
Tabib Han merasa akhir-akhir ini dirinya sering sekali di undang ke istana. Mulai dari mengobati Selir Ming hingga Permaisuri yang sering sekali terluka, kini dirinya kembali berada di samping ranjang Permaisuri. Lengkap dengan kotak kayu peralatan medisnya, secarik kain sutra di pergelangan tangan Permaisuri, dan dirinya yang tengah sibuk membaca nadi untuk menentukan penyakit yang diderita Permaisuri.
Seperti biasa Kaisar akan memperhatikannya dengan raut wajah dingin. Jika ada kesalahan dalam menyelamatkan nyawa Permaisuri, maka nyawanya juga akan melayang. Tabib Han lama-lama kebal dengan tatapan itu, walaupun memang dalam hatinya masih tersimpan rasa takut.
"Tabib Han, Katakan! Kali ini kenapa Permaisuri bisa pingsan lagi? Bukankah terakhir kali kau memeriksa, kau berkata bahwa Permaisuri telah pulih sepenuhnya?"
"Menjawab Yang Mulia, kali ini Permaisuri terkena racun lagi. Racun ini bereaksi lambat jika hanya terkena dosis kecil. Namun, jika dosis di dalam tubuh telah cukup, maka racun ini akan segera bereaksi."
"Racun apa itu?"
"Racun ini tidak bisa ditemui di kerajaan Wu. Ini adalah racun yang bisa ditemui di daerah timur laut."
"Timur laut?
"Benar Yang Mulia."
"Kasim Kang, apakah penyelidikan sudah dilakukan?"
"Menjawab Yang Mulia. Seluruh pelayan dan kasim yang bertugas sudah ditangkap seluruhnya. Makanan Dan minuman yang dihidangkan juga sudah diperiksa oleh para tabib. Namun, tidak ada yang mencurigakan dan semuanya bersih,"jawab Kasim Kang cepat.
"Kalau begitu, segera lakukan penyelidikan menyeluruh! Zhen ingin pelaku dibalik ini semua, membayar mahal atas usahanya mencelakai Permaisuri."
"Hamba mengerti."
Kini Kaisar mengedarkan pandangannya ke seluruh Istana Zhuanshi. Kaisar lalu berjalan perlahan ke arah meja kayu kecil di samping ranjang Permaisuri.
"Li Mei bau apa ini? Kenapa dupa yang dibakar berbeda baunya dengan yang biasanya?"
"Am...ampuni hamba Yang Mulia. Dupa ini memang berbeda. Permaisuri menyuruh hamba membakar dupa ini sejak beberapa hari yang lalu. Kata beliau untuk menghormati yang memberi."
"Siapa yang memberikannya?"
"Menjawab Yang Mulia, ini pemberian dari Selir Hong."
"Aneh sekali baunya. Ambilkan sisa dupa yang lain dan berikan pada tabib Han! Biarkan dia memeriksanya!"
"Ya. Yang Mulia."
Li Mei buru-buru mengambil sisa dari dupa yang telah dibakarnya, lalu memberikannya pada tabib Han. Setelah menerimanya, tabib Han lalu memeriksanya dengan penuh ketelitian.
"Yang Mulia. Sepertinya racun yang didapat oleh Permaisuri, bukanlah dari makanan ataupun minuman di perjamuan. Tapi disebabkan oleh dupa ini"
"Apa katamu tabib?! Kau mencoba mengatakan bahwa Selir Hong berada di balik sakitnya Permaisuri?"
"Hamba tidak berani. Tidak berani Yang Mulia. Hanya saja, dupa ini memang memiliki racun yang sama dengan racun di tubuh Permaisuri. Jika makanan atau minuman yang diracuni, mengapa hanya Permaisuri yang jatuh sakit, sedangkan para tamu undangan tidak?"
"Baiklah. Seseorang, panggil Selir Hong kemari!"
"Baik."
.
.
.
.
Tak berapa lama kemudian, Selir Hong telah hadir dan kini berlutut di hadapan Kaisar. Dia memasang wajah memelas, seolah tidak tahu apa-apa.
"Selir Hong! Kau tahu alasanmu dipanggil kemari?
"Hamba tidak tahu, Yang Mulia."
"Kau dituduh telah melakukan kejahatan, dengan mencoba meracuni Permaisuri. Apakah itu benar?"
"Yang Mulia. Itu fitnah, itu semua adalah fitnah. Siapa yang berani memfitnah hamba Yang Mulia? Pastilah orang itu iri dengan hamba."
"Ooo. Iri? Iri tentang apa, Selir Hong?"
"Iri...iri karena hamba sedang mengandung keturunan Kaisar. Ya benar, pasti soal itu."
"Konyol! Apakah tabib Han yang seorang laki-laki bisa iri dengan hal semacam itu?"
Selir Hong terperanjat, lalu buru-buru bersujud. "Yang Mulia, mohon jangan marah. Hamba benar-benar tidak tahu, apa motifnya dengan memfitnah hamba. Mohon Yang Mulia menyelidikinya."
"Selir, beberapa waktu yang lalu, setelah Permaisuri dinyatakan pulih, kau memberikan dupa padanya?"
"Benar Yang Mulia."
"Dupa apa itu?"
"Dupa itu hanya dupa aromaterapi biasa. Sama sekali tidak mengandung racun."
"Zhen belum mengatakan apapun tentang racun, tapi kau telah menyangkalnya Selir Hong?"
"Ampuni hamba Yang Mulia. Bukankah tadi Anda mengatakan bahwa ada seseorang yang menuduh hamba menggunakan racun untuk Permaisuri?"
"Jadi kau sama sekali tidak ada kaitannya dengan peristiwa ini?"
"Hamba tidak berkaitan dengan ini semua Yang Mulia."
"Lalu jelaskan kenapa Permaisuri bisa teracuni? Jelaskan kenapa kau mau meracuni Permaisuri!" Kaisar berucap seraya memukul meja.
Selir Hong tersentak kaget,"ampuni hamba Baginda. Hamba tidak pernah berniat meracuni Permaisuri, hamba tidak ada dendam apapun. Bagaimana hamba tega meracuni kakak Meihua?"
"Jangan berpura-pura! Meihua pingsan di perjamuan tadi. Tabib mengatakan dia diracun seseorang, dan racun yang sama ditemukan di dupa yang kau berikan! Kau masih mau mengelak?"
"Mohon Yang Mulia menyelidiki dengan seksama. Hamba juga membakar dupa itu, tapi hamba baik-baik saja. Bukankah seharusnya hamba juga teracuni?"
"Anda bohong. Bisa jadi dupa yang Anda pakai dan Anda berikan pada Permaisuri berbeda. Dupa yang Anda berikan mengandung racun," Li Mei berkata lantang.
"Lancang, kamu hanya pelayan. Berani memfitnah selir dihadapan Kaisar, sudah bosan hidup?" Selir Hong menunjuk Li Mei murka.
"Diam! Kasim Kang, Sebarkan perintahku! Geledah seluruh Istana Giok! Temukan apapun yang mencurigakan! Untuk Selir Hong, kau harus tetap tinggal di kediamanmu. Tidak boleh pergi kemanapun tanpa seizinku," tegas Kaisar. "Zhen akan menentukan nasibmu setelah dilakukan penyelidikan. Pergilah!"
"Terimakasih atas kemurahan hati Kaisar."
Selir Hong berdiri dibantu Ling'er lalu meninggalkan Istana Zhuanshi dengan cepat.
"Yang Mulia, lalu bagaimana dengan Permaisuri? Mohon tegakkan keadilan untuk junjungan hamba," ucap Li Mei.
"Kau tenanglah. Rawat Permaisuri! Zhen akan melakukan penyelidikan, dan memastikan pelakunya dihukum dengan berat."
Setelah mengatakan hal itu, Kaisar pergi untuk melakukan penyelidikan.
"Terimakasih atas kemurahan hati Kaisar." Dibelakangnya, Li Mei bersujud dengan sangat rendah. Sudut matanya melirik ranjang, tempat Permaisuri terbaring lemah.
Di atas ranjang, Meihua tersenyum miring. Ini barulah permulaan, Selir Hong. Masih ada yang akan terjadi setelah ini. Kau berurusan dengan orang yang salah.
.
.
.
.
"Tabib Han kau melakukannya dengan baik!" Ucap Li Mei seraya memberikan sekantung uang emas pada tabib Han.
"Ini hanyalah bantuan kecil, untuk Yang Mulia Permaisuri. Bagaimanapun hamba berhutang nyawa pada beliau. Jadi hamba pikir tidak perlu memberikan imbalan ini untuk hamba."
"Mana bisa begitu? Anak mu butuh uang dan istrimu yang sedang sakit sangat membutuhkan perawatan. Walaupun gaji dari istana besar, tapi harga obat untuk istri mu juga mahal. Kau harus menerimanya!"
"Karena nona bersikeras, maka hamba akan menerimanya. Tolong sampaikan terimakasih hamba pada Yang Mulia Permaisuri."
"Tentu. Sekarang Anda boleh kembali, besok jangan lupa bawakan obat untuk Permaisuri!"
"Tabib, jaga diri Anda!" Ucap Li Mei seraya menutup pintu ganda besar di samping dapur, bersamaan dengan perginya tabib Han.
.
.
.
.
Para prajurit yang ditugaskan untuk menggeledah Istana Giok, menemukan satu peti kecil dupa, yang dicurigai beracun. Dupa itu segera dibawa ke ruang obat istana untuk diteliti. Hasilnya, racun asing yang memang hanya bisa ditemui di daerah Timur laut ditemukan terkandung di dalam dupa itu.
Setelah para prajurit itu pergi, Selir Hong yang marah luar biasa menampar salah seorang dayangnya begitu keras. Darah segar segera mengalir di sudut mulut si dayang.
"Pelayan bodoh!! Kau sudah ku suruh untuk membuangnya jauh-jauh! Tapi apa yang kau lakukan? Mereka bisa menemukannya!"
"Selir ampuni hamba. Tolong ampuni hamba, peti itu sudah hamba kubur di halaman belakang, namun siapa sangka mata para prajurit begitu jeli, hingga bisa menemukannya."
"Bodoh! Sekarang lihat akibatnya! Aku tidak ingin dihukum. Aku tidak ingin apapun terjadi padaku dan pada putraku! Kau! Kaulah yang harus bertanggung jawab! Ling'er, bawa pelayan rendah ini ke penjara, jadikan dia yang bertanggung jawab atas semua kejadian ini!"
"Siap Yang Mulia."
"Yang Mulia Selir, tolong jangan hukum hamba. Jangan hukum hamba, hamba mohon!"
"Bawa dia pergi!"
"Ikut kami! Ayo cepat!"
"Tidak mau! Aku tidak bersalah! Selir Hong hamba mohon, ampuni nyawa hamba."
Pelayan itu memberontak dengan keras, dua orang kasim yang menyeretnya dengan paksa tampak kewalahan. Sementara Selir Hong menulikan diri, pelayan yang nyawanya berada di ujung tanduk itu, mengeluarkan sumpah serapah.
"Kau! Tuan yang begitu kejam! Tunggu saja, pembalasan untukmu akan segera datang! Kau juga akan mati dengan tidak terhormat! Tunggu saja!"
Jeritan pelayan yang melengking tinggi, segera hilang setelah Ling'er menutup pintu kamar Selir Hong.
Di ranjangnya, Hongmei duduk dengan tangan mencengkeram tepi ranjang. Pandangan yang tidak fokus dan tubuh gemetar hebat. "Tidak mau. Aku tidak mau mati, aku tidak mau mati. Tidak. Tidak."
"Yang Mulia, tenangkan diri Anda. Tenanglah! Anda tidak akan mati, Anda akan duduk di takhta Permaisuri, segera. Ya sesegera mungkin. Anda tenanglah! Ingat kandungan Anda!"
"Ling'er, Ling'er jangan biarkan pelayan itu kembali! Jangan biarkan dia menuntut balas!"racau Selir Hong.
"Baik. Ling'er akan lakukan, sekarang Anda tenang. Mari Ling'er bantu untuk bersiap tidur."
"Ya. Aku akan baik-baik saja. Aku akan segera menjadi Permaisuri. Segera. Ling'er, kau dengar? Segera!"
Hingga tertidur, Selir Hong masih meracau tak jelas. Disampingnya, Ling'er menatap dengan nanar.
.
.
.
.
Setelah penyelidikan yang panjang, bukti dupa beracun di dalam peti kayu kecil telah ditemukan. Seorang pelayan telah ditetapkan menjadi tersangka. Dari tangan pelayan itulah, Selir Hong menerima dupa itu. Selir Hong mengaku bahwa ia sama sekali tidak tahu menahu tentang dupa itu. Dirinya juga mengaku bahwa dupa yang ia hadiahkan pada Permaisuri adalah hadiah dari salah satu keluarga bangsawan.
Kaisar Tian Yi merasa hal ini tidak sesederhana kelihatannya. Sehingga memutuskan untuk terus menyelidiki kebenarannya. Bangsawan yang mendatangi Istana Giok akhir-akhir ini semuanya dimintai keterangan. Hasilnya hanya ada satu keluarga bangsawan yang mencurigakan. Bangsawan Shang.
Bangsawan Shang sejak dulu selalu menjadi lawan dari keluarga Jenderal Li. Keluarga Shang selalu berhubungan baik dengan keluarga Kang. Tidak menutup kemungkinan kedua keluarga ini bekerja sama untuk menjatuhkan posisi Permaisuri.
Menanggapi hal itu, Kaisar memutuskan untuk melepas seluruh pangkat dan jabatan keluarga Shang di Istana. Kepala keluarga Shang berada di dalam penjara, sedangkan seluruh anggota keluarganya berada dalam tahanan rumah. Untuk sementara Selir Hong bisa bernafas lega.
Berbeda halnya dengan Permaisuri yang mengetahui dengan pasti rencana licik Selir Hong. Sudut hatinya merasa kasihan dengan keluarga Shang yang hanya menjadi salah satu bidak catur keluarga Kang. Kali ini dengan menjadikan orang lain sebagai kambing hitam, Hongmei kembali tak tersentuh hukum.
Kaisar yang sebelumnya memutuskan untuk memenjarakan Selir Hong, berpikir ulang sebab Selir Hong sekarang sedang mengandung. Meihua yang sekali lagi merasa tidak tega dengan bayi yang dikandung Selir Hong, menyarankan agar kembali melepas status Guifei yang disandang Hongmei. Serta menempatkannya pada tahanan rumah agar Hongmei tidak kembali berulah.
Tanpa berpikir panjang, Kaisar menyetujuinya dengan cepat.
Kali ini dengan status yang terbatas, Hongmei sementara akan berperilaku baik di istana Giok.
.
.
.
Istana Zhuanshi.
Li Mei duduk tak bergerak di samping ranjang Permaisuri. Kedua tangannya berada di atas lutut, sedangkan bibirnya cemberut. Di atas ranjang, Meihua yang melihat hal itu hanya tertawa kecil.
"Baiklah. Baiklah. Aku minta maaf telah membuatmu khawatir. Lihat! Bukankah aku baik-baik saja sekarang?"tanyanya pada Li Mei.
"Tapi Anda hampir menakutiku sampai mati. Tidak tahukah Anda? Saat Anda pingsan, jantung hamba hampir copot? Lain kali jangan bermain-main dengan nyawa Anda, Yang Mulia."
"Baik. Tenang saja! Tidak ada lain kali, sebab kali ini kita telah berhasil menyingkirkan salah satu pendukung keluarga Kang!"
"emm... Yang Mulia Permaisuri memang bijaksana!"ucap Li Mei seraya mengacungkan jempolnya.
"Karena Tuan mu ini bijaksana, lekas pergi ke dapur dan buatkan aku makanan! Aku lapar."
"Siap. Hamba pergi dulu, Yang Mulia."
"Pergilah! Pergilah!"
.
.
.
Terlepas dari permasalahan di Harem istana, Kaisar nyatanya masih memikirkan tentang kerjasama dengan Wen. Karena Putri ChinSuo yang seharusnya menjadi selirnya tidak bersedia, maka Kaisar akhirnya mengeluarkan dekrit kekaisaran.
Dekrit Kaisar untuk tuan muda pertama kediaman Jenderal tua Li Huo yaitu Li Hao Chen, berisi perjodohannya dengan Putri ChinSuo. Selain itu Kaisar juga menganugerahkan gelar Jenderal Yonggan pada Hao Chen.
Seluruh penghuni kediaman itu bersuka cita, bahkan Hao Chen tidak bisa menutupi senyumnya yang selalu merekah. Pernikahan itu akan dilaksanakan pada bulan ke lima tanggal kesembilan.
.
.
.
Di istana Chunyi tempat utusan Wen tinggal.
Setelah mendengar perjodohannya dengan Hao Chen yang diperintahkan oleh Kaisar, ChinSuo menari girang bahkan sampai memutari halaman.
Kakaknya, Chen Xu hanya menyaksikannya dengan tertawa. Walaupun adiknya menikah dengan putra seorang jenderal, dan bukan dengan Kaisar, Chen Xu merasa beruntung. Di kehidupan ini bukankah lebih baik menghabiskan waktu dengan orang yang kau cintai daripada terbelenggu paksaan?
Selain pernikahan adiknya yang hampir mendekat dan segala sesuatunya telah diurus oleh Kaisar Tian Yi, Chen Xu bersiap pulang. Kembali ke kampung halamannya di Wen, kembali pada keluarganya, walaupun semua tidak akan sama lagi, tanpa kehadiran ChinSuo.
Kerjasama antara Wen dan Wu terjalin dengan baik, adiknya bahagia dan tugasnya berhasil. Apalagi yang menjadi ganjalan hatinya? Bukankah yang terpenting kebahagiaan adiknya?
.
.
.
.
Bulan kelima tanggal kesembilan telah tiba. Pernikahan yang terjadi antara Jenderal Yonggan dan putri ChinSuo berlangsung meriah. Kaisar dan Permaisuri menyaksikannya sendiri dan menjadi tamu kehormatan. Selama seminggu penuh, pernikahan itu menjadi topik obrolan terhangat para rakyat di ibukota, pernikahan yang diberkahi langit kata mereka. Tentu saja itu benar, dengan disaksikan oleh Kaisar secara langsung, bukankah pernikahan itu akan penuh berkah. Bukankah Kaisar adalah putra langit?