
"Uncle Bas" Ara memanggil Bastian dengan suara parau setelah tangisnya mereda.
"Apa Neng?" Ara menghela nafas pelan lalu mengajukan pertanyaan yang membuat Bastian terkejut. "Ara pengen punya suami kaya Alina yang usia nya sama dengan Uncle nya Alina. Uncle Bas mau nggak jadi suami Ara?"
"Apa?. Benarkah?"
Bastian terpekik kencang, sontak saja Bastian langsung meletakkan punggung tangan kanan nya di kening Ara, namun langsung belum juga punggung tangan Bastian itu menyentuh kening Ara, gadis berniqab itu segera menepis nya seraya bersungut kesal kepada Bastian "Bukan Mahram!"
"Ya maaf, Uncle Babas lupa" Ucap Bastian menyesal karena hampir melewati batas menyentuh Ara, "Lagian kan Neng Ara sendiri yang ngomong aneh, ngajak Uncle Babas nikah"
Ara mengambil nafas lalu menghembuskan nya perlahan, "Maaf Uncle Bas, Ara cuma keceplosan aja" Gadis itu kembali merenung memikirkan kisah nya yang sudah harus kandas sebelum memulai, padahal awal nya setelah Dia dan Alina kuliah bersama, Ara berniat ingin meminta Alina menjodohkannya dengan Paman nya, namun kini justru Alina yang sudah langsung di nikahi oleh Paman nya agar Paman nya bisa menjaga Alina tanpa batasan Mahram.
"Nggak baik melamun, apalagi melamun kan pria yang bukan Mahram nya, Neng Ara pasti paham apa yang Uncle maksud kan?"
"Astaghfirullahalazim" Teguran Bastian menyadarkan Alina akan dosa tak di sengaja nya, membuat gadis itu pun beristighfar dalam hati nya.
"Fokus belajar, kejar cita-cita buat bangga Apha sama Amih dulu. Masalah jodoh, pasrahkan kepada Allah, InsyaAllah Neng Ara akan mendapatkan jodoh yang jauh lebih baik dari Paman nya Alina" Ucap Bastian yang kini justru tampak merenung akan nasib nya sendiri yang sampai saat ini masih betah melajang setelah mengalami sakit hati atas pengkhianatan yang dilakukan oleh calon istri dan sahabat nya setahun yang lalu.
Nyaris depresi sebelum akhirnya Tante nya menyadarkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun ketika Bastian berkunjung ke pondok pesantren teman Tante nya tinggal untuk memberikan kado ulang tahun untuk kedua anak tante nya, Bastian merasakan ketenangan batin saat mendengar suara seorang wanita sedang mengaji di dalam rumah sang Tante yang tinggal bersama keluarga suami nya, hingga akhirnya Bastian pun mengambil keputusan untuk tetap tinggal di pondok untuk belajar mengenal islam. Baru beberapa bulan selanjutnya Bastian pun mengucapkan dua kalimat syahadat, menjadi seorang mualaf mengikuti jejak Tante nya.
Lamunan Bastian kembali buyar, ketika Ara kembali bersuara.
"Ara aja yang kagum sama Pak Ziel dan sadar kalau Pak Ziel nggak tertarik sama Ara ngerasa sedih nggak jodoh sama Dia. Apalagi Uncle yang di tinggal nikah padahal udah tinggal seminggu lagi pernikahan Uncle sama Aunty Bellatrix dilaksanakan. Pasti sakit ya Uncle" Bastian menghela nafas pasrah mendengar ucapan Ara yang benar ada nya.
"Nyindir nya dalem banget Neng" Gerutu Bastian membuat Ara pun tak enak hari dan langsung menepuk pelan bibir nya juga 1 meminta maaf atas ucapan spontan nya "Maaf Uncle, Ara nggak bermaksud, eh Uncle Bas mau kemana?" Bastian langsung berjalan meninggalkan Alina menghiraukan panggilan gadis itu beserta penyesalan.
"Astaghfirullahalazim, nih mulut julit banget sih. Ish jadi marah kan Uncle Bas nya" Ara pun langsung merasa bersalah atas ucapan nya kepada Bastian dan bergegas keluar kamar nya untuk mencari Bastian dan meminta maaf atas ucapan nya.
Baru saja gadis itu keluar kamar nya menuju pintu keluar, Umi Eil memanggil nya untuk ikut ke ruang tamu karena ada tamu yang ingin bertemu nya dengan nya.
"Biar nanti Neng dengar sendiri ya, Sayang" Umi Eil balik berisik menjawab pertanyaan Ara.
"Nah ini putri semata wayang Kami yang biasa Kami panggil Ara" Abi Dhika pun mengenakan Ara kepada sepasang suami istri dan seorang pria sebaya nya yang sedang duduk di tengah sepasang suami istri tersebut.
Ara pun mengucapkan salam lalu menangkup kedua telapak tangan nya sebatas dada, yang dibalas tamu Abi nya dan mencium punggung tangan wanita yang duduk di pinggir.
"Duduk disini, Sayang" Abi Dhika menepuk tempat kosong di sisi kiri nya meminta Ara duduk di tengah nya dan Umi Eil. Ara pun patuh dan duduk di tengah kedua orang tua nya.
Sejak mendudukkan diri di tengah kedua orang tua nya, Ara merasa jengah karena diperhatikan oleh pria muda yang duduk di depan nya. Sorot mata pria muda itu menatap Ara penuh damba hingga membuat Ara tanpa sadar meremas punggung tangan Umi Eil karena tak nyaman.
Umi Eil terkejut lalu melihat kearah Ara yang tengah menundukkan kepala nya, seolah paham dengan apa yang Ara rasakan Umi Eil pun berbisik pelan "Neng tidak apa-apa?" Umi mengenggam erat telapak tangan Ara yang mulai terasa dingin setelah Ara menggelengkan kepala nya pelan.
"Ehm" Umi Eil terpaksa mendeham karena sejak tadi tamu nya hanya basa basi membahas Ara, mengatakan Ara cantik, ramah, pintar dan sholehah, dan sudah pantas untuk di pinang, padahal ini adalah kalu pertama mereka bertemu Ara.
Abi Dhika yang paham atas dehaman Umi Eil dan juga ucapan ngalor ngidul tamu nya pun menanyakan secara langsung maksud dan tujuan keluarga Kiyai Burhan dan keluarganya berkunjung ke kediaman nya.
"Punten Kiyai, Maaf kalau Kami lancang menanyakan maksud dan tujuan Kiyai dan sekeluarga berkunjung ke rumah Kami?" Ucap Abi Dhika, yang sempat melirik kearah putri dan juga istri nya. Umi Eil memberikan kode kepada Abi Dhika untuk melirik Ara yang terlihat menundukkan kepala nya dalam-dalam.
"Wah seperti nya Kiyai Dhika tipe orang yang langsung membahas ke inti masalah" Abi Dhika tersenyum menanggapi ucapan Kiyai Burhan yang seperti nya tersinggung atas pertanyaan Abi Dhika. "Jangan panggil Saya Kiyai, Kyai Burhan" Kiyai Burhan menyunggingkan senyuman tipis nya mendengar penolakan Dhika yang di panggil Kiyai oleh nya.
Ya Abi Dhika memang selalu menolak di panggil Kiyai, Habib, ataupun Ustadz. Pria paruh baya itu lebih suka di panggil Abi oleh para santri nya dan orang-orang di sekitar nya, dengan alasan tak layak menyandang panggilan tersebut karena Abi Dhika selalu mengatakan kalah Beliau pun masih dalam taraf memperdalam agama nya sehingga panggilan Kiyai atau Ustadz di sematkan kepada nya.
Sedangkan untuk panggilan Habib, Abi Dhika selalu menolak nya karena tidak memiliki garis keturunan dari para Habib.
Ya Abi Dhika memang sengaja bertanya langsung karena sempat melihat Ara yang tidak nyaman berada di tengah percakapan ngalor ngidul tersebut, terlebih kini Ara menggengam erat telapak tangan nya membuat Abi Dhika pun ingin segera mengakhiri percakapan yang penuh basa basi tersebut.
"Baiklah kalau begitu. Kedatangan Kami ke rumah Abi Dhika karena ingin menjalin tali silaturahmi dengan mengikat kedua putra dan putri kita dalam ikatan pernikahan"