My Beloved Uncle

My Beloved Uncle
C14. Hanya Kita Yang Tahu



Ziel melangkahkan kaki nya menghampiri sosok yang sudah di cari nya hampir satu jam lebih itu. Mengusap pelan pucuk kepala gadis yang tampak tengah terlelap dalam tidur nya. Hingga gadis itu terbangun lalu menatap nya.


"Uncle"


Ziel menjongkokkan tubuh nya agar sejajar dengan Alina yang masih bertahan dengan posisi nya.


"Ayo kita pulang".


Alina menggelengkan kepala nya lalu membuang pandangan nya dari Ziel.


"Hey. Ayo kita pulang Alia" Ziel kembali membujuk Alina yang masih enggan menatap nya.


"Alina nggak mau pulang kerumah Uncle!" Ujar Alina seraya menenggelamkan kepala nya di kedua dengkul nya.


"Lalu Alia mau pulang kemana kalau tidak kerumah Uncle?"


"Alina mau kembali ke pondok dan tinggal di sana!"


Jawaban Alina membuat Ziel terdiam dan menatap dengan sendu gadis yang sejak beberapa minggu terakhir ini keberadaan mulai mengusik relung hati nya.


"Kalau Alia balik ke pondok Uncle tinggal dengan siapa?"


Alina mengambil nafas lalu membuangnya dengan pelan dan kemudian menatap Ziel yang tengah menatap nya dengan sendu.


"Selama ini juga kan Alina tinggal berdua dengan Mbak Yani, dan Uncle juga selama Alina tinggal di rumah Uncle, Uncle nggak pernah mau pulang dan ketemu sama Alina. Jadi lebih baik Alina kembali ke pondok" Ucap Alina.


"Mungkin kehadiran Alina menganggu Uncle. Sehingga Uncle enggan pulang kerumah. Jadi _"


"Ayo kita menikah!".


Kedua bola mata Alinq membulat dengan sempurna dan menatap tajam Ziel mendengar ucapan Ziel.


"Uncle waras?" Alina berucap dengan nada tinggi. Ziel membalas nya dengan menganggukan kepala nya mantap.


Alina tersenyum miring dan menatap Ziel dengan tatapan meremehkan.


"Uncle nggak waras!. Uncle itu Paman Aku. Adik Ayah Aku. Anak dari Kakek dan Nenek Aku. Nggak mungkin Aku mau menikah dengan Uncle. Karena kita sedarah, se nasab dan se mahram. Haram bagi Kita untuk menikah!" Bentak Alina.


Untung saja musholla yang mereka singgahi saat ini jauh dari pemukiman warga sehingga teriakan Alina tidak akan terdengar oleh warga sekitar.


"Ada hal yang harus Alia tahu. Karena itu lah Kita pulang dulu"


Alina menepis dengan kasar tangan Ziel yang ingin menyentuh nya. Dengan masih menatap tajam Ziel Alina meneteskan airmata nya tanpa sadar hingga membuat Ziel pun terenyuh.


"Nggak. Alina mau balik ke pondok!" Sergah Alina masih menolak Ziel.


"Tolong dengarkan penjelasan Uncle dulu Alia!" Alina beranjak dari duduk nya. Gadis itu berdiri sementara Ziel masih menjongkokkan tubuh nya di hadapan Alina.


"Nggak ada yang perlu Uncle jelaskan sama Alina!" Alina segera beranjak meninggalkan Ziel. Gadis itu akan berlari sebelum akhir nya Ziel berdiri dari jongkok nya dan menahan langkah Alina dengan menangkap lengan baju gamis Alin hingga membuat langkah gadis itu pun terhenti.


"Lepasin!"


"Nggak. Kita pulang. Uncle akan menceritakan dan memberitahukan Kamu suatu hal yang batu Uncle dapatkan beberapa saat lalu!" Ziel menahan Alina. Bahkan kini Ziel menarik lengan baju Alina agar gadis itu mengikuti langkah nya.


Ziel sengaja mengikat dengan kencang ujung hijab Alina bagian depan dengan ujung jaket nya agar gadis itu tidak melarikan diri.


Protesan Alina pun tidak di dengarkan oleh Ziel yang justru melajukan motor yang di pakai nya itu menuju kediaman nya.


Hening tak seperti biasa nya saat kedua nya berboncengan naik motor. Alina yang biasa nya melingkarkan kedua tangan nya di pinggang Ziel, kini lebih memilih duduk menjauhi Ziel.


Hingga motor tiba di rumah Ziel keheningan di antara mereka berdua masih juga terjadi sampai Mbok Yani membukukan pintu rumah dan langsung menangis memeluk Alina setelah Ziel sebelum nya melepaskan ikatan hijab Alina dan jaket nya.


"Ya Allah Neng. Mbok takut banget pas Pak Ziel bilang Neng Alina udah pulang tapi belum sampai rumah"


"Nggak Neng. Mbok nggak pernah merasa di susahkan oleh Neng"


"Neng makan dulu ya. Mbok sudah menghangatkan makanan yang tadi Neng masak untuk makan malam"


"Nggak usah Mbok. Alina nggak lapar. Mau langsung tidur aja"


Alina memilih berlalu menuju kamar nya meninggalkan Ziel dan Mbok Yani yang menatap kepergian nya dengan tatapan sendu.


"Mbok siap kan saja makanan nya. Biar nanti saya yang bawakan ke kamar Alina"


Mbok Yani mengangguki ucapan Ziel dan segera menyiapkan makanan untuk Alina dan juga Ziel.


Setelah Ziel mengganti pakaian nya dan mengambil makanan untuk Alina, Ziel pun segera menuju kamar Alina.


Ceklek


Memang sudah menjadi kebiasaan Alina yang tidak pernah mengunci pintu kamar nya saat di rumah.


"Alia, Kita makan dulu ya!" Ziel melangkahkan kaki nya menuju ranjang Alina dan meletakkan baki berisikan makanan diatas nakas yang berada di sisi kiri ranjang Alina.


"Hey. Mubazir lho kalau nggak dimakan. Apalagi Kamu sudah memasak nya" Ucap Ziel lembut.


Ziel menghela nafas pelan sebelum berucap.


"Ada hal yang akan Uncle sampaikan kepada Alia setelah Kita makan"


Alina masih bergeming tak menanggapi ucapan Ziel.


"Uncle lapar. Alia tau kan kalau Uncle telat makan nanti magh Uncle kambuh, dan _"


Ziel tersenyum kecil saat Alina langsung bangun dari tidur dan segera mengambil baki berisikan makanan.


"Gadis pintar" Tangan Ziel menggantung di udara saat menyadari kalau saat ini sudah Ada jarak diantara nya dan Alina.


Sikap Ziel itu pun membuat Alina mendengus pelan di sela menikmati makan tengah malam nya.


"Katanya takut magh nya kambuh. Tapi nggak mau di makan!"


Ziel mengulum senyuman nya selepas Alina mengucapkan kata-kata dengan mulutnya yang terisi makanan.


Ziel pun segera menyantap makanan yang Alina buatkan untuk makan malam mereka. Walaupun sudah di hangatkan masakan Alina masih enak untuk di santap.


"Alhamdulillah" Gumam kedua nya sesaat setelah menghabiskan makanan secara bersamaan.


"Uncle taruh bekas makan dulu ke dapur. Jangan tidur dulu, ada hal yang harus Uncle sampaikan dan Kamu harus tau hal tersebut!"


Alina mengangguk pelan. Ziel pun segera beranjak membawa baki ke dapur. Sebelum kembali ke kamar Alina, Ziel masuk kedalam kamar nya untuk mengambil selembar kertas yang baru saja di print nya.


Tok Tok Tok


"Alia. Uncle masuk ya" Setelah mendapatkan jawaban dari Alina Ziel pun masuk kedalam kamar Alina.


Langkah nya terhenti saat melihat Alina tengah menyisir rambut panjang nya. Ziel pun mengalihkan pandangan nya kearah lain.


"Segitu benci nya Uncle sama Alin. Sampai nggak mau ngeliat Alin!" Ucap Alina ketika mendapati Ziel yang enggan menatap kearah nya.


"Bukan begitu!" Ziel menyerahkan selembar kertas kepada Alina yang langsung di terima oleh Alina.


Kedua bola mata Alina langsung membulat dengan sempurna dan menatap Ziel tak percaya.


"Baru hanya kita yang tau"