
Derap kaki kuda yang dipacu dengan cepat membuat Meihua terusik dalam tidurnya. Dia menguap lebar tanpa berniat untuk menutupinya. Bersyukur tidak ada nyamuk yang masuk ke dalam mulutnya. Walaupun belum mencapai pohon tempatnya beristirahat, langkah kuda-kuda itu terdengar jelas. Tampaknya ada serombongan orang yang akan melintas di bawahnya dan memacu kuda dengan kecepatan tinggi.
Dahan pohon tempatnya tidur memang tinggi, sehingga akan sulit terlihat dari bawah. Namun pemandangan dari atas sini sangatlah jelas. Meihua bisa melihat kemanapun yang ia inginkan. Andaikan pohon ini ada di halaman rumahnya, maka ia akan membuat rumah pohon yang besar untuk piknik.
Dalam sekejap Meihua bisa melihat bahwa serombongan orang yang menunggang kuda berpakaian serba hitam. Masing-masing dari mereka tampaknya memiliki seni beladiri. Tanpa sadar Meihua mencengkeram salah satu dahan kecil di dekatnya.
"Berhenti!" Teriak salah satu dari mereka. Meihua menebak dia adalah pemimpinnya.
"Menurut mata-mata kita dia lari ke daerah sekitar sini. Kita harus berpencar dan menemukan dia secepatnya! Lalu bunuh tanpa ampun!"
"Baik."
Kelompok itu berpencar dengan kuda mereka masing-masing. Tanpa lupa menarik pedang dari sarungnya. Siapapun yang mereka cari, tampaknya orang itu dalam bahaya. Tunggu dulu! Bukan aku yang mereka cari 'kan? batin Meihua panik.
Setelah waktu sepeminuman teh berlalu, mereka yang berpencar kembali lagi. Kali ini mereka membawa laporan bahwa tidak ada yang mencurigakan.
"Pemimpin Shi, bagaimana ini? Tidak ada jejak wanita itu,"ucap salah satunya.
"Apapun yang terjadi kita harus menemukan wanita itu dan membunuhnya! Itu adalah misi kita! Cari lagi!"
"Siap!"
Belum sempat kuda mereka mengambil langkah, sebuah panah melesat menembus salah satu anggota kelompok itu. Seketika dia meregang nyawa dan jatuh dari kuda. Sisa anggota kelompok yang lain bersiaga dengan pedang terhunus dan saling memunggungi.
"Katakan! Siapa kalian dan siapa yang kalian cari?!" Sebuah pertanyaan sedingin es terdengar memecah keheningan malam.
Orang yang dipanggil pemimpin Shu tertawa lantang. "Kau! Kaisar kerajaan Wu? Kenapa repot-repot sampai di hutan ini dan menanyai kami? Tentu saja kami menjalankan misi!"
Salah satu alis Tian Yi terangkat. Merasa heran saat wajahnya bisa dikenali dengan baik. Geram dengan sikap lawannya, tanpa banyak basa-basi, Tian Yi mengayunkan tangannya, tanda untuk menyerang.
Pertempuran tak terelakkan, denting senjata ditingkahi ringkikan kuda membelah kesunyian hutan. Dari atas pohon, Meihua menatap tak berkedip ke arah Tian Yi. Benarkah dia datang dan memimpin pencarian langsung untuk menemukannya? Kali ini benaknya di penuhi perasaan cemas, bagaimana jika Tian Yi terluka?
Pertempuran masing berlangsung, korban nyawa dari kedua belah pihak mulai tak terhitung. Kalah jumlah, anggota organisasi Kabut Hitam dipaksa dalam kondisi bertahan. Semakin lama sisa anggota mereka semakin menipis. Tian Yi terus mendesak pemimpin Shu dan memaksanya dalam posisi bertahan tanpa bisa melawan balik.
Luka-luka mulai menghiasi tubuh pemimpin Shu. Terakhir, ayunan pedang Tian Yi mengenai tangannya. Memaksanya menjatuhkan pedangnya sendiri. Tanpa senjata, pemimpin Shu hanya tinggal mengantar nyawa. Tapi siapa sangka, di saat kritis seperti itu, salah seorang anggota organisasi Kabut Hitam mengeluarkan sebuah belati kecil dan melemparnya ke arah Tian Yi.
Karena posisinya di depan pemimpin Shu, Tian Yi sama sekali tidak mengetahui belati kecil yang siap menembus tubuhnya dari belakang. Hanya satu orang yang mengetahui hal itu, tak lain adalah Meihua. Melepas selendangnya dengan panik, Meihua berharap dia bisa menjatuhkan dirinya tepat waktu untuk menyelamatkan Tian Yi.
"Kaisar awaaass!!" Pekik tertahan Meihua terhenti setelah belati itu menembus tubuhnya yang menjadi tameng bagi Tian Yi. Belati kecil itu tepat mengenai tubuh Meihua. Setelah menjatuhkan dirinya dari pohon tinggi itu ditambah tertusuk belati, Meihua limbung ke tanah.
Awalnya Kaisar Tian Yi sama sekali tidak mengerti mengapa tiba-tiba mendengar pekikan Meihua. Saat menoleh ke belakang, Meihua-nya berada di sana, dengan perut tertancap belati, limbung dan kemudian terjatuh ke tanah. Marah luar biasa, Tian Yi mengayunkan pedangnya ke arah pemimpin Shu, seketika menghabisi nyawanya.
"Meihua. Meihua bangun! Hua'er!"
Meihua berkedip pelan, rasa sakit menyerang seluruh tubuhnya. "Yang Mulia. Anda selamat? Maafkan Hua'er, karena menyebabkan masalah ini."
"Zhen baik-baik saja. Baik-baik saja. Kau kenapa bisa berada di sini?"
Meihua menunjuk ke atas, ke arah pohon tempatnya semula berada. Disana selendangnya masih melambai-lambai tertiup angin malam. Kaisar Tian Yi mengikuti arah yang ditunjuk Meihua, pemahaman memasuki benaknya.
"Meihua. Bertahanlah! Zhen mohon bertahan hingga ke istana. Kau dengar Zhen?"
Meihua menatap sedih, mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu. Namun terhenti karena dia tersedak darahnya sendiri. Darah itu mengalir keluar melewati bibirnya. Tanpa memikirkan hal lain, Tian Yi segera mengangkat tubuh Meihua dan membawanya dengan kuda agar segera sampai ke istana.
Meihua. Kumohon bertahanlah! Jangan tinggalkan aku!
.
.
.
.
Tabib Han kembali dipanggil ke istana Zhuanshi. Kepanikan terpancar di wajah tuanya, kali ini luka yang di derita Permaisuri lebih mengkhawatirkan. Selain mengkhawatirkan Permaisuri, tabib Han juga was-was dengan kepalanya. Bila dia tidak berhasil menyelamatkan Permaisuri, maka dia akan menemani Permaisuri ke alam baka.
"Tabib Han! Lekas selamatkan Permaisuri! Selamatkan dia, kau dengar Zhen?"
"Hamba akan berusaha sekuat tenaga, Yang Mulia."
"Lakukan dengan hati-hati. Ingat kelangsungan hidup mu bergantung pada kelangsungan hidup Permaisuri."
"Hamba mengerti."
Para pelayan hilir mudik menyiapkan berbagai keperluan pengobatan. Baskom berisi air hangat, baju bersih, perban, obat-obatan, kain bersih dan semua hal yang dibutuhkan tabib Han.
Mula-mula tabib Han memotong baju yang berada di sekitar belati itu. Menyadari sesuatu, tabib Han kembali berlutut. "Ampun Yang Mulia. Luka Permaisuri memang tidak dalam, namun dari banyaknya darah yang keluar, hal itu bisa membahayakan nyawanya dan nyawa janinnya. Yang Mulia hamba harus bagaimana?"
"Selamatkan keduanya!"
"Yang Mulia, itu tidak mungkin. Hanya satu peluang untuk hidup."
"Selamatkan Permaisuri!"
"Yang Mulia..."
"Tabib Han, kau sudah dengar! Selamatkan Permaisuri!"
"Baik. Hamba mengerti. Hamba mengerti."
Anakku, maafkan aku. Tapi kau baru berumur tiga Minggu, jika aku kehilangan ibumu, maka aku juga kehilangan mu. Tapi jika aku hanya kehilangan mu, maka kau bisa kembali lagi menjadi anak kami di lain waktu.
.
.
.
Akhirnya saat-saat yang menegangkan berakhir. Nyawa Permaisuri tertolong, namun pengorbanan yang dilakukan juga begitu besar. Dia harus kehilangan janinnya yang baru berusia tiga Minggu.
Selir Ming yang berada di Istana Zhuanshi sepanjang waktu, membantu menjaga Permaisuri bersama dengan Li Mei dan Nyonya Lianhua. Ketiganya bahkan hampir tidak pernah meninggalkan kamar tempat Permaisuri tertidur.
"Hua'er sebenarnya apa yang kau lakukan? Kau membahayakan nyawa mu dan sekarang kau kehilangan bayimu." Lirih Nyonya Lianhua di samping ranjang.
"Nyonya, Permaisuri adalah orang yang berjasa menyelamatkan nyawa Kaisar. Walaupun tidak bisa dipungkiri, pengorbanan yang dibutuhkan begitu besar."
"Li Mei benar. Waktu itu nyawa Kaisar terancam, kakak Meihua yang berada di atas pohon, nekad melompat dan menghadang belati itu dengan tubuhnya sendiri. Satu hal yang mungkin tidak diperhitungkan adalah, belati itu mengenai perutnya,"jelas Selir Ming.
"Yang Mulia Permaisuri sungguh kasihan. Ini semua salah Selir Hong!"ucap Li Mei berapi-api.
"Sssttt Li Mei apa yang kau katakan?"
"Memang benar. Jika Selir Hong tidak menyebabkan berbagai masalah, apakah Permaisuri akan seperti ini?"
"Walaupun begitu, kau tidak boleh mengatakan omong kosong!"
Li Mei diam seribu bahasa, sesekali gadis pelayan itu akan menyeka air matanya. Mingfen yang melihatnya hanya bisa menghela nafas.
"Li Mei kau harus berdoa agar kakak Meihua segera pulih. Saat ini jangan mengucapkan hal-hal yang akan merugikan mu sendiri!"
"Baik, Li Mei mengerti Selir Ming."
.
.
.
"Yue'er lihat, bunga Meihua disini begitu indah jika dibandingkan di kerajaan Wen,"ucap ChinSuo pada pelayannya.
"Nona, setiap bunga Meihua selalu indah di manapun dia berada," jawab Yue'er.
"Kau benar, Meihua mengandung keindahan, kesucian, dan dia juga bunga yang kuat, tetap bertahan walaupun diterpa cuaca dingin, tapi menurut ku lebih indah di taman ini."
"Nona ChinSuo benar, bunga Meihua sungguh bunga yang indah. Seperti Permaisuri kami, Permaisuri Meihua." Suara seorang pria mengagetkan keduanya.
"Kau. Benarkah ini kau?" Mata ChinSuo membola.
"Nona...ahh maksud saya Putri ChinSuo sungguh mempunyai ingatan yang bagus. Benar ini hamba."
Laki-laki itu membungkuk memberi penghormatan.
"Kau juga keluarga kekaisaran?" tanya Putri ChinSuo pura-pura tak tahu.
"Sayangnya saya bukan bagian keluarga kekaisaran. Saat itu perkenalan saya kurang menghormati Putri, karena saya terburu-buru. Perkenalkan Putri, saya Li Hao Chen. Kakak sepupu permaisuri Meihua."
"Ahh, tidak perlu terlalu hormat seperti itu. Waktu itu saya berterima kasih atas pertolongan Anda. Bagaimana saya harus membalas budi ini?"
"Putri tidak berhutang Budi apapun pada hamba," Hao Chen tersenyum.
Dia tersenyum, sungguh senyuman yang manis sekali. pipi ChinSuo merona.
"Ka...kalau begitu bagaimana kalau minum teh bersama di sana?"ChinSuo menunjuk salah satu gazebo.
"Apakah tidak apa-apa? Bagaimana kalau Yang Mulia tahu?" Hao Chen merasa ragu.
"Tidak masalah, lagipula aku belum resmi diterima Kaisar sebagai selirnya."
"Baik. Silahkan Putri," Hao Chen mempersilahkan ChinSuo memimpin jalan.
Gazebo yang menjadi tujuan keduanya berada agak di ketinggian. Dari tempat itu, hampir seluruh taman kekaisaran terlihat. Yue'er menyajikan teh, dan menata beberapa kue di atas piring.
"Tuan muda Hao Chen silahkan dicicipi. Ini teh dan kue dari tempat ku berasal. Dari Wen," ChinSuo menawarkan.
"Putri tidak perlu memanggil tuan muda. Panggil saja nama hamba," Hao Chen masih tetap tersenyum.
Kalau dia terus menerus tersenyum, sampai kapan aku akan menyembunyikan wajahku yang memerah?
"Baik. Kalau begitu, tidak perlu memanggil ku Putri. Panggil saja Chin'er, dan aku akan memanggil mu Chen Gege, bagaimana?"
"Ahahahaha, baik. Setuju."
"Terimakasih. Chen Gege."
Obrolan mereka terus mengalir, mulai dari puisi, lagu, sastra, kebudayaan setiap negara hingga perang dan sejarah telah mereka perbincangkan. Tampaknya mereka merasa cocok satu sama lain.
Bahkan menghabiskan waktu dengan Chen Gege sangat menyenangkan. Ahh andaikan aku belum menawarkan diri menjadi selir kaisar, batin ChinSuo.
"Chin'er, kita berbincang hingga lupa waktu. Sudah hampir sore, sebaiknya Anda lekas kembali ke kediaman. Aku masih harus menjenguk permaisuri," Hao Chen yang pertama kali menyadari betapa banyak waktu yang telah mereka habiskan untuk mengobrol.
"Ahhh, Chen Gege benar. Sampai tidak terasa telah duduk disini berjam-jam. Oh, iya. Kudengar Permaisuri terluka saat menyelamatkan Kaisar. Bolehkah aku ikut menjenguknya?"
"Tentu saja boleh. Mari Putri, silahkan!"
Keduanya berjalan bersisian, sesekali Hao Chen akan melemparkan candaan yang membuat ChinSuo tertawa lepas.
Gadis yang menarik, sayangnya dia calon selir Kaisar.
.
.
.
.
"Apa katamu? Mereka gagal?"
"Benar Tuan. Semua pembunuh tewas setelah bertempur dengan pasukan yang di bawa Kaisar. Kabar baiknya, Permaisuri juga terluka karena menghadang belati dengan dirinya sendiri."
"Itu juga bagus. Karena mereka semua mati, maka aku tidak akan takut akan terbukti bersalah."
"Tuan benar."
"Katakan pada putri ku, jalankan rencana selanjutnya!"
"Baik. Hamba permisi."
"Pergilah!"
Setelah kepala pelayan pergi, Tuan Kang meneguk tehnya dengan kasar. Tampaknya rencana yang ia lakukan kali ini gagal.
.
.
.
.
Permaisuri Meihua kembali terbaring di atas ranjang dengan luka baru. Setiap waktu tabib Han akan datang dan memeriksa kondisinya. Kali ini Kaisar sama sekali tidak meninggalkan istana Zhuanshi. Ibu Suri yang berada di kuil juga telah dikabari perihal masalah ini. Dengan air mata yang mengalir di pipinya yang renta, Ibu Suri memutuskan untuk menjenguk Permaisuri di istana.
Sebenarnya, Meihua telah terbangun hampir dua jam yang lalu. Tapi setelah mendengar kabar bahwa dirinya mengalami keguguran, Meihua kembali pingsan. Tian Yi yang berada di sisinya juga turut memendam perasaan bersalah.
"Yang Mulia." Panggil Meihua lirih.
"Hua'er, kau sudah sadar? Tabib Han, periksa Permaisuri lagi!"
Tabib Han tergopoh-gopoh memasuki kamar Permaisuri setelah mendengar panggilan itu. Dengan cermat, diperiksanya denyut nadi Permaisuri. Dengan wajah sumringah, tabib Han menyampaikan pemeriksaannya.
"Yang Mulia Permaisuri sudah melewati masa kritisnya. Sekarang yang terpenting adalah pemulihan tubuh. Hamba akan segera menyuruh orang untuk membawakan obat."
"Cepat lakukan!"
"Baik Yang Mulia. Hamba permisi."
Setelah tabib Han pergi, ruangan itu menjadi hening.
"Kaisar, maafkan karena kecerobohan ku calon anak kita harus menjadi korban." Kata-kata Meihua memecah keheningan. Kaisar menghela nafas pelan.
"Zhen yang bersalah. Tidak bisa menjagamu dan menjaga anak kita, Zhen bahkan harus disalahkan karena membuatmu terluka."
"Jangan begitu Yang Mulia. Jika saja hari itu hamba tidak pergi dari istana, semua ini tidak akan terjadi. Yang Mulia, tolong hukumlah hamba."
"Hua'er bicara apa kau? Ini semua karena Zhen, jadi berhentilah berkata seperti itu. Berhentilah, Zhen mohon."
Meihua menangis, tangisan yang menyayat hati. Kehilangan bayi yang dikandung bukanlah suatu hal yang mudah untuk dirasakan. Keduanya berpelukan, saling menguatkan. Bagaimanapun kejadian kali ini ada sebab dan akibatnya. Dalam hati Meihua berjanji, kelak tidak akan melakukan hal-hal yang kekanak-kanakan lagi. Sedangkan Kaisar berjanji, bahwa mulai saat ini hanya ada Meihua di hatinya. Hanya Meihua.