
Alina memarkirkan motor yang di bawa nya diantara motor para karyawan yang sedang bersiap merapikan barang yang akan di kirim nya.
Setelah mengucapkan salam dan berbasa basi dengan beberapa karyawan yang mengenal nya gadis cantik ber niqab itu pun beranjak masuk kedalam ruko dan langsung naik kelantai dua tempat di mana ruangan Ziel berada.
Alina mengetuk pintu ruangan Ziel setelah mendapat perintah untuk masuk dari Ziel gadis itu baru membuka pintu ruangan nya.
"Assalamu'alaikum Hubby" Ziel menghentikan pekerjaan nya saat mendengar salam sapa dan panggilan khusus nya dari Alina.
"Waalaikumsalam, Ya Zaujati" Ziel membalas salam sapa Alina hingga membuat kedua pipi Alina pun semakin bersemu merah setelah tadi dia memanggil Ziel dengan sapaan baru nya.
Alina pun langsung menghampiri Ziel dan mencium punggung tangan kanan Ziel dengan takzim. Ziel pun membalas nya dengan mengecup kening Alina bukan pucuk kepala Alina lagi.
Alina bergegas berjalan menjauhi Ziel menuju sofa yang berada di ruangan Ziel. Lalu menyusun kotak makan siang dan membuka nya satu persatu. Sementara Ziel masih tampak berkutat dengan beberapa berkas nya.
"Mau makan sekarang atau nanti Hubby?" Tanya Alina dengan wajah merah merona karena belum terbiasa dengan panggilan baru nya untuk Ziel.
"Sebentar ya Sayang, Mas bereskan beberapa berkas dulu. Kalau Kamu mau makan dulu, silahkan sayang" Ziel menjawab pertanyaan Alina
Alina lebih memilih menunggu Ziel merapikan pekerjaan dengan melihat pemandangan luar dari tempat nya berdiri.
Grep
Alina terjengkit, gadis itu terkejut saat Ziel melingkarkan lengan kanan nya di bahu Alina dan berdiri di samping Alina.
"Lihat apa?"
"Hanya melihat pemandangan luar"
"Seperti nya ada yang menarik perhatian Kamu, sehingga pandangan mata Kamu tak beranjak dari situ"
Alina mengulum senyuman nya mendengar ucapan Ziel yang entah mengapa nada bicara nya sedikit kesal.
"Ada yang terbakar tapi bukan api"
Ucapan Alina membuat Ziel tertawa kecil lalu mengusak lembut pucuk kepala Alina.
"Aku hanya cemburu dengan apa yang tengah Kamu pandangi" Alina mengalihkan pandangan kepada Ziel.
"Kenapa harus cemburu, jika ada yang lebih menarik Aku pandang dibandingkan gedung gedung bertingkat dan kesemberautan jalan di bawah sana" Ziel mengusap wajah nya mendengar godaan Alina.
"Ya ampun. Makin pintar gombal Kamu Sayang" Ziel mencubit kecil ujung hidung Alina.
Alina tertawa kecil lalu melingkarkan lengan kiri nya di pinggang Ziel dan kemudian merebahkan kepala ya di bahu kanan Ziel.
"Uncle"
"Hem"
"Uncle"
"Hem"
Alin tersenyum kecil saat memanggil Ziel yang di jawab Ziel hanya dengan dehaman saja. Karena sejak semalam Ziel memang meminta nya untuk berhenti memanggil Ziel Uncle dan menggantikan panggilan itu dengan Hubby atau Mas.
"Hubby"
"Iya Sayang"
Blush
Wajah Alina langsung merona ketika kata sayang itu terucap oleh Ziel. Padahal kata sayang itu sudah biasa Ziel ucapkan sejak Alina berusia 11 tahun.
"Nggak Mas. Sudah. Ayo kita makan siang. Nanti keburu dingin makanan nya"
Alina melepaskan tangkupan kedua telapak tangan Ziel dan segera mendorong pelan tubuh Ziel menuju sofa.
"Bener Kamu nggak sakit?" Tanya Ziel usil, padahal sejati nya pria itu tau kalau wajah Alina yang merona itu akibat ucapan nya memanggil Alina dengan kata Sayang.
"Mas ih. Iseng aja. Buruan makan, atau Aku tinggal pulang nih" Ancam Alina seraya menyerahkan sebuah kotak makan siang hang sudah berisikan makanan untuk Ziel.
"Iya. Iya. Ini di makan. Kamu makan juga ya"
Alina mengangguk lalu mulai membuka kotak makan siang nya.
Kedua nya menikmati makan siang mereka dengan sesekali di iringi rengekan Alina karena Ziel yang usil terus melontarkan kata kata godaan dan rayuan kepada Alina. Membuat wajah gadis itu berkali-kali merona mendengar nya.
Ceklek
Pintu ruangan Ziel terbuka membuat Ziel dan Alina yang baru saja menyelesaikan makan siang mereka itu pun mengalihkan pandangan mata mereka melihat kearah pintu.
Plok ... Plok ... Plok
"Romantis sekali ya Paman dan Keponakan kita yang satu ini!"
Bunga langsung masuk kedalam ruang Ziel bertepatan dengan tangan Ziel yang berada di ujung bibir kanan Alina untuk membersihkan sisa makanan yang menempel sudut bibir nya tersebut.
"Mau apa Kamu kesini?. Urusan kita sudah selesai. Semua hutang Abang sudah Saya lunaskan. Begitu pula dengan pernikahan palsu Kita selesai!" Ucap Ziel kesal.
Dengan tanpa permisi Bunga mendudukkan tubuh nya di hadapan Ziel dan Alin.
"Ck ck ck ck. Pantas saja Kamu langsung menalak Aku di malam pernikahan Kita. Ternyata Kamu sudah menyimpan rasa terlarang dengan Dia?" Bunga menunjuk Alina dengan angkuh menggunakan dagu nya.
"Dasar pedofil dan juga inc_"
Bunga langsung menghentikan ucapan nya, saat Ziel langusung memotong ucapan Bunga, dengan tatapan sinis Ziel pun berkata "Nggak usah banyak omong!. Mau apalagi Kamu kemari?"
Bunga tertawa kecil melihat Ziel yang marah dan Alina justru memeluk lengan kiri Ziel dan mengusapi dengan lembut lengan Ziel hingga membuat Ziel pun mengambil nafas pelan untuk meredakan amarah nya kepada Bunga.
Bunga berdecih pelan kala melihat Alina mendekatkan kepala nya kearah telinga Ziel, dari gerakan bibir Alina, Bunga dapat menerka kalau gadis itu tengah membasikkan kata sabar berkali-kali kepada Ziel.
"Makin romantis saja kalian. Nggak malu, dan nggak inget dosa?" Bunga kembali melontarkan kata kata sindiran kepada Ziel dan Alina.
Ziel tersenyum mendengar sindiran Bunga, dan dengan lantang nya Ziel justru berkata " Yang harus nya malu itu adalah orang yang pas akad sudah hamil dari pria lain", dan hal itu membuat Bunga kesal dan Alina pun menegur Ziel bersamaan.
"Mas"
"Kamu!"
Alis Bunga langsung mengernyit kala mendengar panggilan Alina kepada Ziel. "Mas?" Cicit Bunga seolah bertanya akan maksud panggilan Alina kepada Ziel.
Tawa Bunga pun pecah. Tawa itu bukan lah tawa bahagia namun ejekan yang Bunga berikan kepada Alina dan juga Ziel.
"Seperti nya hubungan Kalian ini memang sudah di luar batas kewajaran" Cicit Bunga menatap remeh kepada Ziel dan juga Alina.
"Tidak ada urusan nya dengan Anda, Nona Bunga yang terhormat. Apapun hubungan Kami berdua sekarang itu bukanlah urusan Anda!" Ucap Ziel dengan nada dingin.
Bunga kembali tertawa mendengar penuturan Ziel. Wanita itu mencondongkan tubuh nya kearah Ziel yang tengah duduk di hadapan nya hingga membuat kedua benda yang menempel lekat tak terpisah di tubuh nya itu pun terlihat, Ziel segera mengalihkan pandangan nya kearah Alina dan menatap lekat wajah cantik gadis nya tengah menatap jengah Bunga yang tanpa rasa malu memamerkan tubuh nya di hadapan Ziel.
"Nggak usah di lihat!" Ziel menarik wajah Alina agar tidak melihat apa yang Bunga pamerkan itu.
"Menjijikkan!"