
Malam semakin larut, bahkan pagi hampir menjelang beberapa jam lagi. Di istana Zhuanshi, Meihua yang sebelumnya telah tertidur di pelukan Kaisar, mulai membuka mata.
Hal pertama yang dilihatnya adalah seraut wajah tampan, dengan hidung mancung dan rahang yang kokoh. Alis mata yang hitam, bulu mata yang panjang menaungi kelopak mata yang biasa menyorot tajam.
Untuk sejenak, Meihua merasa pipinya memerah mengingat apa yang telah mereka lakukan.
"Permaisuri, kau bangun?" Suara berat kaisar Tian Yi membuyarkan lamunan Meihua.
"Ya. Yang Mulia. Hamba terbangun belum lama. Menurut Anda apakah sekarang terlalu larut untuk makan malam?"
"Ternyata Permaisuri lapar hemm? Bangunlah! Zhen akan menyuruh para dayang menyiapkan makanan untuk kita."
Ketika makanan telah dihidangkan, Meihua dengan telaten mengambilkan mangkuk nasi dan lauk untuk Kaisar, kemudian untuk dirinya sendiri.
"Yang Mulia, seharusnya Anda berkunjung ke istana Giok dan istana Mutiara untuk memberi muka pada kedua selir," Meihua membuka percakapan.
"Begitukah? Permaisuri sungguhan dengan kata-kata itu?"
"Tentu saja sungguh-sungguh Yang Mulia. Adik Ming dan adik Hong pasti menunggu Anda sejak sore. Siapa yang tahu apakah mereka telah istirahat atau belum karena menunggu Yang Mulia."
"Zhen telah mengutus kasim Kang untuk mengabari mereka. Kenapa Permaisuri tenang sekali? Tidakkah permaisuri merasa cemburu?"
"Hamba adalah permaisuri, rasanya tidak pantas untuk cemburu tentang hal-hal yang sudah menjadi takdir."
Setelah itu tidak ada obrolan lagi di antara mereka. Kaisar hanya memilih diam, pandangan mata yang sebelumnya menatap Meihua dengan hangat itu kembali dingin.
Suasana di antara keduanya menjadi canggung, Meihua bahkan beberapa kali berdehem. Sayangnya di antara keduanya tidak ada yang berniat memberi penjelasan.
Ketika matahari telah terbit, barulah Kaisar Tian Yi beranjak dari duduknya. Setelah membersihkan diri dibantu oleh para dayang, Kaisar Tian Yi meninggalkan istana Zhuanshi dengan segala kebesarannya. Jubah bersulam naga miliknya berkibar tertiup angin pagi.
Biasanya para istri Kaisar akan meluangkan waktu di pagi hari, untuk menemui Ibu Suri di istananya. Kali ini karena Ibu Suri memutuskan untuk pergi ke kuil dalam beberapa hari, maka para istri Kaisar biasanya berkumpul di tempat Permaisuri.
"Hongmei memberi salam pada Permaisuri, semoga bahagia selalu."
"Mingfen memberi salam pada Permaisuri, semoga damai sejahtera."
"Kalian berdua bangunlah!
"Terimakasih Permaisuri."
"Adik, bagaimana kehidupan di istana?"
"Menjawab Permaisuri, kehidupan di istana sangat baik. Sayangnya Kaisar sama sekali tidak berkenan datang ke tempat kami."
"Maafkan Kaisar, adik Hongmei. Akhir-akhir ini ada banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Kaisar."
"Walaupun begitu, seharusnya Permaisuri juga mengerti keadaan kami. Bukannya menyimpan Kaisar untuk diri sendiri!"
"Lancang!! Siapa kau berani mempertanyakan keinginan Kaisar? Bukan salahku, Kaisar ingin berada dimana. Kalian ingin mendapatkan perhatian Kaisar, bukankah harus berusaha lebih keras lagi? Bukan dengan memfitnahku menyimpan Kaisar di sisiku."
Hongmei jatuh berlutut, teriakan Meihua baru sekali ini didengarnya. Tak pernah ia sangka, Meihua akan menggunakan status Permaisurinya untuk menekannya.
"Permaisuri, bukan begitu maksud kami. Bukan begitu maksud kakak Hongmei, mohon Permaisuri jangan marah."
Mingfen berucap cepat, berharap ucapannya dimengerti oleh Permaisuri.
"Sudahlah!! Aku tahu kalian ingin segera mendapatkan perhatian Kaisar. Tapi kalian baru berada di sini dua hari, dan kalian sudah menyerah?"
Selir Hong dan selir Ming terdiam. Kemarahan Permaisuri masih terngiang di telinga mereka. Bagaimanapun kedudukan Meihua selalu lebih tinggi dari keduanya.
"Adik Hong, bangunlah!"
"Terimakasih Permaisuri, tolong maafkan perkataan adik barusan."
"Sudahlah, aku mengerti. Aku telah menyuruh Kaisar untuk berlaku adil pada kalian, namun beliau sama sekali tidak senang."
"Permaisuri. Jangan terlalu memaksa Yang Mulia, atau kami akan mendapatkan penilaian buruk darinya,"lirih Mingfen.
"Baiklah. Baik. Sekarang kalian kembalilah! Lakukan hal yang menurut kalian bisa mengambil hati Kaisar."
"Terimakasih Permaisuri. Kami permisi."
Begitu kedua selir telah pergi, Meihua terduduk lemas di kursinya. Meihua oh Meihua kau sungguh bodoh. Wanita mana yang rela melihat suaminya memeluk wanita lain? Tapi sekarang kau malah mendorong suamimu sendiri ke pelukan wanita lain. Adakah istri yang lebih bodoh darimu?
Selir Hong dan Selir Ming berjalan bersisian. Keduanya tampak memiliki pemikiran masing-masing. Selir Ming yang memikirkan bagaimana cara untuk tidak menarik perhatian Kaisar, dan selir Hong yang memikirkan bagaimana cara menarik Kaisar dalam pelukannya.
"Akan ku pastikan aku yang pertama memberikan keturunan untuk kerajaan Wu ini, dan anakku lah yang akan menjadi putra mahkota, dengan begitu posisi ku di istana bisa lebih tinggi. Batin Selir Hong.
"Adik Ming, sampai disini saja. Aku harus segera pergi."
"Baiklah kakak, hati-hati."
Selir Hong tersenyum, senyum yang bahkan tidak sampai ke matanya. Ditinggalkannya Mingfen di tengah taman kekaisaran. Tujuannya sekarang hanya satu, Istana Emas. Menemui Kaisar dengan seribu macam cara dipikirannya.
"Yang Mulia, selir Hong meminta ijin untuk menghadap."
"Ada keperluan apa dia?"
"Menjawab Yang Mulia, Yang Mulia Selir membawa...."
"Salam Yang Mulia Kaisar. Hamba membawa beberapa kue lezat untuk menemani Kaisar mengerjakan semua laporan ini."
"Selir Hong. Kau bahkan belum di izinkan masuk!"
"Ampuni hamba Yang Mulia. Hanya saja hamba terlalu bersemangat untuk menemui Anda, setelah di izinkan oleh Permaisuri untuk...."
"Permaisuri?"
"Benar. Hamba mengunjungi Permaisuri pagi ini, beliau berkata hamba dan adik Ming harus pandai-pandai menarik perhatian Kaisar. Bagaimanapun juga Kaisar harus berlaku adil."
"Permaisuri berkata begitu?"
"Benar Yang Mulia. Permaisuri juga berkata hamba dan adik Ming harus memberikan keturunan bagi kerajaan Wu."
Tangan Kaisar mengepal erat di atas meja. Wajahnya memerah karena marah. "Kurang ajar sekali kau Meihua. Kau pikir bisa mengatur hidup Zhen? Kau ingin Zhen berlaku adil pada kedua selir, bahkan mengijinkan mereka mengandung lebih dulu dari mu! Baiklah. Mau tidak mau, suka atau tidak Zhen akan mengikuti permainan mu!"
"Pergilah Selir Hong! Nanti malam Zhen akan datang ke Istana Giok!"
"Baik Yang Mulia."
Hari itu, Kaisar tidak kembali ke Istana Emas bahkan tidak menampakkan dirinya di istana Zhuanshi. Menurut Li Mei, Kaisar mengunjungi kediaman Selir Hong di Istana Giok. Ada rasa aneh di hati Meihua, rasa tak rela. Tetapi sebagai seorang Permaisuri, ia tahu cepat atau lambat hal-hal seperti ini akan terjadi dan hatinya akan terluka.
Di Istana Giok.
Kasim Kang mengumumkan kedatangan Kaisar.
Selir Hong dan para pelayan kemudian memberikan penghormatan.
"Yang Mulia, sungguh anugerah dari langit, Baginda berkenan singgah di Istana hamba," ucap selir Hong sambil menuangkan secangkir teh.
Setelah Kaisar meminum teh itu, barulah Selir Hong duduk di seberang meja yang sama dengan Kaisar.
"Selir Hong, kudengar ayahmu sedang tidak sehat? Dia bahkan tidak hadir di pertemuan tadi pagi."
"Benar Yang Mulia. Kesehatan ayah akhir-akhir ini memburuk. Sejak pemilihan Permaisuri saat itu, ayah merasa sedih dan diperlakukan tidak adil, karena... Ahh maafkan kelancangan hamba Yang Mulia." Selir Hong jatuh berlutut.
"Bangunlah, tidak perlu berlutut seperti itu. Zhen tahu ada hal-hal yang membuat kecewa kalian. Tetapi menjadi seorang Guifei, bukanlah sesuatu yang buruk."
"Baginda benar. Hamba berterimakasih atas kemurahan hati Baginda. "Anda tidak tahu, menjadi seorang permaisuri adalah keinginanku sejak kecil. Apakah aku harus mengalah pada gadis yang asal-usulnya tidak jelas? Tidak, Kang Hongmei tidak pernah mengalah untuk apa yang telah ia inginkan."
"Apakah Yang Mulia berkenan makan malam di sini? Hamba akan menyiapkan hidangan untuk Yang Mulia."
"Baiklah. Lekas buatkan!"
"Baik Yang Mulia. Hamba undur diri menyiapkannya sebentar." Selir Hong bergegas menuju dapur kediamannya.
Beberapa saat kemudian, hidangan makan malam telah disiapkan. Aroma masakan yang menggugah selera, tidak membuat Kaisar langsung menyumpit makanannya. Bahkan saat ini dia seolah melihat Meihua yang tersenyum padanya.
"Gadis ini, seenaknya menyuruh ku mendatangi istana selir, tanpa memikirkan perasaannya sendiri," batin Kaisar Tian Yi.
"Kalian semua boleh pergi," ucap Kaisar pada seluruh kasim dan pelayan.
"Baik Yang Mulia." Semua undur diri setelah memberi penghormatan. Hanya Selir Hong yang duduk dengan tenang, sesekali senyum menghiasi bibirnya.
Anda telah masuk dalam perangkap hamba Yang Mulia. Hanya sedikit obat yang ku campurkan pada teh itu, dan sekarang anda merasakan efeknya. Meihua lihat saja, akulah yang akan mengandung putra mahkota!
Kaisar Tian Yi bangun dengan tangan memijat pelipis kepalanya. Ada rasa pusing yang samar ia rasakan. Pandangannya menoleh ke sekeliling ruangan peraduan. Corak kain dan hiasan yang berbeda, memberi tahunya satu hal. Ini bukan Istana Emas, bukan pula Istana Zhuanshi. Bukan peraduannya dan Meihua.
Di lihatnya wanita disebelahnya. Selir Hong tertidur pulas dengan rambut dan pakaian tidak beraturan.
Ada rasa sesal dalam hatinya. Perasaan seolah mengkhianati Meihua. Dengan hati-hati, Tian Yi turun dari pembaringan. Merapikan pakaiannya dan kemudian keluar dari Istana Giok. Entah, bukan Istana Zhuanshi yang ditujunya, bukan pula Istana Mutiara tempat Selir Ming berada.
Hanya langkah kaki yang menuntunnya, Tian Yi sama sekali tidak takut bahkan tanpa pengawalan para prajurit. Ia tahu, pasukan khusus yang dulu pernah dibuatnya akan selalu melindunginya dari jarak tertentu.
Langkah kaki membawanya menuju kompleks belakang istana, tempat pertama kali dilihatnya senyum Meihua yang begitu polos. Senyum yang membuatnya yakin untuk memilih Meihua sebagai Permaisuri kerajaan Wu.
Saat itu, dia diam-diam bersembunyi ketika melihat Meihua makan dengan pelayannya, ketika Meihua merentangkan kedua tangannya. Ada rasa tertarik dan perasaan hangat yang mengalir menuju hati Tian Yi.
Sinar bulan menerangi seluruh danau buatan itu. Semilir angin malam menggoyangkan ranting pohon bunga Meihua. Saat ini memang akhir musim dingin, menjelang musim semi. Bunga kecil itu bermekaran hampir memenuhi seluruh dahan pohonnya. Daunnya akan tumbuh ketika bunganya berguguran di akhir musim semi nanti.
Sekejap, Tian Yi tersenyum. Seolah baru tersadar, Meihua-nya sama dengan bunga didepannya. Kecil, harum, cantik terlihat rapuh namun sebenarnya Meihua mengandung keindahan, kekuatan dan kesucian. Dia juga sering bersikap tegar, padahal angin yang kencang bisa menerbangkannya.
Di Istana Zhuanshi, Meihua hanya berguling dari sisi tempat tidur ke sisi yang lain. Pikirannya penuh, dengan alasan ketidakhadiran suaminya. Walaupun dia tahu, saat ini suaminya sedang menghabiskan waktu dengan salah satu selirnya. Hingga pagi menjelang, ketika semburat kemerahan sang surya mulai nampak di ufuk timur, Meihua memutuskan untuk bangun. Membersihkan dirinya sendiri tanpa bantuan pelayan.
Ketika tengah memakai baju, Li Mei dan pelayan yang lain memasuki ruangan.
"Yang Mulia Permaisuri, mohon ampun karena keterlambatan kami,"seluruh dayang berlutut ketakutan.
"Bangunlah kalian semua, tidak perlu meminta ampun. Akulah yang bangun terlalu pagi. Sekarang bantu aku memakai baju berat ini!" Gurau Meihua.
"Baik Yang Mulia." Sekejap kemudian, Meihua telah berpakaian dengan rapi, berdandan dan memakai mahkota permaisuri.
Bertepatan dengan kedatangan Kaisar, sarapan pagi telah dihidangkan oleh para pelayan.
"Baginda Kaisar, mari makan pagi bersama,"ajak Meihua. Kaisar Tian Yi hanya mengangguk, duduk kemudian menyantap hidangan dalam diam.
Tidak ada obrolan di antara keduanya.
Setelah menyantap sarapan paginya dengan penuh keheningan, Kaisar meninggalkan Istana Zhuanshi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Ketika kibasan jubah kebesaran Kaisar lenyap di balik pintu, Meihua melepas nafas panjang. Para pelayan membereskan hidangan di meja, menggantikannya dengan seperangkat alat minum teh dan berbagai kudapan serta buah segar.
"Selir Hong meminta izin berkunjung," kasim meneriakkan kedatangan selir Hong.
"Persilakan masuk!"
"Baik permaisuri."
"Hormat hamba kepada Yang Mulia Permaisuri, semoga Permaisuri bahagia selalu."
"Adik, tidak perlu sungkan. Duduklah!"
"Terimakasih Permaisuri."
"Adik Hong tidak perlu memanggil Permaisuri saat kita hanya berdua, panggilah kakak seperti biasa."
"Hamba tidak berani, itu adalah peraturan di kerajaan ini Yang Mulia."
"Aku yang menyuruh, kenapa tidak berani. Ahh kulihat adik Hong bahagia sekali. Ada apakah?"
"Baik kalau Permaisuri memaksa. Apakah begitu terlihat kebahagiaan hamba?"
"Tentu saja. Hanya orang buta yang tidak bisa melihatnya."
"Sebelumnya, ada hadiah kecil dari adik untuk kakak Meihua."
Fen'er maju memberikan kotak merah pada Li Mei.
"Adik tidak perlu repot-repot seperti itu. Apakah isinya?"
"Itu adalah dupa yang beraroma menenangkan kakak. Aku menyuruh Fen'er membakarnya, dan aku merasakan seolah beban di kepalaku menghilang. Aku begitu tenang. Kakak harus mencobanya."
"Baiklah, akan ku suruh Mei'er mengganti dupa yang biasanya dengan dupa ini nanti. Dupa inikah alasan kau begitu bahagia hari ini?"
Hongmei merona,"kakak, mana mungkin hanya dupa bisa membuat ku gembira, kakak harus tahu akhirnya Yang Mulia Kaisar mau bermalam di tempatku. Kami menghabiskan waktu dengan begitu romantis, melihat bulan bersama, makan bersama. Kakak, terimakasih atas dorongan kakak padaku untuk tidak menyerah."
Ahh, mau memanas-manasi ku ya? Kita lihat siapa yang akan panas Hongmei.
"Syukurlah kalau Kaisar bisa berlaku adil. Jadi adik Ming juga harus menemani Kaisar setelah ini. Kaisar juga melakukan hal yang sama padaku, bahkan lebih dari itu. Adik Hong, mungkinkah Kaisar melakukannya denganmu hanya sebagai pengganti diriku?"
Hongmei merasa terbakar hatinya, ucapan Meihua benar-benar sebuah sindiran.
"Kakak, aku jadi malu membayangkannya. Kakak Meihua setelah ini, aku akan mengunjungi adik Mingfen. Adik mohon diri."
"Silahkan adik Hong. Sampaikan salam ku pada Mingfen. Katakan aku menunggu kunjungannya!"
Setelah membungkuk, selir Hong meninggalkan Istana Zhuanshi dengan diikuti para pelayan. Kepergiannya membawa hati yang membara terbakar api cemburu.
"Mei'er, bawa dupa ini ke tabib istana, suruh tabib menyelidiki bahan-bahan untuk membuat dupa ini. Lakukan dengan diam-diam Mei'er!"
"Baik permaisuri, hamba akan lakukan. Hamba permisi."
Setelah kepergian Li Mei, Meihua memutuskan memberi makan ikan di kolam taman kekaisaran. Di bawanya beberapa pelayan dan kasim. Mungkin melihat ikan-ikan itu berenang bisa menyejukkan hatinya.
Taman kekaisaran penuh dengan berbagai bunga yang tengah bermekaran. Beragam bunga yang menguarkan bau wangi membuat pikiran siapapun yang berada di sana merasa tenang. Taman kekaisaran adalah taman terbesar yang ada di kompleks istana kerajaan Wu.
Terdapat kolam buatan yang di isi dengan beragam ikan, sungai kecil buatan, gunung buatan dan gazebo. Pohon bunga Meihua pun mulai penuh dengan bunganya. Begitu cantik, menghiasi berbagai sudut taman.
Biasanya pada musim-musim tertentu, ibu suri akan mengajak seluruh penghuni Harem istana untuk menikmati bunga dan minum teh. Saat ini udara mulai berubah hangat, musim dingin hampir berlalu, musim semi yang penuh keceriaan telah menanti.
Di taman kekaisaran itu Meihua justru bertemu dengan ayahnya, Jenderal Li.
"Salam untuk Permaisuri, semoga Permaisuri bahagia selalu," Jenderal Li menghormat takzim.
"Ayah, tidak perlu begitu hormat pada Hua'er. Mari duduk di gazebo ayah,"ajak Meihua pada ayahnya.
"Mari Permaisuri, silahkan."
Setelah mereka berdua duduk bersama di gazebo, pelayan lalu menuangkan teh.
"Ayah, bagaimana kabar ibu? Hua'er rindu sekali."
"Ibumu baik-baik saja Hua'er. Hanya kadang-kadang melamun, katanya Tian menganugerahkan seorang putri. Tapi belum sempat ia puas dengan kehadiran putrinya, Kaisar membawanya pergi."
"Ayah, sampaikan maafku dan salam untuk ibu. Katakan, Hua'er baik-baik saja di istana. Yang Mulia Kaisar dan Ibu Suri menyayangi Hua'er. Lain kali ajaklah ibunda berkunjung lagi ke sini Ayah."
"Baiklah, Nak. Ada satu hal yang perlu Ayah sampaikan padamu. Tapi apakah mereka bisa menjaga rahasia?" Tanya Jenderal Li seraya menoleh para pelayan Meihua.
"Kalian pergilah dulu! Nanti bila aku perlu sesuatu, akan ku panggil kalian kemari."
"Baik Permaisuri. Setelah para pelayan meninggalkan gazebo tempat mereka duduk, Jenderal Li langsung menunjukkan wajah serius.
"Hua'er, Organisasi Kabut Hitam yang pernah diberitahukan oleh ibumu, benar-benar menerima perintah dari kediaman menteri Kang." Bisik Jenderal Li.
Mata Meihua membola," jadi menurut Ayah, saat itu menteri Kang menginginkan kematian ku?"
Jenderal Li mengangguk,"Nak, kau harus berhati-hati juga terhadap putrinya. mereka adalah orang-orang licik, menggunakan segala cara agar tujuan mereka tercapai."
"Baik Ayah. Nasehat Ayah akan selalu Hua'er ingat baik-baik." Pantas saja, sorot mata Hongmei padaku selalu tajam. Senyumnya selalu penuh kepalsuan. Ternyata dia memang menginginkan posisiku.
"Ayah harus segera pergi ke kamp militer. Ayah ke istana hanya untuk mengambil surat perintah Kaisar, Ayah pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik," Jenderal Li mulai berjalan meninggalkan gazebo.
"Ayah juga berhati-hatilah!"
Pagi itu, Jingmi tengah berkutat di dapur membuatkan sarapan untuk nonanya yang kini menyandang status sebagai selir Ming. Ada banyak koki dan pelayan di dapur istana yang bisa di mintai tolong. Namun, Jingmi merasa lebih baik nonanya makan makanan yang dibuatnya sendiri. Sebenarnya dapur Istana Mutiara juga bisa digunakan, namun bahan masakan disana lebih sedikit daripada di dapur istana.
Saat hampir selesai, Fen'er masuk dengan membawa sekeranjang penuh sayuran segar. Gadis itu tersenyum tipis melihat Jingmi yang tidak menyadari kedatangannya.
"Adik jingmi, sedang apa?"
"Aiyaa kakak Fen mengagetkan ku. Aku sedang membuat sarapan pagi untuk selir Ming."
"Ohh kenapa tidak meminta pada koki istana?"
"Selir Ming sedang ingin makanan buatanku."
"Begitu ya. Adik, bisa tolong membantuku sebentar? Waktu sarapan pagi juga masih nanti kan?"
"Baiklah, membantu apa?"
"Berikan sayur yang ini ke bagian koki baru sebelah sana itu," Fen'er menunjuk seorang koki baru." Biar aku yang memberi sisanya pada koki Luo."
"Baiklah kak," Jingmi bergegas mengambil sayur yang telah dipisahkan.
Pelayan bodoh. Mau saja dikelabui. Makanan buatanmu ini yang akan membuat nona mu menderita nanti, batin Fen'er seraya menaburkan bubuk putih dari lipatan kertas yang dikeluarkannya dari lengan bajunya.
"Sudah kak, aku permisi ya," Jingmi bergegas
mengambil nampan berisi makanan miliknya lalu pergi.
"Ya, hati-hati Jingmi!"
Pelayan Selir Hong itu, meninggalkan dapur dengan senyum puas. Saatnya memberi laporan pada tuannya, dan gelang giok yang dijanjikan oleh Selir Hong akan menjadi miliknya.