My Empress From The Future

My Empress From The Future
LEBIH DARI DUA SELIR ?



Kaisar Tian Yi berjalan lesu dari Istana Emas menuju Istana Zhuanshi. Dalam pikirannya saat ini adalah menghabiskan waktu bersama Permaisurinya hingga pagi menjelang. Sepanjang hari duduk di belakang meja dengan segunung laporan sungguh membuat kepalanya pening.


Ketika kasim Kang mengumumkan kedatangannya, Permaisuri Meihua yang sedang bermain dengan Mei Lian kecil segera berdiri dan menyambutnya. Setelah memberikan hormat dengan takzim, Permaisuri bergegas menuangkan secangkir teh yang keharumannya memenuhi seluruh ruangan.


Kaisar belum bicara apapun, hanya menatap Mei Lian kecil dalam gendongan Meihua. Sedangkan Meihua memilih mengacuhkan Kaisar, menyibukkan diri dengan Mei Lian.


"Semakin lama Mei Lian semakin mirip dirimu, Hua'er." Kalimat itulah yang meluncur pertama kali dari mulut Kaisar.


"Dia juga anakku, Yang Mulia."


Jawaban Meihua terasa sedikit dingin. Tanpa kata, Kaisar menyuruh para dayang mengambil Mei Lian dari pelukan Meihua dan membawanya keluar. Meninggalkan keduanya di dalam ruangan yang hening.


"Kau marah pada Zhen, Hua'er?"


"Saya tidak berani."


"Hua'er, kau pasti sudah mendengar soal pemilihan Selir?"


Tak ada jawaban dari Meihua, hanya anggukan kepala yang menandakan bahwa wanita itu telah mendengarnya.


"Maafkan Zhen. Semua ini terjadi karena...."


"Karena saya belum juga mengandung seorang anak pun untuk Anda, Yang Mulia,"tukas Meihua cepat. "Karena saya sebagai seorang Permaisuri dianggap telah gagal. Oleh karena itu Selir diperlukan untuk untuk segera memberikan putra-putri yang nantinya bisa mewarisi takhta Anda."


"Tidak seperti itu Hua'er! Siapa yang bilang kalau kau gagal sebagai seorang Permaisuri? Zhen akan menghukumnya dengan keras."


"Sudahlah Yang Mulia. Saya menerima bahwa Anda memang memerlukan Selir lagi."


Kaisar Tian Yi mengusap wajahnya dengan frustasi. Tidak pahamkah Meihua bahwa di dalam hatinya hanya ada dirinya?


"Kalau Zhen memang memerlukan Selir, kenapa Zhen memperbolehkan Mingfen pergi dari Istana? Hua'er tidak tahukah kau bahwa ini semua hanya akal-akalan para menteri yang ingin menambah pengaruh mereka di istana?"


"Lalu kenapa Anda tidak menolak?"


"Karena ini semua menyangkut dirimu!"


"Apa maksud Anda? Jadi akhirnya ini semua memang karena ku yang gagal memberikan seorang anak untuk kerajaan ini?!"


"Hua'er! Jangan bodoh!" Bentakan kerasa segera terdengar. Bahkan Kaisar sendiri terkejut dengan kerasnya suaranya. Apalagi Meihua, wanita itu mundur dua langkah karena terlalu kaget. Raut wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan.


"Anda membentak saya?"lirih Meihua tak percaya.


"Hua'er. Maafkan Zhen. Maafkan Zhen. Kemarilah!"


"Tidak! Anda sekarang bahkan membentak dengan begitu keras. Siapa yang tahu apa yang akan Anda lakukan lain kali? Mungkin Anda akan mengambil nyawa ku."


Tanpa berpikir lagi Kaisar maju dan merengkuh Meihua dengan erat. Bisa ia rasakan Meihua memberontak di dalam pelukannya. Hal yang tak pernah dilakukan Meihua sebelumnya. Sungguh kata-kata kerasnya mungkin telah menyakiti Meihua.


"Maafkan Zhen. Kau tahu Hua'er, hanya kau yang ada di dalam hati Zhen. Hanya kau! Tidak peduli berapa banyak wanita yang datang dalam kehidupan kita, hanya kau yang selalu menjadi kesayangan Zhen. Percayalah!"


"Tapi Anda bahkan akan mengambil lebih dari dua selir. Bukankah itu keterlaluan?"


"Zhen minta maaf. Zhen memang bersalah. Zhen berjanji tidak akan menyentuh mereka sedikitpun."


"Janji Anda tidak akan berlaku. Apalagi Anda juga akan mendapatkan Jia'er sebagai Selir. Bukankah kalian berdua pernah menghabiskan waktu bersama di bawah pohon willow waktu? Bukankah itu suatu kenangan yang tidak akan terlupakan."


Meihua terisak. Ada rasa sakit yang amat sangat menusuk hatinya.


"Jia'er selamanya hanya akan menjadi adikku. Dia berhak mendapatkan pasangan hidup yang mencintainya. Waktu itu kami tidak menghabiskan waktu bersama seperti kata orang-orang. Kita berdua menguburkan sebuah perhiasan milik ibunya yang diberikan pada Jia'er, dan seguci arak bunga persik yang akan diminum saat Jia'er menikah dengan pria yang ia cintai."


"Benarkah?"


"Tentu saja. Jia'er berhak mendapatkan laki-laki baik dan berasal dari keluarga bangsawan. Dia berhak bahagia. Berada di sisiku bukanlah kebahagiaan untuknya."


Meihua mengangguk lalu menatap wajah Tian Yi dengan saksama. "Siapa menteri bodoh yang mengatakan bahwa Anda harus mengambil selir?"


"Hua'er apa yang akan kau lakukan?"


"Katakan!"


"Perdana menteri Liu, dengan dukungan lebih dari separuh pejabat di pengadilan."


"Laki-laki tua itu!"


"Hua'er tenanglah. Perdana menteri Liu sangat setia, Zhen tidak menemukan adanya motif lain di balik ini semua. Lagipula dia tidak memiliki anak perempuan, juga kerabatnya tidak ada yang masuk daftar Selir. Jadi Zhen pikir mungkin ini hanya demi kebaikan kita."


"Kebaikan kita?"tanya Meihua heran. Kebaikan macam apa dengan menyarankan agar seorang suami bisa memiliki selir sebanyak-banyaknya? Tidak salah lagi, zaman ini memang penuh tipu muslihat.


"Baiklah. Anda harus berjanji tidak akan menyentuh mereka sedikitpun! Tidak sebelum aku mati!"


"Kalimat macam apa itu? Kau akan terus hidup hingga ribuan tahun. Mendampingi Zhen memerintah negara."


"Ribuan tahun? Bukankah aku akan menjadi wanita tua yang tidak cantik lagi? Lagipula apa susahnya berjanji? Jangan-jangan Anda memang berniat menyentuh mereka bahkan memiliki anak dari mereka?!" Nada suara Meihua terdengar penuh ancaman. Kaisar yang mendengarnya hanya tersenyum simpul.


"Baiklah. Zhen berjanji. Janji seorang Kaisar tidak akan bisa diingkari. Kau puas Permaisuri?"


"Tentu. Terimakasih Yang Mulia."


"Baiklah. Kau sudah puas, tapi Zhen belum. Bagaimana kalau melanjutkan hal yang kemarin tertunda? Bukankah Mei Lian membutuhkan seorang Adik?"


Kedipan mata Kaisar terlihat menggoda. Meihua tersipu hingga memutuskan untuk mengambil langkah seribu.


Sayang sekali jalan yang diambilnya salah, Meihua harus rela masuk dalam pelukan Kaisar tercintanya.


Perdana menteri Liu memasuki Istana dengan langkah cepat. Segera setelah diperbolehkan masuk oleh Kaisar. Dengan takzim Liu Chang menghormat pada Kaisar Tian Yi.


"Yang Mulia Kaisar, hamba membawa nama-nama calon Selir yang anda minta."


"Terimakasih perdana menteri Liu."


"Yang Mulia, apakah Permaisuri sudah mengetahuinya?"


"Dia sudah tahu. Bahkan dia tahu kalau kau yang mengusulkan rencana pemilihan Selir ini. Dan tahukah kau apa reaksinya?"


"Hamba tidak tahu."


"Dia terlihat seolah ingin menguburmu hidup-hidup. Beruntungnya kau adalah seorang yang setia pada Zhen, sehingga kemarahannya bisa diredam."


"Hamba dengan tulus meminta maaf pada Anda dan Permaisuri. Bolehkah hamba mengunjungi Permaisuri untuk mengucapkan permintaan maaf ini secara langsung, Yang Mulia?"


"Boleh. Tapi segala resikonya harus kau tanggung sendiri!"


"Hamba pasti siap dengan segala resikonya. Terimakasih atas izin Kaisar."


"Hmm."


"Hamba undur diri Yang Mulia."


Segera setelah itu, Liu Chang meninggalkan istana emas dengan langkah pasti. Otaknya memikirkan berbagai cara untuk lepas dari kemarahan Permaisuri. Bagaimanapun Permaisuri adalah seorang yang berjasa bagi negara, mendapatkan kemarahannya sama halnya dengan mendapatkan kemarahan dari dewa.


Seusai kepergian Liu Chang, Kaisar menekuri daftar nama yang tertulis di buku laporan itu. Dari dua puluh nama gadis keturunan bangsawan dan putri pejabat yang terdaftar, hanya lima yang masuk dalam pertimbangannya. Yang Jiali, Wang Zixun, Yin Ruoruo, Wei Ning, dan Song Yue. Kelimanya adalah gadis yang datang dari keluarga berbeda.


Posisi kedudukan ayah mereka tidak terlalu tinggi dan juga tidak terlalu rendah. Membuat Kaisar akan dengan mudah mengawasi mereka, jika ada kejanggalan setelah putri-putrinya terpilih menjadi selir. Sebab tidak menutup kemungkinan bahwa seseorang akan gelap mata dengan kedudukan dan status tinggi, sehingga melupakan darimana dirinya berasal.


Kaisar segera memberikan lima daftar itu pada Kasim Kang, menyuruhnya membawa daftar itu pada Permaisuri. Kaisar hanya tidak ingin keputusannya mengambil selir membuat Permaisuri berada dalam bahaya. Sedangkan jika tidak mengambil selir, maka kedudukan Permaisuri juga sangat rentan.


Liu Chang, sang perdana menteri kembali memasuki istana dengan seorang bocah laki-laki berusia lima tahun. Melihat dari kemiripannya, bocah laki-laki itu sudah bisa dipastikan adalah putranya, Liu Changyi. Changyi adalah seorang anak laki-laki berparas rupawan, dengan tutur kata sopan dan sorot mata yang berbinar cerah. Senyumnya juga indah, siapapun yang melihatnya akan segera terpesona. Tak bisa dipungkiri, kelak saat dewasa Changyi akan menjadi pemuda yang digandrungi banyak gadis.


Tujuan perdana menteri Liu ke istana adalah mencari Permaisuri untuk meminta maaf. Dengan membawa putranya, perdana menteri Liu berharap kemarahan Permaisuri tidaklah semengerikan yang ia bayangkan.


Permaisuri Meihua sendiri ternyata berada di taman kekaisaran. Menikmati bunga-bunga mekar di akhir musim bersama Putri Mei Lian di gendongannya dan sejumlah dayang serta kasim. Sinar matahari pagi terasa menghangatkan badan, menghapus jejak-jejak embun di pucuk daun.


"Yang Mulia Permaisuri. Perdana menteri Liu dan putranya memohon untuk menghadap kepada Anda." Seorang kasim kecil menunduk rendah di hadapan Meihua.


"Dia? Ada keperluan apa mengunjungi ku? Baiklah. Karena sepatu ini dia sudah bersemangat sekali, perbolehkan kemari!"


"Hamba mematuhi perintah."


"Hamba yang rendah ini menghaturkan hormat pada Permaisuri." Liu Chang berucap sopan.


Di samping ayahnya, Changyi kecil membungkuk hormat dengan senyum manis di wajahnya.


"Bangunlah kalian berdua! Perdana menteri Liu, duduklah!"


"Terimakasih Yang Mulia."


Meihua mengangguk, lalu menatap dengan teliti anak laki-laki di depannya. Yang di tatap menundukkan kepalanya dalam-dalam. Merasa segan dengan kharisma sang Permaisuri.


"Ini adalah...."


"Ah... Yang mulia Permaisuri, ini adalah putra hamba satu-satunya, Changyi. Changyi lekas beri salam pada Permaisuri!"


"Changyi memberi salam hormat pada Permaisuri, semoga bahagia selalu."


"Bangunlah! Kau pasti akan tumbuh menjadi pemuda berbudi luhur dan santun. Lain kali tidak perlu terlalu sopan seperti itu!"


"Terimakasih Yang Mulia Permaisuri." Pandangan mata Changyi beralih pada bayi Mei Lian di gendongan Permaisuri, wajahnya berseri. "Yang Mulia, apakah dia putri Mei Lian?"tanyanya. Ada nada bersemangat dalam suara Changyi.


"Benar. Kau ingin melihatnya?"


Changyi mengangguk, lalu maju setelah diperbolehkan oleh Permaisuri. Perlahan dielusnya wajah bulat berisi milik Mei Lian.


"Bayi yang cantik. Kelak saat kau besar, bermainlah bersamaku. Bagaimana?" Pertanyaan Changyi memicu kepanikan di wajah ayahnya. Dengan berdehem keras-keras untuk memberi kode pada Changyi. Sayangnya Changyi yang terlarut dalam kegembiraannya menghiraukan deheman ayahnya.


"Sudahlah perdana menteri. Mereka masih anak-anak. Kelak ijinkan Changyi untuk sering-sering bermain ke istana! Bermain dengan Lian'er dan mengunjungi ku."


"Hamba mengerti maksud Permaisuri."


"Changyi, kelak kau boleh masuk ke istana semaumu, kau harus mengunjungi ku dan bermain bersama Mei Lian. Bagaimana?"


"Baik. Changyi berterimakasih atas berkah Permaisuri."


"Yang Mulia Permaisuri, sebenarnya ada suatu hal yang ingin hamba bicarakan." Liu Chang gemetar di bawah tatapan mata Permaisuri. Beruntung dia duduk di atas kursi, jika ia hanya berdiri, maka saat ini bisa dipastikan ia sudah jatuh berlutut.


"Soal pemilihan Selir?" Meihua menebak tepat sasaran.


"Benar. Hamba ingin menyampaikan permintaan maaf karena mengusulkan hal itu pada Kaisar. Hamba hanya memikirkan kelangsungan kerajaan dan juga dukungan bagi Kaisar."


"Kau benar. Dengan putri-putri bangsawan yang di kirim kemari sebagai Selir, otomatis keluarga mereka akan mendukung pemerintahan Kaisar saat ini. Perdana menteri Liu, aku memahami maksud mu."


"Tapi....tapi... Kaisar berkata bahwa Anda..."


"Aku marah padamu? Benar. Beberapa waktu yang lalu aku memang marah padamu. Tapi setelah kupikirkan lagi, memang benar ucapan mu, Selir diperlukan untuk memiliki dukungan dari keluarga bangsawan."


"Terimakasih atas kemurahan hati Permaisuri. Hamba sangat berterimakasih."


"Tidak perlu seperti itu! Bagaimanapun kau adalah perdana menteri yang setia, kau memikirkan kelangsungan kerajaan. Aku seharusnya memberikan hadiah untuk mu!"


"Hamba hanya berpikir demi kerajaan, sama sekali tidak mengharapkan imbalan."


"Baiklah. Karena kau menolak, lebih baik kuberikan pada Changyi." Permaisuri melepas perhiasan giok yang tergantung di pinggangnya. Diberikannya giok itu pada Changyi.


"Changyi, dengan giok ini kau bisa kapan pun masuk ke istana dan mengunjungi ku juga Lian'er. Jaga baik-baik giok ini!"


"Hamba berterimakasih kepada Permaisuri."


"Saat kau sudah lebih besar, kau harus bersekolah di sekolah Istana seperti anak-anak bangsawan yang lain. Buat dirimu berguna bagi kerajaan ini, Changyi!"


"Changyi pasti mengingat petunjuk Permaisuri."


"Terimakasih atas kemurahan hati Permaisuri. Hamba harus segera kembali, ada pertemuan dengan Kaisar setelah ini. Hamba permisi." Liu Chang membungkuk hormat, diikuti oleh Changyi.


"Changyi undur diri Yang Mulia. Sampai jumpa lagi!"


"Pergilah! Hati-hati di jalan, sampai jumpa lagi!"


Kedua ayah dan anak itu pergi dari taman kekaisaran. Kali ini perdana menteri Liu merasa sangat bangga dan beruntung mempunyai putra seperti Changyi. Putranya mampu membuat Permaisuri menyukainya, bahkan memberikan giok pengenalnya kepada Changyi. Sungguh anugerah dewa yang tak terduga datang bagi keluarga Liu.


Permaisuri menatap lima daftar nama yang dipilih Kaisar sebagai selirnya siang ini. Sebenarnya dari lima nama itu, masih bisa di pilih tiga yang paling unggul dari yang lainnya. Namun, Permaisuri yang terlanjur merasa lelah, memutuskan untuk membawa kelimanya memasuki istana sebagai selir. Gelar yang diberikan pada mereka pun akan bergantung pada sikap dan tindakan tanduk mereka di istana nanti.


Kelimanya akan memasuki istana dengan rentang waktu bersamaan. Meihua tahu akan muncul banyak persaingan di dalam istana Harem yang dipimpinnya. Hal ini cepat atau lambat akan membuat kepalanya sakit lagi. Meihua hanya berharap Kaisar akan menepati janjinya dengan tidak menyentuh mereka. Tampaknya Meihua harus meletakkan seseorang di samping Kaisar mulai sekarang.


Keputusan Kaisar telah dikirimkan kepada keluarga bangsawan yang putrinya dipilih sebagai selir, tak terkecuali keluarga Yang.


Jiali akan masuk ke istana tanggal kedua bulan depan, jadi masih ada waktu dua Minggu sejak saat ini. Yang Qingli yang tidak terpilih menjadi frustasi untuk beberapa waktu belakangan ini. Berbagai hal dilakukan olehnya, termasuk hal yang mengancam nyawanya. Perbuatannya membuat seluruh keluarga Yang sibuk bukan kepalang. Tampaknya pejabat Yang akan semakin tua dari waktu ke waktu.