisuri."


"Aiyoo kata-kata apa itu? Panggil saja kakak Meihua. Bukankah kau juga memanggil Kaisar dengan sebutan Gege?"tanya Meihua seraya mencicipi sup biji teratai yang dibawa oleh Shen Jia. "Waahh ini enak sekali. Sungguh manis, seolah seluruh kebahagiaan dunia ada di dalam mulutku."


"Kakak Meihua terlalu memuji. Keahlian memasak ku mana bisa disamakan dengan keahlian kakak? Kudengar setiap waktu kakak akan memasak untuk Kaisar?"


"Benar. Kadang kami juga akan makan bersama Mingfen..."


Mengucapkan nama Mingfen membuat Meihua terdiam.


Oh benar. Aku terlalu merasa sedih sampai tidak tahu apakah Mingfen sudah sampai atau belum.


"Kakak, jika mengingat nama Selir Ming hanya membuatmu sedih, jangan diteruskan." Tampaknya Jia'er salah paham dengan terdiamnya Meihua. Gadis muda itu masih menganggap bahwa Meihua sangatlah sedih kehilangan Mingfen.


"Tidak apa-apa. Lagipula mungkin dia sekarang sudah bahagia."


"Anda benar. Oh iya, bagaiman jika kita pergi memancing? Kakak bagaimana menurutmu?"


"Memancing? Dimana? Bukankah tidak boleh keluar Istana?"


"Tidak perlu jauh-jauh ke luar Istana. Bagaimana jika kita pergi ke Paviliun Shui? Disana kulihat ikan-ikannya sudah besar-besar. Para pelayan juga sering membawa ikan kecil untuk menambah ikan disana. Memancing satu atau dua tidak jadi masalah 'kan?"


"Benar sekali. Li Mei, pergi dan dapatkan beberapa kail pancing untuk kita! Ku tunggu di Paviliun Shui!"


"Baik, Yang Mulia."


"Mari kakak, hati-hati!"


Keduanya berjalan bersisian, para pelayan yang berpapasan semuanya menunduk hormat. Sepanjang perjalanan, Jia'er banyak bercerita tentang masa-masa kecilnya yang tinggal di luar istana. Gaya bercerita yang lugas dan jujur membuat Meihua sekejap saja menyukai gadis muda di hadapannya.


.


.


.


.


Li Mei kembali dengan tergopoh-gopoh, bersama beberapa pelayan dibelakangnya. Dua joran pancing yang panjang sudah ia dapatkan, pun dengan umpan yang akan digunakan. Meihua dan Shen Jia duduk bersisian di teras Paviliun Shui. Walaupun tidak setinggi Paviliun Awan, Paviliun Shui agak istimewa karena dikelilingi oleh danau buatan yang besar dengan banyaknya ikan berwarna-warni.


Ikan-ikan itu memang sengaja di pelihara disana, untuk memudahkan para koki di dapur istana membuat hidangan berbahan dasar ikan. Airnya yang jernih dengan beberapa bunga teratai yang berbunga indah, membuat suatu pemandangan indah yang jarang ditemui di manapun.


Semerbak harum teratai tercium samar, semilir angin pagi hari juga membuat rambut kedua wanita cantik itu bergerak pelan.


"Kakak, kalau kita sudah mendapatkan ikan-ikan disini, kita masak berdua lalu kirimkan pada nenek dan Kaisar. Bagaimana?"ucapan lirih Jia'er membuat Meihua menoleh dan mengangguk pelan.


"Kenapa kakak hanya mengangguk?"tanya Jia'er pelan.


"Kalau aku berbicara, mungkin ikannya tidak akan memakan umpan kita,"jawab Meihua tak kalah pelan. Mulut Shen Jia membentuk huruf o dengan kepala mengangguk-angguk mengerti.


Tak berapa lama kemudian, kail pancing milik Meihua tertarik ke tengah. Dengan semangat, Meihua mulai menarik joran pancingnya. Air yang jernih memudahkannya melihat ikan yang menyangkut di kailnya.


"Waahh kakak hebat sekali, lihat ikannya sangat besar,"seru Shen Jia keras ditimpali dengan tepuk tangan. Para pelayan juga melongokkan kepala mereka ke arah danau, masing-masing bergumam bahwa Permaisuri amatlah lihai.


Seorang Kasim membantu melepas ikan itu dari mata pancing, setelah Meihua berhasil mengangkatnya ke atas. Ada senyum puas di wajah Meihua. Acara mancing kali ini sedikit banyak membuatnya melupakan Mingfen. Ketika giliran Shen Jia yang mendapatkan ikan, keduanya saling bertepuk tangan.


Menjelang tengah hari saat cuaca mulai panas, keduanya memutuskan untuk berhenti. Ikan-ikan yang mereka tangkap semuanya diserahkan pada koki Istana agar dimasak dan dikirimkan ke istana Kaisar serta Ibu Suri. Sedangkan Meihua dan Shen Jia makan bersama di istana Zhuanshi.


.


.


.


.


"Kasim Kang, apa yang dilakukan permaisuri seharian ini?"tanya Kaisar tanpa menoleh.


"Menjawab Yang Mulia. Permaisuri dan Shen Jia Junzhu memancing bersama di Paviliun Shui. Keduanya mendapatkan ikan yang lumayan banyak."


"Jia'er?"


"Benar. Awalnya Jia Junzhu mengunjungi Permaisuri. Lalu keduanya memutuskan untuk memancing bersama. Seharusnya sekarang pelayan dari dapur akan datang kemari untuk..."


Seorang pelayan masuk dengan membawa kotak besar di tangannya. Sekali lihat saja pelayan itu berasal dari dapur Istana. Setelah membungkuk hormat, pelayan itu lalu menata berbagai hidangan di atas meja. Kasim Kang membantu mengarahkan. Setelah semuanya beres, pelayan itu undur diri.


"Apa ini? Apakah semua hidangan bertema ikan?"tanya Kaisar heran.


"Mungkin ini adalah ikan-ikan hasil pancingan Permaisuri dan Jia Junzhu. Yang Mulia, silahkan."


"Melihat dari banyaknya ikan dan ukurannya yang besar, keduanya cukup berbakat. Saat ini pasti keduanya sangat puas. Kasim Kang, ambil beberapa hadiah di ruang harta istana, berikan pada Permaisuri dan Jia'er. Katakan Zhen sangat menghargai usaha keras mereka."


"Baik. Hamba akan melakukan perintah."


Bertepatan dengan perginya Kasim Kang, Kaisar mulai mengambil sumpit dan mencicipi hidangan kali ini. Menilik dari raut wajahnya yang berseri-seri, tampaknya Kaisar sangat puas.


.


.


.


.


Meihua dan Shen Jia yang kekenyangan karena hidangan hari ini, duduk bersama di kursi panjang. Li Mei dan seorang pelayan lain mengipasi keduanya.


"Kakak bukankah hari ini sangat melelahkan?" Jia'er membuka mulut.


"Kau benar. Tapi sekaligus sangat menyenangkan. Lain waktu ayo kita lakukan lagi!"


"Hormat pada Permaisuri. Hormat pada Shen Jia Junzhu." Suara kasim Kang membuat kedua wanita itu membuka mata.


"Ada Kasim Kang? Bangunlah! Ada hal apa? Apakah Kaisar mencari ku?"


"Menjawab Yang Mulia Permaisuri. Hamba diutus oleh Kaisar untuk memberikan hadiah kepada Anda berdua."


"Hadiah apa?"


"Hadiah atas kerja keras Anda berdua menyiapkan bahan makanan untuk hidangan kali ini. Kaisar sangat puas dan menikmatinya. Silahkan!"


Masing-masing Kasim memberikannya pada Li Mei dan Jia'er.


"Terimakasih atas kebaikan Kaisar,"ucap Meihua dan Jia'er bersamaan.


"Hamba permisi." Kasim Kang lalu menghormat dan berbalik badan. Dibelakangnya Meihua berseru,"Sudah merepotkan Anda, Kasim Kang. Hati-hati di jalan!"


"Wahh Yang Mulia. Ini adalah tusuk konde Phoenix yang indah." Li Mei membuka kotak itu dan menunjukkannya pada Meihua.


"Punyaku juga indah sekali. Kakak lihatlah!"


Hadiah milik Jia'er adalah sebuah gelang giok berwarna biru langit yang begitu indah. Jika dipakai oleh gadis secantik Shen Jia maka kecantikannya akan semakin terlihat.


"Sangat cocok untuk mu, Jia'er."


"Benar. Kakak Tian Yi selalu tahu apa yang Kusukai. Sepertinya aku harus berterimakasih langsung padanya."


"Kalau begitu pergilah!"


"Baik. Kakak sampai jumpa lagi. Jia'er permisi."


Melihat kepergian Shen Jia, Meihua hanya menghela nafas panjang. Perasaannya saja atau memang hadiah kali ini lebih bagus milik Shen Jia? Bahkan Jia'er juga berkata bahwa kakak Tian Yi selalu tahu apa yang ia sukai. Apakah ada hal lain yang tidak pernah ia ketahui di antara keduanya? Memikirkan hal itu seketika membuat kepalanya pusing.


.


.


.


.


Kediaman Yang


Pejabat Yang termasuk pejabat tingkat kedua. Dengan kedudukan yang stabil di pemerintahan, dan selalu mematuhi peraturan, pejabat Yang nyaris tak punya kesalahan. Di bawah pengawasan langsung Perdana Menteri Liu, pejabat Yang selalu memberikan saran dan pendapat yang bisa diterima yang lain.


Yang Wei mempunyai tiga orang putri. Putri pertama adalah Yang Jiali, putri kedua Yang Qingli dan putrinya yang ketiga adalah Yang Songmi. Diantara ketiga putrinya, Yang Wei selalu paling menyayangi Songmi. Sehingga membuat yang lain selalu merasa iri.


Walaupun terlahir dari rahim ibu yang sama, Jiali dan Qingli selalu menindas adiknya yang ketiga. Sebab sejak kecil, Songmi selalu lemah dan sakit-sakitan.


Saat Perdana Menteri Liu mengatakan bahwa sudah saatnya Kaisar memiliki Selir yang baru, seluruh kediaman bangsawan dan pejabat pemerintahan berlomba-lomba mengajukan putri-putrinya. Tak terkecuali pejabat Yang. Kedua putrinya yang telah memasuki usia pernikahan, ia masukkan namanya ke dalam daftar pemilihan.


Sementara itu, Jiali dan Qingli yang bahagia untuk berkesempatan menjadi selir Kaisar, semakin merasa di atas angin. Setiap hari mereka menindas Songmi. Tanpa ada perlindungan dari sang ayah, Songmi hanyalah seorang putri pejabat yang malang. Ibu mereka tidak bisa berbuat apa-apa, sebab sang Ibu sendiri sejatinya lebih menyayangi putri keduanya, Qingli.


"Aiyoo adik kecil kita yang malang. Lihatlah wajahmu! Apa kau sudah bercermin? Lihat juga bajumu! Sudah ketinggalan model begitu!" Jiali mengawali pagi harinya dengan menyapa Songmi.


"Kakak. Walaupun baju ini sudah kuno, adik merasa nyaman memakainya,"jawab Songmi.


"Pantas saja ayah tak memasukkan nama mu ke dalam daftar pemilihan selir, kau sungguh memalukan!"


Giliran Qingli yang berucap. Gadis itu asik dengan model rambut barunya.


"Tidak masalah. Yang terpenting, adik bisa menjaga ayah dan ibu disini. Semoga kedua kakak sekalian, bisa terpilih menjadi selir."


"Tentu saja. Kami akan segera memasuki istana, hidup mewah dan nyaman. Memakai perhiasan bagus dan baju-baju yang cantik. Kau pasti akan takjub saat melihat kami nantinya!" Ketus Jiali.


Songmi hanya tersenyum kecil, seraya melanjutkan kegiatannya menyulam saputangan. Baginya, ejekan dan hinaan dari kedua kakaknya sudah biasa. Mungkin itulah cara kedua kakaknya memperlakukannya. Songmi tahu, walaupun kedua kakaknya terlihat membencinya, sebenarnya mereka juga menyayanginya. Songmi hanya berharap kedua kakaknya bisa terpilih menjadi selir dan membahagiakan ayah ibunya. Sungguh pikiran yang begitu polos dan naif. Kebanyakan orang akan segera melupakan darimana mereka berasal dan bahkan melupakan jati dirinya saat berhadapan dengan uang dan kekuasaan.


.


.


.


.


Ibu suri terbatuk-batuk pelan. Dengan segera dayang kepercayaannya membantu mengurut belakang punggungnya dan memberikan secangkir air hangat. Setelah meminumnya batuknya mereda. Jia'er yang terburu-buru memasuki istana milik Ibu Suri segera berlutut cemas. Tangannya membantu mengurut-urut punggung sang nenek.


"Nenek. Jia'er panggilkan tabib Han kemari. Nenek tenang saja."


"Jia'er, tidak perlu. Nenek hanya merasa lelah."


"Anda tidak boleh menolak. Tabib Han hampir sampai."


"Baiklah. Terimakasih untukmu Jia'er."


Shen Jia mengangguk pelan, Allah mengambil cangkir yang sudah kosong dari tangan ibu suri.


"Jia'er, menjadi Selir Kaisar bagaimana menurut mu?"


Pertanyaan Ibu Suri sukses membuat Shen Jia terpaku, hingga lupa meletakkan cangkir itu di atas meja.


"Jia'er?"


"Nenek. Bisakah kita tidak membahas ini?"


"Kenapa? Bukankah kau sudah cukup untuk menikah? Kalau menjadi Selir Yi'er, kau tidak akan jauh-jauh dari nenek. Kami semua bisa menjagamu di sini."


"Walaupun begitu Jia'er tidak ingin melukai hati kakak Meihua. Kakak Meihua orangnya baik dan menyenangkan. Jia'er serasa mendapatkan kehangatan yang sebenarnya dari seorang kakak perempuan. Nenek bisakah Jia'er tidak menikah saja?"


"Aiyaaa gadis ini. Apa maksud mu dengan tidak mau menikah? Kau harus menikah untuk melanjutkan garis keturunan Pangeran Jing Xu!"


"Kalau begitu, bisakah Jia'er tidak menikahi kakak Tian Yi?"


"Kenapa? Apa alasan mu menolaknya? Bukankah kau selalu dekat dengannya sejak kecil? Bukankah kau pernah menghabiskan waktu bersama di bawah pohon willow sambil melihat bulan tahun itu?"


"Sekarang Jia'er tidak mau! Jia'er tidak ingin menikahi kakak Tian Yi! Tidak mau!"


Setelah mengatakan itu, Shen Jia berlari keluar dengan kecepatan tinggi. Bahkan dia hampir menabrak Meihua di depan pintu. Melihat Meihua, seketika tangisannya bertambah kencang dan gadis itu berlari sekuat tenaga. Meninggalkan Meihua yang mematung di depan pintu.


Ibu suri menghela nafas panjang, lalu tatapannya beralih kepada Meihua.


"Permaisuri, kau disini?"


Meihua tergagap sejenak, lalu cepat-cepat menguasai keadaan. "Salam pada Ibu Suri, semoga sehat selalu."


"Bangunlah! Ada hal apa kau mengunjungi ku?"


"Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar bahwa Ibu Suri sedang sakit. Hari ini kemari membawa beberapa tanaman berkhasiat dan juga sup bunga persik. Semoga membantu menyegarkan suasana hati Ibu Suri."


"Terimakasih, Permaisuri. Bawa kesini, biarkan aku mencicipi sup bunga persik itu!"


Li Mei bergegas membawanya ke depan Ibu Suri, mengulurkannya dengan penuh hormat. Setelah beberapa suapan, senyum Ibu Suri terkembang.


"Kau pandai membuatnya. Lain kali buatkan lagi untukku, pasti akan ku minum."


"Terimakasih atas pujian Ibu Suri. Saya akan membuatnya banyak-banyak lain kali, agar semua bisa mencicipinya."


"Kau memang baik. Permaisuri, apa yang kau dengar di depan pintu tadi?"


"Saya tidak mendengar apapun. Anda tenang saja, tidak akan ada kejadian apapun yang terjadi di sini hari ini."


"Bukan itu maksud ku! Kau mendengar juga tidak masalah. Jia'er adalah anak yang malang. Sejak umur sebelas tahun ayahnya meninggal dalam perang. Tiga tahun setelahnya, giliran ibunya yang meninggal. Jia'er menjadi yatim piatu sejak saat itu. Tinggal di luar istana hanya bersama para pelayan. Menjalani kehidupan keras seperti masyarakat pedesaan pada umumnya. Baru setelah bertemu denganku, aku memutuskan untuk membawanya ke istana."


Ibu suri mengambil nafas panjang sebelum lanjut bercerita.


"Setelah sampai kesini, gadis itu tidak tumbuh menjadi sombong. Justru keceriaannya membuat suasana Istana ini menjadi hidup. Gadis itu suka berteman dengan siapapun, bahkan para pelayan dan kasim. Hari ini di pengadilan, wacana untuk memilih Selir baru telah dibuat. Aku berencana menjadikan Jia'er sebagai Selir Yi'er. Namun dia menolaknya."


"Mungkinkah Jia'er tidak menyukai Kaisar?"lirih Meihua. Benaknya masih memutar perkataan Ibu Suri soal pemilihan Selir baru. Sebab inikah yang membuat Tian Yi tidak menemuinya hampir dua hari ini?


"Aku tidak tahu. Hanya saja Jia'er dan Yi'er selalu berhubungan baik sejak kecil. Mereka pernah menghabiskan waktu bersama di bawah pohon willow, sambil menatap bulan. Kupikir karena itulah aku ingin menjadikan Jia'er sebagai selirnya."


Sampai di sini Meihua terpekur, kata demi kata yang disampaikan oleh Ibu Suri membuatnya tahu satu dan lain hal.


"Permaisuri, ku harap kau akan berlapang dada dengan hal ini. Jangan mempersulit Jia'er ke depannya. Anak itu berhati baik, hanya saja tidak percaya diri."


Ibu suri sampai mengira bahwa aku akan mempersulit Jia'er? Sepertinya cucu yang satu ini amatlah disayanginya.


"Ibu suri tenang saja. Jia'er selalu seperti adik bagiku, menjadi selir atau tidak selamanya ia akan menjadi adikku. Saya masih ada urusan yang lain, semoga Ibu Suri lekas sembuh. Saya permisi."


"Pergilah! Hati-hati di jalan."


Meihua mengangguk, lalu melangkah anggun tanpa menoleh ke belakang lagi. Pemilihan Selir ini tidak ia ketahui sebelumnya. Jika bukan Ibu Suri yang mengatakannya, dia pasti tidak akan tahu dalam waktu dekat ini. Memiliki selir atau tidak, Kaisar tetaplah bukan miliknya sendiri, dirinya hanya berharap para selir kali ini tidak seperti Hongmei ataupun Mingfen. Jika tidak maka ia pasti akan sakit kepala terus menerus.


Meihua hanya tahu, sesakit apapun dirinya di sini dia harus bertahan, demi Tian Yi. Demi laki-laki yang begitu ia cintai. Tak peduli jika cinta itu sendiri yang menyakitinya, tak peduli bahwa cinta itu sendiri yang perlahan-lahan mungkin bisa membunuhnya. Sebab, bukankah cinta selalu buta?