My Empress From The Future

My Empress From The Future
Keputusan



Flashback Kaisar


Umur ku baru enam belas tahun saat tugas memimpin sebuah negara dibebankan padaku. Aku dilantik tepat tiga hari setelah Ayahanda Kaisar wafat. Tidak ada waktu untuk menangis dan bersedih berlama-lama.


Sejak kecil aku telah menerima berbagai macam pelajaran, seni perang, strategi perang, seni lukis, seni sastra, semua harus dipelajari dengan sempurna, karena statusku saat itu adalah pangeran mahkota. Aku tahu bahwa suatu saat nanti, aku pasti akan menggantikan peran ayahanda sebagai seorang kaisar. Satu hal yang tidak sesuai dengan prediksiku adalah waktu itu tiba lebih cepat dari yang kubayangkan.


Ambisi kotor Jenderal Liang untuk menggulingkan kekuasaan ayahanda menjadi titik penting dalam hidupku. Aku hanya bisa menyaksikan pertempuran di istana tanpa bisa membantu. Perintah Ayahanda untuk menyelamatkan putra mahkota dan permaisuri serta selir dan anak-anaknya yang lain dipatuhi dengan baik oleh prajurit yang setia pada ayahanda.


Aku hanya bisa lari, menyelamatkan secuil nyawa yang ku punya, meninggalkan Ayahanda berjuang sendirian di istana dengan beberapa prajurit. Untungnya Jenderal Li Hao yang saat itu bertugas di perbatasan menerima surat penting dari istana dan segera berangkat dari perbatasan untuk menyelamatkan kota dan kaisarnya.


Namun, Tian berkehendak lain. Pengkhianat memang berhasil ditumpas. Kota berhasil direbut, istana kembali diduduki, akan tetapi nyawa Ayahanda tidak berhasil diselamatkan. Beliau bertaruh nyawa sampai titik darah penghabisan. Meninggalkan segulung surat wasiat bahwa pengangkatan putra mahkota harus dilaksanakan tiga hari setelah kepergiannya agar tidak terjadi kekosongan tahta.


Pelantikanku sebagai Kaisar yang baru menuai pro dan kontra. Banyak pejabat yang menyangsikan kemampuan ku mengurus negara. Di sinilah peran penting Ibunda Permaisuri dimulai. Di sisi lain Ibunda masih menangisi mendiang Ayahanda, tapi di sisi lain beliau harus berpura-pura tegas dan tegar agar bisa membantu ku mengurus kerajaan. Ayahanda hanya mempunyai seorang pangeran penerus tahta dari Permaisuri yaitu aku. Dan empat putri dari dua selir berbeda.


Sembilan tahun yang penuh perjuangan mengembalikan kerajaan ke kondisi normal tidak mudah ku lalui. Menumpas pemberontakan yang muncul silih berganti. Mengadakan kerjasama dengan kerajaan lain untuk menstabilkan pemerintahan, membuatku semakin lupa dengan segala kelembutan dan keceriaan masa muda.


Dalam hatiku hanya ada keinginan untuk melihat kerajaan ku menjadi kerajaan yang damai, makmur, tenteram, dan sejahtera. Untuk membuktikan pada Ayahanda bahwa aku bisa.


Ku perintah kerajaan dengan tegas, kujalankan hukum dan peraturan dengan disiplin. Kuhukum orang-orang yang menyalahi peraturan dan ku basmi hingga ke akar-akarnya menjadikan ku terkenal sebagai kaisar yang dingin dan kejam di mata musuh.


Keberhasilan ku memimpin kerajaan menjadikan kerajaan Wu menjadi salah satu yang terkuat di lima negara besar.


Kini tahun ke-sepuluh pemerintahanku, para pejabat - pejabat itu sudah mulai merongrong ku untuk memiliki pendamping sebagai cara meneruskan garis keturunan. Ibu Suri pun mulai memilihkan kandidat yang menurutnya mampu untuk mengimbangi ku. Bagiku itu semua tak penting. Pernikahan hanya perlu dilakukan untuk meneruskan garis keturunan. Tak kupedulikan siapa yang akan menjadi Permaisuriku. Bagiku asal aku mempunyai ribuan prajurit yang setia padaku, apapun bisa kudapatkan dengan mudah.


End Flashback


"Yang Mulia,"panggil Kasim Kang. Tak ada jawaban dari sang Kaisar.


"Yang Mulia."


Masih hening. Kasim Kang melihat Kaisarnya tengah serius berpikir, atau katakanlah melamun. Hal yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang Kaisar.


"Yang mulia harus segera ke istana ibu suri," Kasim Kang menambah intonasi suaranya.


"Kasim Kang. Diamlah! Zhen sudah mendengar mu!"


"Ampuni hamba, Yang Mulia." Kasim tua itu mundur dua langkah, diam.


"Kenapa aku teringat masa lalu? Kasim Kang, apa yang barusan coba kau katakan?"


"Mohon ampun Yang Mulia, sudah saatnya Yang Mulia pergi ke istana ibu suri. Kompetisi telah dimulai dan Anda diminta untuk menyaksikannya."


"Baiklah ayo pergi!"


"Baik Yang Mulia. Bersiap ke istana Ibu Suri."


Rombongan kaisar Tian Yi mulai meninggalkan Istana Emas, istana khusus kediaman Kaisar.


Kaisar berjalan dengan gagah di depan. Diiringi Kasim Kang, pengawal dan para pelayan.


.


.


.


"Yang Mulia Kaisar tiba," seruan lantang kasim penjaga istana ibu suri mengumumkan kedatangan Kaisar. Setiap yang hadir serentak berlutut dan mulai melakukan kowtow. Tak terkecuali ketiga kandidat calon permaisuri.


"Semoga Yang Mulia Kaisar panjang umur hingga ribuan tahun."


Ibu Suri pun menunduk memberi penghormatan," Salam Yang Mulia."


"Ibunda tidak perlu memberikan penghormatan pada zhen,"buru-buru Kaisar Tian Yi memapah sang ibu.


"Kalian semua bangunlah!"


Pandangan mata Kaisar menyapu wajah setiap orang yang berlutut disana. Pandangan itu berhenti cukup lama di wajah Meihua. Sayangnya Meihua sama sekali tidak menyadarinya.


"Terimakasih, Yang Mulia."


"Yi'er, Ibu senang kau mau berkunjung dan melihat calon permaisuri mu di kompetisi ini,"senyum ibu suri terkembang.


(Yi'er - panggilan kesayangan ibu suri untuk kaisar)


"Ibunda, ini semua demi kepentingan kerajaan, demi Ibunda juga, katakan ibu, siapa kandidat terbaik yang menurut ibu pantas menjadi pendamping Zhen?"


Ibu suri menatap sekelilingnya dan berujar,"kalian semua sudah berusaha keras. Pulanglah! Hasil akhir kompetisi akan diumumkan besok."


"Baik Ibu Suri."


.


.


.


Setelah mereka semua meninggalkan Aula Istana Ibu Suri, maka dimulailah percakapan Ibu dan anak itu.


"Yi'er, ada tiga gadis yang menurut Ibunda pantas untuk mendampingi dirimu. Kang Hongmei putri dari Kang Li Bo. Chu Mingfen, putri Chu Fan Yao, dan Li Meihua putri angkat Jenderal Li Hao."


"Lantas siapa yang menurut Ibu paling pantas?"


"Sabar anakku. Mereka semua cantik, pandai, lemah lembut, mengerti seni sastra dan musik, menguasai berbagai keterampilan. Tetapi tetap ada pertimbangan antara satu gadis dengan yang lain."


"Lemah lembut? Takutnya salah satu dari mereka tidak punya sifat itu Ibu."


Ibu suri mengulum senyum. Dia paham siapa gadis yang dimaksud oleh Kaisar.


"Li Meihua memang hanya seorang putri angkat. Terlepas dari ayahnya seorang Jenderal setia yang mengabdi pada kerajaan ini. Dia sopan, berbakat, dan satu hal yang membuat Ibunda heran, Meihua memahami dengan sangat baik seni perang dan menyusun strategi juga mengatur kebijakan negara. Bukankah dia hanya putri angkat? Bukankah dia berasal dari desa kecil?" Lanjut Ibu suri.


"Jadi menurut ibunda? Meihua pantas menjadi pendamping Zhen?"


"Yi'er, latar belakang Meihua adalah keluarga Li dan Bai. Keluarga Li adalah keluarga militer yang menopang kerajaan kita sejak jaman leluhur. Keluarga Bai adalah keluarga bangsawan yang terkenal karena kekuatan ekonominya. Latar belakang Hongmei adalah keluarga Kang dan keluarga Liao. Generasi keluarga Kang sejak dulu selalu menjadi menteri di istana, mereka terpelajar dan banyak yang menjadi cendekiawan," ibu suri menarik nafas sejenak dan meminum tehnya lagi.


"Mingfen berasal dari keluarga Chu, ayahnya seorang pejabat hukum yang adil. Menghukum yang bersalah dengan adil dan menegakkan keadilan bagi yang teraniaya.Reputasinya bersih dan dia pejabat yang pintar. Sayangnya, Mingfen lahir dari istri kedua. Yi'er kali ini kau akan menemui pilihan yang sulit."


"Ibunda, terimakasih atas penjelasannya. Ibu tenanglah. Zhen telah memutuskan hanya gadis itu yang akan menjadi permaisuri Zhen."


"Yang mulia, gadis yang manakah?"tanya Ibu Suri heran.


"Ibunda akan tahu pilihan Yi'er besok. Saat itu tiba, percayalah pada putramu. Pilihannya tidak akan salah."


"Baguslah. Apapun pilihan Yi'er, ibunda yakin itu yang terbaik, ibunda akan menyuruh pelayan untuk memberi tahu mereka agar kembali datang ke istana besok."


"Terimakasih Ibunda."


Kaisar Tian Yi meninggalkan istana kediaman Ibu Suri dan kembali ke Istana Emas. Di langit, bulan bersinar terang, ditemani banyak kerlip bintang seolah menegaskan masa depan kerajaan Wu dengan permaisuri yang akan segera dipilih, akan secerah pemandangan malam itu.


.


.


.


"Kasim Kang, sudah larut kembalilah beristirahat! Udara malam tidak baik bagi tubuhmu!" Ucapan pelan bernada perintah itu ditanggapi kasim Kang dengan senyum haru.


"Terimakasih atas perhatian Paduka. Hamba tidak apa-apa, lebih baik Anda yang segera beristirahat."


"Zhen akan segera beristirahat setelah satu laporan terakhir ini. Kasim Kang pergilah!"


"Tapi paduka..."


Kasim tua itu merasa keberatan meninggalkan junjungannya seorang diri.


"Sudahlah. Zhen akan memanggilmu jika butuh sesuatu. Sekarang beristirahatlah!"


"Baik paduka."


Setelah Kasim Kang menutup pintu, Kaisar Tian Yi menurunkan laporan yang dibacanya.


"Keluarlah!"


Seorang pria keluar dari balik tirai di sudut ruangan. Nyala lilin menerangi sebagian wajahnya. Wajah seorang pemuda yang berada di kisaran usia dua puluhan tahun.


"Salam Yang Mulia."


"Jun Li. Kau kembali? Bagaimana penyelidikan mu?"


"Lapor paduka. Pergerakan di perbatasan tidak ada yang mencurigakan. Hanya saja, dua hari yang lalu hamba melihat seorang kurir surat."


"Kurir surat?"


"Benar. Kurir itu menuju perbatasan negeri DongYi. Hamba tidak berguna, tidak bisa menangkap kurir itu setelah membuntutinya seharian."


"Sudahlah. Bukan salahmu! Kita harus terus waspada. Sekarang katakan padaku, apa yang anggota mu temukan di kediaman Jenderal?"


"Tidak ada yang aneh Yang Mulia. Nona Meihua setiap hari berada di kediaman. Tidak melakukan kontak dengan siapapun di luar kediaman. Dua hari yang lalu hanya wakil Jenderal, Hao Chen yang mengunjunginya."


"Hao Chen?"


"Benar. Mungkin dia berkunjung karena mereka masih saudara. Lalu anggota hamba menemukan jejak mata-mata lain yang mengawasi kediaman Jenderal."


"Darimana asal mereka?"


"Identitas mereka belum hamba ketahui."


Jun Li termenung sekejap, tingkahnya tidak luput dari mata Kaisar yang tajam.


"Katakan ada masalah apa lagi?!"


"Hamba tidak berani mengatakannya."


"Katakan!"


"Ampun Yang Mulia. Apakah anda berniat menjadikan nona Meihua sebagai istri? Karena sepanjang waktu nona Meihua akan berteriak tidak ingin menikah dengan Kaisar yang...yang kejam."


"Oo. Dia berkata begitu?"


"Benar."


"Menarik. Karena dia mengatakan Zhen kejam, maka Zhen akan mengabulkan keinginannya."


Jun Li terdiam. Setiap pemikiran Kaisar tidak bisa ia tebak.


"Pergilah! Lakukan tugasmu dengan hati-hati!"


"Baik."


Meihua oh Meihua. Karena kau bersikeras tidak ingin menjadi permaisuri dari Zhen, maka Zhen hanya bisa mengabulkan keinginan mu.


note: Setelah bab 10 ini saya akan update cerita setiap 2 hari sekali ;) Terimakasih