
Bai Meihua yang kini resmi menjadi putri angkat Jenderal Li, resmi pula berubah marga menjadi Li Meihua. Awalnya ada banyak hal yang menjadi kekhawatirannya, dia khawatir tidak cukup baik untuk menjadi seorang putri dari kediaman Jenderal, tapi langit masih begitu menyayanginya. Ayah dan ibu angkatnya begitu baik dan perhatian, para pelayan begitu hormat dan patuh padanya. Sungguh kehidupan yang sempurna.
Selama ini dia bahkan tidak bisa dibilang bermalas-malasan, namun pelajaran demi pelajaran yang diterima nya membuat Meihua merasa ada lebih banyak syarat menjadi orang pandai di jaman ini. Meihua rajin membaca buku-buku di perpustakaan kediaman Jenderal. Namun buku yang paling banyak adalah buku tentang perang dan strategi militer. Dia juga belajar menyulam, belajar seni menyeduh teh, belajar tentang tumbuhan herbal dan obat-obatan. Berbagai puisi dan karya sastra dari sastrawan terkemuka dinasti Wu telah di bacanya. Lain waktu dia akan membuat cemilan kue - kue dan mengantarkannya ke kediaman ibunya, Nyonya Lianhua.
Hubungan ibu dan anak itu kian hari semakin akrab. Bahkan di mata Lianhua, putri angkatnya itu lebih dari seorang anak yang selalu diimpikannya. Saat ini keduanya sedang menikmati bunga yang mekar di taman kediaman Jenderal.
"Hua'er ibu lihat kau semakin cantik, katakan pada ibu apakah pelajaran-pelajaran itu menyusahkanmu ?"
"Ibu, mana mungkin Hua'er makin cantik, itu hanya perasaan Ibu saja,"ucap Meihua. "Hua'er sama sekali tidak merasa susah, Hua'er menikmatinya, hanya saja Hua'er bingung kenapa harus mempelajari semua itu."
"Aiya anak bodoh, itu semua agar kau bisa terpilih menjadi calon istri Kaisar," jelas Lianhua.
"Apaaa?!? Tidak. Tidak. Hua'er sama sekali tidak memikirkan menjadi istri Kaisar, Hua'er hanya ingin tinggal disisi ayah dan ibu."
"Membayangkan menjadi istri Kaisar itu, aku merinding. Bagaimana kalau aku membuat kesalahan, pasti Kaisar itu langsung menjatuhkan hukuman mati padaku," batin Meihua.
"Gadis bodoh, mau atau tidak mau, suka tidak suka kau pasti akan masuk ke istana Harem Kaisar Tian Yi," bantah ibunya.
"Tapi Ibu, ayahanda juga belum bilang apapun padaku,".
"Hormat Nyonya Besar dan Nona muda ada surat dari istana,"ucap seorang pelayan laki-laki sambil mengangsurkan gulungan surat.
Li Mei menerima surat itu dan memberikannya pada Nyonya Lianhua. Lianhua membaca surat dengan cepat, sebentar-sebentar dia tersenyum, lalu terkikik dengan senang.
"Lihat Hua'er! Ibu tak pernah salah, surat ini dari Ibu Suri, kita berdua diminta datang ke istana dua hari lagi."
"Baik."
"Sudah sore kembalilah ke Paviliunmu! Malam ini kita makan malam bersama ayahmu!"
"Baik. Hua'er mohon pamit ibu," ucap Meihua dan berlalu setelah mendapat anggukan dari ibunya.
Panggilan dari istana telah tiba, dan Meihua tidak tahu takdir apa yang akan menyambutnya. Otaknya penuh dengan berbagai macam pikiran dan kenangan dari masa lalunya. Masa depan lebih tepatnya, karena ia toh berasal dari masa depan. Satu hal yang ia tahu dan ia yakini, kedatangannya ke jaman ini, sedikit banyak pasti membuat masa depan berubah.
"Li Mei, tolong siapkan air mandiku! Aku ingin membersihkan tubuh sebelum makan malam."
"Baik Nona."
Li Mei pun pergi dengan segera, takut membuat Nonanya menunggu, karena entah kenapa dia mulai menyayangi nona mudanya yang begitu baik hati padanya.
"Sepertinya berendam air hangat bisa membuat pikiranku tenang. Aku ingin pulang, tapi pulang ke masa depan juga tidak ada gunanya lagi. Ayah dan ibu telah pergi. Aku sendirian di sana,"lirihnya.
.
.
.
.
Sebelum undangan ke istana, undangan yang lain sebenarnya telah diantarkan ke kediaman Jenderal. Undangan yang datang dari keluarga Kang itu atas nama Nona muda mereka, Kang Hongmei. Nyonya Lianhua dan Meihua memenuhi undangan itu keesokan harinya.
Keluarga Kang adalah salah satu keluarga bangsawan yang terkemuka di kerajaan Wu. Tuan Kang saat ini menjabat sebagai menteri perpajakan. Dengan lima orang putra dan putri, keluarga Kang tampak harmonis.
Nona Hongmei adalah nona kedua dari kediaman Kang. Kakak laki-lakinya telah menikah dengan salah satu putri pejabat. Sedangkan ketiga adiknya masih anak-anak. Di usianya yang menginjak angka dua puluh, nona kedua keluarga Kang tampak seperti bunga yang sedang mekar. Kecantikannya terkenal sebagai kecantikan nomor satu seantero ibukota. Kepandaian dan ketrampilan yang dimilikinya, di atas rata-rata gadis seusianya. Seluruh orang yakin hanya tinggal menunggu waktu hingga nona Hongmei dipilih menjadi permaisuri.
Kedatangan Nyonya Besar Lianhua dan putrinya disambut dengan baik di kediaman Kang. Nyonya Kang dan Hongmei telah menunggu mereka di taman keluarga. Seperangkat alat menyeduh teh dan berbagai kudapan kecil telah dipersiapkan. Senyum tampak di wajah mereka, membuat Lianhua dan putrinya merasa sangat dihargai.
"Salam Nyonya Jenderal. Aihh ini pasti nona muda Meihua. Senang bertemu denganmu!" Basa-basi yang dilontarkan oleh Nyonya Kang tampak sangat tulus. Seorang pelayan segera menyiapkan empat cangkir teh.
"Tidak perlu sungkan Nyonya Kang. Terimakasih karena telah mengundangku dan putriku hari ini. Aiyoo! Ini pasti Hongmei. Sudah lama tidak melihatmu, sekarang kau semakin dewasa, dan cantik."
"Salam Nyonya Lianhua, salam kakak Meihua." Hongmei tersenyum kecil. Di pandanginya wajah Meihua dengan teliti.
"Hua'er. Ini adalah teman ibu dari kecil, Nyonya Kang dan ini putri keduanya, Hongmei,"terang Lianhua.
"Salam bibi Kang. Salam adik Hongmei." Sapaan Meihua pada keduanya ditanggapi dengan senyuman.
"Aku senang sekali hari ini bisa berkunjung kemari. Sudah lama kita tidak pernah bertemu?"
"Kau selalu sibuk di perbatasan. Sekarang saat kembali ke ibukota, waktu kebersamaan kita akan semakin banyak."
"Benar sekali. Kau lihat, kedua putri kita ini bukankah seperti mutiara yang berharga."
Tawa kedua Nyonya itu lalu terdengar bersamaan. Sementara itu Meihua asyik menatap cangkir teh di depannya. Cangkir itu begitu unik menurutnya, terbuat dari giok hijau yang memiliki hiasan bunga Peony di kedua sisinya.
"Kakak menyukainya?"tanya Hongmei.
"Emm. Cangkir giok ini unik. Cangkir yang menjaga suhu teh tetap dalam keadaan hangat, sehingga saat diminum tidak akan menyakiti lidahmu. Motifnya hanya bisa dijumpai di negeri Wen."
"Pengetahuan kakak luas sekali. Cangkir ini memang dibawa ayah dari negeri Wen."
Meihua mengangguk pelan, kemudian menoleh ke arah ibunya. Melihat tawa ibunya, Meihua merasa ikut bahagia.
"Hongmei, bagaimana kalau kau ajak nona Meihua berkeliling kediaman?"pinta Nyonya Besar Kang pada putrinya.
"Baik ibu. Mari kakak, kutunjukkan kediaman Kang padamu."
"Bibi, ibu. Meihua permisi."
.
.
.
.
Kediaman Kang sangat besar dengan berbagai macam ruangan. Para pelayan yang sedang bekerja juga tampak teroganisir dengan baik. Kali ini Hongmei mengajak Meihua berhenti di jembatan kecil yang melintang di atas danau buatan.
"Kediaman Kang sangat menakjubkan. Kau beruntung sekali Adik Hongmei,"puji Meihua.
"Tentu saja nona kami sangat beruntung. Bahkan beberapa hari lagi nona kami mungkin akan segera di angkat menjadi permaisuri Kaisar,"ucap Fen'er, pelayan pribadi Hongmei.
"Fen'er, apa yang kau katakan!"tegur Hongmei. "Kenapa kau begitu lancang!"
"Ampuni Fen'er nona. Ampuni Fen'er. Sungguh Fen'er tidak sengaja mengatakannya."
"Minta maaf pada kakak Meihua. Lain kali kau tidak boleh berkata lancang seperti itu lagi! Jangan sampai orang berpikiran bahwa aku sungguh mendambakan posisi itu!"
"Baik. Nona Meihua Fen'er sungguh-sungguh minta maaf."
"Sudahlah adik. Tidak perlu seperti itu, kata-kata Fen'er mungkin ada benarnya. Sampai saat itu tiba, kakak akan ikut berbahagia untukmu. Dan aku memaafkan mu, berbicara dengan jujur sama sekali tidak perlu disalahkan. Bangunlah!"
Li Mei lalu membantu Fen'er bangun dari posisi berlututnya.
"Kakak terlalu memuji. Tapi selain aku ada juga nona muda dari keluarga Chu."
"Oh begitukah? Apakah dia juga cantik sepertimu?" Meihua bertanya penasaran.
Hongmei mengangguk, pandangan matanya jauh ke depan. "Dia gadis yang cantik dan lemah lembut. Sayang sekali dia hanya anak tidak resmi keluarga Chu."
"Adik. Kau tidak perlu berkecil hati. Siapa yang akan mengalahkan mu dalam segala hal?"
"Kakak terlalu memuji. Mari kembali ke tempat ibu kita."
"Mari."
.
.
.
"Nona kenapa anda harus berpura-pura ramah dengan putri angkat itu?" Fen'er bertanya penuh rasa ingin tahu sambil mengekori setiap langkah Hongmei.
Saat ini keduanya tengah menuju paviliun tempat tinggal Hongmei, setelah mengantar kepergian Lianhua dan Meihua.
"Menurut mu untuk apa?"
"Nona membuang-buang waktu dan tenaga dengan bersikap baik pada mereka."
"Fen'er ternyata kau masih bodoh seperti dulu. Aku perlu tahu seperti apa sifat dan sikapnya. Apakah dia memang seperti rumor yang beredar. Cihh, ternyata hanya rumor yang dibesar-besarkan."
"Ternyata begitu?"
"Oh iya. Apakah orang yang ku suruh sudah kembali?"
"Belum nona."
"Apa saja yang dikerjakannya? Bukankah hanya mencari informasi tentang Meihua saja."
"Mungkin ada beberapa pihak yang membantu menyembunyikannya."
"Pelayan konyol. Tahu apa kau?"
"Maafkan hamba nona."
"Sudahlah. Bantu aku mandi, badanku terasa gatal setelah bersentuhan dengan gadis itu!"
"Baik."
.
.
.
.
"Ibu apakah adik Hongmei pantas di jadikan teman?"
"Kenapa bertanya seperti itu Hua'er?"
"Karena Hua'er merasa sikapnya ini penuh kepalsuan ibu."
"Oh benarkah? Sejujurnya ibu tidak tahu pasti tentang gadis itu. Waktu ibu lebih banyak dihabiskan di perbatasan."
"Oo."
"Kalau kau merasa dia adalah sebuah ancaman, berhati-hatilah. Jangan pernah percaya pada siapapun, Hua'er. Dunia itu keras."
"Hua'er mengerti. Terimakasih atas pengajaran ibu. I love you."
"Apa? Apa itu yang baru saja kau ucapkan? Kenapa ibu tidak paham?"
Seketika Meihua menepuk jidatnya. Tentu saja ibunya tidak akan mengerti apa yang diucapkannya. Dia hanya bisa meringis melihat ibunya menatapnya dengan serius.
Seusai percakapan itu hanya ada keheningan diantara keduanya. Sementara kereta kuda telah memasuki halaman kediaman Jenderal. Lianhua dan Meihua berpisah jalan setelah memasuki gerbang.