
Pagi itu terjadi kesibukan di Paviliun Musim Semi milik Meihua, semua pelayan sibuk menyiapkan berbagai macam pakaian dan perhiasan. Tentu saja yang memberi komando penuh adalah Nyonya Besar Lianhua, sedangkan Meihua hanya pasrah di depan meja rias.
"Ibu, bukankah kita hanya ke istana untuk bertemu Ibu Suri? Kenapa harus serepot ini ?" Meihua mengeluh.
"Hua'er, tidak menutup kemungkinan kita bertemu dengan Kaisar Tian Yi, jadi kau harus bersolek agar terlihat lebih cantik!"
"Li Mei segera pakaian tusuk konde itu, ayo cepat!"
"Baik Nyonya Besar."
Li Mei dengan cekatan memasangkan tusuk konde bertabur giok ke jalinan rambut Meihua.
"Nona anda semakin cantik, ahhhh pasti Kaisar tidak akan berkedip menatap mu nanti," goda Li Mei.
"Husss diamlah, siapa yang ingin dipandang Kaisar itu lama-lama ? Aku selalu merinding setiap dia memandangku. Aku bahkan berharap tidak pernah bertemu dengannya lagi."
"Hua'er tidak boleh bicara seperti itu, jika ayahmu mendengar, dia akan menegurmu," tukas sang ibu.
"Baiklah Bu, tapi aku lapar, bisakah kita sarapan sebelum kita ke istana?" Meihua menatap ibundanya memelas.
"Astaga, kau belum sarapan sejak tadi ? Aduh bukankah kau bangun pagi-pagi sekali?"
"Ya, tapi begitu aku membuka mata, Li Mei langsung menyeretku untuk mandi dan berdandan."
"Nona jangan menuduhku. Anda sendiri yang terlalu lama berendam sampai hampir ketiduran."
"Aduhh tidak ada waktu lagi, Li Mei jangan lupa bawakan kue lotus, biar nanti Meihua makan di dalam kereta."
"Siap Nyonya!!"
"Kue lagi? Ibu, tidak bisakah aku makan nasi dan ayam panggang sekarang?"
"Waktunya tidak cukup! Tahan dulu laparmu, untuk sementara makan kue saja dulu, nanti saat kita pulang, ibu belikan manisan," senyum Lianhua.
Ibu kira aku anak kecil yang dibelikan manisan langsung duduk diam dan patuh ? Semoga di istana nanti, Ibu Suri menyediakan makan siang juga hehehehe.
"Ayo berangkat sekarang!"
.
.
.
Perjalanan ke istana lumayan menyenangkan kali ini. Meihua bahkan menikmati perjalanannya ke istana kali ini, tentu saja karena ibunya mengenalkan berbagai sudut kota dengan jelas padanya.
Pasar yang penuh dengan beragam orang, penjual yang menjajakan dagangannya, pembeli yang menawar dan memilah-milah dagangan, anak-anak yang berlarian di jalan, suara musik dari sebuah restoran di iringi suara sendau gurau dan wanita-wanita cantik dari rumah bunga yang mencari pelanggan, menjadi daya tarik tersendiri bagi Meihua.
Istana kekaisaran ternyata begitu besar dan megah, berpuluh-puluh prajurit menjaga setiap sisi dan tembok istana. Lianhua menggenggam erat tangan putrinya, ia tahu Meihua sangat terpesona dengan pemandangan di istana dan ia tertawa kecil.
Kepala pelayan kediaman Jenderal menunjukkan lencana bahwa mereka dari keluarga Jenderal dan menerangkan kalau kedatangan mereka karena undangan dari Ibu Suri. Mereka langsung diantar hingga gerbang kediaman Ibu Suri. Hanya istri Jenderal serta Meihua dan Li Mei yang boleh masuk.
.
.
.
"Lianhua memberi salam pada Ibu Suri, semoga Ibu Suri di karuniai panjang usia, sejahtera selalu."
"Meihua memberi salam pada Ibu Suri, semoga Ibu Suri bahagia dan sehat selalu."
"Kalian berdua bangunlah!"
"Terimakasih Ibu Suri."
Untuk pertama kalinya Meihua melihat sosok Ibu Suri, seorang ibu yang melahirkan anak seperti Tian Yi dan kemudian menjadi seorang Kaisar. Wanita paruh baya itu senantiasa tersenyum lembut, pandangannya meneduhkan khas seorang ibu. Wajah paruh baya itu pastilah sangat cantik di masa mudanya.
Apa mereka ibu dan anak kandung kenapa sifatnya bertolak belakang. Ibu Suri begitu murah senyum, tapi kaisar itu begitu dingin. Meihua larut dalam pikirannya.
"Salam untuk Nyonya Kang dan Nyonya Chu semoga bahagia selalu,"sapa Lianhua pada dua Nyonya yang duduk bersama putri-putri mereka.
"Hua'er ayo beri salam pada Nyonya Kang dan Nyonya Chu!"
"Maafkan ketidaksopanan saya, Meihua memberi salam pada Nyonya Kang dan Nyonya Chu, semoga damai selalu,"ucap Meihua seraya membungkukkan badan.
"Inikah Meihua yang terkenal beberapa waktu terakhir? Rumor itu benar, kau begitu cantik seperti bunga di musim semi," Nyonya Chu menjawab sambil tersenyum lembut.
"Terimakasih Nyonya Chu, tapi rumor yang beredar terlalu membesar-besarkan."
"Sudahlah, duduklah dulu Nyonya Li dan Meihua !" perintah ibu suri.
"Terimakasih, Ibu Suri."
Meihua lalu berlalu dan duduk di sebelah Hongmei, di meja yang berlainan bersama ibunya.
"Kedatangan kalian kemari karena aku ingin tahu dan ingin dekat dengan calon permaisuri negeri ini. Usia ku tidak muda lagi, Kaisar membutuhkan pendamping yang bisa membantunya memperkuat negara, memberinya penerus dan melengkapi kehidupannya. Akan ada kompetisi untuk kalian. Hanya satu orang yang akan terpilih menjadi permaisuri, dua orang sisanya akan diangkat menjadi selir."
Para pelayan menuangkan teh untuk ibu suri dan para tamu, mereka juga menyajikan berpiring-piring kudapan lezat khas istana. Untuk sementara pembicaraan itu berhenti dengan sendirinya. Mereka larut dalam rasa teh dan kue lezat yang tidak sembarang orang bisa memakannya.
"Kompetisi akan dimulai dua hari lagi. Kalian bertiga akan diawasi dengan ketat. Hasil akhir penilaian akan dilakukan oleh kaisar. Apakah ada yang kurang jelas?"
"Kami sudah jelas Yang Mulia," jawab para Nyonya dan putrinya serentak.
"Baguslah, setelah ini aku ada pertemuan di Aula Agung istana, biarlah para dayang ku yang mengantarkan kalian!"
"Terimakasih Yang Mulia."
"Adik Hongmei, kau belum pernah datang ke kediaman Jenderal. Lain kali datanglah!" Ajakan Meihua di tanggapi dengan dingin oleh Hongmei. Meihua bahkan merasa aneh, bukankah saat dia berkunjung ke kediaman Kang kemarin, Hongmei begitu ramah.
Pandangan mata Meihua mengikuti kepergian Nyonya Kang dan putrinya dengan heran. Mungkinkah sifat seseorang bisa berubah dalam hitungan hari? Lianhua yang melihat hal itu hanya tersenyum canggung. Didekatinya Meihua lalu disentuhnya bahu putrinya pelan.
"Meihua, kau baru pertama ke istana, 'kan? Ayo ibu ajak kau ke taman bunga kekaisaran. Ada banyak bunga di sana."
Meihua memasang wajah cemberut," Ibu, bolehkah kita pulang saja?"
"Kenapa? Tidak setiap hari kita ke istana, kita juga bisa bertemu ayahmu di sini," Lianhua memasang wajah bingung.
Meihua mendekati ibunya dan berbisik,"Hua'er merasa tidak enak ibu, tadi adik Hongmei pergi dengan menatap tajam padaku, dan itu membuat ku tidak nyaman."
"Baiklah. Ibu mengerti perasaanmu."
Lianhua lalu menoleh ke arah ibu dan anak keluarga Chu. "Nyonya Chu apakah kau akan langsung pulang?"
"Benar, Nyonya Jenderal. Entah kenapa putriku merasa tidak enak badan, aku permisi."
"Kau sakit adik Mingfen?" Meihua bertanya lembut.
"Hanya merasa sedikit pusing kakak. Aku permisi."
Lianhua dan putrinya mengangguk. "Ibu kenapa adik Hongmei begitu dingin kali ini?"
Tanya Meihua seraya menyaksikan kepergian Nyonya Chu dan putrinya.
"Nak. Kalian akan berkompetisi memperebutkan posisi permaisuri. Sudah pasti Hongmei menganggap dirimu sebagai saingan."
"Tapi Hua'er tidak mau menjadi permaisuri Kaisar itu, ibu. Bisakah Hua'er mengalah saat kompetisi?"
"Ssstt! Bicara apa kau?Gadis konyol! Jangan berucap seperti itu! Dinding istana, bahkan rumput dan bunganya memiliki telinga."
Perumpamaan yang dikatakan oleh ibunya membuat Meihua paham. Gadis itu lebih memilih menunduk, memainkan pita pada bajunya. Tanpa mereka sadari seseorang mengawasi mereka bahkan mendengar perkataan mereka dari balik pintu.
.
.
.
.
Sementara itu suasana hati Hongmei memburuk dari waktu ke waktu. Di dalam kereta kuda itu, Nyonya Kang bahkan telah berusaha membujuk putrinya dengan berbagai macam hal. Hanya saja Hongmei tetap cemberut.
"Ibu. Kenapa dia harus menjadi sainganku?"
"Siapa yang kau maksud, Nak?"
"Siapa lagi kalau bukan putri angkat itu? Bukankah dia seperti katak yang naik ke surga sekarang?"
"Hongmei, tidak baik membicarakan orang lain seperti itu. Gadis itu punya nama, bahkan saat datang ke kediaman kita, bukankah kau sangat baik padanya? Kau mengatakan seperti mempunyai seorang kakak perempuan."
"Aiyaa ibu. Itu hanya masa lalu. Tidak peduli apa, sekarang kami bersaing dalam hal apapun!"
"Baiklah. Baik. Ibu mengerti maksudmu. Hanya saja kau tidak boleh memendam kebencian dalam hatimu! Apa kau paham?"
Hongmei terdiam, tangannya mengepal erat. Hanya satu orang yang bisa menolongnya, sang ayah.
Dia, kenapa bisa lebih cantik dariku? Cihhh rasanya aku ingin menghancurkan wajahnya. Lihat saja apa yang bisa kulakukan besok, akan ku pastikan hanya aku yang akan menjadi permaisuri. Kaisar hanya membutuhkan pendamping seperti ku. Bukan seorang putri angkat ataupun anak dari istri kedua.
.
.
.
Setibanya di kediaman Kang, Hongmei langsung mencari sang ayah di ruang baca. Dengan wajah memelas, Hongmei memeluk tangan ayahnya. Kang Li Bo yang telah paham maksud putrinya hanya bisa menghela nafas.
"Mei'er ada apa lagi kali ini?"
"Ayah. Anda harus berjanji untuk membantuku kali ini."
"Katakan. Bantuan apa yang kau minta dari ayahmu?"
"Ayah tahu putri angkat Jenderal Li?"
"Tentu saja. Bukankah baru beberapa hari yang lalu dia berkunjung kemari."
"Benar. Awalnya kupikir dia bisa menjadi kakak perempuan yang baik. Ternyata hatinya sangat licik, dia bahkan berani bersaing denganku demi posisi permaisuri. Ayah, kali ini anda harus membantuku."
"Baiklah. Baiklah. Apapun akan ayah lakukan demi putri ayah yang cantik ini. Katakan apa maunya!"
"Ayah. Asal-usul Meihua sangat meragukan. Keponakan Bai Lianhua? Cihh apakah ayah percaya? Bagaimana kalau dia adalah orang yang sengaja disusupkan ke istana agar bisa memata-matai Kaisar? Bagaimana kalau Jenderal punya niat jelek?"
Kang Li Bo terdiam. Tidak menutup kemungkinan apa yang diucapkan putrinya sangat benar.
"Dan lagi, dia bahkan punya nyali untuk bersaing dengan putri ayah ini!"tambah Hongmei.
"Tenanglah putriku. Ayah akan melakukan sesuatu untukmu. Sekarang kembali ke Paviliun mu dan tunggu kabar baik dari ayah, bagaimana?"
"Ayah berjanji. Ayah sudah berjanji. Baiklah, aku akan pergi sekarang. Permisi ayah."
"Hati-hati!"
Setelah pintu kayu besar itu tertutup, Kang Li Bo kembali duduk. Otaknya berpikir cepat menyusun rencana. Karena putrinya sudah meminta suatu hal yang ia janjikan, maka ia harus memenuhi janjinya. Sekarang waktunya untuk bergerak.