
Kawasan kumuh di pinggiran Kota.
Malam ini terasa begitu sunyi, namun kesunyian itu dipecahkan oleh langkah kaki yang tergesa-gesa berlari, milik seorang gadis muda dan cantik. Gadis cantik itu berlari sambil sesekali menoleh ke belakang. Dia terus berlari tanpa memikirkan arah tujuannya. Dia hanya ingin terbebas dari kejaran orang-orang berseragam hitam bertampang preman.
"Tuhan, tolong aku," ucapnya dalam hati.
Setelah merasa cukup jauh dari para pengejarnya, gadis itu berhenti sejenak di bawah pohon besar. Dia seolah baru sadar telah berlari masuk ke hutan. Kini raut wajah panik terukir di wajah cantiknya. Peluh menetes di keningnya. Bersamaan dengan kakinya yang mulai gemetar.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?"ucapnya sambil mulai menangis. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap menemukan jalan yang bisa menuntunnya kembali ke kota.Namun seolah waktu tak berpihak padanya. Saat sebuah teriakan mengagetkannya, teriakan dari para pengejarnya terasa terdengar jelas.
"Itu dia di sana, di bawah pohon.Tangkap!" Pemimpin para preman itu memberi perintah.
Tak ada yang bisa dilakukannya selain kembali berlari. Hingga langkah kakinya menuntunnya ke sebuah tebing curam di atas laut. Angin malam yang berhembus begitu dingin, membuat rambut dan bajunya berkibar.
Sejenak dia berhenti dan menoleh ke belakang. Hanya untuk mendapati pengejarnya sudah berada beberapa langkah di belakang nya.
Gadis itu dilema. Bila ia berbalik, pasti ia akan ditangkap dan dipaksa menjadi pengantin rentenir berkedok dewa penolong kaum miskin. Bila ia nekat melompat, lautan yang luas menunggunya di bawah sana dan ia pasti mati.
"Tak ada pilihan lain. Lebih baik mati daripada menjadi istri pria tua hidung belang itu,"katanya dalam hati.
"Hei gadis cantik, lebih baik ikut kami sekarang. Tak ada jalan untukmu lari lagi. Ikutlah kami secara baik-baik dan kau akan menjadi istri ke delapan Tuan kami. Kau akan hidup enak, berkecukupan dan tak perlu susah payah bekerja untuk melunasi hutang ibumu yang jalang itu. hahahaha." Pemimpin preman itu mulai menggertak.
"Tutup mulutmu!!! Jangan sebut ibuku jalang! Ini semua jebakan Tuanmu yang licik itu. Siapa sudi menikah dengannya. Lebih baik aku mati secara terhormat,"tukas si gadis dengan berani.
"Heiii.Bai Meihua! Jangan berpikiran sempit! Kami masih berbaik hati kepadamu. Kasihan sekali gadis cantik seperti dirimu harus mati disini. Lebih baik ayo kembali dengan kami!"
"Tidak Sudi!"
Gadis yang ternyata bernama Bai Meihua itu, sedikit demi sedikit menggeser kakinya mundur mendekati bibir tebing. Dia berniat melemparkan dirinya sendiri ke bawah sana, tanpa peduli apa yang akan terjadi kedepannya.
Kemudian tanpa bisa dicegah gadis itu melompat sembari menutup matanya. Seolah pasrah dengan kematian yang sebentar lagi akan menghampirinya. Sudah ia bayangkan tubuhnya akan hancur menabrak karang yang begitu runcing itu. Baginya, mati masih lebih baik daripada harus mengorbankan harga dirinya.
"Nona Bai!!!" Teriak pemimpin preman itu. Dengan cepat ia berlari ke bibir tebing. Berharap melihat Bai Meihua.Tapi tebing yang tinggi itu tak terlihat kedalamannya. Hanya suara debur ombak saat menghantam karang yang jelas terdengar. Bisa dipastikan Bai Meihua telah mati saat sampai di dasar sana.
"Kita kembali! Lapor kepada Tuan besar bahwa gadis itu lebih memilih mati daripada hidup enak", perintah sang pemimpin.
"Baik".
Sementara itu walau sudah bertekad untuk mati Bai Meihua tiba-tiba membuka matanya dan merasa takut saat tubuhnya terus jatuh dengan kecepatan tinggi.
"Ibu. Ayah. Kita akan segera bersama lagi,"bisiknya pelan.
Byuuuuurr. Debur ombak menutupi suara jatuhnya Meihua ke dalam air. Gadis itu diam tak bergerak. Perlahan namun pasti, tubuhnya terus tenggelam dan tenggelam semakin dalam. Tapi tiba-tiba, Meihua seolah melihat cahaya kecil yang bersinar terang dan semakin terang lalu semua gelap.
.
.
.
Bersamaan dengan jatuhnya Meihua, angin seolah berhenti berhembus. Suasana yang tadinya bising dengan deburan ombak kini hening. Langit menjadi cerah. Bulan yang tadinya tertutup awan kini bersinar terang dan semakin terang. Lautan yang tadinya bergelora dengan ombaknya yang begitu besar ikut tenang. Bahkan permukaan air tampak jernih saat memantulkan cahaya bulan.
Di dalam sana, saat sesosok tubuh tenggelam semakin dalam. Sebuah cahaya yang datang dalam sekejap membawanya pergi dari dasar laut. Sama sekali tidak ada tanda-tanda apapun. Lalu semuanya kembali seperti semula. Angin yang berhembus kencang. Ombak yang menghantam karang. Lautan yang kembali menggelora dalam gelapnya malam. Dewa telah menggerakkan tangannya kali ini. Menulis ulang suratan takdir seorang gadis bernama Bai Meihua.
Siapa yang tahu