
Ziel menyanggupi keinginan Alina ketika remaja itu meminta nya mengunjungi pesantren yang sudah di setujui oleh Almarhumah sang Bunda, sekaligus menyelenggarakan pengajian hari ke tujuh kepergian keluarga mereka.
Disinilah mereka berada, sebuah pesantren modern yang membuat Alina memantapkan hati nya melanjutkan pendidikan selama enam tahun kedepan.
"Alia yakin mau tinggal disini?" Ziel membenarkan hijab instan yang di kenakan oleh Alina seraya bertanyaan yang langsung mendapat anggukan Alina.
"InsyaAllah Uncle."
Ziel hanya bisa menghela nafas pelan lalu membuka pintu mobil yang di kemudikan nya bersamaan dengan Alina yang juga membuka pintu samping mobil Ziel.
"Ayo Uncle, Abi Dhika pasti udah nunggu" Tanpa sungkan Alina melingkarkan tangan nya di lengan kiri Ziel lalu berjalan bersama-sama menuju sebuah rumah yang berada di dalam kawasan pesantren.
"Alin ....." Sebuah teriakan cempreng menyambut kedatangan Alina dan Ziel saat baru saja hendak mengucapkan salam.
Sesosok remaja seusia Alina tampak berlari keluar dari dalam rumah karena melihat Alina yang baru saja memasuki teras, bertepatan dengan gadis remaja itu akan keluar rumah.
Alina melepaskan rangkulan nya di lengan Ziel guna menyambut pelukan remaja yang meneriakkan nama nya itu
"Assalamu'alaikum Ara" Sapaan Alina membuat remaja itu pun tertawa kecil.
"Waalaikumsalam Alin" Remaja itu membalas salam Alina lalu melihat kepada Ziel yang berdiri di belakang Alina.
"Sama siapa?" Bisik Ara kepada Alina.
"Uncle Ziel" Balas Alina berbisik.
"Ganteng" Cicit Ara yang langsung di hadiahkan cubitan kecil di lengan Ara dari Alina dan hal itu justru membuat Ara tertawa kecil.
"Udah punya istri!" Cicit balasan Alina membuat Ara mencembikan bibir nya.
"Lagian Kamu itu tau tau nya sama yang ganteng!" Tawa Ara kembali terdengar ketika mendengar ucapan Alina.
"Alin bilangin Abi dan Umi ah kalau Ara udah mulai nakal" Goda Alin membuat Ara langsung ketakutan.
"Jangan atuh Lin, Ara tuh cuma bercanda. Tetaplah masih gantengan Abi sama Mas Ikmal" Alina mencembikan bibir nya menanggapi ucapan Ara. Sementara Ziel justru lebih fokus melihat sekitar nya yang menampilkan suasana alami pedesaan namun kental dengan suasana agamis.
"Pantas aja Alia ingin tinggal di sini" Gumam Ziel yang masih fokus memperhatikan lingkungan sekitar nya.
"Siapa yang datang Neng?" Sebuah suara wanita terdengar dari dalam rumah, membuat Ara menepuk pelan kening nya karena lupa mengajak tamu nya masuk kedalam rumah.
"Astaghfirullahalazim Ara lupa. Mari masuk Paman eh Om eh Uncle, ck Ara bingung mau manggil nya apa!" Ara berucap dengan bingung memanggil Ziel.
"Panggil Uncle saja biar sama dengan Alia" Jawaban Ziel membuat Ara berpikir bingung dengan nama yang di sebut oleh Ziel.
"Uncle memang memanggil Alina dengan panggilan Alia" Ara hanya ber oh ria saat Alina menjelaskan nama yang Ziel sebutkan tadi.
"Ampun, Si Neng mah bener-bener ada tamu kok nggak di suruh masuk" Ara tertawa kecil saat mendapat teguran dari wanita yang kini sudah menyambut kedatangan Alina dan Ziel.
"MasyaAllah Alina. Kamu udah datang sayang?" Wanita yang seusia Ziel itu pun langsung memeluk tubuh Alina dengan erat setelah menjawab salam yang diucapkan Alina dan Ziel.
"Maafkan Abi dan Umi ya yang tidak bisa hadir di saat pemakaman keluarga Alina" Ucap wanita itu lalu mengusap lembut wajah Alina setelah Alina mencium punggung tangan kanan nya dengan takzim.
"Tidak apa-apa Umi. Justru Alina yang harus berterima kasih kepada Abi dan juga Umi yang sudah bersedia direpotkan mengurus pengajian keluarga Alina" Umi menggelengkan kepala nya lalu mengusap pucuk kepala Alina dengan lembut.
"Abi dan Umi tidak merasa direpotkan kok sayang. Justru Abi dan Umi merasa tersanjung diberikan kepercayaan kepada Alina dan juga Paman Alina untuk melaksanakan pengajian keluarga Alina" Alina kembali mencium punggung tangan Umi dengan takzim.
Ziel mengambil duduk di hadapan Umi dan Ara bersebelahan dengan Alina.
"Abi sedang mengajar. Lebih Alina dan Pak Ziel beristirahat dulu di kamar yang sudah Kami siapkan" Ucap Umi.
"Maaf kalau kedatangan Kami justru membuat Umi Ara menjadi kerepotan" Ziel berucap dengan nada penyesalan.
"Tidak di repotkan Pak. Kami justru sangat senang dikunjungi oleh Pak Ziel dan Alina" Ucap Umi Ara dengan sopan.
"Neng, buatkan minum dulu atuh buat tamu nya, masa di anggurin" Ara mengangguk pelan lalu berjalan meninggalkan ruang tamu.
"Gimana Sayang?. Kamu jadi melanjutkan sekolah di sini?" Umi bertanya. Alina melirik kearah Ziel dengan ragu-ragu.
"InsyaAllah jadi Umi Ara" Jawaban Ziel membuat kedua bola mata Alina membulat dengan sempurna.
"Uncle izinkan?" Ziel menangguk lalu mengusap lembut pucuk kepala Alina.
"Makasih Uncle" Alina refleks memeluk Ziel dengan erat.
"Sama-sama Sayang." Umi Ara menatap dengan nyalang kedekatan Ziel dan Alina. Dalam hati Dia bersyukur karena Alina menyetujui keinginan Bunda nya untuk melanjutkan sekolah di pondok pesantren milik suami nya.
Selepas mengikuti acara pengajian hari ke tujuh keluarga mereka di pondok pesantren milik keluarga Ara, Ziel dan Alina pun memutuskan untuk kembali ke kediaman mereka.
Perjalanan yang hanya bisa di tempuh selama dua jam itu tak membuat Ziel memutuskan untuk kembali ke kediaman Mereka.
Alina memutuskan untuk ikut pulang bersama Ziel, padahal Ziel sudah mengizinkan Alina untuk menginap selama beberapa hari.
Namun dengan alasan masih ingin bersama Ziel, Alina lebih memilih ikut pulang bersama Ziel.
Menjelang Maghrib Ziel dan Alina sudah tidak di ruko mereka. Beberapa mobil box yang akan mengirimkan barang ke ekspedisi sudah bersiap akan berangkat untuk di proses pengiriman nya ke para penerima.
Alina langsung naik keatas setelah pamit kepada Ziel dan sekedar bertegur sapa dengan karyawan Ziel yang tengah bekerja.
"Wah anak buangan masih pulang ke sini?" Alina tersenyum kecil menanggapi ucapan Bunga yang rupa nya sengaja menunggu kepulangn Ziel juga Alina.
"Assalamu'alaikum Aunty" Bunga memutar malas kedua bola mata nya tak menjawab salam Alina.
"Kapan kamu pergi ke tempat buangan Kamu?" Tanya Bunga ketus.
"Maksud Aunty?" Bunga menghampiri Alina dan berdiri di hadapan remaja yang tinggi nya itu hampir menyamai Bunga.
"Kamu tau alasan Uncle Kamu menitipkan Kamu di pondok pesantren?"
Kedua alis Alina mengernyit menanggapi ucapan Bunga.
"Uncle kami sengaja membuang Kamu ke pondok pesantren!" Bunga tertawa kecil setelah berucap, namun tawa kecil nya langsung sirna ketika mendengar suara Ziel yang setengah membentaknya.
"Alia yang ingin tinggal di pondok pesantren!" Ucap Ziel kesal.
"Kamu harus ingat Bunga, Aata tidak akan membuang Alia ke pondok pesantren. Kalau pun ada manusia yang harus Saya buang, Saya rasa Kamu lebih tau dan paham siapa manusia yang akan Saya buang tersebut!"
Ziel segera membawa Alina masuk kedalam ruangan nya tak menanggapi Bunga yang tengah menahan amarah nya.