
Jia'er duduk termenung menatapi langit malam. Kerlip bintang yang bersinar tak mampu membuatnya tersenyum. Sedari sore gadis itu murung dan terus murung. Pelayan yang bertugas di istananya telah mencoba berbagai macam cara, untuk membuatnya kembali riang. Tapi semuanya tampak percuma.
"Junzhu apakah Anda tidak lapar?"tanya salah seorang pelayan di belakangnya. "Hamba buatkan makanan lezat, bagaimana?"
"Junzhu, bagaimana jika hamba buatkan kue kesukaan Anda?"
"Junzhu, apakah Anda ingin mendengarkan musik? Hamba bisa memainkannya guqin untuk Anda."
"Junzhu, apakah Anda ingin melihat perhiasan baru dari Paviliun Dongtian? Baru saja perhiasan yang bagus itu tiba di istana."
Silih berganti para pelayan mencoba menanyakan keinginan Shen Jia, namun jawaban yang mereka terima hanyalah gelengan kepala. Ketika akhirnya mereka merasa tak ada harapan, seorang Kasim meneriakkan kedatangan Permaisuri.
Seluruh pelayan yang mulanya berbaris di belakang Shen Jia, berbalik dan memberi salam penghormatan. Jia'er bangkit, mengusap air matanya lalu membungkuk hormat ke arah Permaisuri Meihua.
"Jia'er kenapa menangis? Cepat berdiri! Kemarilah, kenapa kau menangis? Apakah kau sakit?"
Tanpa ragu Meihua memeluk Shen Jia dengan cepat. Mengelus lembut punggung gadis itu yang tengah bergetar, menahan tangis.
"Ayo duduk. Ceritakan kenapa kau menangis? Pelayan, sejak kapan Jia Junzhu seperti ini?"
"Menjawab Yang Mulia Permaisuri. Junzhu duduk sambil menangis sejak siang tadi, kami semua membujuknya dengan bermacam hal, tapi beliau tidak menanggapi."
"Jia'er. Katakan kau kenapa? Apakah ada yang berlaku jahat padamu? Katakan padaku! Siapa orangnya?"
Jia'er menggeleng, sudut matanya mulai mengeluarkan air mata lagi. "Kakak, apakah Anda tidak membenciku?"
"Benci? Kenapa kakak harus membencimu?" Meihua bertanya heran.
"Bukankah nenek memintaku untuk menjadi Selir? Setelah ini kakak Meihua pasti membenciku?" Isakan Jia'er semakin keras.
"Ternyata masalah itu yang menggangu mu? Kalau begitu biar kakak tanya padamu. Apakah kau mencintai Tian Yi? Kau ingin bersamanya, Jia'er?"
Shen Jia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Sorot matanya memancarkan kesungguhan. Memang dalam hatinya, gadis itu tidak mencintai Kaisar, semua rumor yang beredar itu palsu.
"Lalu apa kau akan menerima takdir mu sebagai selir?"
"Aku tidak mau. Sejak dulu kakak Tian Yi selalu baik padaku, tapi aku sama sekali tidak menumbuhkan perasaan apapun padanya. Aku benar-benar... benar-benar tidak....tidak menyukainya."
Ada perasaan lega yang samar Meihua rasakan. Setidaknya sakit kepalanya tidak akan bertambah.
"Aku mengerti. Kalau kau memang tidak ingin menjadi selir, jangan lakukan!"
"Lalu apa yang harus kulakukan? Bagaimana jika nenek marah hingga terganggu kesehatannya?" Shen Jia kembali terisak, tanpa sadar tubuhnya bersandar pada Meihua.
"Jelaskan pada Ibu Suri secara baik-baik. Kalau memang diperlukan, kakak Tian Yi mu pasti dengan senang hati akan membantu."
Shen Jia mengangguk patuh.
"Kakak, apakah kau tidak marah? Dalam sekejap mata, kakak Tian Yi mengambil lima selir sekaligus, apakah kau tidak sakit hati?"
"Sakit? Tentu saja hati ini sakit. Namun, sebagai seorang Permaisuri, aku harus bisa berbesar hati. Lagipula kakakmu sudah berjanji padaku. Dia tidak akan menyentuh mereka sedikitpun."
"Kalau begitu aku bisa ikut tenang. Kakak, kali ini Anda harus pandai mengatur siasat dan rencana, jangan sampai peristiwa Selir Hong terulang kembali."
"Kau ini, gadis kecil apa yang kau tahu?" Permaisuri tersenyum kecil, lalu melanjutkan,"Tenanglah, akan ku tunjukkan pada mereka, Meihua tidak mudah di tindas!"
"Bagus sekali! Kakak, jika aku mempunyai seseorang yang ku suka, orang pertama yang akan ku beritahu adalah kakak."
"Setuju. Sampai saat itu tiba kau harus belajar menjadi seorang istri yang baik, bagaimana?"
"Sekarang, hapus air mata mu dan bersiap untuk makan. Pergilah ke istana Zhuanshi, koki istana ku telah menyiapkan banyak makanan enak. Kau pasti suka."
"Baiklah. Terimakasih kakak. Kalian, bantu aku bersiap!"
Perintah Shen Jia langsung di turuti oleh para dayang yang berbaris rapi dengan senang, sementara itu Permaisuri tersenyum tenang. Dengan langkah ringan, ditinggalkannya istana Shen Jia.
.
.
.
.
Ruoruo dari keluarga Yin terkenal karena sikapnya yang lemah lembut dan paras manisnya. Karena berasal dari keluarga pejabat, sejak kecil Ruoruo telah belajar banyak hal. Pribadinya yang tenang dan lembut membuatnya di sukai seluruh anggota keluarga Yin, juga di hormati oleh gadis-gadis sebayanya.
Kali ini demi Kaisar, ayah Ruoruo mendaftarkan namanya dalam pemilihan selir. Siapa yang menyangka bahwa Ruoruo akan terpilih memasuki istana kerajaan? Kegembiraan menyelubungi seluruh kediaman pejabat Yin. Sedangkan Ruoruo sendiri tidak tahu harus bahagia ataupun bersedih. Baginya memasuki istana kerajaan berarti menyerah dengan kehidupan bebasnya selama ini. Bersiap terkurung selamanya dalam bangunan besar bertembok tinggi dan berkedok kemewahan hidup. Bagaikan burung di dalam sangkar emas.
Ruoruo sebenarnya hanya selisih dua tahun lebih tua dari Yang Songmi, putri terakhir keluarga Yang. Itulah mengapa dirinya memenuhi syarat umur menjadi selir. Sebenarnya Songmi juga telah memasuki usia pernikahan, namun karena sebab lain pejabat Yang tidak mendaftarkan nama putrinya itu ke pemilihan Selir.
Sejak kecil Songmi dan Ruoruo sudah dekat satu sama lain. Ruoruo bisa dikatakan sebagai sahabat satu-satunya dari Yang Songmi. Ruoruo juga salah satu orang yang tahu jika kedua kakak Songmi sering menghina dan menindas Songmi. Ruoruo bahkan tahu putri tertua keluarga Yang, Jiali adalah salah satu dari lima selir pilihan Kaisar. Yang berarti dirinya akan bersamaan dengan Jiali memasuki istana kerajaan besok pagi.
Ruoruo hanya berharap, dirinya tidak menarik perhatian kaisar dan berebut hal yang tidak perlu dengan empat selir yang lain. Tentu saja Ruoruo tidak tahu bahwa Kaisar sama sekali tidak akan menyentuh mereka, sesampainya mereka di istana. Karena di dalam hati Kaisar hanya ada Permaisuri Meihua yang sempurna untuknya.
.
.
.
.
Seluruh penjuru istana kerajaan Wu terlihat semarak pagi ini. Karpet merah dengan sulaman benang emas terbentang di atas undakan tertinggi, di depan Aula utama. Singgasana Kaisar yang berukuran sedikit lebih kecil daripada singgasana yang sebenarnya di dalam istana telah di atur sedemikian rupa hingga tampak agung. Bersandingan dengan singgasana Permaisuri.
Di setiap undakan dari yang paling bawah hingga undakan teratas, berbaris rapi para pejabat sesuai tingkatan mereka. Para prajurit bersenjata tombak dan pedang bersiaga mengamankan setiap penjuru istana. Mempertaruhkan nyawa mereka demi Kaisar dan seluruh anggota kerajaan.
Hari ini adalah hari upacara penerimaan selir baru dalam sejarah pemerintahan Kaisar Tian Yi. Sang Kaisar duduk berdampingan dengan Permaisuri, Shen Jia juga terlihat duduk bersama Ibu Suri di sisi kiri. Raut wajah setiap orang beragam, campuran dari rasa senang dan tegang karena ini adalah pertama kalinya di dalam sejarah, lima selir memasuki istana secara bersamaan.
Kasim Kang senantiasa berdiri hormat di sisi lain Kaisar, di tangannya terdapat secarik kertas berisi susunan acara. Ketika akhirnya tandu yang membawa para selir tiba, semua orang menahan nafas. Para selir itu tidak menggunakan cadar merah seperti pernikahan biasa. Bagaimanapun mereka masuk ke istana hanya sebagai selir, dengan kedudukan rendah di bawah Permaisuri.
Saat ini para selir di arahkan untuk berjalan memasuki istana guna memberi hormat pada Ibu Suri, Kaisar dan Permaisuri. Berbaris dengan rapi, kelimanya tampak begitu menawan. Beberapa tamu undangan tampak berdecak kagum, beberapa yang lain berdecak iri. Walaupun bukan kecantikan sempurna seperti milik permaisuri, wanita-wanita itu bisa di golongkan memiliki kecantikan yang alami.
Serangkaian upacara yang di pimpin oleh menteri Ritus kerajaan dengan arahan Kasim Kang telah berhasil dilakukan. Kini para selir telah di antarkan ke istana mereka masing-masing. Kaisar memberi mereka istana yang lebih kecil dari istana Zhuanshi. Bahkan lebih kecil dari istana milik Putri Mei Lian.
Setelah upacara itu selesai, Kaisar Tian Yi barulah bisa menghela nafas lega. Menoleh ke samping untuk mengajak Permaisuri berbicara, Kaisar Tian Yi malah mendapati wajah sang Permaisuri tampak pucat.
"Permaisuri, apakah kau sakit? Wajah mu pucat sekali?"
"Yang Mulia, hamba tidak apa-apa. Hanya merasa sedikit pusing. Mungkin karena cuaca saat ini sangat panas."
"Kalau begitu cepat kita kembali. Mari kubantu, hati-hati!" Raut khawatir terpampang jelas di wajah Kaisar. Baru berjalan beberapa langkah, bahkan belum menuruni anak tangga, tubuh Meihua limbung. Permaisuri seketika kehilangan kesadarannya.
Beruntungnya Kaisar dengan tepat waktu berhasil memeluk tubuh sang Permaisuri. Pingsannya Permaisuri membuat kepanikan dari seluruh orang yang melihatnya. Serentak semua orang menyerukan gelar Permaisuri.
"Tabib! Panggil tabib kekaisaran!" Seruan Kasim Kang adalah seruan terkeras dari semuanya.