
Chen Xu kembali ke kerajaan Wen, setelah tinggal lebih dari satu bulan di kerajaan Wu. Setelah memastikan bahwa adiknya akan baik-baik saja, dan berjanji akan kembali untuk menengoknya lagi, Chen Xu meninggalkan ChinSuo dengan kehidupan barunya. Putri ChinSuo memutuskan tinggal di kediaman baru yang diberikan oleh Kaisar padanya, sebagai hadiah pernikahannya dengan jenderal Yonggan.
Perpisahan adik dan kakak itu menguras emosi, walaupun mereka terlahir dari ibu yang berbeda, namun hubungan kakak adik antara mereka melebihi saudara mereka yang lain. Sebab sejak kecil, Chen Xu yang telah kehilangan ibunya dirawat oleh Selir Yun. Tumbuh bersama ChinSuo, Chen Xu sejak lama menganggap bahwa ChinSuo adalah adik kandungnya.
Pertengahan musim semi tahun ini, Ibu Suri memutuskan untuk tinggal di kuil Tianlong. Ibu Suri beralasan sudah terlalu tua untuk terus mencampuri urusan duniawi. Kini Istana kerajaan semuanya di bawah kendali Kaisar dan Permaisuri.
Selir Hong, tinggal dengan damai di kediamannya. Entah apa yang sedang ia rencanakan. Terkadang Meihua atau Kaisar akan mengunjunginya, bukan karena hubungan mereka yang membaik, tapi demi bayi dalam kandungan Selir Hong.
Selir Ming masih sama cerianya seperti biasa, walaupun dalam hatinya keinginan untuk pergi dari istana masih menyala-nyala.
.
.
.
Hari ini langit begitu cerah, panas mentari tak seterik biasanya. Meihua dengan senang hati mengunjungi kediaman Selir Hong, membawa sekeranjang buah-buahan segar.
"Yang Mulia Permaisuri datang berkunjung." Seorang kasim kecil mengumumkan kedatangannya.
"Hormat kami pada Yang Mulia Permaisuri." Selir Hong memberi hormat walaupun dengan wajah masam.
"Bangunlah! Hari ini begitu cerah, aku memberikan buah-buahan ini untukmu ahh bukan, untuk bayi dalam kandunganmu. Jaga dia baik-baik untukku."
"Apa maksud anda Permaisuri? Dia lahir dari rahimku, yang akan merawatnya tumbuh tentu saja aku. Anda bermaksud mengambilnya dariku?"tanya Hongmei keras.
"Lancang! Kamu hanya seorang selir biasa, beraninya menggunakan nada keras seperti itu padaku." Meihua berkata tajam. "Sejak perginya Ibu Suri, aku terlalu sibuk mengurusi istana dalam, masih menyempatkan datang kesini demi anak itu, tapi kau tidak tahu berterima kasih!"
Selir Hong diam, namun matanya menyiratkan kemarahan.
"Mohon Yang Mulia Permaisuri jangan marah. Akhir-akhir ini Selir mengalami mimpi buruk, jadi suasana hatinya mudah berubah-ubah." Justru Ling'er yang memintakan pengampunan.
"Lihat pelayanmu! Dia hanya seorang pelayan, tapi tahu etika kerajaan. Seharusnya kau bersyukur memilikinya, jangan sia-siakan dia seperti Fen'er!"
"Terimakasih atas perhatian Permaisuri,"lirih Selir Hong.
Sekarang kau bisa menindasku sepuasnya. Tunggu saat ayahku mengambil alih istana, kau hanya akan menjadi gembel di jalanan, cihhh.
"Kenapa menatapku seperti itu? Sepertinya aku salah mengunjungimu, setiap datang kesini aku harus selalu marah-marah seperti ini. Lebih baik aku pergi!"
"Hamba mengantarkan kepergian Permaisuri. Hati-hati di jalan."
.
.
.
.
Meihua pergi dengan wajah marah, selalu seperti itu setiap kunjungannya ke istana Giok. Sia-sia bersikap baik. Jika tidak memikirkan bahwa ini demi kepentingan Kaisar, Meihua sama sekali tidak ingin menginjakkan kakinya disini. Dalam perjalanan pulangnya, Meihua bertemu dengan Selir Ming.
"Adik Ming, darimana?"Meihua melambaikan tangan.
"Hormat pada Permaisuri, hamba dari taman kekaisaran."
"Ooh, adakah yang menarik di sana?"
"Tidak ada Yang Mulia, hanya melihat bunga,"jawab Mingfen dengan wajah memerah.
"Benarkah? Kenapa wajahmu memerah seperti itu adik? Kau sakit lagi?"Meihua bertanya khawatir.
"Tidak Yang Mulia, sungguh tidak apa-apa. Mungkin terkena panas matahari. Karena hamba merasa begitu panas, hamba berencana untuk berendam sebentar. Yang Mulia, maafkan hamba tidak bisa menemani Anda, hamba mohon pamit." Tanpa berkata apapun lagi, Mingfen berlari kecil meninggalkan Meihua.
"Gadis itu aneh, hanya melihat bunga tapi wajahnya memerah seperti apel,"gumam Meihua. "Sepertinya ada yang tidak beres."
"Yang Mulia permaisuri, hamba dengar taman kekaisaran mempunyai seorang tukang bunga yang baru, dia masih muda dan tampan,"ucap Li Mei.
"Lalu?"ucap Meihua cuek.
"Aiyaa Permaisuri, hamba ingin melihat gosip itu benar atau tidak," Li Mei cemberut. "Apakah dia tampan atau tidak seperti yang diberitakan dimana-mana. Setiap pelayan bergosip tentangnya."
"Mei'er sejak kapan seorang Permaisuri harus mengurusi langsung seorang pelayan? Kalau kau ingin melihatnya, pergilah sendiri,"Meihua tertawa.
"Bukan itu maksud hamba, Tadi Selir Ming dari sana dan pergi dengan wajah memerah, Yang Mulia melihatnya sendiri 'kan? Lagipula posisi kita dekat dengan taman kekaisaran, apa salahnya melihatnya kesana?"
Meihua terdiam."baiklah kita kesana!"
"Baik Permaisuri."
Tak ada yang berubah di taman kekaisaran, bunga Meihua masih bermekaran sepanjang musim semi ini. Terlihat para pelayan yang bertugas di taman kekaisaran sedang melaksanakan tugasnya masing-masing. Melihat kedatangan Permaisuri, mereka serentak berlutut dan mulai berkowtow.
"Salam hormat bagi Permaisuri, semoga bahagia selalu."
"Berdirilah! Lanjutkan tugas kalian, jangan buat kehadiranku mengganggu kalian."
"Baik Yang Mulia."
Ketika melewati gazebo di salah satu sudut taman, Meihua melihat seorang pemuda tengah duduk bersandar di salah satu tiang gazebo. Tampaknya pemuda itu tidak mendengar kedatangan Permaisuri, dia asyik dengan lamunannya.
"Eheeemm," Li Mei berdehem.
Sontak saja pemuda itu terkejut, apalagi melihat wanita cantik beraura penguasa yang baru sekali ini ia temui sepanjang hidupnya. Wanita yang auranya membuat siapapun menunduk hormat, wanita yang paling disayang oleh Kaisar. Kini wanita itu berada di hadapannya.
Pasti dia Permaisuri Meihua, kesayangan Kaisar seperti yang diceritakan oleh Ming'er,pikirnya.
"Xiao Wu memberi hormat pada Yang Mulia Permaisuri, mohon maafkan kebodohan hamba, tidak melihat Yang Mulia datang."
"Ahh jadi namamu Xiao Wu?"justru Li Mei yang pertama kali menjawab. Pelayan kecil itu segera saja salah tingkah saat Meihua menatapnya dengan geli.
"Bangunlah! Kulihat kau sedang melamun. Kau bersantai disini apakah tugas mu sudah selesai?"
"Menjawab permaisuri, hari ini hamba merasa sedikit pusing, sehingga memutuskan untuk beristirahat sebentar. Jika Yang Mulia Permaisuri merasa tindakan hamba tidak bisa dimaafkan, mohon Permaisuri menjatuhkan hukuman."
"Hukuman? Kenapa aku harus menghukum mu? Kau tidak melakukan kesalahan, lagipula pekerjaan mu kulihat bagus sekali. Kau memang pekerja yang rajin. Sejak kapan kau bekerja di taman ini?"
"Menjawab Yang Mulia, hamba baru bekerja seminggu belakangan ini."
Meihua hanya mengangguk. Pemuda ini memang tampan, etikanya juga baik. Pantas para dayang perempuan menggosipkannya.
"Kau lanjutkan saja pekerjaan mu! Aku akan pergi."
"Terimakasih atas kebaikan Permaisuri. Yang Mulia, hati-hati."
.
.
.
.
Seekor elang terbang dengan cepat melewati perbatasan kerajaan Wu dibagian barat. Arah yang ditujunya adalah kompleks istana, namun alih-alih mendarat di istana, elang itu berputar dan kemudian turun di mansion menteri perpajakan, Kang Libo.
Setelah bertemu dengan orang yang dicarinya, elang pintar itu menjulurkan sebelah kaki kirinya. Rupanya disitu terikat secarik kertas kecil, surat rahasia.
Kang Libo yang menerima langsung surat itu, menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada seorangpun yang melihatnya mendapatkan surat dari seekor elang.
Dengan cepat Kang Li Bo menuju ruang baca kediamannya. Tempatnya biasa mengerjakan berbagai macam pekerjaan. Disana dibukanya surat kecil itu. Ketika selesai membacanya, tawa langsung terdengar dari mulutnya. Tawa lantang yang mengandung kesombongan.
Akhirnya, permohonanku dikabulkan penguasa kerajaan DongYi. Pajak yang kunaikkan belum terdengar oleh Kaisar, itu tandanya Yang Mulia belum menyelidikinya. Hanya menunggu beberapa saat lagi, maka aku yang akan menjadi Kaisarnya. Hahahahahaha.
.
.
.
.
Laporan dari berbagai desa dan kota yang ditulis oleh para pejabat memenuhi meja kerja Kaisar. Entah sudah beberapa kali Kaisar nampak memijit keningnya. Permasalahan yang tertulis pada laporan itu rata-rata sama saja, mengeluhkan kenapa pajak untuk negara semakin bertambah.
Kasim Kang yang selalu setia berdiri di belakang Kaisar, menyaksikan dengan khawatir.
"Yang Mulia, sebaiknya paduka beristirahat dahulu. Utusan dari Istana Zhuanshi telah kemari hampir tiga kali. Permaisuri meminta Anda untuk makan bersama."
"Tidak perlu. Zhen hanya perlu membaca beberapa laporan lagi. Kasim Kang, kau sudah tua. Berdiri terlalu lama akan membuat sendi mu sakit, pergilah beristirahat dan biarkan Kasim kecil menggantikan mu!"
"Yang Mulia, mana mungkin hamba meninggalkan Anda sendirian untuk beristirahat?"
"Kasim Kang, kau sudah menemani ku sejak aku berusia lima tahun. Bagiku kau adalah pengganti sosok ayah, pergilah beristirahat! Biarkan para kasim kecil itu belajar bagaimana melayani Kaisar mereka!"
"Terimakasih atas perhatian paduka. Kalau begitu hamba akan menyiapkan kebutuhan Anda yang lain. Hamba akan menyuruh seseorang untuk menemani Anda."
Kasim Kang membungkuk takzim, lalu undur diri. Belum ada lima langkah diambilnya, Kasim Kang tergopoh-gopoh kembali.
"Yang Mulia, apakah sebaiknya hamba panggilkan Permaisuri?"
Kaisar Tian Yi terdiam. Ingatannya berputar saat terakhir kali ia menghabiskan waktu dengan Meihua.
"Tidak perlu, dia mungkin sedang kelelahan saat ini." Kaisar Tian Yi lalu melanjutkan membaca laporan, mengabaikan Kasim Kang yang terbengong mencerna penjelasannya.
"Kasim Kang, Zhen tidak merasa menaikkan pajak rakyat, tapi banyak keluhan rakyat tentang kenaikan pajak. Seharusnya, kerjasama dengan Wen baru-baru ini tentu menaikkan kemakmuran penduduk, tapi kenapa berbanding terbalik?" Kaisar bersuara.
Kasim Kang yang akhirnya tidak jadi pergi menjawab dengan suara lirih. "Ampuni hamba Yang Mulia, paduka harus segera menginvestigasi kebijakan pajak ini. Paduka harus bertanya pada para pejabat dan menteri perpajakan. Sebab..."
"Sebab apa Kasim Kang?"
"Sebab beberapa waktu terakhir ini, hamba mendengar berbagai rumor dari luaran sana. Mereka berkata, Kaisar menaikkan pajak untuk membangun Istana baru."
"Lancang! Siapa yang menyebarkan rumor itu?"
"Hamba tidak tahu Yang Mulia. Hanya mendengarnya dari para pelayan yang bergosip."
"Kasim Kang, sebarkan perintahku! Setiap orang dilarang menyebarkan rumor yang tidak jelas. Jika mereka masih nekad maka hukuman penggal menantinya!"
"Panggil pejabat Chu Fan Yao kemari!"
"Dilaksanakan Yang Mulia."
Zhen akan menginvestigasi ini diam-diam, siapapun yang mencoba merusak kemakmuran rakyat Wu harus membayarnya di neraka.
.
.
.
Di bagian barat laut kota kekaisaran Wu, terdapat tanah luas yang ditumbuhi rumput hijau. Biasanya tempat itu khusus untuk memelihara kuda-kuda perang kekaisaran Wu. Karena letaknya yang dekat dengan perbatasan negeri DongYi di sebelah barat, tanah itu dijaga dengan ketat. Hampir dua puluh ribu kuda berada disana, dan lainnya berada dekat dengan kamp militer.
Para prajurit yang menjaga tanah dan kuda itu semuanya mempunyai bela diri yang lumayan dan berada langsung dibawah perintah Jenderal Mu.
Siang itu, seekor kuda berlari cepat dibawah teriknya matahari. Kuda itu dipacu dengan cepat seolah berkejaran dengan waktu. Ketika sampai ditempat yang ditujunya, kuda itu berhenti dengan mendadak, menimbulkan kepulan debu di tanah.
"Siapa kau?"tanya petugas yang menjaga gerbang depan.
"Utusan dari istana, menyampaikan surat untuk Jenderal Mu,"utusan itu menjawab cepat seraya memperlihatkan lencana yang dimilikinya.
"Masuklah!"
Orang yang mengaku utusan itu masuk dengan cepat dan langsung menuju tempat Jenderal Mu biasa berada.
"Hamba utusan dari istana, menyampaikan surat untuk Jenderal Mu."
"Surat apa? Berikan padaku!" Mu Rong, Jenderal yang berada dibawah kendali Jenderal Pertahanan Li. Namun sudah menjadi rahasia umum bahwa Jenderal Mu tidak terlalu akur dengan sang Jenderal Pertahanan.
Ketika menerima surat itu dan memahami isinya, maka Mu Rong langsung tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha, baik. Tidak tunggu waktu lama aku pasti setuju. Tunggu disini, kutuliskan surat balasan untuk tuanmu."
"Baik."
Tak berapa lama kemudian, utusan itu telah meninggalkan kamp militer Jenderal Mu dengan membawa secarik surat untuk tuannya.
Untuk Menteri Kang yang berambisi menjadi naga.
Surat Anda telah kuterima, aku, Jenderal Mu Rong setuju untuk membantu keinginan anda. Sepuluh ribu kuda akan ikut dalam rencana ini, dan tambahan pasukan dari DongYi akan kutunggu diperbatasan kota. Jangan lupa janji anda padaku, setelah anda berhasil menjadi naga yang menguasai negeri Wu.
Mu Rong.
.
.
.
.
Di perbatasan ibukota, mata-mata yang ditugaskan oleh kaisar Tian Yi melihat seorang penunggang kuda yang memacu tunggangannya dengan kecepatan tinggi, seolah sedang diburu waktu. Dialah utusan yang mengaku dari istana, dan membawa kembali surat dari Jenderal Mu. Berdasarkan gerak geriknya yang mencurigakan, akhirnya mata-mata itu memutuskan mengambil langkah. Sebatang panah yang dilepaskan olehnya meluncur dengan cepat menembus jantung si penunggang kuda.
Ketika tubuh tak bernyawa itu telah jatuh, kudanya tetap berlari dengan cepat. Segera diperiksanya mayat itu, tangannya menemukan secarik surat. Setelah melihat segel capnya berasal dari kamp Jenderal Mu, mata-mata itu memutuskan kembali ke istana.
"Lapor! Yang Mulia Kaisar."
"Jun Li, bukankah kau sedang berada di perbatasan kota? Ada apa?"
"Yang Mulia, hari ini hamba sedang melaksanakan tugas, lalu melihat seorang penunggang kuda yang mencurigakan. Tampaknya dia terburu-buru, hamba memutuskan untuk mengejarnya dan akhirnya menemukan surat dan lencana ini,"ucap Jun Li pada kaisar Tian Yi.
Kasim Kang mengambil surat dan lencana itu dari tangan Jun Li, dan memberikannya pada Kaisar. Dengan cepat kaisar membaca surat itu.
Braaakkk.
Kaisar menggebrak meja dengan keras. "Kurang ajar Menteri Kang, dia benar-benar berniat memberontak."
"Lalu apa yang harus kita lakukan Yang Mulia?"
"Kita akan mengikuti permainan mereka, tanpa mereka sadari. Kasim Kang! Panggil Jenderal Li Hao ke istana! Katakan bahwa Permaisuri merindukannya!"
"Hamba melaksanakan perintah."
"Jun Li!"
"Hamba disini!"
"Siagakan seluruh pasukan yang berada di luar kota! Lakukan dengan hati-hati! Jangan sampai memperingatkan pihak musuh!"
Kaisar lalu menulis surat dan memberikannya cap segel persis seperti milik Jenderal Mu. Pada dasarnya di kerajaan Wu setiap cap segel yang dimiliki jenderal, komandan, menteri atau pejabat khusus memiliki duplikatnya di sisi Kaisar. Namun tidak semua orang mengetahuinya.
"Jun Li, menyamarlah sebagai utusan yang kamu bunuh, berikan surat ini pada menteri Kang!"
"Baik Yang Mulia."
Kang Li bo, keinginanmu menjadi naga di istana ini sama saja dengan berniat memberontak padaku. Kau mungkin tidak sadar, rencanamu yang terlalu mulus ini sebenarnya berada di bawah kendali Zhen. Kang Li Bo kau hanya menggali kubur untukmu dan seluruh keluargamu.
.
.
.
Hari ini Mingfen yang berencana mengunjungi Istana Zhuanshi, menyiapkan berbagai makanan enak untuk Permaisuri. Mingfen sengaja memasak lebih banyak, siapa tahu di istana Zhuanshi nanti, Kaisar juga berada disana. Walaupun Kaisar tidak pernah mengunjunginya dan hanya memikirkan Permaisuri seorang, Mingfen tidak pernah merasa iri hati.
Baginya kisah cinta antara Kaisar dan Meihua adalah sebuah kisah yang indah. Lagipula perhatian Kaisar dan Permaisuri padanya membuatnya bersyukur. Bisa tinggal di istana dengan hidup berkecukupan dan tidak harus menunaikan kewajibannya sebagai seorang Selir, membuat Mingfen sangat lega. Tinggal di istana hanya bersama Jingmi baginya jauh lebih baik, daripada tinggal di kediaman Chu bersama Nyonya pertama dan saudara beda ibunya, yang selalu menindasnya.
Ketika kasim kecil yang melaporkan kedatangannya kembali untuk mempersilahkannya masuk, Mingfen tanpa sadar melompati ambang pintu dengan bersemangat. Tingkahnya yang seperti anak kecil itu membuat Permaisuri mengangkat salah satu alisnya.
"Salam untuk Permaisuri Bao-yu. Semoga damai selalu."
"Bangunlah adik. Tidak perlu terlalu banyak sopan santun saat bersamaku! Ada apa? Kenapa wajahmu bahagia sekali?"tanya Permaisuri heran.
"Tidak ada apa-apa. Jingmi bawakan kemari!"
"Baik." Jingmi segera maju, meletakan keranjang kayu bercat merah di lantai lalu mulai menata isinya di atas meja. Berbagai hidangan yang masih mengepulkan uap hangat dan berbau harum, segera memenuhi seluruh Aula Istana Zhuanshi.
Meihua yang melihat semuanya hanya ternganga. "Apa ini semua adik Ming?"
"Aiyaa kakak. Ini adalah hidangan makan siang yang kubuat sendiri. Ayo kita segera makan!"jawab Mingfen sambil menatap sumpit di atas meja. Dari belakang, Li Mei yang tahu diri segera menyiapkan teh.
"Tapi ini terlalu banyak untuk kita berdua! Bagaimana kalau Kaisar kita undang kemari! Biarkan dia ikut makan bersama kita?"
Gawat. Kalau ada Kaisar, maka aku tidak akan bisa membujuk kakak Meihua, batin Mingfen.
"Aiyoo kakak. Yang Mulia Kaisar sedang bertemu dengan pejabat penting. Bagaimana kalau Li Mei dan Jingmi ikut makan bersama kita?"
"Itu juga bukan ide yang buruk. Baiklah, kalian berdua ayo duduk dan makan!"
"Yang Mulia, kami tidak berani!"jawab keduanya serentak.
"Aihh apa maksud kalian tidak berani? Bukankah kita semua adalah keluarga? Ayo lekas duduk!"
"Permaisuri, mohon jangan mempersulit kami. Kami ini hanyalah pelayan, jika Kaisar mengetahuinya maka kami bisa dihukum,"tukas Li Mei cepat.
Meihua menghela nafas panjang, diliriknya Mingfen cepat. "Ada apa kakak? Baiklah. Baiklah. Jingmi pergi ke istana emas sekarang! Katakan pada Kaisar bahwa kami berdua menunggunya untuk makan siang bersama!"
"Baik. Hamba mematuhi perintah."
Dengan senang hati, Jingmi berlari keluar dari Istana Zhuanshi. Melangkah cepat menuju Istana Emas.
.
.
.
.
"Xiao Wu kau sudah lama disini?"tanya Mingfen pelan.
"Belum. hamba menunggu Anda."
"Kau mulai lagi. Bukankah sudah kubilang panggil saja namaku,"Mingfen cemberut.
"Baiklah, maafkan aku Ming'er. Kemarilah, duduk di sini,"ucap Xiao Wu menepuk tempat disebelahnya.
Mingfen pun duduk, sambil memperhatikan Jingmi yang disuruhnya menjaga tempat itu.
"Bunga ini untuk Mingfen, wanita yang anggun dan kuat yang pernah kukenal," kata Xiao Wu seraya mengulurkan seikat rangkaian bunga tulip dan mawar.
Pipi Mingfen semakin merona dibuatnya, diterimanya rangkaian bunga itu, diciumnya dalam-dalam. Harum dan menenangkan. "Kau tidak dimarahi memetik bunga sebanyak ini?"tanya gadis itu cemas.
"Tidak, aku memetik di sebelah Utara yang jarang dikunjungi, dan tidak semua kupetik, hanya yang terlihat bagus," tutur Xiao Wu.
"Terimakasih. Kau baik sekali."
"Sama-sama Selir."
Mingfen mendelik, dan Xiao Wu hanya tertawa pelan. Mereka terus berbincang, duduk berdua di tanah berumput dan menikmati bunga.
Jingmi yang bertugas menjaga tempat itu, menoleh kesana kemari. Seolah takut ada yang memergoki nonanya sedang bersama seorang pelayan. Bagaimanapun status nonanya masihlah seorang Selir, dan berasal dari keluarga bangsawan. Apa jadinya jika Kaisar mengetahui? Walaupun Kaisar tak pernah mengunjungi Selir Ming di istana Mutiara, nama baik Kaisar harus tetap mereka jaga.
Kedua sejoli itu tak menyadari bahwa sejak tadi mereka telah diawasi dengan jelas oleh Meihua. Di atas pohon bunga Meihua yang berbunga banyak, gadis itu duduk dengan nyaman menguping pembicaraan Mingfen dan Xiao Wu
Ditangannya terdapat sebuah apel yang telah berkurang separuhnya. Jangan tanyakan bagaimana seorang Permaisuri bisa naik ke atas pohon dengan masih memakai jubah kebesarannya, hanya Meihua yang tahu jawabannya.
Ternyata ini alasan pipimu merona merah dan seringnya kau ke taman kekaisaran adik Ming.
PS; Jangan lupa pencet jempol ya 😃 Untuk membuat saya terus bersemangat menuliskan lanjutan cerita ini 😉 Happy reading