My Beloved Uncle

My Beloved Uncle
C9. Kembali



Brak


"Siapa Kamu?"


" Ngapain Kamu pegang suami saya!"


Kedua bola mata Alina langsung membulat saat melihat Bunga masuk kedalam ruang perawatan Ziel dengan marah-marah, bahkan seorang perawat wanita yang menahan Bunga masuk nyaris terjatuh karena mendapat tepisan kasar dari Bunga saat menahan Bunga memasuki ruangan.


"Lepasin tangan Kamu!" Bunga menarik paksa tangan Alina dan membuat genggaman tangan nya dan Ziel pun terlepas.


"Siapa Kamu hah?" Bentak Bunga.


"Sabar Aunty. Ini Alina" Alina menjawab pertanyaan Bunga dengan lembut


"Cih si anak buangan!" Sentak Bunga.


"Maaf Bu. Ini ruangan steril. Sebaiknya Ibu keluar dari ruangan ini!" Ucap perawat yang tadi di dorong oleh Bunga itu dengan tegas.


"Saya istri nya saya lebih berhak di bandingkan anak buangan ini!" Bentak Bunga tak mau kalah.


"Tapi Ibu sudah membuat keributan dan mengganggu pasien!" Ucap perawat itu kembali.


"Kalau ada yang harus keluar, harus nya anak buangan itu bukan Saya!" Ucap Bunga tak mau kalah.


"Sudah Mbak. Biar saya saja yang keluar" Ujar Alina yang berusaha mengalah kepada Bunga.


"Bagus!. Kamu harus nya sadar diri dan tau posisi Kamu yang hanya menjadi anak buangan!" Ucap sarkas Bunga saat Alina akan keluar ruang perawatan Ziel.


"Astaghfirullahalazim. Itu mulut nya ngalahin peses nya cabe setan!" Geruru Perawat itu kepada Bunga yang justru membuat Alina tertawa kecil.


"Mbak nya sabar banget di caci maki kaya gitu diam aja. Kalau saja bukan karena pekerjaan Saya sudah saya jambak tuh mulut si Ibu jutek itu!" Kembali gerutuan Perawat itu hanya di terawai kecil Alina.


"Itu sudah hal yang biasa Mbak. Justru Saya harus perbanyak istrighfar kalau mulut tante saya itu baik saat berbicara". Kali ini tawa perawat itu yang pecah mendengar ucapan Alina.


"Lho Alin kok Kamu sudah keluar?" Amih Nana bertanya kepada Alina saat baru saja tiba di depan ruang perawatan Ziel.


"Iya Amih, di dalam sudah ada Aunty Bunga, istri nya Uncle Ziel" Jawab Alina.


"Lho, bukan nya Pak Ziel dan Istri nya itu sudah bercerai?" Tanya Amih Nana yang di angguki oleh Apha Acid.


"Setahu Apha sih mereka sudah bercerai secara agama sejak beberapa tahun yang lalu. Dan Pak Ziel juga akan mengajukan perceraian mereka ke pengadilan agama"


"Seperti ada yang tak beres ini!" Gumam Apha Acid yang lalu segera membuka pintu ruangan Ziel dan mendapati Bunga yang tengah memegang selang infus Ziel.


"Apa yang Anda lakukan?" Ucapan lantang Apha Acid membuat Bunga pun melepaskan tangan nya dari selang infus Ziel.


"Siapa Anda, main masuk kedalam ruang perawatan suami Saya?" Ujar Bunga kesal.


"Siapa Saya tidak penting. Yang penting apa yang Anda lakukan?" Ucap Apha Acid yang langsung melihat selang infus Ziel yang ternyata berhenti mengalir.


"Kalau sampai ada sesuatu hal yang buruk terjadi dengan Pak Ziel, Saya akan menuntut Anda!" Ancam Apha Acid yang langsung menetan tombol darurat.


"Anda yang akan Saya tuntut karena sudah berani mencampuri urusan keluarga Kami!" Ucap Bunga tak mau kalah.


"Baiklah, kalau begitu mari kita lihat CCTV ruangan ini!" Ujar Apha Acid yang berhasil membuat Bunga terkejut.


"Tak ada yang tau apa yang akan di lakukan oleh wanita yang tengah patah hati!" Jawaban telah Apha Acid membuat rona wajah Bunga semakin kesal.


"Mas sudah. Ini ruangan ICU tak baik bertengkar disini. Apalagi Pak Ziel masih dalam perawatan intensif" Tutur Amih Nana meredakan pertengkaran suami nya dan Bunga.


"Permisi. Maaf Bapak dan Ibu bisa menunggu di luar?. Kami ingin memeriksa kondisi pasien karena ada seperti nya ada sesuatu hal darurat yang terjadi pada pasien!" Seorang Dokter dan perawat memasuki ruang ICU memaksa Bunga keluar dari ruangan ICU.


"Untung saja Rumah Sakit ini sudah di lengkapi sistem yang canggih, jadi kalau ada sesuatu hal yang aneh langsung terhubung dengan para tenaga medis!" Ucap Apha Acid uang dengan sengaja sedikit membesarkan nada bicara nya.


"Apha, Amih bagaimana keadaan Uncle?. Alin barusan lihat ada dokter dan perawat yang masuk kedalam ruangan Uncle?" Tanya Alina khawatir.


"Sudah shalat nya Lin?" Alina menganggukkan kepala nya pelan seraya menatap penuh rasa khawatir kearah ruangan ICU tempat Ziel di rawat.


"Sabar. InsyaAllah tak ada hal buruk yang terjadi dengan Pak Ziel. Bantu doa ya Sayang" Ucap lembut Amih Nana yang kembali di angguki oleh Alina.


Bunga yang merasa kehadiran sudah mulai di curigai oleh Apha Acid itu pun memilih berlalu meninggalkan rumah sakit.


"Kamu harus hati-hati dengan wanita ular itu. Sebisa mungkin jangan membiarkan wanita itu berada di dalam ruangan Pak Ziel tanpa ada Kamu!" Ujar Apha Acid kepada Alina.


"Baik Apha" Alina menjawab dengan lembut.


Ceklek


Ruangan ICU kembali terbuka, refleks Alina langsung berlari kecil menghampiri Dokter yang baru saja keluar ruangan dengan di dampingi Apha Acid dan Amih Nana di belakang nya.


"Bagaimana keadaan Paman Saya Dok?" Bukan nya langsung menjawab Dokter Muda tersebut justru melihat kearah Alina yang masih mengenakan niqab itu dengan tatapan kagum, karena mendengar suara dan juga tatapan mata Alina yang tidak sengaja tertangkap oleh tatapan mata nya sebelum gadis cantik itu menundukkan pandangan nya dari lawan jenis yang berada di hadapan nya tersebut.


"Dok" Sang Dokter Muda terkejut kecil saat mendapat senggolan di lengan kiri nya dari perawat yang mendampingi nya tersebut.


"Puji Tuhan, Pak Ziel sudah berhasil melewati masa koma nya dan sudah bisa Kami pindahkan ke ruang perawatan" Ucap Dokter muda tersebut.


"Alhamdulillah" Gumam Alina, Apha Acid dan Amih Nana bersamaan.


"Kalau begitu Kami permisi dulu Bapak, Ibu dan Adik cantik" Ucap Ssng Dokter sebelum beranjak pergi meninggalkan ruangan ICU dengan mengucapkan pelan kalimat akhir nya dan hanya terdengar oleh perawat yang berada di samping Dokter muda tersebut sambil mengulum senyuman nya mendengar bisikan kata cantik untuk Alina dari sang dokter.


"Baik Dokter. Terima kasih. Apa Saya boleh masuk kedalam ruangan Paman Saya?".


"Oh silahkan Dek." Alina pun bergegas masuk kedalam ruangan ICU setelah pamit kepada Apha Acid dan Amih Nana.


"Saya permisi Pak, Bu!" Dokter muda itu pun pamit kepada Apha Acid dan Amih Nana sebelum meninggalkan ruangan Ziel.


"Baik Dok. Terima kasih!" Ucap Apha Acid dan Amih Nana bersamaan.


"Mari Pak, Bu. Kami akan segera memindahkan Pak Ziel ke ruang perawatan" Ucap perawat yang diangguki oleh Apha Acid dan Amih Nana.


Perawat itu berjalan mengekori Dokter muda tersebut, seulas senyuman usil terlihat tersira di wajah paruh baya nya.


"Ade nya cantik ya Dokter Michael?" Refleks Dokter itu menganggukan kepala nya dan beberapa saat kemudian Dokter muda itu menghentikan langkah nya lalu melihat kearah perawat tersebut dengan tatapan heran.


"Bisikan Dokter Michael tadi terdengar" Wajah sang Dokter muda itu langsung merah padam dan bergegas melanjutkan perjalanan menuju ruang kerja nya meninggalkan perawat yang tengah tersenyum kecil tersebut.


"Pakai cadar aja udah keliatan kecantikan nya."