
"Uncle tidak akan mengizinkan Kamu kembali ke pondok!" Ucap Ziel kembali mengulangi perkataannya.
"Kenapa?. Apa alasan Uncle melarang Alina kembali ke pondok?" Tanya Alina geram.
"Karena Uncle mulai mencintai Alia!"
Alina menggelengkan kepala nya tak mempercayai ucapan Ziel.
"Astaghfirullahalazim. Apalagi ini Uncle!" Alina menahan diri nya agar tidak membentak Ziel.
"Uncle sadar apa yang sudah Uncle ucapkan?" Ziel mengangguki pertanyaan Alina dan hal itu membuat Alina menghela nafas pelan.
"Ya Allah. Uncle, please jangan seperti ini. Pernikahan itu sakral dan bukan ajang permainan dengan dalil tanggung jawab ataupun amanah!"
"Alina sudah dewasa, Alina bisa jaga diri Alina sendiri. Jadi Uncle tidak usah lagi merasa terbebani dengan janji Uncle yang akan selalu menjaga Alina hingga Alina dewasa!" Tutur Alina memberikan penjelasan kepada Ziel.
"Satu hal lagi Alina tidak ingin di anggap pelakor oleh masyarakat kalau kita menikah, sementara Uncle masih menjadi suami Tante Bunga!"
"Uncle dan Bunga sudah lama bercerai. Bahkan sejak awal menikah Uncle sudah menjatuhkan talak kepada Bunga" Lagi-lagi Alina membulatkan kedua bola mata nya mendengar penuturan Ziel.
"Astaghfirullahalazim, bagaimana bisa Uncle menjatuhkan talak kepada Tante Bunga saat baru menikah dan kalian masih tinggal satu atap selama ini?. Alina nggak habis pikir dengan apa yang sudah Uncle lakukan!" Alina menggelengkan kepala nya tak percaya atas perbuatan Ziel selama ini..m
"Sekarang lebih baik Uncle keluar. Ini sudah tengah malam dan tak baik kalau kita berada dalam satu ruangan tanpa hubungan keluarga!" Ucap Alina tegas mengusir Ziel dari dalam kamar nya.
"Baiklah. Uncle akan keluar. Istirahat lah dulu. Besok kita bahas lagi" Alina hanya mengangguki ucapan Ziel, dan setelah itu Ziel pun keluar dari dalam kamar Alina.
Setelah Ziel keluar Alina pun segera beranjak tidur.
Kedua kelopak mata Alina terbuka secara perlahan, seiring tercium semerbak aroma bunga yang mekar di pagi hari
Aroma yang menjadi keseharian nya enam tahun yang lalu saat masih berada di kediaman Eyang Bunda nya.
Bunda nya sangat menyukai aneka bunga, setiap pagi selepas sholat shubuh Alina dan Bunda selalu menyempatkan diri berada di ruang kaca berukuran 3×3 meter hanya untuk menuai aneka bunga yang bermekaran setiap pagi nya.
"Bunda"
Alina memanggil kala melihat seorang wanita cantik berbaju putih tengah memetik bunga mawar kuning dengan gunting bunga.
Tak jawaban hanya senyuman dan kedua rentang tangan yang terbuka membuat Alina pun berlari menghampiri Sang Bunda dan memeluknya dengan erat.
"Alin kangen sama Bunda" Bisik Alina yang dibalas usapan lembut Bunda nya.
Alina merenggangkan pelukan nya lalu melihat kepada Bunda. Tatapan lembut Bunda membuat Alina meneteskan air mata nya yang langsung di hapus oleh Bunda dengan lembut.
Sebuah tepukan di bahu membuat Alina mengalihkan pandangan nya kebelakang.
"Mbah, Eyang" Pekik Alina senang karena melihat keempat Eyang nya kini berada di hadapan nya dengan tersenyum.
Alina memeluk mereka satu persatu yang lagi-lagi di balas mereka dengan membalas pelukan Alina dan mengusap lembut pucuk kepala Alina.
"Alin kangen Mbah dan Eyang semua" Ucap Alina yang di angguki keempat Eyang nya.
Tiba-tiba saja Mbah Putra menarik seorang pria dan membawa ketengah mereka yang sedang berkumpul.
"Uncle" Gumam Alina pelan.
Bunda tersenyum dan menganggukkan kepala nya di susul oleh Mbah dan juga Eyang nya saat Mbah Putra menangkupkan telapak tangan kanan Ziel dan Alina menjadi satu.
Hanya senyuman yang mereka berikan saat satu persatu Mbah juga Eyang nya Alina beranjak pergi keluar dari ruang kaca hingga hanya menyisakan Bunda.
Alina berteriak memanggil Bunda nya namun senyuman terakhir Sang Bunda saat menutup pintu membuat Alina menutup mata nya sejenak lalu membuka nya kembali dan berteriak _
"Bunda!"
"Hey. Istighfar Alia. Istighfar" Alina refleks memeluk tubuh Ziel yang tengah berdiri di hadapan nya.
"Bunda" Gumam Alina menangis pelan dalam pelukan.
"Istighfar Alia" Bisik Ziel mengusap lembut pucuk kepala Alina yang masih memeluk pinggang Ziel menenggelamkan kepala nya pada perut Ziel.
"Uncle. Bunda_" Ziel melerai pelukan Alina agar bisa duduk di samping Alina.
Gadis itu kembali memeluk tubuh Ziel. Hal itu memang biasa Alina lakukan saat sedang mengingat Bunda nya, menumpahkan kesedihan karena rindu kepada sang Bunda dengan memeluk Ziel hingga akhir nya gadis itu tertidur lelap dalam pelukan Ziel.
"Ststst. Jangan menangis lagi kasian Bunda, Alia" Bisik Ziel. Alina mengangguk pelan lalu langsung melepaskan pelukan nya kepada Ziel ketika kembali teringat kalau dia dan Ziel tidak sepantasnya berpelukan karena mereka bukan Mahram.
"Maaf Uncle" Gumam Alina yang masih sesunggukan menahan tangisan.
"Alina sudah terbiasa memeluk Uncle saat kangen sama Bunda, Mbah juga Eyang" Ucap Alina pelan.
Ziel mengangguki pelan ucapan Alina.
"Alia mimpi buruk?" Ziel bertanya dan di balas gelengan kepala Alina.
"Lalu kenapa Alia menangis dalam tidur?" Ujar Ziel kembali bertanya.
"Tadi saat Uncle akan turun kebawah, Uncle mendengar suara Alia menangis". Ziel menjeda ucapan nya.
"Karena takut terjadi sesuatu kepada Alia, Uncle terpaksa masuk kedalam kamar Alia tanpa permisi. Maafkan Uncle ya"
Alina mengangguk pelan menanggapi ucapan Ziel.
"Sudah jam 3 pagi, mau lanjutkan tidur atau mau sholat malam?" Ziel pun kembali bertanya, karena sejak tadi Alia hanya terdiam dan menundukkan kepala nya dalam-dalam guna menutupi rasa malu nya karena tadi memeluk Ziel dengan tiba-tiba.
"Alia mau sholat malam saja Uncle" Cicit Alina pelan.
"Mau bareng sama Uncle?" Alina mendongakkan kepala nya menatap Ziel yang tengah menatap dengan lembut.
Tiba-tiba saja Alina memegang dhadha nya karena jantung nya berdetak dengan sangat kencang saat melihat Ziel yang tengah tersenyum kepada nya.
Alina kembali menundukkan kepala nya karena wajah nya yang terasa panas.
Ziel tersenyum kecil melihat tingkah dan juga rona merona di kedua pipi Alina saat menundukkan kepala nya setelah mereka bersitatap sejenak tadi.
"Bagaimana?. Alia mau sholat malam berjamaah dengan Uncle?" Alina mengangguki ucapan Ziel.
"Habis sholat malam mau mengaji bareng sama Uncle?" Alina kembali mengangguki ucapan Ziel.
"Mau setiap Alia Sholat, Uncle selalu menjadi imam nya?" Anggukan kembali Alina berikan atas pertanyaan Ziel.
Ziel kembali tersenyum kecil karena setiap pertanyaan nya selalu di angguki oleh Alina, hingga sebuah pertanyaan Ziel ajukan kepada Alina,
"Kalau begitu, mau kan menikah dengan Uncle?"
Alina mengangguk lalu terkejut saat menyadari kalau Ziel memberikannya pertanyaan jebakan yang berhasil membuat Alina semakin gugup dan deg deg an berhadapan dengan Ziel.