My Empress From The Future

My Empress From The Future
Dua Selir



Perlahan namun pasti, hubungan Kaisar dan Permaisuri semakin erat. Walaupun terkadang Kaisar masih dengan sikap dinginnya dan Meihua dengan segala penolakan dan sikap cueknya. Ibu Suri bahkan sering menjadi penengah di antara keduanya.


Setelah malam pernikahan yang menurut Meihua dilakukan dengan paksa, Meihua memutuskan untuk meminta tempat tinggal baru. Kaisar dengan berat hati, menyetujuinya. Istana Zhuanzhi yang berdekatan dengan Istana Emas, diberikan pada Permaisuri.


Walaupun telah mendapat istana baru, Meihua justru sama sekali tidak senang. Alasannya meminta istana lain adalah demi menghindari Kaisar. Namun hampir setiap hari Kaisar akan berada di istana Zhuanshi. Istana Emas yang dulunya adalah istana kediaman Kaisar, kini hanya berfungsi sebagai ruang kerja Kaisar. Menyadari hal itu, Meihua cemberut hampir setiap hari.


Hari ini Meihua berencana untuk melihat pemandangan di taman kekaisaran. Diiringi oleh dayang dan kasim, Meihua menyusuri jalan batu di tengah-tengah taman. Berbagai bunga yang mekar dan mengeluarkan semerbak aroma harum membuat perasaanya tenang.


"Li Mei lihatlah! Bunga di istana begitu cantik!"


"Anda benar, Permaisuri. Tapi bunga terindah di istana hanyalah Anda."


"Aiyaa. Gadis konyol! Sejak kapan kata-kata mu begitu menjilat?"


Li Mei terkikik kecil lalu menghindar saat tangan Meihua terangkat ke arahnya. Meihua yang merasa gemas berniat mengejar Li Mei yang telah lebih dulu melarikan diri. Keduanya berlarian di taman kekaisaran dengan tertawa riang. Semakin lama keduanya semakin menjauhi taman kekaisaran hingga sampai di Paviliun Awan.


Paviliun Awan dibangun lebih tinggi daripada Paviliun yang lain. Terletak di atas danau buatan besar. Ada beberapa jembatan yang menghubungkan Paviliun Awan dengan tempat di sekitarnya. Pemandangan dari atas Paviliun sangatlah indah. Danau buatan itu tampaknya begitu dalam, dengan bunga teratai dan ikan-ikan yang tampak berenang kesana kemari.


"Li Mei berhenti!! Berhenti!!!"


Seruan Permaisuri sama sekali tidak diindahkan oleh Li Mei. Pelayan kecil itu terus saja berlari, sambil tertawa riang. Sementara Meihua mengejarnya dengan penuh semangat, para dayang dan kasim di belakangnya ikut berlari sepenuh tenaga. Beberapa dari mereka berteriak-teriak memanggil permaisuri.


"Yang Mulia. Hati-hati!"


"Yang Mulia Permaisuri, pelan-pelan!"


"Yang Mulia!! Berhenti! Anda berhentilah! Berbahaya!"


Keributan itu memancing rasa ingin tahu penghuni istana yang lain. Bahkan para pejabat yang selesai menghadiri pertemuan di aula istana berhenti untuk melihat. Kaisar Tian Yi yang diiringi sejumlah kasim juga memutuskan untuk melihat hal itu.


Li Mei yang akhirnya sadar telah menarik banyak perhatian berhenti secara mendadak. Sayangnya Meihua yang berlari dengan kecepatan tinggi tidak bisa menghentikan larinya. Mencoba menghindari menabrak Li Mei yang berhenti di tengah jalan, Meihua berbelok ke arah kiri. Sayangnya perkiraan Meihua meleset, di arah kirinya hanyalah pagar pembatas Paviliun yang tidak terlalu tinggi.


Meihua menabrak pagar pembatas Paviliun lalu terjatuh ke bawah dengan kecepatan tinggi. Semua orang yang menyaksikan hal itu berteriak histeris. Beberapa orang menahan nafas menyaksikan permaisuri mereka dalam bahaya. Kaisar Tian Yi bahkan telah berlari dengan kecepatan tinggi ke arah Paviliun Awan. Menggunakan ilmu peringan tubuh, Kaisar Tian Yi tepat waktu menangkap tubuh Meihua.


"Permaisuri! Permaisuri bangunlah! Bangun! Hua'er!!"


Seruan Kaisar sama sekali tidak berhasil, Meihua telah pingsan saat membentur pagar pembatas Paviliun Awan.


"Tabib! Cepat panggil tabib!!"


"Baik. Yang Mulia."


"Panggil tabib!!"


Perintah Kaisar langsung dilaksanakan oleh Kasim Kang. Sedangkan Kaisar membawa Meihua ke istana Zhuanshi.


Li Mei tergugu di tempatnya bersimpuh, di samping ranjang Permaisuri. Sementara Kaisar Tian Yi duduk di pinggir ranjang. Keduanya menjaga Meihua sejak sore. Hingga tengah malam, Meihua sama sekali belum menandakan akan segera sadar. Tabib berkata permaisuri hanya terkejut dan akan segera bangun.


"Li Mei pergilah! Biarkan Zhen yang menunggu permaisuri bangun. Lakukan hukumanmu!"


"Yang Mulia. Itu adalah kesalahan hamba, jadi biarkan hamba di sini menemani Yang Mulia Permaisuri hingga beliau bangun."


"Kau tidak akan banyak membantu di sini! Pergilah atau kau akan kupenggal karena perbuatanmu! Zhen masih mengasihani mu karena memikirkan perasaan Permaisuri. Pergi!!"


"Baik." Li Mei menghormat lalu undur diri. Pelayan kecil itu lalu menuju Aula leluhur, sebagai upaya penebusan kesalahannya. Para kasim dan dayang yang melihatnya hanya menatap kasihan.


Lewat tengah malam barulah Meihua tersadar dari pingsannya. Terbangun dengan kaget seolah baru saja mengalami mimpi buruk, teriakan Meihua juga mengagetkan Kaisar. Dengan sigap Kaisar langsung memeluknya, mencoba menenangkan dengan menepuk-nepuk pelan bahunya.


"Hua'er bagian mana yang sakit? Katakan padaku! Apakah kau masih merasa sakit?"


"Yang Mulia, sebenarnya apa yang terjadi?"


"Dasar bocah!! Apa kau kira dirimu masih anak-anak? Berlarian dengan pelayan sampai membahayakan nyawa mu sendiri?"


Mendengar penjelasan Kaisar, Meihua akhirnya bisa mengingat alasan dirinya harus terbaring di ranjang.


"Maafkan hamba. Tapi hamba tidak apa-apa."


"Beruntung Zhen tepat waktu menyelamatkanmu, jika tidak...."


"Baiklah. Baiklah. Terimakasih Yang Mulia."


Tanpa sadar Meihua memeluk Kaisar sebagai ucapan terimakasih. Kaisar Tian Yi sendiri hanya bisa membeku di tempat, lalu perlahan-lahan balas memeluk Meihua.


"Oh benar, dimana Li Mei, Yang Mulia?"


"Pelayan itu? Mungkin sudah menemui Raja Neraka,"jawab Kaisar. Mengingat pelayan itu, suasana hatinya kembali buruk.


"Apaaa?!! Bagaimana bisa? Anda membunuhnya? Anda memenggalnya?"


"Lalu kenapa? Membahayakan nyawa anggota keluarga kerajaan setimpal dengan hukuman mati."


Meihua lalu terisak-isak, perlahan tangisannya menjadi semakin keras. Membuat Kaisar Tian Yi kebingungan di tempatnya.


"Permaisuri diamlah!! Kenapa kau menangis?"


"Yang Mulia, Anda keterlaluan. Li Mei adalah teman hamba setelah tersesat di dunia ini. Sekarang Anda menghukumnya bahkan membunuhnya. Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Huaaaaaa!!!"


"Siapa bilang Zhen membunuhnya?"


"Anda!!"


"Zhen tidak berkata seperti itu! Itu hanya pemikiran mu!"


"Lalu dimana Li Mei?"


"Di Aula leluhur. Dia dihukum untuk merenungkan kesalahannya sekaligus membersihkan Aula leluhur selama satu bulan."


"Syukurlah. Kupikir pelayan kecil itu sudah Anda bunuh."


"Gadis bodoh. Jangan berprasangka buruk pada Zhen! Kalau dia kubunuh, bukankah kau akan menjauh dariku?"


"Tentu saja. Baiklah, hamba mengerti, lain kali tidak akan berprasangka buruk pada Anda. Terimakasih Yang Mulia."


"Hn."


Jawaban Kaisar, mengundang cibiran dari Meihua.


Waktu dua bulan terasa begitu singkat. Hari ini adalah hari yang dipilih oleh pendeta istana sebagai hari keberuntungan yang lain. Kedua selir akan masuk ke istana secara bersamaan melalui upacara pengangkatan, bukan upacara pernikahan.


Sedari pagi, Kaisar dan Permaisuri duduk berdampingan di aula utama istana. Menyambut kedatangan kedua selir. Keluarga dan para pejabat istana yang lain pun di undang untuk memeriahkan suasana. Hanya Ibu Suri yang berhalangan hadir karena merasa tidak enak badan.


"Hari ini Zhen mengangkat nona Mingfen dan nona Hongmei sebagai Selir. Gelar untuk mereka adalah Ming Guifei dan Hong Guifei. Kedua Selir berkedudukan di bawah Kaisar dan Permaisuri. Ming Guifei akan tinggal di istana Mutiara. Hong Guifei akan tinggal di istana Giok."


Kedua selir membungkuk bersamaan,"Terimakasih atas kemurahan hati Kaisar. Semoga Kaisar dan Permaisuri panjang umur hingga ribuan tahun."


"Bangunlah kalian berdua!"


"Terimakasih Kaisar dan Permaisuri."


"Seharusnya aku yang duduk disebelah Kaisar, bukan gadis yang tidak jelas asal-usulnya seperti dia."


Selir Hong menatap tajam ke arah Meihua.


Meihua yang merasakan tatapan tajam tertuju kearahnya mencari asal tatapan itu. Sekejap dia yakin tatapan itu datang dari arah selir Hong, hanya saja dia tidak tahu alasannya.


"Selir Hong, kalau kau mencoba mempermainkan ku dan mencari gara-gara denganku, kau salah orang. Kau pikir aku orang yang gampang ditindas? Kita lihat siapa yang menindas siapa."


Upacara pengangkatan kedua selir berlangsung meriah. Istana begitu semarak untuk kedua kalinya. Berbagai tarian untuk menghibur para tamu dipentaskan dengan apik.


Pesta itu berlangsung hingga malam hampir menjelang. Setelah kedua selir diantarkan ke kediaman masing-masing, barulah Kaisar membubarkan pesta itu.


Meihua yang merasa terlalu gerah setelah duduk diam di aula menyuruh Li Mei -yang telah melayaninya lagi- untuk menyiapkan air hangat.


"Berendam di air hangat akan membuatku rileks." Batinnya.


Hanya Meihua seorang di pemandian itu, tanpa disadari seseorang telah berdiri di belakangnya.


"Permaisuri berendam sendirian di sini. Tidakkah takut ada penyusup?"


"Yang Mulia? Apa Yang Mulia lakukan di sini?"


"Kau lupa permaisuri? Ini adalah istana kerajaan milik Zhen. Tentu saja Zhen bebas berada di mana saja."


"Maksud hamba, bukankah seharusnya Yang Mulia Kaisar berada di istana salah satu Selir?"


"Zhen sama sekali tidak tertarik berada di istana salah satunya. Zhen hanya ingin berada di samping Permaisuri Zhen," lanjut kaisar Tian Yi sembari mulai masuk ke kolam pemandian.


"Tapi Yang Mulia akan mengecewakan mereka."


"Peduli apa dengan mereka? Akulah Kaisarnya di sini. Kemarilah Permaisuri, Zhen belum sempat memberi hadiah untukmu."


Meihua berjalan mendekat," hamba tidak mengharapkan hadiah apapun Yang Mulia. Lagipula atas dasar apa hamba harus diberi hadiah?"


"Tentu saja kau harus mengharapkan, karena ini hadiah spesial ku untukmu,"tangan Kaisar merengkuh Meihua, memeganginya dengan erat seolah Meihua akan pergi darinya.


Meihua tahu isyarat itu, dia bukan gadis kemarin sore yang terlalu polos untuk mengetahui apa yang pantas dan tidak pantas dilakukan. Lagipula hubungan mereka sudah sah sebagai suami istri.


Malam mulai merambat naik, entah sejak kapan tirai yang menutupi pemandian itu turun dengan sendirinya. Menutupi sepasang kekasih yang saling berbagi dan memberi. Satu hal yang bisa dipastikan, hubungan Kaisar dengan Permaisuri akan lebih erat untuk kedepannya.


Di istana Giok.


Selir Hong nampak tidak bisa menutupi amarahnya. Sejak awal dia sudah kesal, dan sekarang kekesalan itu seolah bisa meratakan istananya sendiri.


"Kenapa Yang Mulia Kaisar tidak datang kesini? Apakah Kaisar lebih memilih Selir Ming?"


"Fen'er pergilah menyelidiki kediaman Selir Ming. Cari tahu apakah Kaisar pergi kesana, lakukan dengan diam-diam!!"


"Baiklah Yang Mulia Selir."


"Apa? Tidak kesana? Lalu kemana Yang Mulia? Apa jangan-jangan ini semua ulah Meihua itu? Dia ingin memiliki Kaisar untuk dirinya sendiri? Kurang ajar sekali!" Selir Hong melemparkan cangkir teh yang dipegangnya hingga pecah.


"Selir, tolong pelankan suara Anda. Bagaimanapun nona Meihua sekarang telah menjadi Permaisuri."


"Cihh, sampai kapanpun aku tidak akan mengakui bahwa dia adalah Permaisuri. Akan kulakukan apapun untuk mengambil posisiku!"


Sorot mata selir Hong dipenuhi dendam.


"Selir Ming, sebaiknya Anda lekas beristirahat, Yang Mulia Kaisar tidak akan datang kesini. Beliau berada di istana Zhuanshi, bersama Permaisuri."


Jingmi, pelayan pribadi Mingfen, menasehati Mingfen dengan lembut.


"Dari siapa kau tahu Jingmi?"


"Seorang Kasim dari Istana Emas memberitahukan pada hamba."


"Baiklah. Lagipula Kaisar tidak mengunjungi ku juga tidak masalah. Kau tahu sendiri Jingmi, aku tidak pernah berencana memasuki kehidupan istana. Bagiku tinggal jauh dari istana tentu lebih damai, tinggal di pedesaan yang pemandangannya indah lebih ku sukai daripada terkurung di istana ini," ada guratan kesedihan di wajah Mingfen.


"Selir Ming mohon jangan berkata seperti itu. Sekarang Anda adalah seorang Guifei. Anda harus menerima kenyataan ini."


"Kau benar Jingmi. Aku hanya berandai-andai saja. Bantu aku melepaskan baju ini, berat sekali."


"Baik."


"Nona Mingfen sungguh kasihan sekali. Di umurnya yang masih muda sudah harus masuk ke istana yang penuh intrik seperti ini. Padahal keinginannya sederhana, walaupun dia dari keluarga bangsawan dia hanya ingin hidup di pedesaan. Entah apakah Kaisar akan menyayangi dan melindunginya," batin Jingmi.