My Empress From The Future

My Empress From The Future
KABAR BAIK



... ...


Tampaknya istana Zhuanshi semakin ramai dari hari ke hari semenjak di tinggali oleh Permaisuri. Tabib Han bahkan hampir menganggap bahwa istana Zhuanshi adalah rumah ketiganya setelah rumahnya dan klinik kekaisaran.


Pagi ini suasana istana sangat meriah, bahkan raut wajah gembira bercampur tegang tergambar di setiap raut penghuni istana. Menjelang siang kabar pingsannya Permaisuri terdengar kemana-mana. Mengubah raut wajah tegang menjadi ketegangan yang sesungguhnya.


Dengan di iringi Kasim Kang, tabib Han berlari dari klinik kekaisaran menuju Istana Zhuanshi. Tak menghiraukan bahwa di tangannya masih tergenggam beberapa batang bunga Krisan yang baru di petik. Melihat wajah Kaisar yang begitu cemas, tabib Han buru-buru memberi hormat.


"Salam pada Yang Mulia Kaisar."


"Cepat berdiri! Periksa Permaisuri, cepat!" Perintah Kaisar adalah mutlak, tabib Han segera berlari ke samping ranjang,baru menyadari bahwa beberapa bunga Krisan berada di genggaman tangannya. Tanpa memikirkan aturan lagi, tabib Han menjejalkan bunga itu ke tangan Kasim Kang di belakangnya.


Menerima bunga Krisan itu, wajah Kasim Kang berubah-ubah antara bingung dan cemas dan setitik rasa geli.


Cukup lama semua orang tenggelam dalam keheningan. Bahkan para pelayan tidak berani bernafas terlalu keras. Tabib Han memeriksa nadi Permaisuri beberapa kali. Mencoba memastikan sesuatu.


"Bagaimana?!" Pertanyaan Kaisar terdengar memecah keheningan. Beberapa pelayan terkesiap kaget. Mendengar pertanyaan itu, tabib Han beringsut mundur dari samping ranjang.


"Yang Mulia Kaisar, denyut nadi Permaisuri stabil. Tidak ada penyakit serius yang di derita oleh Yang Mulia Permaisuri. Hanya saja Permaisuri tampaknya memiliki beberapa masalah hati dan itu bisa menganggu kesehatan janinnya."


"Masalah hati? Tunggu! Janin? Apa maksud mu tabib Han?! Bicaralah dengan benar!"


"Menjawab Yang Mulia, salah satu alasan Permaisuri pingsan adalah karena Yang Mulia Permaisuri sedang mengandung."


"Mengandung? Apa kau baru saja mengatakan Permaisuri ku mengandung? Seorang bayi? Kau..."


"Benar Yang Mulia Kaisar. Hamba perlu memeriksa kembali saat Permaisuri telah siuman untuk mengetahui berapa usia kandungannya."


Tak ada jawaban dari Kaisar Tian Yi, sepintas bayangan kebahagiaan nampak di wajahnya yang tampan.


"Yang Mulia,"panggil Kasim Kang pelan.


"Aaaaa. Kau dengar itu Kasim Kang? Permaisuri mengandung lagi. Dia mengandung lagi." Teriakan Kaisar sukses membahana membuat para dayang kembali terkaget-kaget.


"Selamat kepada Yang Mulia Kaisar." Seruan Kasim Kang ditirukan oleh seluruh orang yang hadir disana.


"Ssttt!! Kalian diamlah, jangan membuat Permaisuri terbangun dengan tidak nyaman! Tabib Han, kau tunggulah di luar hingga Permaisuri siuman. Zhen perlu kau untuk memeriksa Permaisuri lagi!"


"Hamba siap menjalankan perintah."


"Kalian semua keluar!"


"Baik."


Ketika Kasim Kang keluar paling akhir, dia tidak lupa menutup pintu dengan perlahan. Setelahnya Kasim tua itu mendekati tabib Han seraya mengulurkan bunga Krisan ditangannya.


"Tabib Han, bunga Anda!"


"Ah. Benar. Kasim Kang, maaf atas ketidaksopanan saya. Sebelumnya saya sedang memetik beberapa tangkai Krisan untuk dikeringkan menjadi bahan obat. Tapi..."


"Tidak masalah tabib Han. Yang terpenting sekarang adalah kesehatan Permaisuri."


"Terimakasih atas pengertian Anda."


Kasim Kang mengangguk maklum. Menatap pintu yang tertutup di belakangnya dengan sejuta makna.


.


.


.


.


Kabar pingsannya Permaisuri terdengar hingga ke istana para selir. Setiap pelayan pribadi mereka mengabarkan kejadian yang terjadi di halaman Aula utama hingga Istana Zhuanshi. Terakhir kata-kata para pelayan itu membuat beberapa selir terkesiap.


"Hamba mendengar bahwa kali ini Permaisuri kembali mengandung. Kaisar bahkan menunggui Permaisuri secara pribadi."


Ucapan pelayannya membuat Jiali hampir membanting cawan teh dalam genggamannya. Ini belum satu hari dirinya memasuki istana dan sudah mendengar hal yang memuakkan.


"Jadi, kemungkinan besar Kaisar tidak akan kemari?"


"Jangan panggil aku nona! Aku adalah selir sekarang!" Tukas Jiali marah.


"Baik Yang Mulia selir."


Aku tidak peduli dengan pemikiran selir yang lain, tapi aku harus bisa mendapatkan kasih sayang Kaisar. Apapun caranya.


.


.


.


.


Matahari telah kembali ke peraduannya beberapa saat yang lalu. Semilir angin senja menggoyangkan beberapa daun pohon willow. Lentera-lentera mulai dinyalakan, menerangi kegelapan malam dengan sinarnya yang temaram.


Di Istana Zhuanshi, Kaisar tidak berhenti berjalan mondar-mandir. Andaikan Kasim Kang berada di dalam, maka sudah pasti kasim tua itu akan menghalangi Kaisar bertingkah seperti itu. Sungguh bukan perilaku seorang Kaisar.


Bosan berjalan kesana-kemari, Tian Yi kembali mendekati ranjang tempat Meihua tertidur. Diangkatnya tangan mungil dan halus itu ke dalam genggamannya sendiri. Salah satu tangannya mengelus lembut puncak kepala sang istri. Mendekatkan wajahnya secara perlahan, Tian Yi bermaksud memberikan sebuah kecupan di wajah cantik itu, sebelum...


"Uhuukkk...uhukkk.." Permaisuri terbatuk-batuk dengan keras, sukses membuat wajah Kaisar termundur beberapa jengkal.


"Bao-yu, kau akhirnya bangun. Katakan apa ada yang sakit? Tabib Han?! Kemari!"


Langkah kaki tergesa milik beberapa orang lalu terdengar. Tabib Han dan Kasim Kang berada paling depan. Segera setelah mendapat izin dari Kaisar, tabib Han mulai memeriksa Permaisuri.


"Yang Mulia. Sebenarnya ada apa? Bukankah sekarang seharusnya Anda menghadiri jamuan makan malam dengan para selir?" Pertanyaan Permaisuri sukses membuat setiap orang menoleh canggung ke arah kaisar.


"Kau sakit. Bagaimana mungkin Zhen akan pergi bersenang-senang?!"


"Sekarang ada tabib Han di sini. Yang Mulia Anda bisa pergi!"


Habislah sudah. Setelah ini akan ada perang antara Kaisar dan Permaisuri.


Yang Mulia Permaisuri bahkan tidak tahu kalau Kaisar telah menungguinya hampir seharian.


Aiyaa. Bagaimana jika mereka bertengkar?


Pemikiran setiap orang berbeda, namun tetap saja mengkhawatirkan jika Kaisar dan Permaisuri akan bertengkar lagi setelah ini.


Tanpa di duga oleh semua orang, nada bicara Kaisar kemudian melembut.


"Bao-yu, Zhen lebih memilih berada di sini bersamamu daripada bersenang-senang tanpamu!"


Pipi Permaisuri sedikit bersemu merah, namun dia mencoba mengalihkan tatapannya ke arah lain. Saat itulah tabib Han selesai memeriksa.


"Lapor Yang Mulia Kaisar. Tidak ada masalah serius yang harus di khawatirkan. Permaisuri dan calon bayinya baik-baik saja."


"Anda sudah dengar, aku dan... Tabib Han apa yang barusan kau katakan?!"


"Yang Mulia Permaisuri, Anda dan janin anda baik-baik saja. Saat ini jika hamba tidak salah memperkirakan usia kandungan Anda hampir dua bulan."


"Selamat untuk paduka Kaisar dan Permaisuri." Seruan Kasim Kang di ikuti oleh seluruh pelayan yang hadir disana. Seruan itu juga yang menyadarkan Meihua dari rasa tidak percayanya.


"Benarkah? Apakah ini benar?" Lirihan Meihua membuat kaisar kembali mengusir para abdinya. Perlahan di dekatinya Permaisuri.


"Itu benar, Hua'er. Kau sedang mengandung lagi, mengandung anak kita. Kali ini Zhen berjanji dengan sepenuh hati. Zhen tidak akan membiarkanmu dan anak kita menderita lagi. Zhen akan menjagamu! Kalau perlu dengan nyawa Zhen sendiri."


Ada keheningan mendalam di ruangan itu. Meihua menatap wajah belahan jiwanya, menatap dalam. Seolah meminta untuk terus diyakinkan.


"Yang Mulia, apakah ini nyata?" Kalimat itulah yang keluar dari bibir Permaisuri. Kalimat lirih penuh keraguan.


"Ini nyata. Sangat nyata."


"Terimakasih Tian. Terimakasih."


Bersamaan dengan itu, Tian Yi sama sekali tidak bisa membendung keinginannya untuk merengkuh tubuh permaisuri ke dalam pelukannya.


Di luar angin malam berhembus mesra, Derik serangga terdengar samar.