My Empress From The Future

My Empress From The Future
Pengantin Kaisar



Hasil dari kompetisi pemilihan calon permaisuri akan diumumkan siang ini. Keluarga Jenderal Li, keluarga pejabat Chu dan keluarga menteri Kang semua hadir di istana. Begitu pula pejabat-pejabat dari berbagai tingkatan. Tarian dan musik dimainkan dengan penuh sukacita. Aroma arak yang harum menguar di udara. Berbagai hidangan tersaji di atas meja masing-masing. Suasana terasa begitu meriah.


Hanya ketiga gadis muda yang duduk bersama keluarga masing-masing yang merasa gugup. Satu dari mereka sangat berambisi dan yakin dirinya akan menang. Satu dari mereka merasa tenang dan lapang dada, sedangkan satu yang terakhir merasa bahwa nyawanya sudah di ujung tanduk dengan menikahi Kaisar.


Setelah beberapa waktu berlalu dengan menikmati tarian, kini Kaisar Tian Yi akan mengatakan keputusannya.


"Para pejabatku yang terkasih. Hari ini adalah salah satu hari bersejarah bagi kerajaan Wu kita yang besar. Ketiga putri bangsawan telah menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Ibu Suri kemarin. Hari ini Zhen akan memilih salah satu dari mereka yang pantas dan mempunyai kemampuan menjadi seorang Ibu bagi seluruh rakyat."


"Yang Mulia Kaisar bijaksana." Seru seluruh yang hadir disana.


"Calon permaisuri dipilih berdasarkan kompetensinya menyelesaikan tiga tugas yang diberikan oleh Ibu Suri. Bacakan hasil kompetisi!"


"Baik Yang Mulia."


Kasim Hui, Kasim dari istana Ibu Suri mulai membaca hasil kompetisi.


"Hasil dari kompetisi yang dilakukan ketiga putri bangsawan adalah sebagai berikut. Tahap pertama, menyulam. Dengan ketrampilan menyulam, seorang wanita akan dipandang halus dan lembut. Dia akan menjadi ibu bagi seluruh rakyat dan ibu yang baik. Hasil sulaman terindah adalah sulaman Nona Meihua. Sulaman burung Hong dan Naga yang mewakili Kaisar dan permaisuri."


Seluruh orang yang hadir bertepuk tangan dengan meriah. Keluarga Jenderal malah membeku di tempat mereka duduk. Mereka seolah tak percaya dengan hasil itu. Terutama Meihua.


"Tahap kedua, melukis. Dengan keahlian melukis seorang wanita akan dipandang tinggi siapapun. Lukisan yang pantas menghiasi ruangan pribadi Ibu Suri adalah lukisan Nona Hongmei. Akan tetapi Ibu Suri belum pernah melihat lukisan seperti milik nona Meihua, permainan warna yang begitu berani belum pernah ditemui di kerajaan Wu. Ibu suri menginginkan lukisan ini juga dipasang bersama lukisan Nona Mingfen di aula istana."


Seluruh aula kembali ramai dengan tepuk tangan meriah.


"Apa-apaan ini? Kenapa aku yang menang tapi lukisan mereka juga diinginkan ibu suri?" batin Hongmei. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya. "Bukankah dengan begini seluruh kerja keras ku akan sia-sia!"


"Tahap terakhir adalah seni sastra. Seorang wanita yang mengerti sastra akan terlihat anggun dimanapun dia berada. Sastra membuat setiap orang merasakan kebahagiaan. Jawaban nona Meihua dan nona Hongmei sama-sama menarik. Pemenangnya adalah Nona Hongmei. Selesai."


Tepukan tangan yang lebih keras terdengar kali ini. Seluruh pasang mata menatap ke arah keluarga Kang duduk. Setiap orang menyatukan kedua tangannya dan memberikan ucapan selamat pada keluarga Kang.


"Sudah pasti aku yang menang. Takdir menjadi seorang permaisuri adalah takdirku. Bagaimana mungkin aku kalah?" Hongmei tersenyum penuh kepuasan.


.


.


"Aku memang memilih nona Hongmei sebagai pemenang untuk tugas ketiga. Tapi, jawaban nona Meihua juga menyenangkanku. Gadis yang pandai, kau mengerti tentang mengatur negara dan memuaskan rakyat," Ibu Suri memuji Meihua. Kini hampir semua pasang mata kembali menatap Meihua.


"Terimakasih atas pujian Ibu Suri, hamba hanya menuliskan apa yang menjadi pemikiran hamba. Mengatur negara dan memuaskan rakyat tentu hanya Yang Mulia Kaisar yang menguasainya."


Meihua merendahkan diri. Ditatap begitu banyak orang membuatnya tak nyaman.


"Kau pandai merendah, jangan berkecil hati. Keputusanku dan Yang Mulia Kaisar berbeda. Aku hanya menguji dan memastikan bahwa pendamping Kaisar haruslah gadis yang benar-benar pantas."


"Hamba tidak berani, Ibu Suri."


"Zhen akan mengumumkan calon permaisuri yang telah Zhen pilih. Dua gadis lainnya akan Zhen angkat sebagai selir kehormatan dan akan masuk istana dua bulan setelah pernikahan Zhen dengan Permaisuri. Zhen memilih Li Meihua sebagai Permaisuri Zhen."


Segera setelah Kaisar selesai mengumumkan keputusannya, bisik-bisik menyebar ke seluruh aula bagai dengungan lebah. Semua orang mempertanyakan keputusan Kaisar Tian Yi.


"Apa? Kenapa malah nona Meihua, bukankah nona Hongmei yang memenangkan dua tahap kompetisi?"


"Apakah itu adil? Meihua itu hanya anak angkat!"


"Benar. Hanya seorang anak angkat yang tinggal di desa dan kebetulan mempunyai jawaban yang bagus."


"Apa ini kenapa dia yang menjadi permaisuri, sedangkan aku harus puas dengan kedudukan selir kehormatan?" Hongmei melirik Meihua dengan sengit. Jika pandangan mata bisa membunuh, maka Meihua pasti telah terbujur kaku sekarang.


"Ah, beruntungnya kakak Meihua, aku senang dia bisa terpilih," Mingfen mengulas senyum pada Meihua.


"Ini benar-benar lelucon. Anak ku yang menang dan putri angkat itu yang jadi permaisuri?" Menteri Kang terang-terangan menampakkan wajah tidak puas.


"Kasihan nona Mingfen, dia tidak menang sama sekali."


"Kau bicara apa? Anak seorang pelayan apakah bisa menjadi permaisuri?"


"Jangan bicara sembarangan, nona Mingfen tetap menjadi selir kehormatan nanti."


"Kupikir Kaisar salah mengambil keputusan."


"Yang Mulia. Bukankah putri hamba yang memenangkan dua tahap kompetisi? Seharusnya...."


Belum selesai menteri Kang membela putrinya, Kaisar telah menukas dengan tajam.


"Menteri Kang meragukan pilihan Zhen? Kau pikir Zhen tidak mempertimbangkan dengan cermat pilihan ini?"


"Hamba tidak berani Yang Mulia. Maafkan hamba. Maafkan hamba." Permintaan maaf menteri Kang hanya di tanggapi dengan dingin oleh Kaisar.


Kasak-kusuk masih terdengar dari berbagai sudut. Banyak yang mempertanyakan keputusan kaisar. Beberapa bahkan merasa tidak puas.


"Zhen mengerti keputusan ini menimbulkan tanda tanya untuk kalian. Tapi sesuai perkataan Ibu Suri, keputusan Zhen dengan keputusan Ibu Suri bisa saja berbeda. Apakah masih ada yang meragukan perkataan Zhen?"nada suara Kaisar Tian Yi meninggi, perkataan itu mengandung nada dingin.


"Kami tidak berani Yang Mulia."


Semua menunduk, tidak seorangpun yang berani mendongak, bagaimanapun perkataan Kaisar bagaikan sabda langit. Itulah sebabnya kenapa Kaisar sering juga di sebut sebagai Putra Langit.


"Nona Meihua, apakah kau keberatan dengan keputusan Zhen? Bersediakah menjadi permaisuriku? Menjadi ibu bagi seluruh rakyat kerajaan Wu?"


Meihua gemetar hebat di kursinya. Hal yang ia takutkan malah terjadi di depan matanya. Kini pertanyaan dari Kaisar bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Jika dia berani menolak, maka seluruh keluarga Jenderal akan mendapat hukuman karena menolak perkataan Kaisar. Jika ia menerimanya, bukankah kebahagiaan yang diimpikan olehnya akan hilang?


Karena melihat Meihua gemetar dan belum juga menjawab pertanyaan Kaisar, Nyonya Lianhua panik. Dengan cepat disentuhnya tangan Meihua yang saling bertaut. Sentuhan kecil itu membuat Meihua tahu dirinya harus segera membuat keputusan.


"Menjawab Yang Mulia Kaisar, hamba tidak berani menolak keputusan Kaisar, hamba bersedia."


Lain di mulut lain pula di hati, dalam hatinya Meihua tak henti-hentinya menyesali keadaan dirinya. Selamat tinggal kebebasan dan kebahagiaan.


"Keluarga Li berterimakasih atas kebaikan Yang Mulia Kaisar dan Ibu Suri. Semoga Yang Mulia Kaisar panjang umur hingga ribuan tahun, semoga Ibu Suri panjang umur hingga ribuan tahun."


Jenderal Li memimpin penghormatan untuk Kaisar dan Ibu Suri.


"Bangkitlah! Pernikahan akan di adakan sepuluh hari dari sekarang. Hari itu adalah hari keberuntungan yang telah di pilih oleh pendeta istana. Keluarga kalian cukup mempersiapkan mempelai wanita, semua hal lain telah dilakukan oleh istana," ucap Kaisar.


"Kami mengerti, Yang Mulia."


.


.


.


.


.


.


Hari-hari berikutnya, kediaman Jenderal Li benar-benar sibuk. Para pelayan diperintahkan mempersiapkan dekorasi pernikahan berwarna merah, membersihkan halaman, mempersiapkan jamuan makan, menyiapkan tandu pengantin, memberikan santunan untuk rakyat miskin dan pengemis.


Di kamarnya, Meihua sama sekali tidak boleh melakukan apapun yang bisa membuatnya lelah atau bahkan cidera. Dia hanya boleh duduk, berbaring, membaca buku, itupun dilakukannya di kamar. Sama sekali tidak boleh ke perpustakaan. Setiap harinya, sang ibu akan membawa sejumlah dayang untuk memberikan pijatan, membantu membersihkan diri, merawat tubuh dan wajahnya.


Malam ini Meihua ingin berendam dalam air hangat bertabur bunga. Berbagai bunga yang menguarkan bau harum, dan air hangat membuat Meihua yang tengah berendam begitu rileks. Saat itu hanya ada tiga orang pelayan wanita yang membantunya.


Ketika telah selesai dan tengah memakai baju bersih untuk bersiap tidur, pelayan yang berdiri di dekat jendela tiba-tiba roboh dengan sebatang panah tertancap di punggungnya. Beberapa anak panah lagi meluncur deras ke arah mereka. Sontak dua pelayan yang lain langsung menjerit keras dan mendorong Meihua untuk lari. Sedangkan mereka roboh terkena panah-panah yang lain. Mereka dengan sukarela menjadi tameng bagi Meihua, untuk menyelamatkan diri.


Keributan yang terjadi di Paviliun Musim Semi menarik perhatian para penjaga yang tengah berkeliling. Salah satu penjaga itu berteriak keras, "Ada penyusup. Lindungi Nona Meihua!"


Serombongan prajurit datang berbondong-bondong dipimpin oleh Hao Chen, menuju Paviliun Musim Semi. Pembunuh yang telah terpergok pun mengambil langkah seribu. Hao Chen memimpin pengejaran dengan gigih.


Walaupun berada dalam kepungan, pembunuh itu sama sekali tidak menunjukkan sikap gentar. Menjadi bagian dari organisasi pembunuh membuatnya harus siap dengan segala resikonya. Tidak mau tertangkap tanpa melakukan perlawanan, tiga orang pembunuh itu mulai menyerang dengan cepat.


Gerakan mereka begitu cepat dan terorganisir dengan baik, para prajurit tentu saja bukan lawan yang seimbang. Dengan segera, banyak dari para prajurit yang kehilangan nyawa. Hao Chen yang meradang memutuskan untuk menyerang ketiganya sekaligus.


Jenderal Li dan istrinya yang mendapat laporan bahwa Meihua diserang langsung mendatangi Paviliun Musim Semi dengan terburu-buru.


"Hua'er apa ada yang terluka?" Lianhua bertanya dengan cemas.


"Hua'er apa kau terluka? Apa kau merasa sakit?" Jenderal Li bahkan merasa khawatir.


"Ayah ibu, Hua'er baik-baik saja. Hanya terkejut, tapi para pelayanku tewas terbunuh,"sesal Meihua.


"Tidak apa-apa, yang sudah terjadi tidak perlu disesali. Ayah akan memberi santunan kepada keluarganya. Jika dia mempunyai saudara laki-laki ayah akan membawanya masuk kemiliteran."


"Benarkah ayah? Meihua sungguh merasa bersalah. Seharusnya panah itu mengenaiku. Tapi para dayang itu melindungiku."


"Tentu saja. Sekarang kau harus tenangkan diri! Biarkan ibumu menemani mu di sini. Ayah akan membantu Hao Chen mengurus mereka."


"Suamiku hati-hati!"


"Ayah. Jaga diri anda!"


Lianhua dan putrinya duduk berdampingan di ranjang Meihua.


"Hua'er kau harus berganti pakaian dan menyisir rambutmu! Biar ibu bantu. Oh ya, dimana Li Mei?"


"Li Mei sedang mempersiapkan baju pengantinku ibu."


"Baiklah. Setelah ini ibu akan menyuruh orang menggantikannya, agar dia bisa beristirahat. Kemari ibu sisirkan rambutmu."


"Terimakasih ibu."


Lianhua menyisir rambut Meihua dengan perlahan. Sedangkan Meihua sendiri tengah melamun. Percobaan pembunuhan yang dialamatkan padanya ini memang membuatnya terguncang.


"Ibu. Kira-kira siapa yang menginginkan kematian ku?"


Gerakan tangan Lianhua terhenti. Dipandanginya wajah Meihua yang terpantul di cermin tembaga.


"Status mu sekarang adalah calon permaisuri Kaisar. Tentu saja ada banyak orang yang menginginkan kematianmu! Hua'er ke depannya kau harus selalu berhati-hati!"


"Baik. Nasehat ibu akan selalu Hua'er ingat."


"Putri yang baik." Lianhua tersenyum. Gadis ini baru beberapa hari menjadi putrinya, sekarang dia harus melepasnya lagi. Walaupun kediaman Jenderal dan istana kerajaan tidak begitu jauh, namun dengan status Meihua di masa depan, takutnya akan sulit menemuinya di istana.


Meihua berpikir cepat. Belum menjadi permaisuri saja dia hampir kehilangan nyawanya. Sekarang dia harus lebih berhati-hati dalam segala hal. Sekarang saatnya menunjukkan bahwa Meihua bukan gadis yang gampang ditindas.


Siapapun itu aku akan menyelidikinya, akan ku pastikan dia menerima balasannya. Aku telah menerima takdirku sebagai permaisuri, tapi masih ada yang begitu menginginkan kematian ku. Kalau aku tidak membalas semua ini, bukankah aku terlalu baik hati?


.


.


.


Hari pernikahan akhirnya tiba. Selama sepuluh hari di kediaman Jenderal, ada banyak serangan yang ditujukan untuk Meihua. Upaya pembunuhan waktu itu hanyalah awal dari serangkaian upaya pembunuhan yang lain. Kue yang beracun, pelayan yang mencoba membunuh Meihua demi balas dendam, hingga Paviliun Musim Semi yang hampir terbakar.


Namun dengan perlindungan Jenderal dan Hao Chen yang sewaktu-waktu menemani Meihua, semua itu bisa di hindarkan.


.


.


.


Mentari pagi telah merayap keluar dari peraduannya. Sinar hangatnya menyapu seluruh penjuru bumi dengan adil. Hari ini adalah hari pengangkatan Meihua sebagai permaisuri kerajaan Wu.


Meihua yang telah didandani nampak begitu cantik mengenakan pakaian pengantin berwarna merah bersulam burung Phoenix. Mahkota Phoenix di kepalanya terasa berat, dengan taburan batu mulia dan tusuk konde yang bergoyang setiap Meihua melangkah.


Setelah memakai mahkota itu, kepala Meihua akan ditutup cadar merah, hanya sang suami yang akan membukanya di kamar pengantin.


Setelah hampir tiba waktunya, Meihua menaiki tandu mewah diiringi sekelompok orang yang memainkan musik dengan gembira. Serombongan dayang dan prajurit turut menyertai perjalanan menuju istana kerajaan. Iring-iringan pengantin itu adalah iringan pengantin yang termegah di seluruh penjuru kerajaan Wu.


Sesampainya di istana, Kasim Kang menyambut kedatangan mempelai wanita. Setiap sudut istana bersinar dengan warna merah yang membawa keberuntungan. Sejak gerbang pertama hingga ke altar pernikahan hanya warna merah yang mendominasi.


Kaisar yang duduk dengan begitu agung menunggu permaisurinya, berdiri setelah kedatangan mempelai wanita. Seorang pendeta yang dipercaya memimpin upacara pernikahan mulai membacakan doa-doa untuk kelancaran proses upacara pernikahan tersebut.


"Yang Mulia Kaisar.Waktu keberuntungan telah tiba,"ucap pendeta.


"Mulailah!"


"Baik Yang Mulia. Mohon mempelai wanita berdiri berdampingan dengan Yang Mulia Kaisar."


Meihua dipapah Li Mei hingga ke samping Kaisar, keduanya berdiri bersisian.


"Upacara pernikahan di mulai." Teriakan Kasim Kang menembus keheningan.


"Pertama, hormat kepada langit dan bumi." Kedua mempelai mulai berkowtow kepada langit dan bumi.


"Kedua, hormat kepada orangtua." Kedua mempelai memberi hormat kepada Ibu Suri.


"Ketiga, pasangan mempelai saling memberi hormat." Kedua mempelai berhadap-hadapan dan mulai membungkuk untuk saling memberi hormat. Setelah ketiga penghormatan yang dilakukan maka upacara sakral itu telah selesai.


"Selamat kepada Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri. Selamat kepada kerajaan Wu yang telah memiliki seorang ibu bagi seluruh rakyat."


Setelah upacara pernikahan itu, ucapan selamat dan hadiah pernikahan datang dari para pejabat dan menteri-menteri kerajaan Wu. Meihua kemudian di antar ke Istana Emas, kediaman Kaisar. Sedangkan Kaisar sendiri masih berada di aula utama istana untuk menjamu para tamu.


.


.


.


Di kamar bernuansa naga berwarna emas itu, Meihua sama sekali tidak tenang. Jari jemari tangannya saling meremas dan menggenggam erat. Keringat dingin menghiasi pelipisnya yang tertutup cadar merah. Ini adalah kali keduanya memasuki kamar pribadi Kaisar.


"Mei'er, apakah kau di sana?"


"Ya nona. Li Mei di sini, apakah Nona membutuhkan sesuatu?" Li Mei mendekati nonanya.


"Aku gugup sekali. Mei'er apakah setelah ini ada upacara lagi?"


"Tidak nona. Hanya ritual meminum arak pernikahan dan melepaskan cadar. Setelah itu kami akan undur diri."


"Ya sudah. Tinggalkan aku!"


"Baik Nona."


.


.


.


Upacara perjamuan selesai hampir tengah malam. Kaisar Tian Yi didampingi Kasim Kang kembali ke Istana Emas. Pintu di buka oleh Kasim Kang, setelah Kaisar masuk, pintu kembali ditutup oleh Kasim Kang.


Pemandangan pertama yang menyambut Tian Yi adalah mempelainya yang duduk tegak dengan kepala yang terkadang mengangguk-angguk. Sekilas saja Kaisar muda itu tahu, Meihua telah tertidur dengan posisi duduk.


Dilepaskannya cadar merah dari kepala Meihua, di pandangnya wajah cantik yang memikat itu. Sayangnya, mata yang biasanya berbinar indah itu tengah tertutup.


Pelan-pelan di belainya pipi putih yang halus itu. Wajah cantik yang sejak pertama kali melihatnya, dirinya sama sekali tidak bisa tenang. Kini pemilik wajah cantik itu akan menjadi miliknya, hanya miliknya. Tidak peduli bahwa gadis itu sama sekali tidak ingin menikah dengannya. Toh dirinya adalah penguasa negeri ini, dia berhak mendapatkan gadis manapun dengan cara apapun.


Kaisar yang masih terpesona dengan wajah Meihua, sama sekali tidak menyadari kalau si empunya wajah telah bangun. Belum sempat Kaisar mengatakan apapun, sebuah jeritan melengking menghiasi malam yang dingin dan sepi itu. Jeritan itu berasal dari kamar pribadi Kaisar. Sebenarnya apa yang terjadi?