My Empress From The Future

My Empress From The Future
Upacara Pemakaman



Dengan berlari, Kaisar membawa tubuh Meihua ke istana Zhuanshi. Para tabib didatangkan, para pelayan berlarian menyiapkan air hangat, baju bersih, perban, dan obat-obatan. Meihua dibaringkan dengan hati-hati. Tabib Hu yang memeriksa lukanya, menghela nafas berat. Tabib Hu adalah tabib khusus kemiliteran, ia piawai dalam mengobati luka pedang, racun dan panah seperti kasus Permaisuri.


Setelah membebat perut Permaisuri untuk menahan banyaknya darah yang keluar, tabib Hu menoleh ke arah Kaisar.


"Lapor Yang Mulia, kondisi Permaisuri saat ini sangat kritis. Permaisuri kehilangan banyak darah. Di perutnya terdapat luka tombak. Di bahu kiri belakangnya terluka oleh panah. Luka panah ini memang tidak mengenai jantung, namun melihat dari banyaknya darah yang dikeluarkan, saya merasa ada pembuluh darah besarnya yang terpotong..."


"Lanjutkan!"ucap kaisar Tian yi melihat keraguan tabib Hu untuk melanjutkan penjelasannya.


"Yang Mulia, ketika panah itu hamba tarik, maka hamba juga perlu mencungkil mata panahnya. Tapi permaisuri seorang wanita jadi...."


"Tidak masalah, yang terpenting nyawanya selamat."


"Baik Yang Mulia. Hamba membutuhkan beberapa orang untuk membantu dan satu orang untuk menekan sekeliling lukanya. Saat panah ditarik, maka darah akan menyembur,"tabib Hu memandang para pelayan.


"Zhen sendiri yang akan membantumu, lekas lakukan, setiap menit berharga untuk menyelamatkan nyawa Permaisuri!" Kaisar Tian Yi maju.


"Tapi paduka, darahnya mungkin akan sangat banyak. Hamba takut paduka akan kotor oleh darah nantinya."


"Jangan pedulikan aku, lakukan segera! Zhen adalah putra langit, jika raja dunia bawah berani membawa Permaisuri maka Zhen tidak akan mengizinkannya!"


"Baik."


Tubuh Meihua didudukkan. Li Mei dan seorang pelayan perempuan menahan tubuhnya dari depan. Sedangkan Kaisar dan tabib Hu berada di belakang. Di sekeliling panah itu, baju Permaisuri telah dipotong, untuk memudahkan tabib Hu memeriksa lukanya.


Tabib Hu menarik nafas panjang, lalu mulai bersiap mencabut anak panah itu. Saat hitungan ketiga dicabutnya sekuat tenaga panah tersebut.


"Aaaaaaaahhhh", Meihua berteriak kesakitan lalu pingsan lagi. Darah segar langsung menyembur, sebagian bahkan mengenai wajah Kaisar Tian Yi.


Dengan sigap Kaisar menekan luka itu dengan kain halus, menahan agar darah tidak semakin banyak keluar. Luka robekan di sekeliling anak panah itu begitu mengerikan untuk dilihat bahkan Kaisar yang begitu berani di medan perang sampai menutup matanya. Tabib Hu segera menaburkan bubuk obat untuk mencegah darah semakin banyak keluar.


Li Mei menangis begitu keras, sambil membawa lap dan air hangat ia maju membantu tabib Hu menyeka darah dari tubuh nonanya. Segera setelah darah berhenti karena telah diberi bubuk obat untuk menghentikan darah, tabib Hu membebat luka itu dibantu Li Mei.


Kini Meihua telah berganti pakaian bersih, ranjang yang semula kotor oleh darah juga telah diganti. Luka-luka yang di deritanya telah ditangani oleh tabib Hu.Kaisar telah berganti pakaian, dan sekarang menunggui Meihua dengan cemas.


Lianhua dan Jenderal Li datang ke istana, Lianhua menangis dalam diam menyaksikan penderitaan putrinya. Bersama dengan Kaisar dan sejumlah pelayan serta tabib Hu yang tidak boleh pulang, mereka menunggu keadaan Meihua membaik.


Kaisar bahkan memberitahukan perihal Meihua ke ibu suri. Di Kuil Tianlong, Ibu Suri menangis dalam diam. Setelah memanjatkan doa-doa kepada dewa, Ibu Suri memutuskan untuk berkunjung ke istana, guna menengok Permaisuri.


.


.


.


.


Malam datang begitu cepat, Meihua masih belum sadarkan diri. Obat yang sudah direbus telah dingin lagi. Tabib Hu mengatakan dengan penuh rasa khawatir bahwa Permaisuri takutnya tidak akan bertahan malam ini. Kaisar yang mendengarnya mengetatkan rahang, dengan tangan terkepal meninggalkan ranjang perawatan Meihua. Di Aula, Selir Ming juga nampak cemas. Bayi Mei Lian yang selalu di gendongnya telah diasuh seorang pelayan.


Semua orang tidak tidur malam itu, semuanya memanjatkan doa untuk Permaisuri mereka, memohon keselamatan dan kesehatan untuk Permaisuri.


Menjelang dini hari, rintihan keluar dari mulut Meihua, Kaisar yang berjaga di sebelah ranjang dengan segera terjaga. Segera dipanggilnya tabib Hu.


"Tabib, lekas periksa kondisi Permaisuri!"


"Baik Yang Mulia." Tabib Hu memeriksa dengan serius, sekejap kemudian keningnya mengernyit lalu berganti dengan senyuman.


"Ada apa? Kapan Permaisuri akan bangun?" Kaisar Tian yi semakin penasaran.


"Yang Mulia, Permaisuri telah melewati masa kritisnya, kini tinggal menunggu Permaisuri siuman dan meminumkan obat yang telah direbus,"ucap tabib Hu seraya berlutut.


"Bangunlah! Kalian semua, tinggalkan kami! Kalau Permaisuri sudah bangun Zhen akan memanggil kalian!"


"Baik." Satu persatu mereka meninggalkan ruang peraduan, yang paling akhir adalah Lianhua. Matanya masih bengkak, namun bibirnya mengulas senyum lebar.


Setelah semua orang pergi, Kaisar Tian Yi duduk disebelah Meihua, dan mulai memegang tangannya lagi.


"Permaisuri, bangunlah. Tidak cukupkah kau menyiksa Zhen seperti ini. Bangun dan tersenyumlah padaku!" Kaisar mulai meneteskan air mata. "Zhen sungguh suami yang tidak berguna, tidak bisa melindungi mu, malah kau yang berkorban begitu banyak hal untukku, bahkan nyawamu sendiri. Jika terjadi sesuatu padamu, Zhen akan sangat menyesal seumur hidup."


Hening. Tak ada jawaban dari Meihua. Raut wajah Meihua seputih kertas, bibirnya bahkan begitu pucat. Kedua kelopak matanya menutup sempurna, menyembunyikan kedua netra yang biasanya berbinar indah.


Cukup lama Kaisar Tian Yi menangis dalam diam di samping pembaringan Meihua. Terngiang kembali ucapan tabib Hu, bahwa mungkin Permaisuri tidak bisa terselamatkan. Hanya sebuah keajaiban yang bisa menolong Permaisuri. Namun, benarkah keajaiban dari dewa itu ada?


.


.


.


.


Kereta kuda Ibu suri berhenti dua mil jauhnya dari tembok besar yang memisahkan ibukota dengan dunia luar. Karena hari mulai malam, mereka memutuskan untuk mendirikan tenda disana. Tubuh ibu suri mulai menua, kesehatannya juga tak sebaik dulu. Melakukan perjalanan panjang dari Kuil Tianlong ke Istana memerlukan tenaga yang banyak.


Setelah tenda berhasil didirikan, para pelayan perempuan mulai berbagi tugas untuk menyiapkan makanan. Para pelayan laki-laki membantu menyalakan api dan urusan lainnya. Sementara itu seorang Komandan pasukan yang dikirim oleh Kaisar Tian Yi untuk menjemput ibu suri, sedang menyiagakan pasukannya.


Keamanan Ibu Suri sangatlah penting, bahkan melebihi keamanan mereka sendiri.


Seorang gadis cantik, berkulit putih halus bagaikan giok salju, berjalan anggun menuju tenda milik Ibu Suri. Ditangannya terdapat sebuah nampan dengan mangkuk giok berwarna biru muda yang masih mengepulkan uap panas.


"Jia'er memberi hormat pada Ibu Suri."


"Aiyaa gadis ini. Apa yang kau lakukan? Cepat berdiri!"


Gadis yang memanggil namanya sendiri sebagai Jia'er itu tersenyum manis, lalu melangkah anggun menuju ranjang Ibu Suri. "Ibu suri. Ini adalah bubur biji teratai yang baru saja dibuat sendiri. Silahkan dicicipi!"


"Gadis yang baik. Baiklah, aku akan mencicipinya."


"Hati-hati ibu suri, masih panas."


Dengan segera mangkuk itu berpindah tangan. Ibu suri meniupnya perlahan sebelum mencicipi bubur itu.


"Enak dan manis sekali,"puji Ibu Suri. "Kau memang pandai memasak."


Jia'er tersenyum kecil.


"Terimakasih atas pujian Ibu Suri."


"Kenapa kau selalu memanggilku Ibu Suri? Panggil saja nenek!"


"Bolehkah seperti itu? Bagaimana jika orang-orang mulai bergunjing yang tidak benar."


"Apanya yang tidak boleh? Ayahmu adalah salah satu pangeran kerajaan Wu. Walaupun bukan anak kandungku, dia tetap anakku, kau tetaplah cucuku."


"Baiklah. Jia'er akan mematuhi perintah nenek."


"Tunggu sampai kita kembali ke istana, kakak mu pasti akan senang sekali."


"Kakak Tian Yi saat ini pasti sedang sedih, nenek. Permaisurinya sedang sakit, bukankah kita kembali ke istana karena hal ini?"


"Kau benar. Oleh karena itu kau harus menghiburnya nanti. Bantu kakak Tian Yi mu menjaga diri!"


"Jia'er mengerti."


"Anak baik, gadis yang baik. Selama lebih dari enam tahun ini kau pasti menderita."


Jia'er menggelengkan kepalanya pelan,"sama sekali tidak. Walaupun kami hidup sederhana, tapi para pelayan memperlakukan ku dengan baik, nenek. Mereka menyayangi ku."


"Syukurlah. Syukurlah."


Ibu suri mengelus rambut Jia'er pelan, sudut matanya tergenang air mata. Masih lekat dalam ingatannya, pangeran Wu Jing Xu, ayah Jia'er adalah seorang anak yang patuh dan periang. Jing Xu muda selalu mengunjunginya dengan membawa berbagai macam makanan kesukaannya. Ibu kandung Jing Xu meninggal saat melahirkannya.


Walaupun bukan ibu kandungnya, Jing Xu muda selalu peduli padanya. Hubungan Jing Xu dan Tian Yi juga selalu baik. Sayangnya pada salah satu perang di perbatasan, Jing Xu harus berkorban nyawa untuk negara. Meninggalkan istri dan seorang anak perempuannya, Wu Shen Jia yang masih berusia sebelas tahun.


Masa berkabung tiga tahun dilalui ibu dan anak dengan baik. Sayangnya kesehatan Xu Wangfei semakin memburuk, belum genap masa berkabung habis, dirinya harus rela meninggalkan putri semata wayangnya untuk menyusul sang suami. Masa berkabung kembali di tambah tiga tahun lagi.


Shen Jia muda yang polos dan riang harus tumbuh dewasa sebelum waktunya. Beruntungnya seluruh pelayan di kediaman Pangeran Xu selalu menyayangi dan melindunginya. Mereka hidup bersama bagaikan sebuah keluarga besar.


Setiap kali hanya utusan dari Istana yang selalu datang ke kediaman Pangeran Xu. Kali ini karena Ibu Suri tinggal di Kuil, beliau merasa bahwa Jia'er sudah cukup besar untuk memasuki Istana. Sehingga memutuskan bahwa gadis itu akan tinggal di sisinya untuk sementara, guna mempelajari berbagai aturan keputrian dan peraturan istana.


Kali ini karena permaisuri sedang terluka dan keadaannya gawat, Ibu Suri memutuskan untuk mengunjungi Istana dan memperkenalkan Shen Jia dengan Istana tempat ayahnya dibesarkan.


.


.


.


Rombongan Ibu Suri tiba keesokan harinya. Disambut oleh rakyat yang telah kembali dari pengungsian, rombongan Ibu Suri tiba di istana. Kaisar Tian Yi secara langsung memimpin penyambutan untuk sang Ibunda di gerbang utama. Walaupun setiap detiknya mencemaskan keadaan Meihua.


"Salam untuk Ibunda."


"Yi'er. Lekas berdiri! Bagaimana? Bagaimana keadaan mu? Apakah kau juga terluka? Apakah kau baik-baik saja?"tanya Ibu Suri seraya meneliti keseluruhan tubuh Tian Yi.


Kaisar tersenyum,"Ananda baik-baik saja Ibunda. Hanya saja Permaisuri..."


"Permaisuri Meihua bagaimana keadaannya?"


"Kasihan sekali. Dia berjiwa besar dan baik hati. Menyelamatkan nyawa seorang anak yang bahkan bukan anak kandungnya."


"Benar sekali. Merupakan suatu keberuntungan bagi kerajaan Wu kita untuk memiliki seorang Permaisuri yang begitu baik. Nenek tenang saja, Permaisuri orang baik, dan orang baik selalu di lindungi langit." Tanpa bisa menahan dirinya, Jia'er bersuara. Ucapannya mengundang rasa penasaran banyak orang, bahkan Tian Yi yang menatapnya lekat.


"Ah. Yi'er, dia adalah putri Pangeran Jing Xu, Jia'er,"jelas Ibu Suri.


"Salam Yang Mulia Kaisar, semoga damai selalu." Jia'er memberi salam dengan takzim. Kaisar Tian Yi tersenyum kecil, lalu menepuk pundak Jia'er pelan. "Kau sudah besar sekarang? Bangunlah! Terimakasih telah menjaga Ibunda untuk beberapa waktu terakhir ini."


"Bisa menjaga nenek adalah kehormatan Jia'er."


"Mari Ibunda. Anda harus beristirahat dulu, masalah menengok Permaisuri bisa dilakukan setelah Anda tidak merasa lelah lagi."


Ibu suri mengikuti langkah Kaisar Tian Yi memasuki Istana dengan Jia'er di belakangnya.


.


.


.


.


"Bao-yu, tidakkah kau merasa lelah terus terbaring di ranjang seperti ini?"lirih Tian Yi. Saat ini matahari telah digantikan oleh bulan. Malam juga mulai larut, tidak ada derik serangga malam yang berbunyi. Segala sesuatu terasa sunyi, seolah mereka ikut bersedih karena Permaisuri yang terbaring lemah di ranjang.


Cukup lama Kaisar terjaga dengan menggenggam erat tangan Permaisuri. Ketika kantuk tak bisa ditahannya lagi dan dia hampir tertidur, erangan lirih tertangkap oleh telinganya.


"Air. Air..." Kelopak mata Meihua berkedip pelan, mencoba menyesuaikan dirinya dengan cahaya yang tiba-tiba masuk ke retinanya. Hal itu tak luput dari perhatian Kaisar. Dengan segera di dekatinya Meihua.


"Meihua, kau sadar? Kau sudah sadar?"


"Air..."


"Air? Kau ingin minum? Tunggu sebentar, biar Zhen ambilkan."


Tian Yi gembira bukan kepalang, dengan segera tangannya menjangkau teko porselen di atas meja. Dengan tangan gemetar Tian Yi menuangkan air ke dalam cangkir kecil. Denting cangkir yang beradu menimbulkan bunyi nyaring di tengah malam seperti ini, membuat Li Mei yang tertidur di depan pintu terperanjat.


Membuka pintu dengan cepat, Li Mei melihat Kaisar Tian Yi menuangkan secangkir air dengan tangannya sendiri dan mulai membantu Meihua minum. Tunggu dulu! Meihua minum? Berarti Permaisuri siuman?


"Yang Mulia Permaisuri, anda sudah sadar? Terimakasih dewa. Terimakasih." Seruan Li Mei mengagetkan Kaisar. Melotot tajam, Kaisar Tian Yi segera menyuruh Li Mei memanggilkan tabib Hu dan tabib Han.


"Li Mei! Cepat panggil tabib! Apa yang kau lakukan di lantai?"


Li Mei yang tengah bersujud pada dewa seketika bangun dengan sikap hormat. "Baik. Hamba akan laksanakan."


Tanpa memikirkan sopan santun, Li Mei segera berlari cepat setelah sebelumnya membangunkan seorang pelayan lain untuk menemaninya.


"Hua'er. Syukurlah kau sudah bangun. Apakah ada yang sakit? Apakah kau merasa ada yang aneh dengan tubuhmu? Tunggu sebentar lagi, tabib akan segera datang."


"Yang Mulia, berapa lama hamba tertidur?"


"Tiga hari ini. Selama tiga hari ini semuanya menangis, semuanya mencemaskan mu. Bahkan para tabib tidak Zhen perbolehkan pulang. Mereka harus ada saat kau siuman."


"Apakah Mei Lian baik-baik saja? Apakah perang sudah selesai?"


"Dia baik-baik saja. Sekarang sedang bersama Selir Ming. Kau tenang saja."


"Hongmei... bagaimana dia?"


"Sudah menemui raja dunia bawah."


"Anda menghukum mati dirinya?" Ada nada terkejut dalam suara Meihua. Kaisar Tian Yi mengangguk.


"Tidakkah Anda takut, Mei Lian akan membenci Anda saat besar nanti?"lirih Meihua.


"Takut apa? Ibunya memang seperti itu. Lagipula dia mempunyai hutang budi yang begitu besar dengan mu!"


"Yang Mulia Kaisar. Tabib sudah datang. Tabibnya sudah datang." Teriak Li Mei keras bersamaan dengan pintu yang terbuka. Tabib Han dan tabib Hu masuk bersamaan.


"Li Mei tidakkah kau tahu sekarang tengah malam? Kau berteriak keras dengan suara cempreng mu! Apa kau tidak takut Zhen hukum?"


"Ampuni hamba. Hanya saja hamba terlalu senang melihat Permaisuri sudah sadar. Yang Mulia Kaisar boleh menghukum hamba, tapi setelah Permaisuri pulih. Bolehkah?"


"Kau...!!!"


"Yang Mulia. Maklumi saja tingkah Li Mei!" Ucapan Meihua membuat Kaisar Tian Yi kembali duduk. Diam-diam Li Mei menghela nafas lega, pelayan kecil itu mengangkat ibu jarinya ke arah Meihua.


"Salam Yang Mulia Kaisar. Salam Yang Mulia Permaisuri."


"Sudahlah! Tidak perlu sopan santun. Cepat periksa Meihua!"


"Baik."


Bergantian kedua tabib memeriksa Meihua, lalu berdiskusi pelan. Setelah itu tabib Hu melaporkan hasil pemeriksaannya.


"Lapor Yang Mulia Kaisar. Saat ini Permaisuri memang telah melewati masa kritisnya. Hanya saja perlu pemulihan secara total. Hamba akan meresepkan obat untuk pemulihan beliau, dan tabib Han akan secara rutin memeriksa kondisi kesehatannya."


"Jadi saat ini nyawa Permaisuri tidak dalam bahaya?"


"Tidak Yang Mulia. Tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan."


"Baguslah. Bagus sekali. Kau dengar itu Hua'er? Kau harus patuh untuk minum obat dan makan makanan sehat demi kesembuhan mu!"


Meihua tersenyum kecil, sebelum kembali menutup kedua matanya. Melihat hal itu Kaisar Tian Yi panik kembali.


"Meihua. Kau kenapa lagi?"


Tabib Han kembali memeriksa kondisi Meihua. Setelahnya tabib paruh baya itu menghela nafas lega.


"Yang Mulia Permaisuri hanya tertidur. Sepertinya terjaga beberapa waktu menghabiskan energinya."


"Baiklah. Kalian boleh kembali, setelah semuanya selesai, Zhen akan memberi hadiah besar pada kalian berdua!"


"Terimakasih atas kemurahan hati Kaisar. Kami permisi."


Meihua, baguslah kali ini kau kembali lolos dari raja dunia bawah. Kelak kau tidak boleh melakukan sesuatu yang beresiko menghilangkan nyawa mu!


.


.


.


Dalam waktu satu bulan, kondisi Permaisuri telah benar-benar sembuh total. Dengan berbagai obat dan tanaman yang berkhasiat, kini rona wajah Permaisuri lebih terlihat segar. Aksi heroik Permaisuri di medan perang yang menyelamatkan nyawa Mei Li menjadi perbincangan seluruh rakyat yang telah kembali ke ibukota.


Kini nama Permaisuri semakin harum, dan rakyat semakin mencintai Permaisuri mereka. Pasukan sisa-sisa pemberontak banyak yang menyerah dan menjalani hukuman di perbatasan. Keluarga Kang hancur dan musnah. Keluarga pendukung yang mempunyai hubungan erat dengan keluarga Kang terseok-seok membersihkan nama mereka. Walaupun tidak ikut ambil bagian dalam rencana pemberontakan, rakyat memojokkan mereka dan Kaisar bersikap dingin pada mereka.


Hari ini Permaisuri yang bosan berdiam di istana Zhuanshi terus-menerus, memutuskan untuk berjalan-jalan. Tempat yang ditujunya adalah taman kekaisaran. Walaupun bunga Meihua belum mulai mekar lagi namun masih ada banyak bunga yang bisa ia nikmati.


Saat melangkahkan kaki ke gazebo, dilihatnya Xiao Wu tengah menanam bunga dengan cekatan.


"Li Mei panggil Xiao Wu kesini!"


"Baik." Li Mei menghampiri pemuda itu menyampaikan perintah Permaisuri.


"Salam hormat pada Permaisuri."


"Xiao Wu, langsung saja. Aku tahu hubungan cintamu dengan adik Ming, dan aku bersedia membantunya. Kaisar juga tidak keberatan. Apa pendapat mu?"


Mata Xiao Wu berbinar,"apakah Yang Mulia Permaisuri bersungguh-sungguh ingin membantu hamba?"


"Ya, tapi ada harga yang harus dibayar. Kalau kau setuju bilang saja,"Meihua memandang Xiao Wu dengan tajam.


"Baik. Hamba akan lakukan apapun demi Mingfen."


Meihua tersenyum, sungguh cinta yang nyata. "Beruntunglah adik Ming mendapatkan seorang pemuda sepertimu. Aku telah mengatakan pada baginda Kaisar bahwa adik Ming ingin hidup di luar istana. Menjadi rakyat biasa. Tapi aku tidak mengatakan bahwa adik Ming berhubungan denganmu. Kau tahu alasannya?"


Xiao Wu menggeleng,"hamba sungguh bodoh, tidak menangkap maksud perkataan Permaisuri."


"Kalau kukatakan bahwa adik Ming ingin hidup diluar istana bersama denganmu. Kaisar akan merasa terhina telah dibandingkan dengan seorang pelayan. Bukan kemudahan untuk adik Ming, malah bisa-bisa dia selamanya terkurung disini." Meihua berhenti sejenak. "Lebih baik kau mengundurkan diri dari pekerjaan mu sebagai pelayan. Tunggu adik Ming di kota, setelah ia keluar dari istana, jemput dia dan pergilah bersamanya."


"Xiao Wu akan mematuhi perintah Permaisuri."


"Masih ada lagi. Karena Mingfen adalah seorang selir, diceraikan oleh Kaisar adalah sebuah aib dan dianggap kesialan untuk seluruh keluarga, jadi dia tidak bisa kembali ke keluarganya ataupun berhubungan dengan mereka. Dengan kata lain Mingfen akan dianggap 'mati' oleh keluarganya."


Xiao Wu terdiam. Benaknya berkecamuk berbagai macam pikiran. Di satu sisi ia ingin sekali bersama gadis yang dicintainya, di sisi lain ia merasa kasihan jika Mingfen harus melupakan keluarganya."


"Aku telah bicara tentang hal ini dengan adik Ming. Dan dia setuju, dia melepaskan seluruh keluarganya untuk seorang pemuda sepertimu. Jangan sakiti adik Ming, jaga ia sampai akhir hidupnya. Bisakah kau melakukan ini sebagai permintaan dariku?" Mata Meihua berkaca-kaca.


"Hamba akan melakukan semua sesuai perintah Yang Mulia Permaisuri. Hamba mengucapkan terimakasih pada Permaisuri. Semoga kebaikan hati Permaisuri dibalas dengan berlipat ganda oleh Tian."


"Pergilah. Tunggu adik Ming di kota. Dalam dua hari ini mungkin ia akan segera keluar istana."


"Baik." Xiao Wu menghormat untuk terakhir kalinya, dan berbalik badan untuk pergi.