My Beloved Uncle

My Beloved Uncle
C33. Sisi Gelap



"Kamu tau apa yang Papa Kamu ucapkan saat Aku bertanya kenapa Beliau tega menyuruh orang untuk menghabisi nyawa darah daging nya?. Dia takut kekayaan nya akan habis karena pantangan bagi keturunan nya untuk melahirkan anak kembar laki-laki, dan anak pertama yang lahir harus di jadikan korban, agar kekayaan semakin bertambah!"


"Ya Tuhan!" Ucap Arlan dan Erin bersamaan. Kedua nya tidak percaya kalau Opa yang selama ini selalu menyayangi mereka ternyata sesudah tega membunuh saudara mereka hanya demi harta.


Mama Jesicca masih terus tak percaya atas apa yang sudah di ucapkan oleh Papa Juan mengenai Papa nya.


"Abang, Ade". Papa Juan memanggil kedua anak nya. "Ya Pa" Kedua nya pun menjawab dengan bersamaan.


"Papa harap Kalian bisa merahasiakan keberadaan Aslan kepada keluarga Mama kalian"


"Aslan?" Papa Juan mengangguk pelan.


"Aslan Juan Triguna. Itu adalah nama dari Kakak pertama kalian!" Ucap Papa Juan menyebutkan nama lengkap Putra kembar pertama nya yang bernasib malang tersebut.


Mama Jessica menutup mulut nya dengan kedua telapak tangan nya, menahan sedih dan sesak hati nya mendengarkan nasib malang anak pertama nya.


"Kenapa Pa?" Tanya Arlan heran atas ucapan sang Papa sebelum menyebutkan nama lengkap Kakak kembar nya.


"Pakde Marwan mengikuti ajaran Opa kalian. Jadi Kalian harus bisa menjaga rahasia ini jangan sampai mereka mengetahui kalau Aslan masih hidup. Kalau mereka tahu Aslan masih hidup, tidak menutup kemungkinan akan terjadi hal hal yang lebih buruk lagi terhadap Aslan dan orang-orang terdekat nya!" Titah Papa Juan.


"Apa tidak ada cara untuk menghentikan semua ini Pah?" Tanya Arlan yang di balas gelengan kepala sang Papa.


"Opa kalian sudah mengabdikan seluruh hidup nya kepada ajaran tersebut, dan hanya Pakde Marwan yang meneruskan ajaran tersebut. Itulah alasan kenapa Papa membawa kalian untuk tinggal terpisah dari keluarga Mama, karena Papa tidak ingin hal yang buruk menimpa Aslan kembali terjadi kepada keluarga Kita yang lain nya". Jawab Papa Juan pelan nan lirih.


Suasana hening berapa saat itu terusik, kala Mama Jessica berkata "Abang, Mama ingin bertemu dengan Aslan" Ucap Mama Jessica lirih.


Papa Juan menggelengkan kepala nya pelan tanda tak setuju atas keinginan sang istri "Tidak dan jangan dalam waktu dekat ini Mah. Papa takut kalau Mama bertemu dengan Aslan, keluarga Mama akan mengetahui kalau Aslan masih hidup". Ucap Papa menolak permintaan Mama Jessica. Penolakan Papa Juan membuat tangisan Mama Jessica kembali pecah.


Erin mengusapi punggung sang Mama seraya terus berbisik lembut "Sabar Mah. Lebih baik untuk saat ini Mama tidak bertemu dulu dengan Kak Ziel. Erin juga takut kalau apa yang Papa takutkan akan menjadi kenyataan kalau Mama nekat menemui Kak Ziel"


"Ya Tuhan" Mama Jessica pun kembali menangis dalam dekapan Erin.


"Apa Abang sudah menunjukkan bukti ini kepada Kakak?" Arlan mengangguk pelan menanggapi ucapan Papa Juan. "Ziel menolak nya Pa" Papa Juan menghela nafas pelan.


"Wajar kalau Dia menolak. Tapi Papa harap Abang bisa memberikan nya pengertian kenapa Kakak berpisah dengan keluarga Kita" Arlan mengangguk pelan lalu berucap "Maaf Pa, tadi Abang sengaja merekam percakapan Kita, nanti Abang akan kirimkan kepada Kakak" Ucap Arlan.


Grep


Papa Juan langsung memeluk Mama Jessica sesaat setelah duduk di samping Mama Jesssica. Dengan lembut Papa Juan mengusapi pucuk kepala Mama Jessica "Sabar Sayang. Untuk saat ini tahan dulu keinginan Kamu untuk bertemu dengan Aslan. Mas akan berusaha agar secepatnya Kita bisa bertemu dan berkumpul kembali dengan Aslan" Mama Jessica hanya bisa mengangguk pasrah mendengar permintaan sang suami.


"Abanh tidak percaya kalau ternyata Almarhum Opa mempunyai sisi gelap yang sangat kejam!" Geram Arlan. "Lalu bagaimana cara agar keluarga kita terbebas dari perbuatan Opa, Pa?. Abang yakin pasti ada cara nya" Papa Juan mengangguki ucapan Arlan.


"Berdasarkan informasi dari Bik Jum. Selama kita tidak mengikuti apa yang di lakukan Opa, Kita terbebas dari apa yang Opa lakukan. Hanya saja Kita harus berhati hati kepada keluarga Pakde Marwan, Papa takut nya anak anak Pakde Marwan ada yang mengikuti jejak nya" Ucap Papa Juan.


"Apa Opa melakukan sejenis pesugihan Pa?" Papa Juan mengangguki pertanyaan Erin "Seperti nya memang seperti itu. Tapi Kita kembalikan lagi semua nya kepada Tuhan. Apa pun yang Tuhan berikan kepada Kita, itu adalah jalan yang sudah di tetapkan oleh Tuhan" Jawab Papa Juan yang di Aaminkan oleh anak dan istri nya.


########


Arlan menghubungi Ziel, Dia menceritakan apa yang keluarga bahas beberapa hari yang lalu melalui panggilan telepon menggunakan HP yang baru saja di oleh Arlan.


Ada keraguan dan rasa tak percaya yang di ceritakan oleh Arlan tentang asal usul nya dan juga keluarga nya, walaupun begitu Ziel sudah mulai bisa menerima takdir nya yang terbuang dari keluarga nya akibat keserakahan Kakek nya.


Atas dorongan dari Alina, agar sang suami belajar untuk ikhlas menerima apa yang sudah di jalani nya selama ini, Ziel pun mulai mau menerima kalau Dia merupakan bagian dari keluarga Triguna. Namun begitu Ziel masih tetap belum mau bertemu dengan keluarga karena takut akan keselamatan Alina yang akan semakin terancam.


Lagi pula selama ini Ziel mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Ayah dan juga Ibu angkat nya semasa mereka masih hidup dengan tidak membeda beda kan nya dengan Abizar sang kakak angkat dari segi pendidikan juga yang lain nya.


"Mas" Alina memanggil Ziel dengan lembut saat melihat suami nya tampak tersenyum selepas mereka melaksanakan ibadah halal nya.


"Kenapa bangun?" Ziel kembali merebahkan tubuh nya menghadap kearah Alina lalu mengusap lembut surai Alina yang masih berantakan karena mantan gadis itu masih merebahkan tubuh nya di pembaringan.


"Peluk" Rengek Alina seraya menyelipkan tangan kanan nya di pinggang Ziel, Ziel membalas pelukan Alina dengan erat. "Mas mikirin apa?" Tanya Alina tanpa melepaskan pelukan nya dan tetep merebahkan kepalanya di dada Ziel yang berbalut kaos tidur nya.


Ziel terdiam. Ada banyak hal yang mengganggu pikiran dan juga kegiatannya akhir akhir ini. Selain ekspedisi nya yang mulai ramai pengiriman, tentang jati diri nya yang terungkap dan juga beberapa teror untuk Alina yang mulai datang satu persatu.


Ya wanita muda itu menceritakan kepada Ziel kalau selama beberapa hari ini menerima panggilan telepon namun tak di jawab kala Dia menjawab panggilan telepon, hanya sebuah tawa yang kemudian langsung dimatikan oleh sang penelpon.


Pernah juga dikirimkan sebuah pakaian yang merupakan pakaian Alina saat masih kecil yang sudah terkoyak, lalu sebuah boneka yang menjadi salah satu koleksi nya saat kecil dikirimkan dengan kondisi kepala nya yang tidak ada di dalam bingkisan.


Ziel sudah melaporkan hal tersebut ke pihak yang berwajib dan saat ini sudah dalam tahap penyelidikan pihak terkait.