
Tahun ke 9 kekaisaran Wu.
Kaisar yang bertahta saat ini adalah Wu Tian Yi. Kaisar termuda sepanjang sejarah kekaisaran Wu. Di umurnya yang ke 16 tahun, Wu Tian Yi dinobatkan sebagai kaisar. Wu Tian Yi menggantikan ayahandanya yang wafat karena pengkhianatan Jenderal Liang.
Awal pemerintahan kaisar Wu Tian Yi diwarnai sederet pemberontakan. Pemberontak itu dilakukan sebagian pejabat kerajaan juga sisa-sisa pemberontak dari kubu Jenderal Liang. Mereka menganggap penobatan kaisar Wu Tian Yi adalah sebuah lelucon. Mana mungkin anak yang masih muda dan manja itu mampu memimpin negara.
Akan tetapi rasa sakit akibat kehilangan sosok Ayahanda dan pengkhianatan yang dilakukan orang - orang terdekatnya, membuat kaisar Wu Tian Yi menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya. Wu Tian Yi seolah menjadi dewasa hanya dalam semalam.
Selama tiga tahun memerintah di singgasana kekaisaran, Wu Tian Yi berupaya untuk memadamkan pemberontakan. Mengganti jajaran menteri dan pejabat pemerintahan dengan orang-orang berkemampuan baik dan setia padanya. Memperbarui aturan-aturan yang menyangkut rakyat dan kerajaan serta memperkuat barisan prajurit dengan membentuk sebuah tim khusus yang bertugas melindungi kaisar.
Tahun ke-empat berikutnya, kaisar Wu Tian Yi mengadakan kunjungan ke kerajaan tetangga, Kerajaan Wei. Kaisar Wei menyambut kedatangan kaisar Wu dengan terbuka dan meriah. Hubungan persahabatan langsung terjalin antara dua negara besar. Hubungan itu membawa keuntungan bagi kedua belah pihak.
Tahun-tahun setelahnya berlangsung damai di kerajaan Wu. Kaisar Tian Yi memerintah dengan tegas dan bijaksana. Kemajuan diberbagai bidang dirasakan seluruh rakyat, ekonomi mereka meningkat, keamanan terjamin dan seluruh negara makmur sejahtera.
Sulit dipercaya kaisar yang sebelumnya mereka anggap anak kecil yang manja, ternyata mampu membawa kesejahteraan bagi rakyatnya. Dalam kurun waktu sembilan tahun masa pemerintahan kaisar Tian Yi, kerajaan Wu menjadi salah satu kerajaan terkuat di lima negara besar.
.
.
.
.
Pagi itu, pengadilan istana telah dimulai. Para menteri dan pejabat dari berbagai tingkatan telah berada di posisi mereka masing-masing. Mereka saling berdiskusi membicarakan berbagai masalah dan beberapa ada yang mengobrol dengan topik ringan.
"Kaisar telah tiba",seru Kasim Kang. Kasim kepercayaan Kaisar Tian Yi. Serentak dengan seruan itu aula utama yang tadinya riuh dengan suara-suara percakapan menjadi hening. Setiap kepala menunduk menghormati Kaisar mereka.
Hanya suara langkah kaki sang Kaisar yang terdengar mendominasi di aula tersebut. Langkah agung dari seorang pemimpin. Kaisar Tian Yi melangkah tenang dengan sorot mata tajam, bahkan aura keagungan terasa kental di ruangan besar itu.
Kaisar Tian Yi sampai di singgasana, memutar tubuh dengan gerakan anggun dan duduk dengan penuh kewibawaan.
"Hormat pada Kaisar." Kasim Kang kembali berseru.
"Hormat untuk Yang Mulia Kaisar. Semoga kaisar panjang umur hingga ribuan tahun." Seru seluruh menteri dan pejabat.
"Para pejabat terkasih. Bangkitlah!" Nada tegas dari sang Kaisar terdengar jelas di ruangan yang hening itu.
Seluruh pejabat kembali bangun dan berbaris dalam posisinya masing-masing dengan tenang.
"Para pejabatku, adakah yang ingin kalian sampaikan?"tanya kaisar Tian Yi.
Salah seorang dari barisan itu maju dan mulai menghormat sebelum berbicara. Ternyata Perdana Menteri Liu. "Yang Mulia Kaisar. Izinkan hamba menyampaikan suatu hal kepada Anda."
"Zhen izinkan!"
"Terimakasih Yang Mulia. Yang Mulia, saat ini kerajaan Wu berada dalam kondisi yang jaya dan sejahtera. Rakyat hidup tenang dan berkecukupan. Hanya saja rakyat membutuhkan seorang Ratu untuk memimpin mereka. Ratu yang bisa menjadi ibu bagi mereka. Yang Mulia Kaisar, hamba mohon agar Anda segera mencari pendamping demi kesejahteraan rakyat."
"Begitu? Lalu apakah ada kandidat terbaik dari kalian semua, para pejabat ku?"
"Yang mulia, saat ini ada dua kandidat terbaik yang memenuhi syarat menjadi seorang Ratu. Putri dari keluarga Chu, Ming Fen yang juga putri dari pejabat hukum dan putri keluarga Kang, Hongmei. Putri dari menteri perpajakan,"jawab Pejabat Wu.
"Bagaimana pendapat kalian?" Tanya kaisar Tian yi.
"Yang mulia, mungkin perlu untuk diadakan sebuah kompetisi bagi keduanya,"giliran pejabat Lau yang menyampaikan pendapat.
"Kompetisi yang bagaimana pejabat Lau? Jelaskan!"
"Kompetisi yang meliputi adu ketrampilan, seni dan sastra Yang Mulia," jawab pejabat Lau.
"Ide mu menarik. Zhen akan bicarakan dengan Ibu suri tentang ini. Jenderal Li Hao bagaimana kemajuan latihan para prajurit kita?".
Jenderal besar Li Hao yang dipanggil kemudian keluar dari barisan dan menghormat takzim. " Menjawab Yang Mulia. Kemajuan latihan para prajurit kita terus meningkat dengan baik. Kondisi perbatasan dalam keadaan damai. Tidak ada gerakan kaum pemberontak yang terlihat".
"Bagus. Kita harus tetap waspada. Jangan memberikan mereka celah sedikitpun. Sisa-sisa pemberontak yang dulu melakukan kudeta tentu masih bersembunyi di luar sana. Mereka menunggu saat yang tepat. Tapi Zhen percaya penuh padamu Jenderal Li. Kau pasti bisa mengatasinya."
"Terimakasih atas kepercayaan Anda, Yang Mulia."
Pertemuan rutin itu terus berlanjut membahas masalah-masalah menyangkut negara dan rakyat. Kaisar Tian Yi baru menghentikan diskusi itu, saat dia merasa sudah cukup puas dengan kinerja para menteri dan pejabat.
"Baiklah. Kalau tidak ada yang kalian sampaikan lagi. Bubarlah!"
"Pengadilan selesai!"teriak Kasim Kang.
Seluruh pejabat lalu berlutut dan memberikan penghormatan lagi. "Sampai jumpa Kaisar."
.
.
.
.
Sementara itu Bai Meihua yang menduga dirinya sudah meninggal saat tenggelam di laut perlahan membuka kedua matanya.
"Dimana ini?" Lirihnya. "Apa aku sudah mati? Apakah ini di surga? Tapi tidak mungkin aku masuk surga, bukankah aku meninggal bunuh diri?"
Ada banyak pertanyaan dalam hatinya. Bai Meihua mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mewah tempatnya terbangun.
Dinding berwarna merah dengan ukiran naga emas di sisi kirinya. Sebuah ranjang besar yang terlihat mewah dan empuk, dengan selimut sutra berwarna emas terlipat di sisi terdalam ranjang berada di sisi yang lain.
Di depannya tertata seperangkat meja dan kursi yang tak kalah mewah. Gulungan kertas dan tinta tertata rapi, juga setumpuk buku kecil di tepi meja. Sebuah rak kayu berkualitas bagus yang penuh berbagai macam buku berada di belakang meja.
"Kamar siapa ini kenapa mewah sekali? Apakah ini surga? Kamar di surga semewah ini, ya?"
Lalu Bai Meihua mendengar langkah-langkah kaki yang menuju ruangan tempatnya terbangun. Dalam sekejap saja pintu ganda besar berwarna merah itu terbuka, sepasang tangan yang besar dan kokoh terlihat menutup pintu itu. Kemudian untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Bai Meihua merasa jantungnya berhenti berdetak bersamaan dengan pipinya yang memanas.
Wajah itu adalah wajah tertampan yang pernah ia lihat. Wajah yang terlihat tampan tapi dingin disaat yang bersamaan. Rahang yang tegas, bibir merah dan alis mata yang hitam menawan memayungi kelopak mata dengan netra hitam sehitam malam. Pandangannya sulit diartikan. Mata yang seolah menyimpan sejuta misteri.
"Siapa kau?"
Si pemilik wajah tampan itu bertanya dengan sorot mata dingin serta penuh curiga. Tatapannya seolah menusuk dingin ke arah Meihua. Sayangnya Meihua yang masih terpukau dengan wajah itu tak menyadari pertanyaan itu untuknya, ataupun nada dingin dalam pertanyaan itu.
Tuhan. Ternyata ada makhluk ciptaan Mu yang begitu indah seperti ini? Ahh beruntung sekali aku, setelah mati ada seorang dewa yang menyambut ku, batin Meihua.