
Suasana kediaman keluarga besar Mama Jessica tampak ramai dan mencekam, setelah saat pagi hari seluruh penghuni rumah itu di kejutkan dengan di temukan nya Pakde Marwan didalam sebuah ruangan yang tak pernah terbuka dalam keadaan tewas mengenaskan.
Tak hanya itu di dalam ruangan yang gelap itu juga di penuhi oleh ceceran juga cipratan darah yang mulai mengering di lantai dan juga dinding ruangan membuat suasana ruangan itu semakin mencekam.
Sebuah lukisan bergambarkan wanita cantik tampak menghiasi dingin ruangan. Terdapat sebuah batu seperti sebuah prasasti dengan aksara Jawa kuno berada tepat di bawah lukisan tersebut membuat aura ruangan itu semakin membuat bulu kuduk yang memasuki ruangan tersebut langsung bergidik ngeri.
Bau anyir darah dan bunga kantil serta harum bunga melati menjadi satu dalam ruangan, membuat indera penciuman pun terasa terganggu dan membuat pusing.
Beberapa petugas kepolisian tampak silih berganti masuk kedalam ruangan karena mereka merasa pusing, mual bahkan sampai ada yang muntah hingga jatuh pingsan ketika baru beberapa menit masuk kedalam ruangan tersebut.
"Nggak beres nih!" Gumam sang kepala pimpinan pasukan saat memasuki ruangan setelah memperhatikan sekitar ruangan dan beberapa anak buah nya tumbang.
"Jangan di pegang!" Ucap sang kepala saat salah seorang anak buah nya akan memeriksa jenazah Pakde Marwan. Sontak anak buah nya tersebut pun mengurungkan niat nya untuk memeriksa.
"Fajar dan Yoga, Kalian identifikasi jenazah!"
"Siap, Dan"
"Abraham dan Yusack Identifikasi dan aman kan barang bukti. Yang lain keluar ruangan!" Ucap Sang Komandan.
"Siap Dan" Satu persatu anak buah sang komandan meninggalkan ruangan dan hanya menyisakan sang komandan dan keempat anak buah nya di dalam ruangan.
"Kalian berhati-hati. Ada yang tidak beres di sini!" Ucap Sang Komandan seraya memerhatikan dengan seksama seisi ruangan.
"Siap Dan" Jawab keempat nya bersamaan.
"Jangan kosong. Perbanyak doa dalam setiap Kalian mengidentifikasi!" Titah sang komandan yang kini berdiri di hadapan lukisan.
Seulas senyuman kecil menghiasi wajah sang komandan saat menurunkan lukisan dan membalikkan lukisan tersebut dan kemudian kembali melanjutkan mengawasi seisi ruangan.
Brak
Pintu ruangan tiba-tiba saja tertutup membuat keempat anak buah nya pun terkejut.
"Astaghfirullahalazim" Ucap Komandan, Fajar dan juga Yoga. Sementara Yusack dan Abraham yanv terkejut mengucapkan "Ya Tuhan. Lindungilah Kami"
"Fokus jangan kosong" Keempat nya mengangguk lalu kembali mengidentifikasi korban dan juga barang bukti.
Brugh
Kamera yang sedang di gunakan oleh Yoga dan Yusack tiba-tiba saja terlempar begitu saja saat mereka sedang mengabadikan barang bukti dan juga jenazah.
"Biarkan saja. Tunggu sebentar!" Kembali sang komandan memberikan perintah saat Yoga dan Yusack akan mengambil kembali kamera nya.
Tiba-tiba saja, barang barang yang berada di dalam ruangan bergerak dengan sendiri nya. "Berkumpul!" Keempat nya langsung Berkumpul mendekati Komandan nya.
"Abaikan!" Terdengar suara tabuhan gamelan di dalam ruangan membuat kelima nya pun mulai berdoa sesuai dengan apa yang menjadi kepercayaan.
"Maafkan kedatangan Kami kalau mengganggu Nyai!" Ucap Sang Komandan pelan. Harum bunga kantil dan melati semakin tercium mendominasi ruangan dan tabuhan gamelan semakin terdengar membuat bulu kuduk kelima nya pun langsung merinding.
"Kami hanya menjalankan tugas" Kembali sang Komandan berucap. Kelima nya kembali berdoa seiring dengan tabuhan gamelan yang mulai tidak terdengar dan harum bunga kantil dan melati yang mulai menghilang dan hanya menyisakan bau anyir darah.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka dengan sendiri, beberapa anak buah sang komandan yang berada di luar ruangan bergegas masuk kedalam ruangan guna memastikan keadaan komandan dan keempat rekan mereka.
"Aman, Dan?" Tanya salah seorang anak buah yang berada diluar ruangan. Anggukan kepala sang komandan sebagai jawaban membuat anak buah nya itu pun kembali keluar ruangan.
"Jangan sampai ada wartawan yang mengetahui hal ini. Pastikan informasi ini tidak bocor ke publik!" Titah sang komandan kepada keempat anak buah nya yang tadi berada di dalam ruangan bersamaan.
"Korban tinggal sendiri dan tidak memiliki keluarga. Jadi tidak ada saksi pada saat kejadian. Asisten Rumah Tangga pun saat kejadian memang sedang tidak ada di tempat dan tidak di temukan ada nya pembobolan pada pintu ruangan" Ucap Abraham yang di angguki oleh Sang Komandan.
"Tidak ada luka akibat pukulan ataupun senjata tajam, korban di perkirakan meninggal karena pembuluh darah dalam jaringan tubuh korban meledak" Ucap Fajar yang kembali diangguki oleh sang Komandan.
"Baiklah, identifikasi selesai dengan korban di nyatakan tewas akibat serangan jantung" Keempat anak buah nya mengangguk setuju.
Helaan nafas pelan sang komandan dan keempat anak buah pun terdengar lirih menatap kearah jenazah dan seisi ruangan bergantian.
"Inilah bukti nyata akibat salah jalan dan ingin kaya secara instant. Mengorbankan orang orang tak bersalah hanya untuk keabadian dan kejayaan duniawi sehingga melupakan Tuhan. Salah jalan hingga akhir nya tersesat" Ucap lirih sang komandan yang kembali di angguki oleh keempat orang anak buah nya.
Berita tewas nya Pakde Marwan pun sampai kepada keluarga Mama Jessica. Apalagi Mama Jesicca menjadi satu-satunya kerabat Pakde Marwan, membuat Mama Jesicca pun harus turun tangan mengurus jenazah Pakde Marwan sesuai dengan agama Mama Jessica.
Rumah yang di tempati oleh Pakde Marwan di biarkan kosong untuk sesaat, karena Mama Jesicca tidak ingin menempati rumah tersebut dan memutuskan untuk menjual rumah tersebut melalui bantuan Ki Bambang yang mengerti bagaimana kondisi rumah tersebut secara mistik.
Jika rumah itu laku terjual, maka uang hasil penjualan rumah beserta isi nya tersebut diserahkan kepada beberapa panti asuhan yang berada di kota mereka.
Akhir nya keluarga besar Papa Juan dan Mama Jessica pun kini bisa bernafas dengan lega. Sang Putra pertama pun kini mulai membuka hati nya dan mau bertemu bahkan mengunjungi mereka disela waktu kosong nya.
Alina sendiri mulai sibuk kuliah, sesekali wanita muda itu turut membantu pekerjaan sang suami dengan mengurusi pembukuan ekspedisi milik Ziel.
"Sayang, kapan Kita berangkat ke pondok?" Tanya Ziel.
"Acaranya hari ahad, Mas. Kalau hari Jumat Kita kesana boleh ndak?. Ade, mau temu kangen dengan calon manten" Jawab Alina seraya tersenyum kecil mengingat sang sahabat yang tengah menunggu hari bahagia nya beberapa hari lagi.
"Temu kangen sahabat, atau temu kangen kakak nya?" Alina tertawa kecil mendengar pertanyaan sang suami yang bernada cemburu.
"Serius oleh temu kangen dengan kakak nya sahabat?" Ziel berdecak kesal menanggapi pertanyaan sang istri yang tengah duduk di pangkuan.
Alina membalikkan tubuh nya menghadap Ziel. Mengalungkan kedua lengan tangan nya di leher Ziel dan menatap lembut wajah pria yang kini juga tengah menatap nya penuh cinta.
"Gemes ih, kalau lagi cemburu gini" Dengan gemas Alina menggigit kecil dagu Ziel hingga membuat Ziel meringis kecil.
"Iseng" Ziel membalas menggigit kecil ujung hidung Alina, kedua nya tertawa kecil.
"You're My Beloved Uncle, My beloved husband till jannah" Ucap Alina lembut seraya mengusap lembut rahang Ziel.
"Ana uhibbuka fillah, Ya Zaujati" Ziel menautkan kening nya dengan kening Alina, hingga membuat kedua ujung hidung mereka pun saling bersentuhan. Alina kembali tersenyum kepada Zeil, seraya membalas ucapan Ziel "Ahabbakal ladzii ahbabtanii lahu, Ya Hubby"
Kedua saling melemparkan senyuman dan
"Eh" Kedua nya terkejut saat akan mendekatkan bibir mereka satu sama lain, ketika sebuah gerakan kecil dari dalam perut Alina mengejutkan kedua nya.
"Ya Allah, mereka ngiri sama Abi dan Umi nya, Sayang" Tawa Ziel pecah seraya melihat kearah perut Alina yang mulai membuncit.
"Bukan ngiri Abi, Kami takut Abi kebablasan dengan alasan mau ketemu sama Kami" Alina menjawab ucapan Ziel dengan menirukan suara anak kecil, membuat Ziel mengusap lembut pucuk kepala Alina dan mengecut kening nya lembut.
"Sehat-sehat ya Umi juga triplet. Abi sangat menunggu kehadiran kalian di dunia ini dua bulan lagi" Ucap Ziel mengusap lembut perut Alina.
"Aamiin. Sehat-sehat juga Abi. Terimakasih sudah selalu menjadi penjaga, pelindung Umi sejak Umi kecil. Semoga Allah selalu menjaga Abi di setiap saat. Aamiin"
"Aamin" Ziel kembali mengecup kening Alina dengan lembut.
##########
Alhamdulillah, kisah Ziel dan Alina tamat sampai di sini. Terimakasih atas dukungan like, komen juga vote nya di kisah nya Ziel dan Alina. Sampai bertemu lagi di kisah lain nya. See You ....